Setelah memberi kata sambutan Jino dan Nia turun dari panggung. Mereka menghampiri tamu undangan.
Nia sudah tampak gelisah. Ia menerima pesan dari Alex untuk menyusulnya ke samping gedung. Alex ingin berduaan dengan Nia.
Melati yang kehausan ,pamit dari hadapan mama Jino. Ia berjalan ke arah meja tempat minuman tersedia.
Nia yang melihat Melati berjalan dengan membawa gelas minuman, mendekati dan menabraknya. Minuman tumpah membasahi baju Nia dan gelas pecah jatuh ke lantai.
Jino yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya memandangi Melati dan Nia. Ia menghampiri mereka.
"Ada apa, sayang" ucap Jino lembut.
"Bajuku basah kena tumpahan minumnya Melati"
"Apa kamu tak punya mata" bentak Jino
"Udah Jino. Nggak apa. Aku ke kamar mandi dulu membersihkan pakaianku. Jangan mengundang keributan. Kamu nggak mau kita jadi pusat perhatiankan..."
"Kamu ikut aku...." ucap Jino menarik pergelangan tangan Melati erat
"Sakit mas, maaf ...aku tak sengaja menumpahkannya" ucap Melati sambil menahan sakit.
Jino tak peduli dengan ucapan Melati. Ia terus saja memegang pergelangan tangan Melati dengan kuat seolah ingin mematahkannya.
Jino menarik Melati masuk ke kamar mandi. Ia lalu mendorong tubuh Melati hingga membentur dinding.
"Mas ...aku minta maaf. Aku benar benar tak sengaja " ucap Melati menangis dengan terisak.
"Kamu iri melihat Nia yang begitu cantiknya malam ini"
"Nggak mas...aku nggak iri"
"Jadi kamu ingin mengatakan Nia tak cantik, sehingga tak ada yang perlu kamu irikan"
"Bukan begitu mas, aku tak iri karena mbak Nia memang pantas mas cintai. Ia memiliki segalanya"
"Karena kamu telah membuat baju Nia basah, sekarang rasakan ini"
Jino menyiram air bekas pel ke tubuh Melati. Ia juga menghidupkan kran air dan menampung air lalu kembali disiram ke tubuh Melati.
"Mas Jino...maaf. Ampun mas...dingin" ucap Melati memegang kaki Jino memohon agar Jino tak menyiramnya lagi.
Kepalanya yang emang sudah sering sakit karena hamil bertambah pusing karena kedinginan.
"Kamu pantas mendapatkannya" ucap Jino kembali menyiram seember air lagi ke tubuh Melati.
Melati yang udah sangat kedinginan hanya bisa pasrah menerima semua siraman dari Jino.
Setelah Melati basah kuyup Jino lalu meninggalkannya.
Nia yang meminta izin ke kamar mandi tapi malahan berbelok ke luar gedung menemui Alex.
"Sayang...maaf harus menunggu lama" ucap Nia langsung memeluk Alex dan mengecup bibir Alex.
"Ini tak seberapa jika dibandingkan aku harus menunggu kamu berpisah dari Jino"
"Kita kemana...."
"Kebelakang gedung aja, biar tak ada yang melihat"
Nia dan Alex akhirnya bercumbu dibelakang gedung dengan cahaya yang temaram tanpa ada yang tahu.
Sementara itu Jino mencari keberadaan Nia. Ia sangat kuatir dengan istrinya.
"Dimana Nia. Aku tak mau nantinya ia masuk angin karena bajunya yang basah"
Acara di gedung itu hampir selesai, Nia yang telah memadu kasih dengan Alex menemui Jino.
"Jino, maaf aku baru bisa muncul. Aku malu karena bajuku yang basah" ucap Nia memeluk Jino yang sedang menunggunya.
"Sayang, kamu tak apa apa. Apa kamu tak masuk angin" ucap Jino cemas.
"Nggak apa apa , Jino"
"Ayo kita pulang. Aku tak mau kamu nanti sakit dengan pakaian yang basah ini"
Jino lalu meninggalkan acara. Ia pamit dengan asistennya dan meminta ia yang mengurus semua acara.
Jino lupa jika Melati yang kedinginan di kamar mandi.
Raka sepupunya Jino yang ingin buang air kecil kaget melihat ada seseorang yang terkapar di kamar mandi.
Ia mendekatinya dan melihat seorang wanita yang ia tahu tadi Nia mengenalkannya sebagai sepupunya.
Raka lalu mengangkat tubuh Melati dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Dokter segera menangani Melati dan mengganti pakaiannya yang basah dengan baju pasien.
Setelah dokter memeriksa, ia memindahkan Melati ke ruang rawat inap.
