Kandungan Melati saat ini telah memasuki bulan kelima. Jino kemarin berjanji akan menemani Melati untuk melakukan pemeriksaan kandungan.
Hari ini rencananya Melati akan melihat jenis kelamin anaknya. Ia sudah tak sabar ingin tahu jenis kelamin bayinya.
Sikap Jino pada Melati tetap sama. Terkadang ia tampak baik dan terkadang masih saja membuat Melati terluka.
Melati telah mencoba untuk tidak menyukai apa lagi mencintai pria itu. Tapi di saat Jino lembut dan perhatian tetap saja Melati akan terbawa perasaan.
Ia akui saat ini ada sedikit rasa suka pada suaminya itu. Tapi setiap saat ia akan berusaha menepis dan membuangnya. Ia tak mau makin terluka jika nanti ia mencintai pria itu.
Melati tetap melayani apapun itu maunya Jino. Sebagai seorang istri ,ia tetap melakukan kewajibannya sebaik mungkin.
Jika Nia pergi dan Jino harus makan malam di rumahnya, Melati akan memasakan makanan yang enak buat suaminya. Jino akan melahapnya hingga habis. Ia senang melihat Jino memakan setiap masakannya dengan lahap.
Sudah satu jam dari perjanjian, tapi Jino belum juga muncul. Melati akhirnya mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Jino.
Setelah beberapa saat, akhirnya Jino mengangkat sambungan ponselnya.
"Ada apa, kenapa kamu selalu mengganggu"
"Mas, apa mas lupa jika hari ini kita akan ke dokter"
"Apa kamu tak bisa pergi sendirian..."
"Bisa mas, tapi mas kemarin janji akan menemani buat aku periksa kandungan"
"Pergilah sendirian jika bisa. Aku menemani Nia belanja. Aku tak mau nanti ia kecapean membawa barang belanjaannya"
"Baiklah mas...."
"Jika kamu bisa lakukan sendiri , jangan pernah mengharapkan aku. Kamu tahukan statusmu apa di dalam hidupku. Aku tak mau kamu jadi bergantung dan manja padaku. Kamu harus mandiri. Bukankah nantinya kamu harus hidup sendiri lagi. Aku juga telah memberimu kartu kredit. Apa lagi kurangnya..."
"Iya mas. Maaf, aku tak bermaksud mengganggu mas"
"Udah...pergilah"
Jino mematikan sambungan ponselnya dan kembali melihat Nia yang memilih pakaian dan tas yang akan dibelinya.
"Siapa yang tadi menelpon , Jino"
"Orang tak penting. Apa kamu sudah memilih pakaiannya, sayang"
"Kita cari tempat lain aja ya. Di sini hanya dua baju ini yang aku suka"
"Baiklah, sayang"
"Kamu nggak capekkan menemani aku belanja"
"Sampai pagipun jika kamu ingin belanja, akan aku temani"
"Terima kasih. Kamu memang suami terbaik" ucap Nia dan mengecup pipi Jino.
Jino menggandeng tangan Nia dan membayar baju yang dipilihnya. Setelah itu ia kembali mencari pakaian di butik yang lain.
Sementara itu Melati sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk pemeriksaan kandungannya.
"Sayang, jangan sedih ya jika papi kamu tidak bisa menemani kita. Yang penting bunda akan selalu menjaga kamu. Dan akan menjamin kamu tetap sehat. Bunda menyayangi kamu nak. Dan bunda harap mami dan papi juga menyayangi kamu seperti bunda. Maaf, jika kita nantinya akan berpisah"
Melati mengusap perutnya, berbicara dengan anak yang ada dikandungannya.
Melati mengusap air mata yang menetes dipipinya.
Setelah sampai di rumah sakit, Melati mendaftar untuk periksa kandungan.
Tanpa ia sadari, Raka melihat dan mengikuti Melati. Ia sengaja tak menyapa Melati, karena ia ingin menyelidiki siapa suaminya.
Melati menunggu bersama ibu ibu hamil lainnya. Ia melihat semua ibu ibu itu ditemani suaminya. Hanya dirinya yang datang sendirian.
Nama Melati di panggil dokter. Ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Raka yang melihat Melati telah masuk, langsung menemui perawat yang tadi bertugas memanggil nama pasien.
