Raka melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota. Ia mengendarai mobilnya menuju sebuah rumah yang sangat megah.
Melati kaget karena ternyata Raka bukan membawanya ke sebuah resto atau kafe.
"Ini rumah siapa, Raka"
"Rumah tanteku. Kita mampir sebentar mengantar obat ini. Aku tadi ke dokter untuk meminta obat pada dokter buat tante."
"Oh...gitu ya"
Raka turun dari mobil. Dan melihat Melati masih duduk. Ia membukakan pintu mobil buat Melati.
"Raka, aku menunggu di mobil aja ya"
"Jangan, tante aku pasti tak mengizinkan aku pergi sebelum makan atau minum dulu. Nanti kamu lama menunggunya"
"Tapi aku nggak enak jika turun"
"Kenapa, aku akan kenalkan kamu sebagai temanku...ayo" ucap Raka sedikit memaksa.
Melati akhirnya turun dari mobil dan mengikuti langkah Raka dibelakangnya.
Raka dan Melati masuk setelah pembantu rumah tangga membukakan pintu rumah itu.
Melati kaget melihat foto yang terpampang di ruang tamu rumah ini.
"Raka, apakah ini rumah orang tua mas Jino"
"Ya, kan mama Jino tantenya aku"
Melati ingin membalikan badan saat ia mendengar suara sapaan.
"Raka, kamu datang sama siapa. Calon ustri kamu ya" ucap Mama Jino
"Nggak tante, dengan Melati sepupunya Nia"
Melati membalikan badannya dan membungkuk sambil tersenyum. Ia menyalami mama Jino dan mencium tangannya.
"Apa kabar tante..." ucap Melati masih dengan menunduk
"Sehat. Ternyata kamu. Kalian kelihatan sangat akrab"
"Kami berteman tante" ucap Raka.
Tiba tiba mama Jino memegang perut Melti dan mengusapnya.
"Kamu sedang hamil. Udah berapa bulan. Apa suami kamu tak keberatan kamu jalan dengan Raka"
"Tante, kalau tanya itu satu satu. Pasti Melati sulit mau menjawab yang mana duluan"
"Oh iya, silakan duduk."
Mama Jino minta tolong pembantunya membawakan minuman dan cemilan buat Raka dan Melati.
Mama Jino mempersilakan Melati duduk. Ia minta Melati duduk disampingnya.
"Berapa bulan kandunganmu, Melati"
"Lima bulan , tante"
"Udah tahu jenis kelaminnya"
"Udah tante, cowok"
Mama Jino mengelus perut Melati dan seakan bayinya tahu jika yang memegang perut bundanya adalah neneknya, bayi Melati bergerak. Membuat mama Jino senang.
"Astaga, ia bergerak...." ucap mama Jino girang
"Mungkin ia senang tante pegang. Seandainya itu anak Jino, apa tante senang" ucap Raka
"Tentu saja. Tapi apa mungkin Jino memberikan cucu buat tante. Pernikahannya dengan Nia telah memasuki lima tahun dan tak ada tanda tanda Nia hamil"
"Kalau begitu tante anggap aja anak yang dikandung Melati , cucunya tante. Bukankah Melati juga sepupunya Nia" ucap Raka lagi.
"Kenapa Raka bicara begitu. Apa ia tahu jika ini memang anaknya Jino. Apa Raka tahu aku istrinya Jino"
"Kamu nggak keberatan jika tante menganggap anakmu cucu tante, Melati"
"Tentu saja tidak tante. Aku senang jika tante juga menyayanginya anakku"
"Apa kamu mau main ke rumah tante kapan kapan. Nanti tante akan buatkan kue yang enak buat kamu dan anak dalam kandunganmu ini"
"Aku izin suamiku dulu ya tante"
"Kamu bawa aja suami kamu sekalian"
"Eh...suamiku pemalu tante. Ia tak biasa mengumpul dengan orang yang baru dikenalnya" ujar Melati berbohong.
Raka, Melati dan mama Jino asyik mengobrol ketika tiba tiba Jino hadir. Melati kaget, wajahnya langsung pucat. Ia takut dimarahi Jino nantinya.
"Ada apa mama menghubungiku" ucap Jino. Ia kaget melihat Melati yang duduk dekat mamanya.
"Kenapa baru sekarang kamu tanyakan itu. Mama menghubungi kamu dari pagi. Obat mama habis. Mama hanya ingin minta tolong kamu ambilkan obat ke dokter. Untung ada Raka. Kamu mana ada peduli, yang kamu pedulikan cuma istrimu saja..."
"Aku dari pagi sampai sore ini rapat ma"
"Kamu jangan bohong. Nia telah menghubungi mama dengan ponselnya. Dan mengatakan jangan ganggu kamu, karena kamu sedang menemaninya belanja. Pasti kamu yang mengatakan jika mama menghubungimu, dan kamu sengaja tak mengangkat ketika mama menelpon"
"Mama jangan bohong, kapan Nia menghubungi mama"
"Terserah, kamu tak akan percaya. Sekalipun mama melihatkan buktinya, kamu pasti tetap akan membela istrimu itu"
"Mama, kenapa mama tidak pernah akur dengan Nia. Apa salahnya. Padahal Nia istri yang sangat baik"
"Baik bagimu, tidak dengan mama"
"Udahlah ma. Aku tak mau berdebat lagi. Mama pasti akan mencari kesalahan Nia. Sebaik itu istriku masih salah di mata mama. Apakah mama lebih senang jika aku memiliki istri seorang wanita jal*ng"
Jino mengucapkan itu sambil memandangi Melati dengan mata yang kelihatan marah. Raka memperhatikan semua itu.