Raka menunggu sampai Melati sadar. Ia duduk disamping tempat tidur Melati.
Setelah dua jam akhirnya Melati sadar. Ia membuka matanya dan menyadari jika saatbini ia berada di rumah sakit.
Melati melihat seseorang yang tertidur dengan kepala berada di ujung tempat tidur. Melati ingin menyentuh tangan pria itu tapi pria itu terlebih dahulu mengangkat kepalanya. Raka tersenyum melihat Melati telah sadar.
"Apa kamu yang membawa saya ke rumah sakit" ucap Melati pelan
"Ya, apa yang kamu rasakan. Kenapa kamu sampai basah begitu. Siapa yang telah menyirammu"
"Pertanyaan kamu bisa satu satu ,nggak. Saya nggak tahu harus jawab yang mana duluan"
"Maaf, saya kuatir. Apa lagi dokter mengatakan saat ini kamu sedang hamil"
"Terima kasih ya karena telah membantu"
"Siapa yang menyirammu..."
"Tidak ada, aku tadi ke kamar mandi terpeleset"
"Itu sangat bahaya buat keselamatan bayimu, kamu harus hati hati. Suamimu dimana, kenapa kamu nggak didampingi suamimu datang ke pesta kemarin"
"Suamiku kerja diluar kota. Aku ingat ...kamu tadi yang berdiri diantara keluarga mas Jino kan, apa kamu juga keluarganya"
"Ya, kenalkan saya Raka. Sepupu Jino"
"Jadi kamu sepupunya...."
"Ternyata kamu udah berkeluarga, aku tadi pikir kamu masih gadis. Padahal aku udah langsung tertarik melihatmu..." ucap Raka sambil tersenyum
"Kamu bisa aja. Masa sih kamu bisa tertarik dengan wanita seperti aku. Kamu itu tampan, pasti banyak wanita yang menyukaimu"
Melati dan Raka tampak langsung akrab. Melati juga tak tahu kenapa ia bisa langsung akrab dengan Raka. Mungkin karena ia sepupu Jino, pikir Melati.
"Mana yang lebih ganteng, aku apa Jino"
"Kenapa kamu tanyakan itu...."
"Karena dari dulu aku dan Jino jadi idola disekolah. Dan kamu tahu, kami dua kali menyukai wanita yang sama"
"Apakah mbak Nia salah satunya"
"Nggak, dengan Nia aku tak pernah menyukainya. Aku tak tahu kenapa. Tapi aku tak tertarik aja dengannya"
"Padahal mbak Nia cantik dan baik"
"Maaf, aku tak bermaksud menyinggung kamu. Aku tahu Nia sepupu kamu, tapi aku memang tak pernah tertarik dengannya. Aku lebih tertarik denganmu, jika saja kamu belum menikah ....pasti aku akan mendekatimu"
"Mungkin karena kamu tahu Nia itu istri sepupu kamu sehingga kamu merasa enggan mendekatinya"
"Aku rasa bukan. Ada sesuatu didiri Nia yang membuat aku tak pernah tertarik padanya. Oh ya,aku sudah mencoba menghubungi Jino. Tapi ponselnya tak aktif. Besok pagi aja aku coba lagi ya menghubunginya. Mungkin ia lagi asyik dengan istrinya. Kamu tahukan, Jino itu bucin nya Nia"
"Sekali lagi, terima kasih Raka. Aku tak tahu harus membalas kamu dengan apa..."
"Kamu cukup membalasku dengan memberi nomor ponselmu"
"Aku tak bisa Raka. Suamiku tak mengizinkan siapapun tahu nomor ponselku"
"Suami kamu pantas melakukan itu. Kamu memang cantik, ia pasti takut kamu direbut pria lain. Jika aku menjadi suami kamu tak aku biarkan kamu pergi sendirian"
"Kamu salah Raka , suamiku bukan takut aku di rebut pria lain, tapi ia tak mengizinkan aku bergaul karena ia takut orang tahu statusku. Aku tak berani membantahnya , aku tak mau ia marah dan akhirnya menyiksaku seperti ini. Aku tak tahu, kenapa aku bisa mengobrol santai dengan Raka ...padahal kami baru kenal. Apa karena Raka sepupunya mas Jino"
*********************
Visual Raka
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
fujichen
actor Thailand
2024-12-13
0
Jasmine
Kasihan bgt Melati..dasar mak lampir...Alex yg lbh dulu genit sama Melati..ga mungkinkan Melati marah atau cuek klu disenyumin..emg hukum alam begitu..Jino kasar dan tegaan bgt...yg berbuat itu Nia tuh lihat rekaman cctv...
2023-01-12
0
Rosa Rosidin Sari
kerentohr
2022-08-02
0