Di belakang Jesi

“Kiri! Kiri, Mang. Aku turun di sini.” Teriakan Jesi dari belakang membuat angkot yang ia tumpangi seketika menepi.

Dengan membungkuk ia keluar dari angkot, setelah itu menghampiri pintu depan dan memberikan uang lima ribu rupiah.

“Nggak usah kembalian Mang.” Tanpa menunggu jawaban Jesi berlalu pergi. Pikirannya terus terbayang apa yang ia lihat di lampu merah tadi. Jauh-jauh ia tepis tapi tetap saja bayangan itu kian nyata. Meskipun tak melihat wajah mereka tapi dari postur tubuh dan pakaian yang dikenakan oleh mereka Jesi bisa mengambil kesimpulan jika itu benar-benar Zidan, kekasihnya. Sedang perempuan di jok belakang itu Raya, sahabatnya.

Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri Jesi sampai tak sadar saat Teh Ai, penjual boba di depan indoapril memanggilnya hingga perempuan beranak satu itu menghampirinya dengan minuman kesukaannya.

“Dingin banget dah!” Jesi tersentak dengan satu cup boba yang disenggolkan ke lengannya.

“Teh Ai ih ngagetin aja. Untung aku nggak jantungan!” lanjutnya seraya memandang boba di tangan teh Ai.

“Ambil. Buat Neng Jesi.”

“Tapi aku nggak pesen teh. Aku lagi nggak bisa jajan nih.” Jawab Jesi dengan sedikit cemberut.

“Gratis buat neng Jesi. Teteh kira kamu sakit soalnya tumben udah dua hari nggak mampir.”

“Aku baik-baik aja teh. Makasih yah gratisannya.” Jesi mulai menikmati bobanya di samping indoapril.

“Teh ada yang beli tuh.” Lanjutnya saat mendapati orang yang berdiri di depan stand boba. Tak lama pintu indoapril terbuka dan seorang perempuan dengan pakaian berwarna biru keluar dari sana.

“Ya ampun mba kasir... gue mesti kabur nih.” Batinnya kemudian segera berjalan dengan cepat ke area komplek perumahan.

Sedikit terengah karena berjalan setengah berlari di bawah matahari yang masih bersinar dengan terik meskipun waktu sudah hampir ashar. Jesi duduk selonjoran di depan rumah orang lain sambil meminum boba gratisannya.

“Udah kayak buronan aja deh gue. Perkara belanjaan delapan puluh tujuh ribu doang. Besok gue tebus deh kalo sisa uang jajan gue udah banyak sekalian belanja yang lain.”

“Udah kayak anak ilang euy gue selonjoran sendiri kek gini. Di depan rumah orang pula.” Gumamnya sambil terus meminum boba hingga habis. Merasa sudah cukup istirahat Jesi meneruskan langkahnya.

“Walaikumsalam! Bu, Jesi pulang.”

Bukan tak tau cara mengucapkan salam yang benar, hanya saja Jesi suka melalukan hal itu untuk mendapat perhatian dari sang ibu. Karena biasanya jika ia mengucapkan salam terbalik ibunya akan langsung menghampiri dan menegurnya. Meskipun tegurannya selalu itu-itu saja tapi Jesi suka.

Tak ada tanda-tanda sang ibu akan menghampirinya Jesi bisa menyimpulkan jika ibunya tak ada di rumah. Dengan malas dia berjalan ke kamarnya, hari kedua sebagai rakyat jelata sudah tak terlalu melelahkan, dirinya sudah mulai terbiasa. Jika hari kemarin fisiknya merasa sangat lelah hari ini rasa lelah itu berpindah ke hati dan pikirannya yang masih terus mengingat pemandangan di lampu merah tadi.

Setelah meletakan tas dan bukunya di meja belajar Jesi merebahkan diri di ranjang. Jari lentiknya mulai mengusap layar benda pipih hingga sebuha pesan masuk membuatnya tersenyum.

“Maaf tadi nggak keangkat telponnya, sayang.”

Belum sempat Jesi membalas pesan itu, panggilan vidio sudah masuk. Jesi segera bangun dan bersandar di kepala ranjang, tak lupa merapikan rambutnya.

“Halo Kak.” Ucapnya pada wajah lelaki yang siang tadi tak berhasil ia temui.

“Udah pulang?”

“Udah, Kak. Aku baru aja nyampe. Tadi aku ke kelas kakak loh, tapi kakak nggak ada.” Jawab Jesi.

Obrolan mereka berlanjut cukup lama. Jesi menceritakan bagaimana orang-orang di kampus mulai bergosip tentang dirinya, pengalamannya makan di kopma hingga sosok mirip sang kekasih yang ia lihat di lampu merah tadi pun tak luput diceritakannya pada Zidan. Setelah hampir satu jam mereka mengakhiri panggilan.