"Kenapa Jino tampak tak menyukai Melati. Apa sebenarnya yang terjadi. Apa yang membuat Jino menikahi Melati. Aku bisa lihat, hubungan Melati dan Jino tidak berjalan baik. Melati saja tampak pucat ketika melihat Jino"
"Udahlah, Jino. Mama capek selalu bertengkar denganmu"
"Mama yang selalu memulai"
"Jangan buta karena cinta ,Jino" gumam Raka
"Apa maksud ucapanmu"
"Aku tak bermaksud apa apa"
"Jangan selalu ikut campur dalam rumah tanggaku. Kamu belum pernahkan memiliki istri yang sangat cantik dan baik. Aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama denganku jika memiliki istri seperti Nia " ucap Jino.
"Aku akan selalu melindungi dan menjaga istriku jika ia memang setia. Dan tak akan aku biarkan istriku berjalan sendirian jika ia sedang hamil"
"Itu kamu sadar bukan. Itu lah yang aku lakukan, aku akan selalu menjaga Nia dari orang orang yang menyukainya"
Mama Jino memegang tangan Raka seolah memintanya diam. Ia tak ingin Raka dan Jino kembali adu jotos. Mereka memang tak pernah akur.
Jino memandangi Melati, seakan ingin mengulitinya.
"Kenapa kamu bisa sampai disini" ucap Jino dengan terus memandangi Melati dengan sinis.
"Aku...aku..." ucap Melati gugup.
Melihat Melati yang gugup dan ketakutan , Raka lalu membantu menjawab.
"Aku yang mengajaknya. Aku bertemu Melati di rumah sakit. Aku melihatnya periksa kandungan sendiri. Ia tampak kelelahan. Aku ingin mengajaknya makan dan sebelum itu aku bawa kesini karena aku mengantar obat tante. Apa ada yang salah"
"Salah...karena Melati itu telah bersuami. Suaminya bisa salah sangka jika melihat kalian berdua"
"Suami macam apa yang membiarkan istri yang sedang hamil periksa kandungannya sendiri"
"Mungkin saja suaminya sibuk"
"Sepertinya kamu mengenal dekat suami Melati. Bisa kamu mengenalkannya padaku. Aku ingin katakan pada suaminya, jika tak bisa menemani istrimu periksa kandungan , kenapa kamu menghamilinya. Ini bukan pertama kali ia membiarkan Melati sendirian. Jika ia tak bisa menjaga istrinya, jangan salah jika suatu saat istrinya pergi mencari orang yang bisa melindungi dirinya."
Jino mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia menarik nafasnya.
"Raka benar. Suami macam apa yang membiarkan istrinya periksa kandungan sendirian. Tak ada tanggung jawab. Bisanya hanya membuat wanita hamil" ucap mama Jino.
"Kenapa mama ikutan..."
"Mama hanya memberi pendapat"
"Tante...Raka, suamiku sedang sibuk, makanya tidak bisa menemani aku periksa kandungan. Aku juga masih bisa melakukannya sendirian"
"Istri jangan terlalu sering dibiarkan sendirian. Nanti jika ia terlalu nyaman melakukan apapun sendirian, ia jadi tak membutuhkan suami. Lagi pula apa gunanya suami, hanya bisa minta jatah aja. Saat istri hamil dibiarkan sendirian. Maaf, Melati. Tante nggak suka dengan pria seperti itu. Tante ketika hamil, paling di manja om. Kemanapun pergi selalu ditemani. Tak dibiarkan tante melakukan apapun sendirian. Kamu jangan mau diperlakukan begitu. Jadwal periksa kandungan bukan setiap hari, masa suami kamu tidak bisa meluangkan waktunya. Dasar suami tak berguna"
"Kenapa mama jadi menghina suami Melati" ucap Jino dengan suara keras.
"Dan kenapa kamu kelihatan marah ,mama bukan menghina kamu...tapi suaminya Melati"
"Tante, aku tak keberatan melakukan semuanya. Aku bisa memaklumi kesibukan suamiku. Aku tahu , pasti dalam hatinya ia juga pengin tau perkembangan bayi kami, jenis kelaminnya apa"
"Berarti ia belum tahu jenis kelamin anaknya"
"Nanti aku beritau , tante" ujar Melati memandangi Jino
"Beruntung suami kamu memiliki istri yang bisa memahami dan menerima apa adanya. Tidak menuntut apapun dari sang suami"
"tentu saja Melati harus bisa menerima aku apa adanya, karena ia hanyanya istri kontrak. Ia sengaja menjual rahimnya demi uang. Jika mama tau kenyataan itu pastilah mama tidak akan memuji lagi"
***************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
watashi tantides
Mantap Raka biar si Jino sadar diri
2025-01-13
0
watashi tantides
Double kill Jino hahaha
2025-01-13
0
Windarti08
klo denger kata-kata pedas dari mulut Jino sih gak cuma pengen nampol... lebih bagus lagi dilempar mercon biar meledak skalian tuh mulut lucknut! 😡
2023-05-23
0