"Mari aku antar kamu pulang. Tak baik wanita yang sudah bersuami jalan dengan pria lain, entah kalau memang dia wanita yang tak punya harga diri" ucap Jino
"Jino, jaga ucapanmu. Aku dan Melati tidak melakukan apa apa. Yang tak punya harga diri itu, wanita yang pura pura mencintai suaminya tapi berselingkuh dibelakang suami"
"Siapa yang kamu maksud, Raka"
"Aku tidak mengatakan siapa siapa"
"Aku tahu kamu sangat iri karena aku memiliki istri yang sangat cantik dan baik seperti Nia"
"Aku tak pernah tertarik dan berkeinginan memiliki istri seperti Nia. Aku lebih tertarik dengan Melati"
Melati langsung melototkan matanya ke arah Raka mendengar ucapannya.
"Jangan pernah menyukai istri orang. Apa kamu tak bisa mencari wanita yang single"
"Aku tidak merebut istri orang sembarangan Jino, aku masih punya harga diri. Tapi jangan salahkan jika aku mendekati wanita yang tak pernah dihargai oleh pasanganya"
"Itu sama saja, Raka. Melati pulanglah, jangan buat suami kamu murka dan marah. Kamu tak mau dihukum suami kamukan...." perintah Jino
"Suami macam apa yang menghukum istrinya yang sedang hamil. Dan itu juga bukan salah Melati. Kenapa ia membiarkan istrinya pergi sendirian. Melati, aku yang akan antar kamu. Bukankah kamu datang bersamaku. Kamu bisa jelaskan pada suami Melati, jika ia pergi dengan sepupu kamu, Jino"
"Raka, aku biar pakai taksi saja"
"Melati, jangan pakai taksi. Kamu sedang hamil. Bahaya jalan sendirian. Biar Raka yang antar. Raka benar. Jino, kamu bisa jelaskan pada suaminya jika yang mengantar Melati adalah sepupu kamu" ucap mama Jino
"Aku yang mengantarnya. Bukan Raka..." ucap Jino lagi dengan penuh penekanan
"Raka, aku dengan mas Jino saja"
"Baiklah, tapi jika suami kamu marah atau menghukummu , katakan padaku. Biar aku yang menjelaskan semuanya"
"Suamiku tak akan marah , Raka"
"Tante , aku pamit dulu..." ucap Melati menyalami dan mencium tangan Mama Jino
"Hati hati, benar apa yang Raka katakan. Jika suami kamu marah, minta ia datangi tante. Biar tante yang jelaskan dan sekalian beri nasehat"
"Terima kasih , tante"
Melati berjalan ke samping Jino. Jino meninggalkan rumahnya tanpa pamit. Melati mengikuti langkah Jino hingga masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, Jino menarik tangan Melati dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya tetap memegang setir mobil.
Ia meletakan tangan kanan Melati di samping ia duduk dan menekannya kuat.
"Mas ...sakiitt..." ucap Melati menjerit menahan sakit.
Jino tetap menekan tangan Melati , tak peduli rintihan wanita itu.
"Mas, kamu bisa mematahkan tanganku" ujar Melati mencoba menarik tangannya
"Kenapa kamu masih jalan dengan Raka" ucap Jino dan melepaskan tekanan tangannya ditangan Melati.
Melati mengusap tangannya yang membiru karena tekanan dari tangan Jino.
"Jawabb...apa sekarang telingamu udah nggak berfungsi" bentak Jino
"Raka sudah menjelaskan tadi mas, jika aku tak sengaja bertemu di rumah sakit"
"Bukankah kamu bisa menolak ajakannya"
"Aku tak enak mas, terus menolak. Padahal ia telah menolongku saat pingsan dulu"
"Alasan kamu aja. Apa kamu menyukai Raka. Apa kamu pikir Raka akan menyukai wanita mur*han sepertimu yang mau menjual rahimnya demi setumpuk uang"
"Mas, aku tak mungkin menyukai Raka. Aku hanya menghargainya karena ia sepupu kamu. Aku juga sadar diri , mas"
"Lain kali jika aku melihat kamu bertemu Raka lagi, akan aku hukum kamu yang lebih berat lagi"
Raka diam diam mengikuti Jino. Ia tak tahu jika mobil yang mengikutinya itu mobil Raka karena ia menggunakan mobil barunya.
