Raka telah menghubungi Jino kembali pagi ini. Jino yang akan berangkat ke kantor langsung menuju rumah sakit yang dikatakan Raka.
Sampai diruangan rawat inap Melati, ia melihat Raka dan Melati yang sedang mengobrol dengan akrabnya.
Jino langsung masuk tanpa mengetuk dan menggenggam tangan Melati.
"Kamu kenapa tak menghubungiku" ucap Jino
"Aku nggak bawa ponsel..."jawab Melati gugup karena tangannya yang masih dalam genggaman Jino.
"Di mana kamu menemukan Melati ...."ucap Jino dengan Raka.
"Ia pingsan di kamar mandi..."
"Apa..." ucap Jino kaget.
"Astaga...aku lupa jika ia kutinggalkan di kamar mandi. Apakah ini karena aku menyiramnya dengan air kemarin"
"Apa kata dokter...."gumam Jino memandangi wajah Melati.
"Ia sedang hamil. Untung bayinya tak apa apa. Jika kamu bertemu dengan suaminya. Katakan padanya, jaga istrinya baik baik. Apa ia tidak tahu jika itu bahaya bagi wanita yang sedang hamil muda. Dan jika ia tak bisa menjaga istrinya jangan salahkan jika suatu saat ada pria yang menggantikannya menjaga istrinya"
"Maksudmu apa..." tanya Jino
"Jika ia tak peduli lagi pada istrinya , aku bersedia menggantikan posisinya" bisik Raka dengan Jino.
"Kamu jangan macam macam. Jangan coba coba mendekatinya. Ia sedang mengandung anakku"
"Apa...anakmu. Apa Melati istrimu" tanya Raka kaget. Melati yang mebdengarnya juga tak kalah kagetnya.
"Kamu salah dengar, aku mengatakan jika ia sedang mengandung. Apa kamu tidak bisa mencari wanita yang masih sendiri"
"Aku rasa pendengaranku masih bagus"
"Dan aku rasa kamu juga tahu bagaimana rasa cintaku pada Nia, aku tak mungkin menduakan Nia. Kenapa kamu bisa berpikir jika ia istriku"
"Jika Melati bukan istrimu , ya sudah. Jangan emosi begitu." ujar Raka. Ia lalu mendekati Melati.
"Melati, aku pamit. Jaga kesehatanmu agar bayi dalam kandunganmu juga sehat. Tolong sampaikan salamku pada suamimu. Katakan pada suamimu, jangan biarkan istrinya berjalan sendirian. Apa lagi jika sampai istrinya menangis , karena akan menyakitkan bila nanti ada pria lain yang menghapus air mata istrinya"
Jino mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar ucapan Raka.
"Aku pamit, Jino. Jangan sampai kamu terpesona dengan sepupu Nia..." bisik Raka sambil menepuk bahu Jino.
Setelah Raka menghilang , Jino kembali mendekati Melati.
"Jangan pernah dekat dekat Raka, aku tak suka"
"Bukankah Raka itu sepupu kamu"
"Ya, tapi aku suamimu. Apa kamu ingin membantahku, kamu menyukai Raka"
"Mana mungkin aku menyukai Raka, mas. Aku telah bersuami. Dan saat ini aku juga sedang mengandung anakmu"
Jino tanpa sadar mengelus perut Melati. Ia mengecup perut Melati.
"Kamu harus sehat nak..." ucap Jino kembali mengecup perut Melati.
Melati jadi tersenyum melihat apa yang dilakukan Jino.
"Ya Tuhan, buat suamiku mencintaiku sedikit saja...mungkin bayi ini akan membuatnya lebih bisa bersikap baik padaku"
"Kamu harus menjaga bayi ini agar tetap sehat dan selamat ketika dilahirkan. Nia pasti sudah tak sabar untuk menggendong bayi ini. Aku akan beri tahu Nia jika kamu telah hamil. Ia pasti sangat senang mendengarnya"
"Ya Tuhan...tadinya aku pikir Jino akan menyayangiku karena sedang mengandung anaknya tapi ternyata itu ia lakukan hanya untuk bayiku bukan diriku. Ia hanya ingin anak ini untuk membuat Nia bahagia"
Setelah mengurus administrasi pembayaran , Jino membawa Melati pulang. Melati langsung masuk kamar dan membaringkan tubuhnya yang masih terasa lemah.
"Kenapa kamu nggak minta bantuan kemarin"
"Aku pingsan. Saat Raka membawaku saja aku tak sadar, mas"
"Aku harap kamu jangan pernah lagi melakukan kesalahan pada Nia. Karena aku sanggup melakukan hal yang lebih kejam dari kemarin. Beruntung saat ini kamu sedang hamil, jika tidak ...aku pasti masih akan meneruskan hukumanku. Gara gara kamu Nia malu untuk hadir ditengah tengah tamu yang datang dan tak bisa mendampingiku. Ia harus bersembunyi. Kamu telah mengacaukan segalanya"
"Maaf mas , aku tak sengaja."
"Aku telah menghubungi Nia. Ia lagi perjalanan kemari. Aku mau kamu bersimpuh meminta maaf di kaki Nia. Jika ia tak memaafkan kamu. aku harap kamu bersiap siap terima hukuman berikutnya"
Setelah mengucapkan itu Jino meninggalkan Melati sendirian di kamar. Tanpa bisa ditahan air matanya keluar.
