Risa memesan taxi online untuk membawanya ke hotel Lalonna untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir disana
sepenjang perjalanan, pandangan Risa kosong sang supir taxi yang melihat penumpangnya seperti tak memiliki gairah hidup, si supir hanya diam ia tidak mau mencampuri yang bukan urusannya.
"semoga saja ia tidak bunuh diri." gumam si supir taxi pelan sambil menepikan mobilnya.
"mbak sudah sampai!" seru supir taxi online tersebut.
Risa yang sedang melamun tersentak kanget.
"iya pak berapa?" tanya Risa.
"sesuai yang ada di aplikasi mbak." jawab supir itu.
Risa mengambil uang berwana merah satu lembar, lalu menyerahkan kepada supir taxi tersebut.
"kembaliannya buat bapak aja." ucap Risa datar.
Risa berjalan menuju mobilnya lalu masukinya, ia berusaha mengendalikan dirinya bersikap seolah tak terjadi apapun padanya.
20 menit berlalu Risa sampai ke sebuah rumah yang besar milik orang tuanya.
"Risa kau kemana saja baru pulang jam segini?" tanya sang Ayah sambil menatap tajam.
"maaf yah Risa nginap di rumah teman." jawab Risa berbohong.
"temanmu yang mana?" sahu Ayah Risa.
"Maya yah, dia sedang sakit dan orang tuanya keluar kota jadi Risa menjaganya sampai pagi." jelas Risa kepada ayahnya.
entah dari mana datangnya datangnya mulutnya mengucap tanpa ia bisa kontrol.
"kenapa dengan lidahku, kenapa jadi pandai sekali berbohong." batin Risa berbicara dalam hati.
"kenapa tidak memberi kabar kerumah?" ucap Ayahnya lagi.
"maaf yah Risa lupa." jawab Risa sambil menunduk.
"sudah yah gak apa-apa yang pentingkan sekarang Risa sudah pulang kerumah dengan selamat." sahut Ibu Risa yang melihat Risa yang takut pada ayahnya.
"Risa kamu istrahatlah nak." ucap Ibu Risa sambil mengelus punggung Risa.
"terima kasih bu, Risa pergi ke kamar dulu." ucap Risa.
"jangan lupa sarapan nak." kata sang ibu mengingatkan Risa yang sudah berjalan menaiki tangga.
"iya bu." jawab Risa.
Risa masuk kemudian menutup pintu kamarnya dan langsung menangis sendiri mengingat semua yang terjadi tadi malam.
"aku tidak tau siapa kamu, sungguh teganya kau merenggut sesuatu yang berharga bagiku, apa salah ku!" gumam Risa sambil terisak tangis.
karena lelah menangis Risa kemudian tertidur hingga sore hari.
disebuah perusahan, seorang pengusaha muda duduk dikursi kebesarannya sambil memijat sendiri kepalanya yang terasa pusing.
Defvan mengambil ponselnya yang terletak di meja depannya, lalu menelpon seseorang.
"Mars (tangan kanan Defvan) apa kau sudah menemukannya?" ucap Defvan.
"iya tuan, laki-laki yang membawa tuan itu tidak mau membuka mulutnya sedikitpun!" jawab Mars.
"apa kau tidak bisa memaksanya dengan menggunakan keluarganya sebagai umpan." ucap defvan dengan nada tinggi karena kesal.
"Laki-laki itu tidak memiliki kelurga tuan, dia hidup di panti asuhan sejak kecil." jelas Mars
brakkkkkk...
Defvan menggebrak meja kerjanya dengan tangannya.
"siapa yang mencoba bermain api denganku, sialan." ucap Defvan dengan wajah memerah menahan amarah.
Mars yang masih berada diseberang telpon bergidik medengar ucapan Defvan.
bisa dipastikan jika sekarang Defvan sedang meraung bak harimau hutan yang terusik ketika sedang tidur nyenyak.
"sewalah beberapa mafia terbaik untuk mencari keberadaan orang yang bersembunyi di kegelapan itu!" perintah Defvan kepada Mars.
"baiklah sesuai perintamu tuan Defvan." jawab Mars sambil menyeruput kopi hitam buatannya.
setelah mendapat jawaban dari Mars, Defvan mematikan sambungan telpon sepihak
"kebiasaannya tidak pernah berubah." gumam Mars.
"Defvan tidak memiliki musuh selama ini, lalu kenapa sekarang orang itu melakuan semua ini pada Defvan?" ucap Mars.
"Atau mungkin musuh itu salah satu orang terdekat Defvan." lanjut Mars berbicara sendiri sambil menikmati secangkir kopi.
"ahhhh, sebaiknya aku segera melaksanakan perintahnya sebelum tuan memarahiku." ucap Mars kembali.
dua bulan kemudian....
