2. Tony Setyo Anderson

Dari penulis :

Ini adalah novel bergenre romantis-komedi 21+.

Dengan membaca novel ini, pembaca harus memastikan dirinya sudah cukup umur dan memahami bahwa cerita ini hanyalah fiksi belaka. Hanya imajinasi yang bertujuan menghibur. Tidak ada pelajaran di dalam novel ini. Jadi, jangan dicari pelajarannya.

Harap bijak berkomentar. Pastikan Anda memilih bacaan yang tepat sebelum melanjutkan. Ingat, jangan salah memilih genre bacaan. Don't forget, our words is our class.

...______________________...

Suatu hari di kala usia mereka semua menginjak 33 tahun.

“Pokoknya harus temenin gua. Lo jalan aja terus, alamatnya gak masuk peta kayaknya,” ucap Toni melihat jalanan di depan.

“Lo yang jelas dong, tau alamatnya nggak?” Dean terus mengomel sambil menyetir dan menatap jalanan yang kanan kirinya dipenuhi pepohonan.

“Ini nyari alamat siapa sih, Ton?” Langit menatap Toni dari kaca spion tengah. Dahinya mengernyit butuh jawaban segera.

“Sabar …” sahut Toni.

“Gua jadi curiga. Jangan-jangan ….” Rio menatap jalanan yang semakin mengecil.

“Pasti Yo! Pasti!” sambut Dean dari depan.

“Nyesel gua bilang ke dia soal ketemu Wulan sama cowok lain. Pasti mau ke dukun!” maki Rio dengan wajah sebal.

“Udah cerai lama, nggak pernah mau usaha balikan. Tapi tiap denger Wulan jalan sama cowok lain, heboh sendiri.” Langit ikut menendang ujung sepatu Toni yang duduk di sebelah kirinya.

“Tadi bilang mau ke café temennya. Ada perlu sekalian nongkrong. Gua kira emang tema cafe-nya hutan lindung. Ngaku lo! Ini ke dukun, kan?” sergah Dean.

“Iya—iya … udah deh jangan ngomel aja. Gak bakalan lama,” jawab Toni dari sebelah Langit.

“Ngapain sih ke dukun? Mau dukunin Wulan lagi biar mau ama lo?” sinis Langit sambil memangku sebungkus snack berukuran besar yang belum dibuka.

“Ya enggaklah dukunin Wulan. Bisa murka, nyokap gue. Ini cuma perhelatan rutin buka aura, buang sial. Mami udah bikin janji. Gue sih cuma nurut aja.” Toni nyengir memukul lutut Langit.

“Wulan tau gak sih kebiasaan lo begini?” tanya Rio penasaran. Ia menoleh ke belakang sejenak untuk menatap Toni yang terlihat garang, tampan, modern namun terlalu sering mengucapkan ‘kata mami gue’.

“Ini bukan dukun. Mami gua bilangnya penasehat spiritual. Gak bakalan pake macem-macem,” ujar Toni.

“Kayak nggak punya Tuhan aja.” Dean mengerling Toni dari spion. “Jangan lama-lama ya … bini gua lagi sensi.”

“Ini lagi, kerjaannya nyetak anak terus. Yang tiga belum gede, udah bikin lagi. Rajin banget,” gumam Langit.

Dean terkekeh. “Ketimbang bini gua ikut-ikut kegiatan kampusnya. Untuk apa coba? Mending gua hamilin lagi. Biar dia diem di rumah. Gak apa-apa uring-uringan. Paling nitip beli ini-itu aja.”

“Laki-laki licik,” desis Langit dari belakang jok yang diduduki Dean. “Lakinya ceriwis, untung bininya nurut.”

“Itu namanya jodoh. Winarsih hanya tercipta untuk Pak Dean.” Dean terkekeh sebentar kemudian diam menatap jalanan yang semakin mengecil. “Ton! Liat peta lo! Kita di mana ini? Kok jalannya makin aneh.”