"Sayang, maafkan bunda karena hampir membuatmu celaka. Mulai saat ini bunda akan berhati hati. Bunda tak akan membuat papimu marah lagi. Karena bunda tak ingin membahayakan kamu. Walau nanti kita akan berpisah, tapi bunda tetap akan menyayangi kamu selamanya"
Melati mengusap perutnya sambil menghapus air matanya yang tak berhenti terus mengalir.
Melati mendengar suara mobil berhenti , ia yakin itu pastilah Nia yang datang.
Melati berjalan keluar kamar dan melihat Jino yang memeluk Nia dan mengecup bibirnya.
Melati lalu berlutut dan bersimpuh di kaki Nia seperti yang Jino inginkan.
"Maafkan aku mbak, aku benar benar tak sengaja menumpahkan air ke baju mbak"
"Nggak apa Melati, aku juga sudah melupakan"
Nia memegang kedua bahu Melati dan menolongnya untuk berdiri.
"Berdirilah, kamu tak perlu begini minta maafnya. Aku telah memaafkan kamu dari kemarin malam"
"Terima kasih mbak ,karena sudah memaafkan aku"
"Lain kali aku tak mau melihatmu melukai Nia"
"Jino, aku tak terluka. Cuma bajuku aja yang basah"
"Tapi pecahan gelas itu bisa saja melukai kakimu"
"Melati tak sengaja, lagi pula ia sudah meminta maaf"
"Sayang, ini yang membuat aku makin mencintaimu. Kamu itu jadi wanita terlalu baik. Tak ada sedikitpun kamu berpikir jahat pada orang. Aku pria yang paling beruntung karena bisa menjadi suamimu"
"Aku juga wanita yang paling beruntung karena dicintai kamu sebesar ini"
Jino dan Nia saling ******* bibir seolah hanya mereka saja diruangan itu. Melati hanya diam melihat semuanya.
"Mas Jino memang sangat mencintai mbak Nia, mereka pasangan yang serasi. Tampan dan cantik...."
Setelah melihat Nia yang kesulitan bernafas, Jino melepaskan pagutan mereka. Ia lalu menggendong Nia dan membaringkan di sofa ruang keluarga.
Jino lalu menaiki tubuh Nia. Ia kembali mencumbu Nia. Ia mengecup seluruh wajah Nia, dan turun keleher. Jino membuka kancing atas kemeja Nia.
Tangan Jino yang ingin bermain di dada Nia, ditahannya.
"Sayang, kamu lupa...ada Melati"
Jino lalu memandangi Melati
"Kamu tuh memang benalu, selalu mengganggu"
Jino lalu menggendong Nia menuju kamar dan menutup pintu kamarnya.
Ia meneruskan permainannya yang tadi terhenti karena Nia menahannya. Melati bisa mendengar suara desahan dan erangan mereka dari luar kamar.
Setelah melakukan penyatuan , Nia keluar kamar bersama Jino yang pakaiannya sudah tidak rapi lagi.
"Melati, apa benar kamu saat ini sedang hamil" ucap Nia duduk di sofa yang berhadapan dengan Melati.
"Iya, mbak..."
"Karena ini hamil muda dan katanya sangat berisiko aku mau kamu tidak usah bekerja terlalu capek. Kamu harus bisa menjaga buah hati kita"
Jino mendengar semua ucapan Nia sambil terus mengecup bahu Nia.
"Baik mbak, aku akan menjaga bayi ini tetap sehat"
"Jika terjadi sesuatu dengan bayi itu. Kamu yang akan aku bunuh" ujar Jino membuat Melati kaget.
"Jino, bagaimana jika di sini kamu mempekerjakan satu orang pembantu agar Melati tidak capek"
"Jangan terlalu baik. Nanti ia makin melunjak. Masa cuma membereskan rumah yang kecil ini saja ia tak mampu. Manja banget"
"Mas Jino benar mbak. Aku masih sanggup mengerjakan semuanya"
"Baiklah Melati. Tapi jika kamu capek, jangan masak. Kamu pesan aja makanan ya. Ini uang buat peganngan. Jika nanti habis , kamu ngomong saja."
Nia mengulurkan uang pecahan seratus ribu satu ikatan .
"Jangan boros...." ucap Jino
"Sayang, itu cuma sepuluh juta. Uang saku aku aja sehari lebih dari itu kamu berikan."
"Kamu pantas mendapat lebih, kamu banyak kebutuhan buat kecantikan dan tubuhmu. Tapi Melati tidak membutuhkan apapun selain buat makan. Ia tak pantas berdandan"
"Jino, jangan ngomong gitu...."
"Udahlah, kita kembali lagi yuk. Aku bosan dirumah ini"
Jino lalu membawa Nia meninggalkan rumah Melati tanpa berpikir Melati akan makan apa. Bukankah ia baru keluar dari rumah sakit.
Melati memegang dadanya yang terasa sesak atas sikap Jino.
"Aku harus bersabar dan bertahan, aku yakin Tuhan pasti telah menyiapkan sesuatu yang indah dibalik semua yang aku jalani saat ini"
******************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Windarti08
kasih kopi sianida ke Jino dosa gak seh...😏😏
gemes banget pen nampol mulut lemesnya Jino saat mencaci & menghina Melati😡
2023-05-23
0
Vera Wilda
sekejam2 nya manusia gak GT juga kali Jino....
2023-01-26
0
Jasmine
jijaii...tak tahu tempat tuh Jino...
kayak tak pernah dibelai...hipersex ga gitu amatlah
2023-01-12
0