Sampai di rumah sakit, Raka langsung menggendong Melati menuju ruang IGD. Dokter langsung menanganinya.
Setelah dilakukan pemeriksaan Melati dibawa ke ruang persalinan. Dokter mengatakan jika saat ini Melati sudah akan melahirkan.
Pembukaan pada jalan rahimnya udah tujuh. Dokter meminta Raka masuk, karena ia mengira Raka adalah suami Melati.
Raka akan menolak, tapi setelah ia pikirkan akhirnya Raka masuk.
"Biarlah aku temani saja Melati melahirkan. Jino mau marah padaku, aku akan terima. Lagi pula ini semua bukan salahku. Aku tadi telah menghubungi telepon rumahnya. Pembantunya mengatakan mereka saat ini sedang liburan. Jino memang keterlaluan. Bisanya pergi liburan saat Melati hampir melahirkan"
Raka melihat Melati yang merintih karena kesakitan. Ia mendekati Melati dan menghapus keringat yang bercucuran diwajahnya.
"Maaf Melati. Aku diminta masuk dengan dokter. Aku tak tau harus menolak apa"
"Raka...sakit" ucap Melati menangis.
"Kamu harus kuat ya. Demi anakmu...."
"Iya, Raka. Terima kasih. Maaf karena selalu merepotkan kamu...."
"Aku nggak merasa kamu repotkan"
"Raka, jika aku harus pergi menyusul kedua orang tuaku karena melahirkan...tolong kamu lihat anakku. Apa mereka memyayanginya...."
"Melati, kamu jangan berkata begitu. Kamu pasti bisa lalui ini"
Dokter dan bidan masuk ke dalam ruangan itu. Dokter mengatakan pembukaan jalan lahir udah lengkap. Saatnya buat Melati mengedan untuk mengeluarkan bayinya.
Raka yang sadar jika ia bukan suami Melati, pandangannya selalu ia arahkan hanya pada wajah Melati.
Melati menggenggam tangan Raka ketika ia diminta mengedan. Melati mencoba mengedan sekuat tenaganya. Tapi bayinya belum juga keluar dari jalan rahim.
"Tarik nafasnya bu Melati. Setelah itu kembali ibu coba mengedan lagi" ucap Dokter itu.
Melati kembali mencoba mengedan, tanpa sadar ia menggenggam kuat tangan Raka.
Raka yang melihat wajah Melati memerah ketika mengedan, dan keringat yang bercucuran tanpa sadar mengeluarkan air matanya.
"Ya Tuhan, beginikah ketika ibu melahirkan aku. Menahan semua rasa sakit demi anak yang akan dilahirkannya. Seharusnya Jino melihat perjuangan Melati melahirkan bayinya agar ia tak tega memisahkan ibu dan anak. Aku minta tolong vidiokan aja sama perawat itu. Nanti suatu saat akan aku kirim padanya agar ia tahu perjuangan Melati melahirkan"
Raka minta izin pada dokter dan meminta tolong perawat untuk memvidiokan semua. Raka beralasan buat dokumen pribadi.
Melati kembali mencoba mengedan sekuat tenaganya, hingga akhirnya kepala bayi nya udah mulai tampak. Tapi kembali ia tak kuat.
"Ibu, coba lebih kuat lagi ya. Ini kepala bayinya udah mulai kelihatan. Kita coba lagi, jangan putus ya bu mengedannya"
"Melati, coba lebih kuat lagi ya. Kamu pasti bisa" ucap Raka sambil mengusap telapak tangn Melati yang menggenggamnya.
"Raka...aku nggak kuat rasanya"
"Jangan menyerah, kita coba sekali lagi"
Dokter dan bidan meminta Melati kembali menarik nafas dan mengedan lagi.
Melati mencoba dengan sisa tenaganya. Ia harus kuat demi anaknya. Itu yang Melati pikirkan.
Melati menarik nafasnya dan kembali mengedan dan akhirnya terdengar suara tangisan bayinya.
Raka langsung mengusap kepala Melati begitu mendengar suara tangis bayi.
"Melati, kamu dengarkan suara bayimu..."
"Raka...Itu suara bayiku"
"Iya. Kamu telah melahirkan seorang putera yang sehat ...."