Dean menghentikan mobil di ujung jalan yang mengecil. Sisi kanan jalan dipenuhi pohon bambu dan sisi kirinya beragam pohon berbeda jenis. Matahari semakin condong tapi langit masih terang. Mata mereka tertuju pada pemandangan yang membuat kuduk merinding. Di ujung jalan terlihat beberapa batu nisan mencuat di antara ilalang.

“Itu kuburan Toni … Sebenarnya lo menjerumuskan temen-temen lo ke mana?” bisik Dean. “Serem ya …” sambungnya lagi.

“Peta—peta! Selama ada teknologi, semua pasti masuk akal!” pekik Rio mengambil ponselnya dari depan kantong mobil dan membuka aplikasi peta. Beberapa saat terpekur memandangi ponselnya, Rio menoleh Dean. “Gak ada sinyal …” bisik Rio membuat suasana mencekam.

Langit mengernyit kemudian menjepit snack di ketiaknya dan ikut membuka ponsel. Tak berapa lama ia juga bergumam. “Iya, gak ada sinyal …”

“Menurut petunjuk dari mami gue, kita udah nyampe. Ayo turun,” ajak Toni. Ia membuka pintu dan menurunkan kakinya yang terbalut sepatu berkilap menginjak tanah coklat yang disisipi rumput. Toni mengantongi ponsel setelah mengirim pesan pada ibunya.

“Yang bener aja Ton! Gak ada rumah di sekitar sini. “Kayaknya gak ada yang tingg—” Dean menoleh pada Toni.

BRAKK!!

Dean tersentak karena hempasan pintu yang dilakukan Toni. “Sialan … main turun aja.”

Toni dengan celana cokelat muda dan kemeja kotak-kotak kecil perpaduan cokelat hitam, berjalan ke depan mobil dengan dua ibu jarinya tercantol di saku belakang celana. Ia mendongak menatap langit yang sebagian besarnya tertutup dedaunan. Rambut dan bola matanya yang berwarna cokelat blasteran Indo-Amerika sebenarnya bisa membuat Toni lebih sadar akan tujuannya ke sana.

Rio berjalan memutari Toni. Pria bermata sipit yang biasanya paling logis dan pintar di antara mereka berempat, kini ikut terlibat mendatangi rumah ‘orang pintar’ lainnya. Rio sedang mengamati daerah sekitar sana sambil menyusun soal kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya tak perlu ia pikirkan. Sore itu setelan Rio santai. Meski begitu, jeans dan kemeja biru yang tergulung sampai ke siku tetap memancarkan kesan mahal pria itu.

Sedangkan Langit, berdiri di belakang Rio dan Toni. Menatap berkeliling sekilas kemudian kembali memusatkan perhatian pada kemasan besar snack penuh micin yang dikaguminya sejak tadi. Bapak muda dengan anak kembar itu, tadi baru saja pulang dari Bandung dan berhasil diculik dari kantornya. Langit dengan kemeja body fit berwarna hijau lembut dan celana chinos hijau lumut, terlihat masih sangat segar sore itu. Ditambah sepasang sepatu slip on menambah kesan penampilan santainya.

Dan Dean ….

“Kok belum turun sih dia?” tanya Toni.

“Biasa …” jawab Langit menoleh Dean yang baru melipat sun visor. Laki-laki yang mengemudikan mobil tadi, baru selesai bercermin mengecek rambut dan tampilannya sekilas.

Dean membuka pintu dan menjejakkan sepatu monk strap hitamnya ke tanah berumput. Tubuhnya masih terbalut rapi dengan setelan jas hitam beserta dasi. Dengan posisi rambut yang masih tegak dan satu tangannya menggenggam clutch cokelat, penampilan Dean lebih cocok pergi ke sebuah meeting.

