Ayura dan Ello saling tatap. Lalu keduanya diam untuk beberapa saat. Tapi pada akhirnya dengan penuh rasa berat di hati, keduanya berkata "SIAP" secara bersamaan.
"Baiklah kalau begitu kita mulai ijab kabulnya." Pak ustadz mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Ello.
"Ehh,, tunggu sebentar pak ustadz," cegah Bu Lurah tiba-tiba.
"Kenapa ya Bu?"
"Ini lho pak ustadz saya mau minta hape masnya buat rekam ijab kabul mereka. Biar bisa jadi kenang-kenangan untuk keduanya," ujar Bu Lurah dan di balas anggukan kepala oleh pak ustadz.
"Mas sini hapenya biar saya rekamin ijab kabulnya." Bu Lurah mengulurkan tangannya pada Ello dan mau tak mau Ello memberikan ponsel keluaran terbaru miliknya yang bergambar apel di gigit tikus di belakangnya.
"Mas iki piye cara buka'e? Ibu ora paham (Mas ini gimana cara bukanya? Ibu gak ngerti)," tanya Bu Lurah yang bingung bagaimana cara memakai ponsel mahal itu. Maklum biasanya dia hanya memakai ponsel android dengan harga yang tidak mencapai dua juta.
Ello memang sedikit mengerti bahasa jawa, jadi dia kembali mengambil ponselnya dan membukakan kunci ponselnya. "Sisan nang kamerane mas. Ben mengko ibu gari pencet. (Sekalian ke kameranya mas. Nanti biar ibu tinggal pencet)."
Ello kembali memberikan ponselnya pada Bu Lurah setelah membuka aplikasi kamera. "Ibu nanti tinggal pencet ini aja," ucap Ello mengajarkan bagaimana merekam sebuah video.
"Sip mas." Bu Lurah mengambil ponsel Ello dan kembali ke tempat duduknya.
"Baiklah kalau begitu. Bisa kita mulai lagi acara ijab kabulnya?"
"Bisa pak ustadz," jawab serempak semua orang di dalam ruangan itu kecuali Ayura dan Ello sang calon pengantin.
Pak ustadz kembali mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ello. Ello menatap tangan penghulu itu terlebih dulu, lalu menjabatnya tanpa ragu. Karena memang mungkin ini yang harus terjadi.
"Saudara Grafello Axel Darmawangsa."
"Iya saya."
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Grafello Axel Darmawangsa bin Arya Darmawangsa dengan Ayura Kazumi Aditama binti Genta Aditama dengan mas kawin uang lima ratus ribu rupiah di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayura Kasu-" ucapan Ello terhenti saat lupa nama lengkap calon istrinya.
"Nama calon istri sendiri kok gak hafal mas mas," pak ustadz menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Coba baca dulu dan di hafalkan." Pak ustadz menyodorkan kertas bertuliskan nama calon istri dan calon mertuannya.
Dan dengan wajah serius Ello mencoba menghafal nama itu di otaknya yang hanya mempunyai daya ingat apa adanya itu.
"Gimana sudah hafal?" tanya pak ustadz setelah beberapa menit berlalu.
"Insya Allah sudah pak."
"Baiklah kita mulai kembali ijab kabulnya."
Dan setelah ijab kabul ketiga kali akhirnya Ayura dan Ello dinyatakan SAH menjadi sepasang suami istri. Lalu mereka semua berdoa untuk kebaikan kedua mempelai.
"Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri menurut agama. Dan agar pernikahan kalian sah di mata hukum, kalian bisa melengkapi surat-surat yang dibutuhkan."
Ayura dan Ello sama sekali tidak mendengarkan penjelasan-penjelasan yang di berikan pada mereka. Fokus mereka hanya pada satu masalah yang sama. Yaitu mereka sudah menikah di saat masing duduk di bangku SMA.
'Mampus sekarang lo beneran udah nikah Ello. Tapi gue masih bingung harus gimana sekarang? Gue udah jadi seorang suami. Dan tanggung jawab gue sekarang bukan hanya diri gue sendiri lagi. Tapi juga tanggung jawab sama istri gue.' Ello melirik Ayura yang terlihat sedang melamun. 'Huft.... untung bini gue cakep. Setidaknya mata gue gak sepet kalau liat wajah bini gue sendiri.'