Jesi yang tadi murung dan mati-matian menahan tangis karena mengira lelaki yang berboncengan dengan seorang gadis adalah kekasihnya kini kembali ceria. Dia guling-guling di ranjang sambil terus menatap foto profil Zidan.

“Tuh kan berarti tadi gue salah liat. Lagian nggak mungkin lah kak Zidan jalan sama Raya, sahabat gue sendiri.”

“Telpon Raya ah, aneh banget itu anak main pergi aja nggak bilang-bilang, takutnya dia kenapa-napa atau butuh bantuan.” Ujarnya kemudian mulai menekan kontak Raya.

Dia semakin tersenyum lega setelah mendapati kabar sahabatnya baik-baik saja. Ternyata Raya pulang lebih dulu untuk menjemput saudaranya dari luar kota.

“Dia sahabat terbaik. Maafin gue yang sempet mikir buruk tentang lo, Raya.” Batinnya setelah mengakhiri panggilan.

Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, Jesi memutuskan untuk turun dan membantu ibunya di dapur. Jika kalian pikir Jesi akan membantu ibunya masak, tentu tidak. Dia hanya menjadi penonton yang baik sambil bercerita pengalaman naik angkotnya untuk kesekian kali.

Hari-hari berikutnya ia sudah makin terbiasa naik turun angkot, bahkan cibiran dan hinaan yang ia terima pun kian redup dengan berjalannya waktu. Tak ada lagi Jesi si sultan berubah jadi Jesi si Rakyat Jelata penumpang angkot. Tapi ia sama sekali tak memusingkan hal itu, dengan naik angkot ia bisa melihat keragaman penumpang dari mulai siswa, ibu rumah tangga yang hendak pergi ke pasar, pedagang hingga kadang nenek tua penjual gorengan pun sering seangkot dengannya.

Tak mudah baginya untuk melihat sisi positif dari naik angkot, semua berkat Alya yang sering memberinya banyak masukan. Gadis berkerudung itu selalu punya cara tersendiri untuk merubah keluhan Jesi menjadi rasa syukur.

“Raya, makan siang bareng yuk. Gue kemaren makan di kopma, enak-enak loh.” Jesi menolah ke belakang dan berbicara pada Raya.

“Iya kan, Al?” Imbuhnya meminta persetujuan Alya yang sudah berdiri di samping meja mereka. Selama hampir seminggu ini dia memang lebih sering bersama Alya ketimbang Raya.

“Sorry gue harus langsung balik. Lain kali aja yah.” Jawab Raya.

Akhir-akhir ini Jesi jarang menghabiskan waktu dengan Raya. Sahabatnya selalu punya alasan untuk tak pergi bersamanya.

“Oh ya udah deh. Gue makan sama Alya aja.” Ucap Jesi sedikit murung, bagaimana pun juga baginya Raya adalah salah satu orang spesial. Jesi benar-benar rindu menghabiskan waktu bersama Raya seperti dulu dari mulai makan siang bersama, jalan ke mall, mengerjakan tugas dan sebagainya.

Zidan juga sangat jarang menemuinya, mereka hanya berkomunikasi lewat chat maupun panggilan vidio, kekasihnya itu sudah mulai sibuk menyusun skripsi. Hanya Alya yang sekarang selalu berada di sisinya.

“Iya sorry yah. Lain kali deh kita makan bareng lagi.” Ujar Raya, “Al, titip sahabat gue yah.” Imbuhnya kemudian berlalu pergi.

Raya, dia masuk ke salah satu cafe di depan kampus. Dia langsung berjalan ke meja ujung dan duduk di sana bersama seorang lelaki yang telah lebih dulu tiba, Zidan.

“Kok sendiri, Jesi mana?”

“Sengaja nggak gue ajak.” Jawab Raya.

“Lo gimana sih bebs? Kita ketemu berdua doang di sini, kalo ada anak-anak liat terus bilang ke Jesi gimana? Beberapa hari lalu aja Jesi liat kita di lampu merah, untung gue bisa yakinin dia. Kalo nggak bisa gawat.”

“Gawat kenapa? Lo takut ketahuan terus putus? Gue kira udah waktunya lo putusin itu anak manja. Sekarang dia udah nggak guna. Udah gembel!”

“Atau mungkin lo udah mulai suka beneran sama dia?” imbuh Raya.

“Nggak mungkin lah gue suka sama dia. Manja, cengeng dan nggak bisa disentuh sama sekali.”

.

.

.

aku nggak bisa bayangin pas si polos Jesi tau semuanya nanti. kasihan euy.

eta like komen sama favoritkeun teu kenging hilap yah!!!

