Melati dengan perlahan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan Jino.
Sampai di depan ruangan yang ia pastikan tempat Jino di rawat, Melati mengetuk pintunya.
Terdengar suara sahutan dari dalam yang ia yakini suara Nia.
"Masuklah..."
Melati membuka pintu dan masuk ke ruang itu. Ia melihat dahi Jino ada yang dibalut perban. Nia yang duduk di sampingnya sedang menyuapi Jino.
"Melati, kenapa dari kemarin ponselmu dimatikan"
"Baterainya habis mbak, aku nggak tahu"
"Nanti aku ada urusan, kamu bisa tolong jagain mas Jino"
"Bisa, mbak. Mas Jino kenapa...."
"Kecelakaan dekat jalan tak jauh dari rumahmu. Untung ada yang menolong membawakan ke rumah sakit. Setelah sadar Jino langsung menghubungi aku. Kamu kemarin dari mana, Jino. Kok bisa ada di jalan dekat rumah Melati" ucap Nia
"Aku ada urusan kantor dekat sana..."
"Kemarin sehabis mengantar aku pulang, kamu pamit ke rumah mama. Tapi kenapa jadi berada di jalan itu"
"Aku nggak jadi kerumah mama karena ada klien yang ingin bertemu" ucap Jino berbohong.
Setelah menyuapi Jino, Nia pamit ingin pergi. Ia mengatakan pada jino ada pertemuan dengan rekan kerjanya.
Sudah hampir satu tahun Nia membuka butik. Ia beralasan bosan jika dirumah terus sendiri. Tak ada anak yang menemani. Sehingga Jino mau memberi modal buat usahanya.
"Jino, aku pamit ya. Kamu jangan lupa minum obat. Aku tak mau kamu lama lama di rumah sakit. Aku tak bisa tidur jika nggak memeluk kamu" ucap Nia dengan manjanya membaringkan kepalanya di dada Jino.
"Aku tak akan lama sakitnya. Karena aku juga tak bisa tidur tanpa memelukmu" ucap Jino dan mengecup tangan Nia.
"Ingat ya...jangan lupa minum obatnya... "
Nia mengecup pipi dan bibir Jino. Ia menghampiri Melati yang duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu.
"Mela, aku titip mas Jino ya. Suapi ia ketika jam makan. Dan ingat untuk meminum obatnya"
"Iya, mbak. Hati hati...."
Nia meninggalkan ruang tempat Jino di rawat. Melati tetap memilih duduk di sofa. Ia masih kesal melihat Jino.
Jino diam diam memandangi Melati yang duduk termenung memandang keluar ruangan. Sofa yang ia duduki berada dekat jendela.
"Aku tahu kamu masih kesal dan marah denganku. Tapi kenapa kamu tetap mau menjagaku. Apa kamu takut aku penjarakan seperti ancamanku kemarin."
"Aku haus...." ucap Jino membuat Melati kaget.
Ia berjalan mendekat ke tempat tidur Jino dan mengambilkan air minum. Ia membantu Jino untuk minum.
Jino melihat pergelangan tangan Melati yang masih membiru. Ia juga dapat melihat luka di sudut bibir Melati.
Setelah membantu Jino minum, Melati kembali duduk di sofa. Melati duduk tanpa memandangi Jino.
Jino yang tak suka diabaikan, ia mencari cara untuk mencuri perhatian Melati.
"Aku mau buah..." ucap Jino lagi.
Melati berdiri dan mengambil buah apel. Ia mengupas kulitnya dan memberikan dengan Jino tanpa suara.
"Kenapa memandangiku seperti itu. Kamu marah karena Nia meminta kamu buat menjagaku. Nia itu tidak akan meninggalkan aku jika urusannya tidak penting. Nia akan mengurusku hingga sembuh tanpa keluhan dan wajah masam"
Melati masih memandangi Jino dengan wajah masamnya. Jino menarik pergelangan tangan Melati yang sakit, agar ia bersuara.
"Mas, lepaskan. Tanganku sakit...." ucap Melati akhirnya
Jino melepaskan tangan Melati dan melihat ada tetes air mata di sudut matanya.
"Apa tangannya begitu sakit, sehingga ia menangis ketika aku tarik. Bukankah itu tangan yang kemarin aku tekan"
"Jika kamu keberatan menjagaku, kamu pulang saja. Aku bisa sendirian"
"Aku nggak keberatan...." ucap Melati dan kembali duduk di sofa.
Selang beberapa saat , perawat mengantar makanan buat Jino. Melati berdiri setelah perawat pergi dari ruangan.
Ia duduk disamping Jino dan mengambil makanan yang diberikan perawat.
"Waktunya makan siang ,mas...."
"Letak aja lagi. Nanti jika aku lapar, aku bisa memakannya"
"Mas, kamu harus makan. Agar kamu bisa minum obat"
Melati lalu menyuapi Jino dengan tanpa suara. Setelah Jino makan, ia lalu memberi obat.