Bidan memotong tali pusar bayi Melati yang masih terhubung dengan plasenta. Dokter meminta Melati mengedan lagi buat keluarkan plasentanya.
"Selamat ya pak, bu...bayinya laki laki. Sehat dan cakep banget..."
Bayi itu diletakan di dada Melati. Melati menangis melihat bayi merah yang ada di atas dadanya. Ia memeluk putranya kuat.
Setelah itu perawat minta izin untuk membersihkan bayi itu dulu. Raka izin keuar ruangan karena Melati akan dibersihkan.
Raka mengurus administrasi untuk kepindahan Melati ke ruang perawatan.
Melati saat ini telah dibersihkan dan di dorong menuju ruang rawat. Bayinya juga ikut di bawa.
Raka menggendong bayi Melati dan mengadzankan bayi itu. Setelah itu ia kbali meletakan bayi itu.
Ia mendekati Melati yang masih tampak kelelahan. Raka mengambil bubur yang diberikan buat sarapan Melati.
"Raka, kenapa bayiku kamu letakan kembali. Aku mau menggendongnya"
"Kamu sarapan dulu. Biar tenaga kamu pulih kembali. Saat ini bayimu masih lelap dalam tidurnya"
"Raka, aku nggak tahu harus bicara apa. Aku tahu tak cukup hanya mengucapkan terima kasih atas semua yang kamu lakukan. Tapi aku janji akan membantu kamu jika kamu membutuhkan bantuanku kapanpun.Walau tak banyak yang bisa aku lakukan, tapi apapun itu yang bisa buat membantumu, akan aku lakukan. Hanya dengan itu aku bisa membalas semua kebaikanmu selama ini"
"Aku tak mengharapkan balasan apapun. Karena aku memang ikhlas melakukan semuanya"
"Aku hanya bisa mendoakan semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu padaku. Dan memberikan kamu kebahagiaan selalu. Aku juga berharap kamu diberikan jodoh yang baik. Aku percaya lelaki yang baik buat wanita yang baik juga"
Raka menyuapi Melati sarapan. Setelah itu ia mengambil bayi Melati dari tempat tidurnya dan memberikan pada Melati.
Melati mencoba menyusui putranya. Raka yang melihat itu langsung membuang mukanya. Ia memilih menjauh dengan duduk di sofa.
Bayi Melati mulai mencari ASI nya. Ia mulai menyusu dengan Melati.
Melati memeluk putranya dan meneteskan air matanya.
"Ya Tuhan, apa aku akan sanggup berpisah dengan putraku ini. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan agar aku masih bisa melihatnya. Aku ingin terus memeluknya. Tapi aku sadar ia bukan milikku. Maafkan bunda sayang, bukannya bunda tak menyayangimu jika bunda memberikan kamu pada mami Nia. Tapi ini terpaksa bunda lakukan. Jika kamu besar nanti dan tahu kenyataannya, bunda harap kamu bisa mengerti apa yang bunda lakukan ini. Bunda terpaksa harus meninggalkan kamu, nak. Jika bunda punya pilihan pasti bunda ingin terus bersamamu...sayang. Semoga kita suatu saat nanti dipertemukan dan bisa bersatu lagi"
Raka mendengar suara isakan tangis Melati yang memeluk putranya.
"Melati, aku ikut sedih melihatmu menangis. Pasti kamu berat sekali melepaskan putramu buat Nia. Seandainya Jino mau melepaskan kamu dan putranya, aku akan mau menggantinya dengan uang sebesar apapun itu yang ia pinta. Tapi aku tak yakin Jino mau melakukan itu, kecuali Nia yang memintanya. Jika Nia mengizinkan Melati membawa anaknya, pasti Jino juga akan ikut mengizinkan. Jino hanya mau menuruti maunya Nia"
****************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Ibelmizzel
Raka carilh kelemahan Nia biar anak melati tetap sama melati
2025-02-23
0
Vera Wilda
hayooo Raka negosiasi sama Nia, karena Nia cuma mau duit doang .... kumpulkan bukti2 perselingkuhan Nia, ancam dia Raka , hayooo Raka kamu bisa bantu Melati....
2023-01-27
0
Jasmine
kapan ya terungkap perselingkuhan nia dan alex...sakit jg terpisah dr anak yg dilahirkan tanpa bisa memberikan haknya
2023-01-12
0