Jino terbangun dari tidurnya dan melihat jam sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Kemana Nia, kenapa belum kembali juga. Apakah terjadi sesuatu pada dirinya"
Jino mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Nia.
Beberapa ia mencoba tapi sambungan ponselnya tidak juga diangkat. Akhirnya Jino meninggalkan pesan buat Nia.
"Sayang, kamu dimana. Kenapa belum kembali. Aku sangat kuatir"
Setelah mengirim pesan pada Nia ,Jino lalu melihat ke arah sofa. Tampak Melati yang sedang tertidur dengan posisi duduk. Perutnya udah tampak jelas.
Jino mencoba bangun dan berjalan mendekati Melati.
Jino mengusap sudut bibir Melati yang terluka karena tamparannya.
"Maafkan aku, aku tak mau jika yang menjadi milikku disentuh oleh orang lain. Dan aku juga tak tahu kenapa aku emosi ketika kamu mengatakan tidak akan pernah mencintaiku dan siap pergi dariku. Sebenarnya aku sudah mulai terbiasa akan kehadiranmu."
Jino memegang tangan Melati dan mengusap pergelangan tangannya yang membiru.
Melati reflek menarik tangannya karena masih terasa nyeri jika disentuh. Ia terbangun dan melihat Jino yang memandangi wajahnya.
"Apa mas membutuhkan sesuatu"
"Kamu belum makan...."
"Aku akan menunggu mbak Nia dulu. Nanti makan di rumah saja" ujar Melati dan menggeser duduknya sedikit menjauh dari Jino.
"Kenapa...kamu takut aku sakiti lagi" ujar Jino melihat Melati yang menjauhi dirinya.
Melati hanya diam tak membalas ucapan Jino.
"Mela, aku belum gila. Aku tak akan menyakiti jika kamu tak berbuat salah. Kamu bisa tanyakan pada Nia. Apakah aku pernah melukai atau menyakiti dirinya"
"Itu karena mas mencintai mbak Nia. Sedang aku...." Melati menghentikan ucapannya. Ia menahan ucapannya agar tak mengeluarkan air matanya. Ia tak boleh cengeng di depan Jino.
"Sedang kamu apa...." ucap Jino mengulangi ucapan Melati
"Kehadiranku tak pernah kamu anggap. Matipun aku tak akan ada pengaruhnya bagimu"
"Kamu pikir aku akan sanggup membunuhmu"
"Mungkin...."
"Apa kamu pikir aku sekejam itu"
Melati menganggukan kepalanya. Jino mendekat , ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkan ketika melihat Nia masuk.
Nia langsung menghampiri Jino dan memeluknya.
"Mas, kamu udah bisa bangun. Aku senang banget. Maaf ...aku perginya lama. Sebenarnya aku tadi hanya di rumah sepulang dari rapat. Aku takut ke rumah sakit. Aku sedih melihatmu terluka, aku tak sanggup....kamu harus janji ya, jangan pernah terluka lagi. Aku nggak mau" ucap Nia dengan manjanya.
Jino lalu mengusap kepala Nia yang bersandar dibahunya.
"Aku nggak apa apa. Besok juga sudah diizinkan pulang. Aku tak akan terluka lagi. Aku tak akan meninggalkan kamu sendirian"
Jino mengecup pipi Nia dan bibirnya. Nia membalas kecupan dibibirnya dengan ******* bibir Jino. Ia tahu Jino akan melupakan kemarahannya jika Nia sudah mencium bibirnya.
"Lebih baik aku pamit, karena aku yakin kehadiranku tak akan pernah diharapkan jika ada mbak Nia"
Melati berdiri dan mengatakan pada Nia ia akan pamit pulang.
"Mbak...aku pamit dulu"
"Oh, Melati. Maaf karena telah merepotkan kamu. Apa kamu tak mau menginap di sini aja bersamaku"
"Aku belum makan dan mandi, mbak"
"Biarkan aja ia pulang. Jangan memaksanya. Kehadiran kamu sudah lebih dari cukup. Aku tak membutuhkan siapa siapa jika kamu ada disampingku" ucap Jino memeluk Nia
"Aku tahu mas , untuk itu aku pamit. Aku tak mau kehdiranku mengganggu. Aku juga lebih nyaman di rumah."
"Aku pamit dulu" ucap Melati dan meninggalkan ruang itu dengan jalan perlahan. Jino melihat Melati berjalan sambil memegang pinggangnya.
Melati memang merasakan pinggangnya yang pegal karena seharian belum membaringkan tubuhnya.
"Kenapa ia memegang pinggangnya. Apa ia merasakan sakit. Aku tak tahu apa yang aku rasakan. Berdua dengan Melati , aku merasakan ketenangan. Tapi aku tak mungkin menahannya di sini. Aku tak mau ia tahu jika sebenarnya aku senang jika ia juga berada disini. Aku tak mau menjadi pria serakah, bukankah kehadiran Nia sudah lebih dari segalanya"
Nia memang tak memberitahu pada keluarga Jino mengenai kecelakaan menimpa dirinya. Ia tak ingin bertemu mertuanya yang tak pernah menyukai dirinya.