Terpopuler

Comments

putri

putri

hooh kasian s jejes yaa teh

2024-04-15

0

aisyah

aisyah

baru sadar klu dulu aq baca tidak like,,maklum baru di nt

2024-02-22

0

Alvaro Alfahri

Alvaro Alfahri

pengen nyubit ginjalnya raya sama Zidan jadinya🙄

2023-06-26

0

lihat semua
Episodes
1 Kaleng Khong Guan
2 200k
3 07 09
4 Gosip
5 RakJel
6 Di belakang Jesi
7 Curhat dong!
8 Kita berakhir sampai disini!
9 Ikhlasin aja!
10 Aku belum siap nikah
11 plan kost
12 Rama
13 Pamit minggat
14 Botol misting
15 Aqua
16 CCG
17 Teh Payung
18 Karam
19 Awas jatuh cinta!
20 Bukan Yogyakarta
21 Freezer rasa rice cooker
22 Kakak ipar impian
23 Kontrak
24 Kambing hitam
25 everything gonna be okay
26 Neng Jesi Here
27 Ku anggap teman
28 Decoy Effect Jodoh
29 Serba salah
30 nol nya jangan dikurangin lagi!
31 Kang Ngamuk
32 Bukan dia kan?
33 Nggak ada akhlak!
34 Aneka susu
35 Curriculum vitae
36 Hati-hati jatuh hati!
37 jealous?
38 Simulasi Pernikahan
39 Dia calon istri gue, Ka!
40 Tersenyumlah, hanya untukku!
41 Kok bisa? kok bisa?
42 Penasaran
43 Ramadhan Darmawan, calon suami gue!
44 Barter aja, yuk?
45 Jadi calon istri Karam itu, Alya?
46 Taehyung oppa saranghae
47 Kesegaran Jas Jus
48 Galau
49 Hanya aku yang tak tau
50 Waspada Tikungan!
51 Ribet
52 Karena kamu calon istriku!
53 Nggak perawan lagi!
54 siang-siang jas jus
55 Nikah!
56 Gladi bersih
57 Mas Kawin
58 Nggak sah!
59 Dilarang belah duren!
60 Selamat tidur, istriku.
61 Malam Pertama
62 Pagi
63 Gara-gara malam pertama
64 Nggak keras, nggak enak!
65 Telepon
66 My Universe
67 Once Again Baby!
68 Sabarin
69 Sarapan
70 Abis ne nen bobo
71 Persahabatan mereka
72 Ember banget sih!
73 Korban Drama
74 Tentang Alya
75 PMS
76 Olivia
77 Si Oli
78 Kejujuran Rama
79 Marah tanda cinta
80 With Love, Olivia.
81 Live, Suara Hati Istri
82 3S
83 Sianida
84 Obat gatel
85 Tamu
86 Jesika, istrinya Ramadhan Darmawan!
87 Harapan dan Kenyataan
88 No Respect
89 Realistis
90 Bincang tengah malam
91 Rebutan nen nen
92 Murahan!
93 Ghibah mania
94 Berakhir bagimu, tidak untukku!
95 Cowoknya Alya
96 Aa Raka
97 Kepo
98 Ah Mam pus!
99 Anak magang kegatelan
100 Grup Chat
101 Join grup chat
102 Digosok makin siip
103 Admin
104 What? istri?
105 Hukuman menyenangkan
106 Dibalik semuanya
107 Balas Jasa
108 Mantan Jelalatan
109 Cilor
110 Manja
111 Klarifikasi atau Jeruji besi?
112 baby?
113 Hamil?
114 Nak, papi bisa stres!
115 BiTiEs
116 BiTiEs 2
117 Karma
118 Cara memilikimu kembali
119 Cara Memilikimu Kembali
120 121314
121 Tamu tak diundang
122 Semua baik-baik saja
123 Bahagia vs musibah
124 Bucin Tingkat Dewa
125 Pembalasan mertua
126 Artikel
127 Harus bagaimana?
128 Beri aku waktu
129 Tentang memaafkan
130 Huh!! untung sayang
131 Andai... andai.. andai...
132 Al, Otw halal yuk!
133 Undangan
134 Oh bobaku...
135 Boba KUA
136 Utang piutang
137 Kak Ramadhan, terimakasih.
138 Bonus 1. Aqua galon
139 Bonus 2. USG
140 Bonus 3. ehm ehm
141 Bonus 4. Dede bayi gemoy otw
142 Bonus 5. Kamu, sempurna.
143 Bonus 6. Santan Sachetan
144 Bonus 7. Rencana Bulan Madu
145 Bonus 8. My Baby Naralya Pertiwi
146 Bonus 8. Pending
147 Bonus 9. Bismillah aja
148 Bonus 10. Yes, sah!!
149 Bonus 11. Tidak menerima titipan!
150 Bonus 12. Rileks baby
151 Bonus 13. Once again yah sayang?
