Melati menyusun barang belanjaannya di dapur dan memasukan ke kulkas. Setelah itu ia segera menyiapkan semua bahan buat makan malam malam.
Jino yang duduk dekat meja makan memperhatikan semua yang dilakukan Melati.
"Kenapa Melati tampak lebih cantik semenjak ia hamil. Dan juga aku kenapa selalu saja ingin dekat dengannya. Padahal aku sudah mencoba menghilangkan rasa ini, aku tak ingin mengkhianati Nia dengan perasaan ini. Aku yang telah membuat Nia menjadi wanita cacat,karena tak bisa hamil untuk selamanya."
Ketika Melati akan memasak ia mengucir rambutnya agar tak mengganggu.
Jino yang melihat Melati dengan rambut dikucir langsung menelan ludahnya.
Leher jenjang Melati yang putih tampak sangat seksi dimata Jino.
Jino berdiri dan mendekati Melati, lalu memeluk pinggangnya dari belakang.
Melati yang sedang memasak, menjadi kaget. Ia menoleh ke belakang sehingga pipinya menempel ke bibir Jino.
"Kamu cantik banget, Mela" gumam Jino dan mengecup pipi Melati.
"Mas, aku sedang masak"
"Emang kenapa..."
"Nanti masakannya bisa gosong mas. Lepaskan pelukan mas dulu"
"Sebentar lagi ya. Aku ingin sesaat memelukmu begini"
Melati lalu mengecilkan api kompornya agar ayam kecap yang sedang dibuatnya tidak gosong.
Jino membalikan tubuh Melati menghadap dirinya, dan mengecup bibir Melati lagi.
Kecupan yang awalnya lembut, lama lama menjadi menuntut. Ia ******* bibir Melati dengan rakus hingga Melati tampak sesak baru Jino melepaskan lumatannya.
"Mas..."
"Jangan pernah meninggalkan aku walau aku sering menyakitimu" bisik Jino dan mengecup telinga Melati
"Aku tidak akan meninggalkan kamu, mas"
"Terima kasih...."
Jino melepaskan pelukannya dan ia berjalan menuju kamar. Ia membaringkan tubuhnya sambil memandangi langit kamar.
"Ya Tuhan, apa sebenarnya yang aku rasakan saat ini. Aku mencintai Nia, tapi aku juga tak bisa melepaskan Melati jika ia ingin pergi meninggalkanku. Kenapa aku sangat kuatir terjadi sesuatu dengannya. Seperti hari ini, aku langsung menuju rumah ini setelah melihat beberapa panggilan tak terjawab darinya. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Aku tak boleh punya perasaan begini, walau berat aku harus bisa merelakan dan melepaskan Melati jika Nia tak menginginkan kehadirannya lagi. Aku tak mau kehadiran Melati jadi merusak rumah tanggaku dengan Nia. Aku harus membuang jauh perasaan ini"
Setelah semua masakan telah matang dan disusun di meja makan. Melati masuk kamar. Ia melihat Jino yang sedang terbaring dengan tangan diatas dahinya.
Melati lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi Melati mengepang rambutnya.
Jino yang telah bangun melihat ke arah Melati yang sedang berdandan. Ia lalu mendekati Melati dan memeluknya.
"Kamu tuh sebenarnya cantik banget, tapi mengapa mau melakukan ini. Kenapa kamu mau menjual rahimmu. Kamu bisa mendapatkan pria yang mapan seandainya kamu pandai merayu dan mendekati seorang pria"
Jino tersenyum dan menggendong Melati ke tempat tidur. Ia menghempaskan tubuh Melati secara pelan.
Jino membaringkan tubuhnya disamping tubuh Melati. Ia memeluk pinggang Melati agar tubuh mereka makin merapat.
Melati yang berada dalam dekapan dada Jino menengadahkan kepalanya memandangi wajah tampan suaminya.
"Kamu sebenarnya sangat tampan jika saja kamu tidak jutek dan kejam"
Melati tanpa sadar mengelus wajah Jino, membuat pria itu makin melebarkan senyumnya.
"Kenapa...aku memang tampan. Jangan terpana begitu"
Melati langsung menarik tangannya dari wajah Jino. Ia menenggelamkan wajahnya di dada pria itu.