Risa yang baru saja pulang dari kampus merasa lelah dan pusing, ia berjalan sambil sesekali memegang kepalanya yang terasa berat.
Risa berpegangan pada sisi tangga untuk naik keatas menuju kamarnya, ketika sampai dilantai dua pandangannya kabur, namun Risa masih memaksakan dirinya untuk dapat berjalan kekamarnya.
tinggal beberapa langkah lagi sampai menuju pintu kamarnya, namun kepalanya semakin berat dan kaki yang menopang badan Risa sudah mulai tidak seimbang lagi dan brukkkkkkk.... Risa jatuh tak sadarkan diri.
"non Risa....!" teriak mbuk Asih.
pembantu rumah Risa yang saat itu sedang lewat sehabis mengantar minuman ke kamar adik Risa.
Gio yang sedang bermain game online, bersama tiga orang teman sekolahnya sewaktu SMP langsung keluar dari kamarnya karena mendengar teriakan mbuk Asih.
"ada apa mbuk?" tanya Gio.
"non Risa den sepertinya pingsan mukanya pucat sekali." jawab mbuk Asih sambil memandang Risa yang tak sadarkan diri.
"Arya, joko bantu gue mindahin mbak Risa." ucap Gio.
kedua teman Gio kemudian datang menghampiri, lalu membantu Gio mengangkat Risa ke Kamarnya.
"mbuk ambilkan kompres, biar Gio yang kasih tau ibu dan ayah." kata Gio.
"baik den." jawab mbuk Asih.
Gio menelpon ayahnya, lalu dia memberitahukan dan menjelaskan keadaan Risa yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Hermawan yang mendengar Anak perempuannya Sakit segera membatalkan rapat siangnya, ia bergegas pulang untuk segera melihat keadaan putrinya.
Ratih (ibu Risa) yang mendapat kabar Risa Sakit dari Gio segera berpamitan kepada ibu-ibu arisannya untuk segera pulang.
10 menit berlalu Hermawan sampai dirumah lalu masuk dengan terburu -buru menuju lantai dua rumahnya.
sesampainya dikamar Risa, kemudian sang Ayah memandang wajah pucat Risa yang seakan tidak di Aliri darah.
Ratih yang masuk ke kamar Risa dengan terburu-buru, seketika terdiam ditempat karna baru kali ini Ratih melihat risa sakit Sampai tak sadarkan diri.
"pah sebaikya panggil dokter dulu jika tidak bisa dirawat dirumah kita bawa kerumah Sakit." ucap Ratih.
"iya Bu, bapak akan menelpon dokter kelurga kita." sahut Hermawan.
sepuluh menit berlalu dokter Martha kemudian tiba dan disambut oleh Hermawan langsung berjalan menuju ke Kamar Risa.
dokter Martha memeriksa Risa dengan teliti, setelah itu terlihat dari bibirnya mengulas senyum simpul penuh arti.
"Bagaimana dengan Anak saya Risa dok?"
ucap Ratih dengan rasa penasaran bercampur bingung melihat senyum yang terukir dibibir dokter Martha.
Hermawan menatap dokter Martha menantikan jawaban dari sang dokter.
Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Risa baik-baik saja di semester pertama bagi ibu muda memang wajar mengalami hal ini.
"Maksudnya semester pertama apa?" tanya Sang ibu.
"Anak saya kenapa?" tanya Ratih beruntun seperti rell kereta api.
"seperti saya katakan sebelumnya Risa baik-baik saja dia hanya kelelehan, cukup biarkan dia istrahat dan makan-makanan sehat agar tumbuh kembang janinnya juga sehat." jawab dokter Martha.
"JANIN, maksud dokter anak saya Hamil dok?" tanya Ratih kaget.
"iya bu, selamat ya usianya sudah memasuki minggu ke-8, jangan biarkan dia setres karena banyak pikiran." jawab dokter Martha.
bagai ditembak tepat mengenai jantung, Hermawan dan Ratih tidak dapat bergerak dan tidak lagi berbicara tatapan mata mereka berdua kosong.
dokter Martha yang menyaksikan itu lantas tersenyum mengira keduanya terkejut diberi kabar Bahagia.
"baiklah karena semua sudah selesai saya permisi dulu." ucap dokter Martha.
lima menit berlalu setelah kepergian dokter Martha, Hermawan dan Ratih saling pandang lalu melihat ke arah Risa yang masih menutup matanya.
"pah apa mama tidak salah dengar dokter Martha mengatakan Risa hamil?" ucap Ratih.
"sepertinya papah juga dengar begitu mah." sahut Hermawan.
"apa papah yakin Risa bisa melakukan hal serendah itu?" ucap Ratih lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Sri Peni
suka ceritanya
2024-01-17
2
Mini Soegiharto
menarik kakak
2022-07-06
2
Jesica Adryanna
cerita tentang apa pun itu pasti dg mafia
2022-05-30
1