152 Bonus 14. Future
153 Santen Sachetan rilis
154 Tuan Muda and Me
155 Be My Wife
156 Ririd rilis
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Kaleng Khong Guan
2
200k
3
07 09
4
Gosip
5
RakJel
6
Di belakang Jesi
7
Curhat dong!
8
Kita berakhir sampai disini!
9
Ikhlasin aja!
10
Aku belum siap nikah
11
plan kost
12
Rama
13
Pamit minggat
14
Botol misting
15
Aqua
16
CCG
17
Teh Payung
18
Karam
19
Awas jatuh cinta!
20
Bukan Yogyakarta
21
Freezer rasa rice cooker
22
Kakak ipar impian
23
Kontrak
24
Kambing hitam
25
everything gonna be okay
26
Neng Jesi Here
27
Ku anggap teman
28
Decoy Effect Jodoh
29
Serba salah
30
nol nya jangan dikurangin lagi!
31
Kang Ngamuk
32
Bukan dia kan?
33
Nggak ada akhlak!
34
Aneka susu
35
Curriculum vitae
36
Hati-hati jatuh hati!
37
jealous?
38
Simulasi Pernikahan
39
Dia calon istri gue, Ka!
40
Tersenyumlah, hanya untukku!
41
Kok bisa? kok bisa?
42
Penasaran
43
Ramadhan Darmawan, calon suami gue!
44
Barter aja, yuk?
45
Jadi calon istri Karam itu, Alya?
46
Taehyung oppa saranghae
47
Kesegaran Jas Jus
48
Galau
49
Hanya aku yang tak tau
50
Waspada Tikungan!
51
Ribet
52
Karena kamu calon istriku!
53
Nggak perawan lagi!
54
siang-siang jas jus
55
Nikah!
56
Gladi bersih
57
Mas Kawin
58
Nggak sah!
59
Dilarang belah duren!
60
Selamat tidur, istriku.
61
Malam Pertama
62
Pagi
63
Gara-gara malam pertama
64
Nggak keras, nggak enak!
65
Telepon
66
My Universe
67
Once Again Baby!
68
Sabarin
69
Sarapan
70
Abis ne nen bobo
71
Persahabatan mereka
72
Ember banget sih!
73
Korban Drama
74
Tentang Alya
75
PMS
76
Olivia
77
Si Oli
78
Kejujuran Rama
79
Marah tanda cinta
80
With Love, Olivia.
81
Live, Suara Hati Istri
82
3S
83
Sianida
84
Obat gatel
85
Tamu
86
Jesika, istrinya Ramadhan Darmawan!
87
Harapan dan Kenyataan
88
No Respect
89
Realistis
90
Bincang tengah malam
91
Rebutan nen nen
92
Murahan!
93
Ghibah mania
94
Berakhir bagimu, tidak untukku!
95
Cowoknya Alya
96
Aa Raka
97
Kepo
98
Ah Mam pus!
99
Anak magang kegatelan
100
Grup Chat
101
Join grup chat
102
Digosok makin siip
103
Admin
104
What? istri?
105
Hukuman menyenangkan
106
Dibalik semuanya
107
Balas Jasa
108
Mantan Jelalatan
109
Cilor
110
Manja
111
Klarifikasi atau Jeruji besi?
112
baby?
113
Hamil?
114
Nak, papi bisa stres!
115
BiTiEs
116
BiTiEs 2
117
Karma
118
Cara memilikimu kembali
119
Cara Memilikimu Kembali
120
121314
121
Tamu tak diundang
122
Semua baik-baik saja
123
Bahagia vs musibah
124
Bucin Tingkat Dewa
125
Pembalasan mertua
126
Artikel
127
Harus bagaimana?
128
Beri aku waktu
129
Tentang memaafkan
130
Huh!! untung sayang
131
Andai... andai.. andai...
132
Al, Otw halal yuk!
133
Undangan
134
Oh bobaku...
135
Boba KUA
136
Utang piutang
137
Kak Ramadhan, terimakasih.
138
Bonus 1. Aqua galon
139
Bonus 2. USG
140
Bonus 3. ehm ehm
141
Bonus 4. Dede bayi gemoy otw
142
Bonus 5. Kamu, sempurna.
143
Bonus 6. Santan Sachetan
144
Bonus 7. Rencana Bulan Madu
145
Bonus 8. My Baby Naralya Pertiwi
146
Bonus 8. Pending
147
Bonus 9. Bismillah aja
148
Bonus 10. Yes, sah!!
149
Bonus 11. Tidak menerima titipan!
150
Bonus 12. Rileks baby
151
Bonus 13. Once again yah sayang?
152
Bonus 14. Future
153
Santen Sachetan rilis
154
Tuan Muda and Me
155
Be My Wife
156
Ririd rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!