“Si anjing bibirnya mengkilap, sebelum turun pasti disempet-sempetin pake pelembab bibir dulu.” Toni memandang sinis pada Dean yang berjalan dengan satu tangannya berada di saku.

Mereka berempat menatap jalanan kecil yang berbelok ke kanan. Sebelah kiri sebelum tikungan itu, memang ada pemakaman. Hanya beberapa batu nisan. Jadi kemungkinan besar itu adalah pemakaman keluarga.

“Keliatan serem, tapi setelah turun ternyata B aja tuh,” ujar Langit.

“Iya, biasa aja kok. Ini kita jalan kaki?” tanya Rio kembali menatap jalanan.

“Menurut lo?” sinis Toni.

“Udah—udah buruan. Entar kalo bini gue nelfon, gue tinggalin lo semuanya.” Dean melangkah mendahului teman-temannya.

“Siapa yang tadi bilang serem? Adem gini kok,” ucap Dean.

“Lo!!” jawab Toni, Langit dan Rio bersamaan.

“Oh,” sahut Dean.

“Iya ya … adem banget kayaknya tinggal di sini. Oksigen masih bersih. Faktanya di kota udara udah semakin tercemar,” kata Rio setengah memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

“Fakta—fakta … kebanyakan ngomong fakta. Kalo tinggal di sini, faktanya pasti lo langsung ngacir di hari pertama.” Langit berbicara sambil menepuk nyamuk di pipinya.

“Kok jauh banget sih? Gak jelas!” Dean menghentikan langkahnya menoleh sinis pada Toni. Kesabarannya mulai habis.

“Dikit lagi—dikit lagi.” Toni memegang bahu Dean dari belakang dan mendorong tubuh sahabatnya agar tetap berjalan.

“Eh, itu rumah. Bener Ton! Di kanan tuh,” Rio menunjuk sebuah rumah tak jauh dari sisi jalan namun terlindung dari pepohonan.

Serentak mereka mendekati rumah itu. Langit terlihat semakin gelap dan desing jangkrik mulai terdengar tajam menyerang telinga. Dean mengibaskan tangannya berkali-kali di depan wajahnya demi menghalau nyamuk hutan yang terbang rendah berniat mendarat.

“Gue duluan,” ucap Toni mempercepat langkahnya. Lalu ia merasakan ponsel di sakunya bergetar. Balasan pesan dari ibunya. “Lang, pegang dulu. Entar bacain,” seru Toni pada langit di belakangnya.

Langit berdiri tepat di belakang Toni, tangannya terulur mengambil ponsel Toni. Entah dari siapa snack yang sejak tadi ditimang-timang oleh Langit. Yang jelas bibirnya sedikit menarik gurat senyum tiap memandangi bungkusan itu.

Rio dan Dean ikut masuk ke teras rumah yang berpagar kayu sepinggang orang dewasa. Bagian depan teras yang rendah, membuat Toni dan Dean sedikit menunduk karena khawatir terbentur. Syukurnya mereka bisa berdiri tegak ketika tiba di depan pintu.

Sebelum berangkat, Toni sudah diingatkan ibunya akan aturan mengetuk pintu rumah itu. Tak ingin kelupaan, Toni meminta instruksinya kembali melalui pesan singkat.

“Emang gak serem sih, malah adem tinggal di sini.” Rio kembali memandang berkeliling.

“Iya, biasa aja.” Dean menjawab dengan wajah bosan.

“Bacaannya apa Lang?” tanya Toni pada Langit yang sedang memegang ponselnya.

“Ha? Bacaannya? Sobek di sini—” sahut Langit memandang bungkus snack-nya.

“Bacaan di pesan mami gue, Langit … bukan tulisan di bungkusan snack yang lo puja itu!” kesal Toni.

“Ha? Oh, sorry …” Langit membacakan sepotong perintah dari pesan yang dikirimkan ibu Toni melalui pesan singkat.