'Papi ampuni Yura kalau ini semua karma karena Ayura gak nurut sama papi. Ayura janji gak bakalan kabur-kabur lagi. Ayura beneran kapok. Suwer deh.' Kini giliran Ayura yang melirik pria tampan nan imut di sampingnya yang kini sudah berstatus suaminya. 'Huft... ganteng sih. Tapi masih bocah SMA. Gimana dia mau nafkahin gue kalau kerja aja belum. Trus gue bakal di kasih makan apa? Ketampanannya? Haha mana bisa kenyang. Yang ada lo mati kelaparan Ayura.'
"Selamat ya kalian sudah menjadi sepasang suami istri," ucap pak Polisi sambil mengulutkan tangannya. Ayura dan Ello menerima uluran tangan Pak Polisi dengan ekspresi datar tanpa sedikit pun senyum di bibir keduanya. "Dan sekarang kalian boleh lanjutin ngamar di losmennya," bisik pak Polisi pada Ello hingga membuat dia memutar bola matanya malas.
~
Ayura dan Ello sudah kembali ke losmen tempat mereka menginap. Keduanya masih saling diam tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Canggung? Tentu saja canggung walaupun sudah menikah.
'Nama dia aja gue masih lupa-lupa inget. Gimana bisa sekarang justru gue udah sah jadi suaminya,' batin Ello melirik Ayura yang sedang duduk di atas ranjang sambil menundukan kepala dan memaikan kuku tangannya.
"Ehem... " Ello berdehem untuk menetralkan suaranya. Dia mengalihkan pandangan ke arah Ayura yang kini juga sendang menatapnya. "Gue ke luar dulu sebentar ya. Lo istirahat aja dulu," ucap Ello yang terlihat kikuk.
"Iya...." jawab Ayura singkat padat, jelas dan terdengar menyebalkan.
Ello beranjak dari duduknya lalu menggendong tas ransel di punggungnya, kemudia bergegas keluar dari kamar losmen. Dia lelah dan mengantuk, tapi sepertinya saat ini tak mungkin jika dia tidur di satu kamar dengan Ayura.
Ello memilih naik taxi yang dia stop di depan losmen. "Pak, ke pantai parangtritis ya," ujar Ello pada sopir taxi.
Hanya butuh waktu sekitar empat puluh lima menit hingga taxi yang di tumpangi Ello sampai dipantai parangtritis.
Ello berjalan santai menyusuri tepian pantai yang hari ini terlihat dipenuhi pengunjung.
"Huh...gue harus gimana sekarang? Rasanya berat banget memikul beban sebagai seorang suami. Apalagi pernikahan ini sama sekali gak di ketahui oleh keluarga gue mau pun keluarga dia." Ello mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar tak tahu harus bagaimana.
Yang Ello tau setelah menikah, tanggung jawab ayah istrinya sudah berpindah ke padanya. Termasuk memberi nafkah dan tempat tinggal. Tapi bagaimana bisa Ayura diajak tinggal bersamanya? Jika dia saja masih ikut tinggal bersama kedua orang tua dan kakak tertuanya.
Bisa saja Ello membawa Ayura tinggal diapartemen yang dia beli beberapa bulan yang lalu. Tapi alasan apa yang harus Ello katakan pada papa dan mama agar dia bisa tinggal bersama Ayura? Bilang dia istrinya? Hah? Yang ada dia tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi.
Ello berjalan kerumah makan berbentuk gazebo yang ada dipingir pantai. Dia mendudukan tubuhnya setelah memesan ikan bakar dan es kelapa. Memikirkan nasib pernikahan dia kedepannya membuat kepala Ello pusing, bahkan juga membuat perutnnya lapar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Lee Fay
Gak sah sih, krna ayah kandung ayura bhkan kakaknya jga masih hidup
2024-05-02
2
Efvi Ulyaniek
lha ga mau KK nya dapet adiknya 😀😀😀
2024-01-28
1
Qaisaa Nazarudin
Udah NIKAH dan SAH malah ditinggalin..
2023-09-18
0