Sampai di rumah, Jino menarik tangan Melati dan memaksanya masuk.
"Mas Jino, tanganku sakit" ucap Melati merintih.
Jino tak mendengar ucapan Melati, ia terus menarik dengan kuat pergelangan tangannya dan ketika sampai di kamar ia mendorong tubuh Melati hingga terhempas ke tempat tidur.
"Aww..." rintih Melati memegang perutnya yang terhimpit karena tubuhnya jatuh tengkurap di atas tempat tidur.
"Apa maksud kamu mendatangi rumah orang tuaku"
"Mas...kamu menyakiti anakmu" ucap Melati memegang perutnya.
"Jangan mengalihkan ucapanku. Apa kamu sengaja menarik simpati mamaku, agar ia menyukaimu dan membenci Nia"
"Mas , aku tak tahu jika Raka akan membawaku ke rumah orang tuamu"
"Jangan bohong. Kamu marah karena aku lebih memilih menemani Nia belanja dari pada menemani kamu periksa kandungan"
"Aku tak berhak marah mas. Aku sadar posisi aku ini"
"Bagus jika kamu sadar. Dan harus kamu ketahui jika kamu tak pernah ada di hatiku, sampai kapanpun aku tak akan menomor satukan kamu dari pada Nia. Jangan kamu pikir, karena kamu sedang mengandung anakku ,kamu akan mendapat simpati dariku. Kamu hanyalah istri diatas kontrak karena Nia yang menginginkan anak dariku"
"Aku sadar mas. Aku ini hanya sekedar pemuas nafsumu dan juga tempat mengandung anakmu. Aku juga tak pernah meminta agar kamu memperlakukan aku seperti mbak Nia. Aku juga tak akan pernah mengharapkan kamu menemaniku. Aku harus terbiasa melakukan semua sendiri. Aku juga sering mengingatkan hatiku untuk tidak pernah tertarik apa lagi mencintaimu. Aku selalu ingat dengan peringatanmu. Aku saat ini juga telah siap jika kamu tak menginginkan aku lagi. Aku siap kapanpun kamu usir...." teriak Melati.
Ia tak bisa menahan amarahnya karena rasa sakit hatinya pada Jino yang telah menyakiti calon anaknya.
Jino mengeram mendengar teriakan Melati, ia lalu melayangkan tangannya menampar pipi Melati dengan keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Melati menahan tangisnya, ia memandangi wajah Jino dengan penuh amarah.
"Kenapa berhenti...apa kamu hanya berani menamparku sekali. Kenapa tak kamu lanjutkan lagi. Kalau perlu kamu bunuh saja aku. Aku akan dengan senang hati jika kamu melakukan itu. Bukankah kamu berhak atas diriku ini. Kamu telah membeliku bukan. Jadi itu sebabnya kamu berhak atas semua yang ada pada diriku. Apa untuk sekedar bernafaspun, aku harus minta izin denganmu"
"Jangan harap kamu akan mati segera. Aku akan membunuhmu secara perlahan karena telah berani membentakku. Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja. Setelah kamu melahirkan anakku, kamu akan aku jadikan budakku dulu. Aku tak akan membebaskan kamu begitu saja. Ingat, kamu telah menanda tangani surat perjanjian, jika kamu kabur...aku akan menyeret dan membawamu ke jalur hukum"
Raka yang berada di luar rumah mendengar semua pertengkaran Melati dan Jino. Ia mengeram menahan amarah.
"Aku mengerti sekarang, Nia meminta Jino menikah lagi hanya untuk menginginkan keturunan dari Jino. Apa lagi yang direncanakan wanita licik itu. Pasti ada sesuatu yang membuat ia tiba tiba ingin anak dari Jino"
*********************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Jasmine
rekam raka mjd bukti buat mama jino...biar melati bisa dilindungi mama jino
2023-01-12
2
Pricila Bianca Aidelin
kabur aja Mela,,buat apa lagi deket laki2 brengseng kyk gitu 😡
2022-10-10
0
Riens Zahra
sedih aku Thor ..nyesek bgtz
2022-03-15
0