Dean dan Rio tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Toni. Langit memasang wajah serius menatap layar ponsel sahabatnya yang sedang tersesat dalam dunia perdukunan. Namun, saat sedang mengomeli Langit, tiba-tiba ….

“Cari siapa?” Suara seorang wanita terdengar dari belakang punggung Dean.

“What?!” teriak Dean. Ia terlonjak dan mendorong punggung langit yang berada di depannya. Rio yang terkejut tak sempat menoleh dan ikut memeluk punggung Langit. Sedangkan Langit yang berdiri tanpa ancang-ancang karena satu tangannya memegang ponsel dan tangan lainnya masih memeluk snack secara tak sengaja menabrak Toni yang terlihat sedang merapal sesuatu.

Toni menabrak pintu rumah sampai menjeblak terbuka karena dorongan tiga orang temannya. Tanpa mantra-mantra, rumah seorang yang katanya penasehat spiritual berhasil mereka masuki.

To Be Continued

Daftar istilah yang digunakan :

Terpopuler

Comments

Ard@n

Ard@n

ada ko ka jus pelajarannya...pelajaran iya2 dari pak dean..cium dong win🤭🤣🤣🤣

2024-02-23

0

Ratna_cgn

Ratna_cgn

🤣🤣🤣🤣🤣

2024-02-21

0

Iriana Sudesy

Iriana Sudesy

🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-02-06

0

lihat semua
Episodes
1 1. Dean Danawira Hartono
2 2. Tony Setyo Anderson
3 3. Balada Perdukunan
4 4. Rio Haryanto Oey
5 5. Akibat Kesalahan Satu Malam
6 6. Rangga Langit Kelana
7 7. Azas Keseimbangan dan Demokratis
8 8. Jurus Terakhir Dean
9 9. Bukan Rahasia Kelam
10 10. Tak Terlalu Spektakuler
11 11. Misi Mengamati (1)
12 12. Misi Mengamati (2)
13 13. Kerja Sama Tim
14 14. Menebus Kenangan Pertanyaan
15 15. Keributan Lebih Dulu
16 16. Akhirnya Perkelahian
17 17. Resor Gratis
18 18. Anak Sulung Badung
19 19. Perjanjian Damai
20 20. Bujukan Dean
21 21. Akhir Misteri (1)
22 22. Akhir Misteri (2)
23 23. Untaian Isi Hati
24 24. Aku Hanya Rakyat Biasa
25 25. Adu Ketahanan Mental (1)
26 26. Adu Ketahanan Mental (2)
27 27. Saran Dari Ahli
28 28. Memastikan Sesuatu
29 29. Dimanfaatkan Sekali Lagi
30 30. Rasa Dari Masa Lalu
31 31. Bukti Lipstik Waterproof
32 32. Cerita Teman Hidup
33 33. Bingkisan Panitia Outing
34 34. Teror Ucapan Bingkisan
35 35. Feedback Bingkisan
36 36. Man to Man
37 37. Ulah Para Sekretaris
38 38. That's Why We Adore Him
39 39. Aku Masih Seperti Yang Dulu