"Melati, aku punya prinsip dari dulu...jika aku menikah, aku tak akan pernah menduakan istriku kecuali jika memang ia tak pantas lagi buat dipertahankan. Misalnya ia selingkuh, baru aku melepaskannya dan tak akan pernah memaafkannya. Jadi aku tak mungkin mencintai wanita lain selain istriku. Apa lagi Nia , istri yang baik. Tak ada alasan bagiku untuk menduakan dirinya. Jadi sekali lagi aku ingatkan kamu, jangan pernah jatuh cinta padaku. Karena aku tak akan pernah membalasnya. Aku sedikit menghargaimu karena kamu lagi mengandung anakku. Dan selagi Nia masih menginginkan anak dariku, aku akan menghamilimu. Tapi ketika Nia mengatakan cukup anak dariku, maka saat itu juga kamu harus pergi dari kehidupanku. Jangan pernah menampakan atau hadir lagi di dalam kehidupanku. Aku tak mau kehadiranmu membuat rumah tanggaku jadi terganggu. Anggap saja kamu tak pernah melahirkan bayi. Aku akan memberi uang sebagai modal buat kehidupanmu...."
Melati mendengar semua ucapan Jino dengan menarik nafasnya. Ia tak bisa berkata apa apa lagi. Dadanya terasa sesak. Semua ucapan Jino terasa menusuk ke jantung.
"Ya Tuhan, apa aku tak ada hak sedikitpun untuk bertemu anakku setelah mereka tak menginginkan aku lagi. Apa segitu hinanya aku dimata mereka. Padahal aku tak ada sedikitpun niat untuk merusak rumah tangga mas Jino dan mbak Nia, aku hanya ingin melihat perkembangan anakku kelak"
Melati melepaskan pelukan Jino dan membalikan badannya. Akhirnya tangisan Melati pecah.
Jino mendengar tangisan Melati, ia lalu memeluk tubuh Melati dari belakang. Saat ia akan membujuk Melati, ponselnya berdering.
Jino melihat nama Nia yang tertera, ia langsung duduk dan mengangkatnya.
"Ada apa sayang...."
"Jino jemput aku. Aku tadi nggak bawa mobil, aku mggak mau menggunakan taksi. Aku takut..."
"Kamu dimana, sayang"
"Aku ada di kafe X. Tadi aku ada janjian bertemu dengan temanku. Apa kamu lupa, aku udah izinkan kemarin"
"Iya sayang, aku jemput sekarang. Kamu tunggu ya"
"Iya, Jino...hati hati"
Sambungan ponselnya dimatikan Nia. Ia lalu memandangi Alex yang duduk disampingnya.
"Aku akan dijemput Jino, jadi kamu bisa pergi sekarang"
"Maaf, aku nggak bisa mengantarmu, sayang. Aku benar benar ada keperluan keluarga, aku harus hadir secepatnya agar tak telat" ujar Alex
"Iya , nggak apa sayang. Kamu pergilah. Hati hati. Sampaikan salamku pada ibumu, calon mertuaku"
"Baik, sayang..." ucap Alex dan mengecup bibir Nia.
Alex segera meninggalkan kafe X, tanpa Nia tahu ternyata Alex akan mengadakan pertemuan keluarga yang membahas perjodohannya dengan seorang wanita.
Keluarga Alex berencana menjodohkannya dengan anak sahabat ayahnya.
Jino langsung pergi tanpa pamit pada Melati yang masih menangis. Ia mengambil kunci mobil dan meninggalkan rumah Melati dengan kecepatan tinggi. Ia tak ingin Nia menunggu lama.
Tangisan Melati makin pecah setelah ia mendengar suara mesin mobil yang bergerak meninggalkan rumahnya.
"Ya Tuhan, tolong beri aku kekuatan untuk dapat menerima semua jalan hidupku. Aku tahu semua ini juga salahku, karena aku yang mau menerima pernikahan ini. Tapi aku yakin dibalik semua yang aku alami ini tersimpan rahasia. Aku yakin Tuhan, jika Engkau tak akan memberi cobaan pada umatmu melebihi dari kemampuannya. Dan aku yakin juga Engkau telah menyiapkan suatu yang indah buatku kelak jika aku bisa menjalani semua ini dengan sabar dan tabah. Aku yakin semua ini adalah garis dari kehidupanku. Jika nanti memang aku ditakdirkan berpisah dengan anakku, hanya satu permohonanku pada Mu Tuhan...tolong jaga anak anakku. Buatlah mbak Nia mencintai anakku seperti anak kandungnya sendiri. Dan berilah kebahagiaan buat anak anakku. Dan izinkan aku bisa bertemu dengan anakku suatu saat kelak"
*****************
Terima kasih...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
watashi tantides
Jino semoga kamu sadar bahwa Melati lah yang pantas kamu cintai🥹 karena Nis sudah berselingkuh sama Alex teman dekatmu sendirii😭
2025-01-13
0
watashi tantides
Sakit hati banget aku dengernya ya Alloh sesakit ini😭💔 kasiam Melati
2025-01-13
0
Jasmine
Aihhh...Jino spt budaknya Nia..disuruh apa aja mau...dan tak curiga sedikit pun...terus budget keuangannya tak di monitor bisa percaya 100%...wah laki2 super goblok...makan tuh cinta
2023-01-12
0