Melati mengambil tisu dan membersihkan mulut Jino.
"Kamu nggak makan..." ucap Jino
"Sebentar lagi...."
"Aku nggak mau kamu membalas rasa kesalmu padaku dengan bayi itu. Jika kamu marah padaku, jangan siksa ia. Kamu harus makan supaya bayiku juga bisa makan. Jangan bilang kamu sengaja agar bayiku tak selamat"
"Apa kamu lupa mas, jika aku juga bundanya. Aku tak mungkin mencelakai bayiku sendiri. Aku masih waras...."
"Apa kamu ingin mengatakan aku gila"
"Aku tak pernah mengatakan itu, mas"
"Aku tahu kamu mengatakan itu karena kemarin aku mendorong tubuhmu hingga perutmu membentur kasur"
"Aku lupa jika mas pernah melakukan itu"
"Apa kamu saat ini masih marah padaku. Apa kamu pikir kamu berhak marah ...."
"Sudah aku katakan pada mas, jika aku sadar posisiku dimana. Tak mungkin aku marah pada, mas...."
"Syukurlah jika kamu menyadarinya"
Setelah mengucapkan itu, Jino memejamkan matanya. Karena pengaruh obat , Jino akhirnya tertidur.
Setelah melihat Jino tertidur, Melati keluar menuju kantin. Perutnya sudah terasa lapar.
Jino terbangun ketika dokter masuk ingin melepaskan perban dikepalanya. Luka yang dialami Jino tidak begitu parah. Hanya sedikit lecet.
Setelah perban di buka , dokter pamit keluar. Jino tak melihat kehadiran Melati di ruang itu.
"Kemana perginya Melati. Apa ia telah pulang dan sengaja meninggalkan aku sendirian. Ia tampaknya sangat marah padaku. Nia kemana perginya, ponselnya tak aktif. Apa ia masih mengadakan rapat"
Jino mencoba mendudukan badannya. Ia merasa haus. Jino mencoba berdiri karena letak dispenser yang cukup berjarak dari tempat tidurnya.
Melati yang akan masuk melihat dari jendela Jino yang mencoba berdiri. Ia berlari membuka pintu dan membantu Jino.
"Mas mau apa..."
"Aku mau minum sekalian buang air kecil"
Melati mengambilkan minum dan setelah itu membantu Jino menuju kamar mandi dengan membawakan infusnya.
Jino membuka celananya tanpa malu. Melati yang tampak membuang pandangannya.
"Kenapa kamu malu... bukankah kamu sudah sering melihatnya" ujar Jino melihat Melati
Melati tak menjawab ucapan Jino, ia membantu Jino memakaikan celananya.
Melati akan kembali ke sofa setelah membantu Jino tidur di kasurnya. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Jino.
"Aku tak suka kamu dekat dengan Raka atau pria lain. Aku mau kamu belajar dari Nia, ia selama menjadi istriku tak pernah jalan dengan pria lain dibelakangku. Ia selalu menjaga nama baikku. Aku tak akan berbuat kasar lagi padamu, jika kamu mau mendengar ucapanku"
"Aku tak ada hubungan apa apa dengan Raka. Aku tak akan berselingkuh. Walau pernikahan kita hanyalah diatas kontrak tapi aku menghargainya. Aku akan tetap berusaha menjadi istri yang baik walau kamu tak pernah menganggap aku"
"Baguslah jika kamu memang tak ada hubungan dengan Raka atau pria lain. Karena aku akan bisa berbuat kasar dan diluar pikiranmu jika aku tahu kamu berselingkuh"
"Bagaimana jika yang melakukan perselingkuhan itu mbak Nia, apa kamu juga akan menghukumnya"
"Apa maksudmu...."
"Aku hanya sekedar bertanya, bagaimana jika yang berselingkuh bukan aku tapi mbak Nia. Apa kamu tetap memberi hukuman yang sama"
"Tentu saja aku akan menghukumnya dan tak memaafkan ..tapi aku yakin Nia tidak mungkin berselingkuh. Ia wanita yang baik..."
"Ya, aku tahu. Mbak Nia memang wanita yang sempurna"
Melati lalu kembali melangkah menuju sofa dan duduk membelakangi Jino dengan pandangan keluar ruangan.
"Jika benar yang Raka katakan, apa mas Jino juga akan melakukan hal yang kejam jika ia tahu mbak Nia berselingkuh"
****************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
watashi tantides
Sungguh Melati adalah istri idaman semua🥹 walaupun dia kesal dan marah sama Jino tapi dia ga melupakan tanggungjawabnya🫶
2025-01-13
0
Jasmine
5 thn diselingkuhi dan dibodohi...aku rasa tak ada suami di dunia ini dgn mudahnya istri selingkuh dibelakang suami...upss ada jg cth ternyata kasus istri sambo dgn kuat maaruf sampai lahir seorg anak
2023-01-12
0
Kus Mini
semoga jino memergoi Nia berselingkuh dgn alexs
2023-01-05
1