40 40. Andaikan Kau Datang Kemari
41 41. Jawaban Mana Yang 'Kan Kuberi
42 42. Adakah Jalan Yang Kau Temui
43 43. Untuk Kita Kembali Lagi
44 44. Aku Tak Biasa
45 45. Kantor Pengacara Tersohor
46 46. Potongan Kisah Masa Lalu (1)
47 47. Potongan Kisah Masa Lalu (2)
48 48. Potongan Kisah Masa Lalu (3)
49 49. Asal Muasal Sekretaris Setia (1)
50 50. Asal Muasal Sekretaris Setia (2)
51 51. Asal Muasal Sekretaris Setia (3)
52 52. Heboh Sekompi
53 53. Modus Mulus
54 54. Tamu Makan Siang
55 55. Bertemu Nyonya Rumah
56 56. Pernah Kumencintaimu, Tapi Tak Begini
57 57. Cintai Dia Yang Mencintaimu
58 58. Mengingatkan Dirimu Akan Sesuatu
59 59. Pertengkaran Anak Asuh
60 60. Jauh Dari Rencana
61 61. Kurang Konsentrasi
62 62. Ternyata Selama Ini
63 63. Menuju Penyelesaian
64 64. Tak Kubiarkan Kau Tak Bahagia
65 65. Dari Toni Untuk Wulan
66 66. Awal dan Akhir Bagi Wulan
67 67. Sebuah Akhir
68 68. Makan Siang Bersama
69 69. Hasil Rapat
70 70. Sesuai Janjiku
71 71. Acara Sabtu Pagi
72 72. Di Luar Rencana
73 73. Kekacauan Lainnya
74 74. Adu Ilmu
75 75. Asih Sebenarnya
76 76. Hidup Tetaplah Misteri
77 77. Cieeee
78 78. Di Dalam Mobil
79 79. Dua Kantong Bingkisan
80 80. Mengurai Simpulan Masa Lalu
81 81. Tragedi
82 82. Bubar
83 83. Tentang Aku dan Kamu
84 84. Kita dan Anak Adopsi
85 85. Urusan Kita
86 86. H Minus Dua
87 87. Malam Gaduh
88 88. Percakapan IGD
89 89. Tembakan Santoso
90 90. Permintaan Toni
91 91. Suprise
92 PENGUMUMAN PEMENANG GIVE AWAY
93 92. P3K
94 93. Memenuhi Janjiku Padamu
95 94. Hadiah Dari Sahabat
96 95. Jamuan Makan Malam
97 96. Keahlian Lama
98 97. Semangat Baru
99 98. Tunggu Kami
100 99. Jangan Terlalu Lama Terlelap
101 100. Kado Untuk Mami
102 101. Menjelang Kebahagiaan
103 102. Kelahiran Handaru
104 103. Kabar Dari Santoso
105 104. Arisan Impian
106 105. Misteri Cuti
107 106. Menuju Sidang
108 107. Paparan Alasan
109 108. Kado Pernikahan
110 109. Menatapi Hasil Sidang
111 110. Dari Musdalifah
112 111. Kebahagiaan Untuk Asih
113 112. Hari Keluarga Anderson
114 113. Menjenguk Bayi
115 114. Obat Untuk Mami
116 115. Menjelang Arisan Besar
117 116. Arisan Besar
118 117. Akhirnya, Keluarga.
119 118. Puncak Masa Keemasan
120 119. Takdir
121 120. Keluarga Besar (1)
122 121. Keluarga Besar (2) TAMAT
Episodes