Melati pulang ke rumahnya setelah pamit. Ia merasa tak perlu lama lama di rumah sakit.
Tiga hari di rumah sakit, Jino diizinkan pulang kembali ke rumah. Sejak kecelakaan itu Jino tidak mengunjungi Melati setiap sore lagi. Ia hanya datang dua atau tiga kali seminggu.
.............
Sudah lebih dari dua bulan sejak kejadian kecelakaan itu. Melati masih saja selalu irit bicara jika Jino mengunjunginya.
Melati memang sengaja menjaga jarak agar ia tak jatuh cinta pada Jino. Karena Jino suaminya itu , terkadang tampak sangat baik dan perhatian, dan terkadang dingin juga kejam.
Melati tak tahu, apa sebenarnya isi hati suaminya. Dan bagaimana perasaan Jino padanya.
Saat ini kehamilan Melati telah memasuki bulan ke tujuh.
Jino sore ini kembali datang mengunjungi Melati sepulang kerjanya. Ia membawakan susu buat ibu hamil buat Melati.
Kemarin Jino melihat stok susu Melati telah hampir habis. Ia juga membeli beberapa stok makanan buat di kulkas.
Melati dan Raka masih sering berkomunikasi hanya sekedar buat menanyakan kabar. Melati memang memberi nomor ponselnya pada Raka . Tapi ia tidak menyimpan nomor Raka diponselnya. Ia takut sewaktu waktu Jino memeriksa ponselnya.
Jino masuk ke rumah dan menuju ke dapur. Ia tak melihat Melati. Baisanya wanita itu sore hari selalu ada di dapur sedang menyiapkan makanan buatnya.
Ia juga tak melihat ada makanan di atas meja. Jino menuju kamar dan melihat Melati yang terbaring di tempat tidurnya.
Ia memegang dahi Melati dan terasa sedikit hangat.
"Kamu sakit..." gumamnya pada diri sendiri.
Jino naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Melati. Ia membawa kepala Melati dan menenggelamkan di dadanya.
Melati terbangun dan melihat wajah Jino yang terus saja memandanginya.
"Kita ke rumah sakit"
"Nggak perlu. Ini biasa. Aku hanya kecapean habis membersihkan rumah kemarin. Maaf mas...aku belum masak"
"Nggak apa. Tapi kamu harus berobat, suhu badanmu hangat"
"Aku tadi siang telah ke rumah sakit"
"Kenapa tak menghubungiku...."
"Bukankah mas yang mengatakan... jika aku tak perlu menghubungi mas seandainya itu bisa aku lakukan sendiri. Aku tak boleh manja. Aku harus mandiri. Karena aku akan hidup sendiri nantinya jika kamu mengusirku saat tak membutuhkan aku lagi. Kamu nggak mungkin lupa dengan perkataanmu itu mas. Karena kamu sudah terlalu sering mengatakan itu"
Jino diam mendengar ucapan Melati. Ia memang sering mengatakan itu.
"Apa kamu terluka dan sakit hati setiap mendengar ucapanku itu sehingga kamu menghafal setiap ucapanku padamu."
Melati bangun dari tidurnya dan menuju dapur. Ia mulai memasak makanan buat Jino.
Jino melihat Melati yang memasak dengan sedikit sulit karena perutnya yang membesar.
Ia berjalan mendekati Melati dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Maafkan aku...." ucap Jino dan mengecup pipi Melati.
Jino mengusap perut Melati dan membalikan tubuh Melati. Ia membungkuk dan mengecup perut Melati.
"Maafkan papi ya, papi tak bermaksud membuat ibumu terluka begini. Papi hanya menjaga jarak agar ibumu tidak akan merasakan sakit yang begitu parah jika ia sampai jatuh cinta pada papi dan harus pergi saat papi memintanya"
Jino berdiri dan memegang kedua bahu Melati dan memandangi wajahnya.
"Maafkan aku, aku berkata begitu agar kamu bisa mandiri jika suatu saat kamu harus hidup tanpa bantuan aku dan Nia. Tapi aku tak terpikirkan jika ucapanku itu akan menyakiti hatimu. Sekali lagi...maafkan aku"
Melati hanya diam tanpa membalas ucapan Jino.
"Apa yang kamu pikirkan mas, terkadang kamu begitu jahat dan kejam. Terkadang kamu tampak begitu lembut. Tapi aku harus menutup hatiku untuk tak terjerat denganmu mas. Aku tak mau membuat luka buat diriku sendiri. Aku harus bisa menjaga hatiku"
****************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
watashi tantides
Aku sakit hati dengernya apalagi Melati yang mengalaminya langsung😭💔
2025-01-13
0
Sumi Atun
laki asu
2023-04-26
1
Jasmine
jgn sampai terpengaruh dgn perlakuan baik jino...itu ada maunya...semoga melati secepatnya bebas dr jino dan menikah dgn raka
2023-01-12
0