"Maaf mbak apa aku boleh tahu nama pasien yang baru masuk"
"Maaf pak, kami tak berhak memberi data pasien"
"Saya hanya ingin tahu namanya dan nama suaminya. Aku merasa ia istri temanku , tapi aku takut menyapa, nanti salah orang. Masa beri tahu nama suaminya aja nggak boleh sih" ucap Raka sambil tersenyum untuk merayu perawat itu.
"Tapi pak. Aku tak berani"
"Aku janji tak akan beritahu siapa siapa jika mbak yang beri informasi. Masa mbak nggak percaya sama aku, aku ini putra dari dokter Chandra loh. Aku tak mungkin melakukan sesuatu yang melanggar hukum"
"Baiklah pak, tapi jangan libatkan saya jika ada suatu masalah"
"Baiklah. Aku tahu yang tadi namanya ibu Melati kan, aku cuma ingin pastikan apa ia itu memang istri sahabatku"
"Siapa nama sahabat bapak"
"Jino...apa ia istrinya Jino"
"Hhhmmmm...."
"Berarti ia memang istrinya Jino ya mbak"
" Iya, pak" jawab perawat itu.
"Jadi ternyata benar. Mbak lihatlah, aku nanti menyapanya. Aku bukan orang jahat. Aku cuma tadi takut salah orang. Terima kasih ya mbak yang cantik...." ucap Raka dan mengedipkan matanya dengan genit membuat perawat itu jadi salah tingkah.
Di dalam ruang pemeriksaan Melati sedang berbaring di kasur pasien. Perawat mengoleskan jel di perutnya.
Dokter lalu melakukan pemeriksaan. Ia mengatakan anak Melati sehat. Dan berjenis kelamin cowok.
Setelah melakukan pemeriksaan USG, Melati duduk dihadapan dokter itu.
"Selamat ya ,bu Melati. Anak anda cowok seperti yang ibu harapkan ,bukan"
"Iya, dok. Suami saya yang menginginkan sekali anak cowok. Kalau saya sih, cowok atau cewek sama aja dok. Yang penting sehat"
"Pasti suami ibu senang keinginannya terkabul"
"Iya , dok."
"Ini vitamin, jangan lupa diminum ya bu...agar bayinya tetap sehat"
"Baik, bu. Terima kasih"
Melati menyalami dokter , lalu keluar dari ruang pemeriksaan menuju apotik untuk mengambil obatnya.
Ia memberikan resepnya pada petugas. Setelah itu petugas memberikan obatnya. Melati membayarnya.
Ketika ia membalikan badannya, Melati kaget karena Raka yang telah berdiri dihadapannya.
"Ketemu lagi, kayaknya kita berjodoh deh"
"Berjodoh apa. Aku udah bersuami, Raka"
"Siapa tahu nanti kamu menjadi janda. Aku siap menerimanya"
"Raka, nggak boleh ngomong gitu. Karena omongan itu sebagian dari doa"
"Maaf...kamu nggak mau ya jadi janda"
"Raka, siapapun itu pasti tak ingin menjadi janda. Tapi terkadang nasib dan takdir mengharuskan mereka menerima kenyataan itu"
"Oh ya, aku ingin menagih hutangmu"
"Hutang...apa aku ada berhutang denganmu"
"Ada...."
"Oh iya. Uang yang kamu bayar buat belanjaan aku dulu ya"
"Melati, masa sih kamu setega itu berpikiran jelek padaku"
"Aku...berpikir jelek. Aku rasa nggak ada"
"Masa kamu berpikir aku menagih uang atas apa yang pernah aku lakukan padamu"
"Jadi aku hutang apa"
"Hutang janji. Kamu janji akan menemani aku makan suatu saat. Ini udah hampir tiga bulan, tapi kamu belum membayarnya"
Melati berpikir sejenak sebelum menjawab ucapan Raka.
"Oh itu, hhhhmmmmmmm....baiklah. Aku akan menemani kamu, biar hutangku lunas"
"Aku pergi saja menemani Raka. Biar janjiku lunas. Lagi pula mas Jino sedang sibuk menemani mbak Nia belanja. Ia tak mungkin mengunjungiku ke rumah. Lebih baik aku pergi buat melupakan sejenak kesedihanku"
*************************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
fujichen
sama Raka ajh terus terang mel,
2024-12-13
0
Jasmine
Mulai membuka diri Mel..jgn terlalu mikirin Jino..dia aja tak mikirin km
2023-01-12
1
Borahe 🍉🧡
jahat banget si lo. entar nyessel sendiri deh
2022-10-08
0