Keesokan harinya Zafrina terbangun, ia melihat papi dan maminya tidur saling berpelukan. Ada perasaan senang tersendiri dihatinya. Namun sesaat wajahnya muram. Semalam ia bermimpi bermain bersama kakak dan adik-adiknya. Zafrina merindukan mereka.
Gadis kecil itu turun dari ranjang dan duduk di sofa. Menunggu papi dan maminya bangun.
Velia merasakan kehangatan dalam dekapan Rian, ia semakin menelusup kedalam pelukan Rian. Ia bahkan tak mengingat dirinya tengah berada dikamar siapa. Rian yang sebenarnya sejak tadi sudah bangun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia semakin mempererat pelukannya.
Lama kelamaan Velia tersadar ia langsung membuka matanya lebar-lebar. Lalu ia mendorong tubuh Rian. Namun sayangnya tubuh tinggi tegap itu sama sekali tak bergeser. Rian membuka matanya. Menatap manik kecoklatan milik Velia. Ia membelai lembut wajah Velia sambil tersenyum. Sedang Velia mendelik kesal kearah Rian.
Wajah keduanya tak berjarak hidung mereka saling bersentuhan. Jantung Velia seakan lepas dari tempatnya. Rian memagut bibir seksi istri yang baru ia nikahi beberapa hari ini.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Velia. Tangan Rian mengusap punggung Velia yang halus, Velia mulai terbuai dan tanpa sadar membalas ciuman Rian dengan tak kalah panas. Lidah mereka saling bertaut, decakan demi decakan terdengar memenuhi ruangan.
Setelah beberapa saat Rian melepas pagutannya, ia mengusap bibir Velia yang sedikit bengkak dan basah. Gadis itu justru menyembunyikan wajahnya di dada Rian karena malu.
"Kau manis sekali gadis bar-barku." Batin Rian
"Dasar Velia bodoh. kenapa membalas ciumannya." Velia merutuki kesalahannya.
Rian bangun dari posisi tidurnya. Ia melirik ke sebelah Velia, namun kosong. Ia mengedarkan pandangannya, dan melihat putri kecilnya tertidur di sofa.
Mau tak mau Velia ikut bangun, ia menoleh kebelakang dan tak ada Zafrina disana. Ia mengikuti arah pandangan Rian. Dan ternyata gadis kecil itu pindah tidur di sofa.
Rian mendekati Zafrina dan membelai rambutnya. Gadis kecil itu terbangun lalu memeluk ayahnya.
"Papi, Ina mau pulang ke rumah Oma ayu." Kata Zafrina.
"Kenapa sayang, apa Ina tidak mau sama papi lagi?" tanya Rian sedikit kecewa. Mendengar permintaan Zafrina, Velia ikut mendekati putri sambungnya.
"Ina kenapa?" tanya Velia.
Gadis itu menatap Rian dan Velia bergantian. Matanya langsung basah. "Ina kangen Zafa, Ana dan Zayn. Ina mau sama mereka." Lirih gadis itu.
Rian menyadari bagaimanapun memang Zafrina tidak pernah jauh dari Dian dan saudaranya yang lain.
Tapi papi masih ingin menghabiskan waktu sama Ina dan Mami." Kata Rian membujuk putrinya.
"Tapi Ina kesepian ga ada teman main." Ujar gadis itu sesenggukan. Rian menjadi tak tega melihat anaknya menangis. Ia memeluk putrinya dan Veli mengusap kepala Zafrina.
"Ya sudah sekarang Ina mandi dan sarapan. Nanti setelah itu mami dan papi akan antarkan Ina ke rumah Oma ayu." Kata Velia. Rian mengangkat wajahnya menatap Velia. Ia tahu lambat lain gadis yang ia nikahi ini pasti mau menerima kehadiran putrinya. Bahkan sekarang Velia tak sungkan lagi menyebut dirinya mami. Gadis itu justru memalingkan wajahnya yang memerah saat mendapat tatapan mata yang begitu intens dari Rian. Bayangan ciuman panas mereka tadi terlintas dibenak Rian menerbitkan Senyum tipis dibibir Rian.
Setelah bersiap Rian menghubungi Yusuf dan Alif untuk mengantar putrinya, dirinya dan Velia ke rumah Sekar.
"Sayang, tapi nanti kalo mama sama papa Gerry pulang ke Jakarta, Ina sama papi aja ya?" Ujar Rian pada Zafrina. Tapi gadis itu tampak berpikir, ia mengetuk-ngetuk dagunya.