Updated 122 Episodes

1
1. Dean Danawira Hartono
2
2. Tony Setyo Anderson
3
3. Balada Perdukunan
4
4. Rio Haryanto Oey
5
5. Akibat Kesalahan Satu Malam
6
6. Rangga Langit Kelana
7
7. Azas Keseimbangan dan Demokratis
8
8. Jurus Terakhir Dean
9
9. Bukan Rahasia Kelam
10
10. Tak Terlalu Spektakuler
11
11. Misi Mengamati (1)
12
12. Misi Mengamati (2)
13
13. Kerja Sama Tim
14
14. Menebus Kenangan Pertanyaan
15
15. Keributan Lebih Dulu
16
16. Akhirnya Perkelahian
17
17. Resor Gratis
18
18. Anak Sulung Badung
19
19. Perjanjian Damai
20
20. Bujukan Dean
21
21. Akhir Misteri (1)
22
22. Akhir Misteri (2)
23
23. Untaian Isi Hati
24
24. Aku Hanya Rakyat Biasa
25
25. Adu Ketahanan Mental (1)
26
26. Adu Ketahanan Mental (2)
27
27. Saran Dari Ahli
28
28. Memastikan Sesuatu
29
29. Dimanfaatkan Sekali Lagi
30
30. Rasa Dari Masa Lalu
31
31. Bukti Lipstik Waterproof
32
32. Cerita Teman Hidup
33
33. Bingkisan Panitia Outing
34
34. Teror Ucapan Bingkisan
35
35. Feedback Bingkisan
36
36. Man to Man
37
37. Ulah Para Sekretaris
38
38. That's Why We Adore Him
39
39. Aku Masih Seperti Yang Dulu
40
40. Andaikan Kau Datang Kemari
41
41. Jawaban Mana Yang 'Kan Kuberi
42
42. Adakah Jalan Yang Kau Temui
43
43. Untuk Kita Kembali Lagi
44
44. Aku Tak Biasa
45
45. Kantor Pengacara Tersohor
46
46. Potongan Kisah Masa Lalu (1)
47
47. Potongan Kisah Masa Lalu (2)
48
48. Potongan Kisah Masa Lalu (3)
49
49. Asal Muasal Sekretaris Setia (1)
50
50. Asal Muasal Sekretaris Setia (2)
51
51. Asal Muasal Sekretaris Setia (3)
52
52. Heboh Sekompi
53
53. Modus Mulus
54
54. Tamu Makan Siang
55
55. Bertemu Nyonya Rumah
56
56. Pernah Kumencintaimu, Tapi Tak Begini
57
57. Cintai Dia Yang Mencintaimu
58
58. Mengingatkan Dirimu Akan Sesuatu
59
59. Pertengkaran Anak Asuh
60
60. Jauh Dari Rencana
61
61. Kurang Konsentrasi
62
62. Ternyata Selama Ini
63
63. Menuju Penyelesaian
64
64. Tak Kubiarkan Kau Tak Bahagia
65
65. Dari Toni Untuk Wulan
66
66. Awal dan Akhir Bagi Wulan
67
67. Sebuah Akhir
68
68. Makan Siang Bersama
69
69. Hasil Rapat
70
70. Sesuai Janjiku
71
71. Acara Sabtu Pagi
72
72. Di Luar Rencana
73
73. Kekacauan Lainnya
74
74. Adu Ilmu
75
75. Asih Sebenarnya
76
76. Hidup Tetaplah Misteri
77
77. Cieeee
78
78. Di Dalam Mobil
79
79. Dua Kantong Bingkisan
80
80. Mengurai Simpulan Masa Lalu
81
81. Tragedi
82
82. Bubar
83
83. Tentang Aku dan Kamu
84
84. Kita dan Anak Adopsi
85
85. Urusan Kita
86
86. H Minus Dua
87
87. Malam Gaduh
88
88. Percakapan IGD
89
89. Tembakan Santoso
90
90. Permintaan Toni
91
91. Suprise
92
PENGUMUMAN PEMENANG GIVE AWAY
93
92. P3K
94
93. Memenuhi Janjiku Padamu
95
94. Hadiah Dari Sahabat
96
95. Jamuan Makan Malam
97
96. Keahlian Lama
98
97. Semangat Baru
99
98. Tunggu Kami
100
99. Jangan Terlalu Lama Terlelap
101
100. Kado Untuk Mami
102
101. Menjelang Kebahagiaan
103
102. Kelahiran Handaru
104
103. Kabar Dari Santoso
105
104. Arisan Impian
106
105. Misteri Cuti
107
106. Menuju Sidang
108
107. Paparan Alasan
109
108. Kado Pernikahan
110
109. Menatapi Hasil Sidang
111
110. Dari Musdalifah
112
111. Kebahagiaan Untuk Asih
113
112. Hari Keluarga Anderson
114
113. Menjenguk Bayi
115
114. Obat Untuk Mami
116
115. Menjelang Arisan Besar
117
116. Arisan Besar
118
117. Akhirnya, Keluarga.
119
118. Puncak Masa Keemasan
120
119. Takdir
121
120. Keluarga Besar (1)
122
121. Keluarga Besar (2) TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!