"Gimana ya papi. Zafrina mau tinggal sama papi dan mami kalo ada adik bayi. Biar Ina ada teman main." Kata Zafrina. Wajah Velia memucat, jangan sampai gara-gara permintaan anak sambungnya ia harus menyerahkan diri sepenuhnya pada Rian.
Rian menyeringai kearah Velia. Hingga bulu kuduk Velia meremang.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan." Otak Velia mulai memikirkan cara untuk melepaskan diri dari situasi yang tidak dia inginkan.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan rumah Sekar. Anak-anak Dian sedang bermain di halaman. Velia menatap hal itu dengan hati yang bergetar. Ada perasaan sedih yang tergambar jelas dari sorot matanya. Ia mengingat kenangan sewaktu kecil bersama David. Sepupu, kakak angkat sekaligus cinta pertamanya. Dulu mereka berdua selalu bermain bersama-sama hanya kegembiraan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Tanpa sadar bulir air mata membasahi pipi Velia. Rian merasa Velia bertingkah aneh. Namun sebisa mungkin dia menahan rasa penasarannya. Ia merangkul bahu Velia, tapi tangannya buru-buru ditepis oleh gadis itu.
"Kenapa makin kesini kau semakin kurang ajar?" desis Velia. Rian mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Asal kau tau, aku adalah pemilik tubuhmu. Jadi aku berhak melakukan apa saja padamu. Termasuk membuatmu hamil." Ujar Rian dengan santai. Velia mendelik kesal, ia berjalan menghampiri anak-anak Dian.
"Ina .." Zayana menjerit senang, ia menghampiri kakaknya yang usianya hanya terpaut empat belas bulan dengannya. Keduanya saling berpelukan. Zafrina terlihat begitu bahagia diantara saudara-saudaranya yang lain
Setelah menyerahkan Zafrina pada Dian dan Gerry, Rian meminta Yusuf dan Alif untuk mengantar kembali ke rumah.
"Apa tuan tidak ingin berkeliling?" tanya Yusuf, Rian yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh ke arah pria itu.
"Aku ada meeting sebentar lagi. Jadi aku harus pulang dulu. Jika kalian masih mau menunggu nanti sore saja aku ingin berjalan-jalan dengan istriku." Ujar Rian sesekali menatap Velia yang membuang pandangan. Velia langsung menoleh kearah Rian saat Rian menyebut kata istriku tanpa keraguan, ia mengerutkan alisnya.
Sesampainya di rumah Velia, Rian langsung masuk ke kamar mengambil laptopnya. Dan keluar lagi duduk di ruang keluarga dimana Velia sedang bersantai.
Rian meletakkan laptopnya diatas meja. Lalu ia mengangkat kepala Velia yang sedang tiduran di sofa dan mengganti bantalan Velia dengan pahanya.
Velia dibuat terbengong dengan tingkah Rian yang terlampau romantis. Rian mulai menyimak jalannya rapat. Bahkan ia tak segan menegur kepala bagian yang membuat kesalahan laporan. Suaranya yang berat dan serak mampu membuat Velia bergetar.
Tangan Rian terus mengusap rambut panjang Velia. Gadis itu tertegun, tak menyangka pria arogan yang dulu sempat membuatnya selalu emosi bisa bersikap seperti ini.
Apakah ini hanya akal-akalan dia saja agar aku mau menjadi ibu sambung Zafrina. Atau memang semua perbuatannya tulus dari dasar hati? Batin Velia mulai bergejolak. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup direlung hatinya.
"Kenapa hatiku merasa aneh seperti ini dengan perlakuannya?" gumam Velia, matanya terus menatap Wajah Rian dari bawah. Rahangnya yang kokoh, hidungnya yang mancung benar-benar mempesona.
Disaat Velia asik dengan lamunannya memandang sosok suaminya. Tiba-tiba Rian menunduk dan menatap manik mata Velia. Pria itu tersenyum lembut mendapati istrinya tengah memperhatikan dirinya.
Jantung Velia semakin bertalu-talu hebat.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Maafin othor ya, up nya mungkin sering siang soalnya hape othor buat daring anak othor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Nur Azizah
lanjuutt kakak autlthorr yang hebat,,/Heart//Heart//Heart//Good//Good//Good/
2025-04-04
0
Nur Bahagia
Rian 🤗
2024-09-20
0
ira
sungguh sweet s Rian ini🥰🥰
2024-05-06
0