Sudah dua hari Nia kembali dari kepergiannya ke Bandung. Jino juga sudah dua hari tak mengunjungi Melati. Ia menghabiskan waktunya hanya berdua Nia.
Sejak pulang kerja ia akan selalu ingin berdekatan dengan Nia, seolah takut Nia akan pergi lagi meninggalkannya.
"Sayang, aku tak mau kamu pergi lagi jika tak bersamaku. Aku jadi kangen banget" ucap Jino memeluk punggung Nia yang sudah polos.
"Aku kan cuma pergi seminggu"
"Tapi bagiku itu terasa sangat lama. Aku rindu wangi tubuhmu, pelukanmu dan semua yang ada pada dirimu"
"Ada Melati yang menemanimu"
"Beda sayang, aku hanya inginkan kamu. Dengan Melati aku melakukannya hanya untuk mendapatkan keturunan. Aku tak menikmatinya seperti aku melakukan padamu"
"Kamu nih, seperti kita baru saja menikah. Kita udah lima tahun menikah, apa kamu tak pernah merasakan bosan denganku"
"Tak akan pernah sayang. Aku tak akan pernah puas jika hanya melakukan sekali. Ini aja adik kecilku udah bangun lagi" ucap Jino . Nia dapat merasakan jika adik kecil Jino telah bangun kembali.
"Jino, kamu tuh..." belum sempat Nia protes mulutnya udah dibungkam Jino dengan melum*tnya.
Sementara Melati di rumah sendirian. Ia merasakan sakit kepala yang tak tertahankan. Ia ingin minta izin keluar rumah membeli obat.
Melati memang tak dibolehkan keluar rumah tanpa izin dari Jino atau Nia.
Melati mencoba menghubungi Jino. Tapi yang mengangkatnya Nia. Terdengar suara desahan dan erangan dari keduanya. Melati dapat menyadari apa yang sedang mereka lakukan.
"Ada apa Melati...."
"Mbak, aku mau minta izin sama mbak atau mas Jino. Aku mau keluar sebentar , ada yangbperlu aku belikan"
"Pergilah, hati hati...."
Jino yang merasa terganggu merampas ponsel dari tangan Nia tanpa melepaskan penyatuan tubuhnya.
"Apa kamu tak punya otak, kamu pasti mendengar dan tahu apa yang sedang aku dan Nia lakukan saat ini. Masih saja kamu mengganggu dengan obrolan tak penting. Jika kamu ingin pergi, pergi saja...dasar wanita jal*ng"
Setelah mengucapkan itu Jino mematikan sambungan ponselnya.
"Kenapa kamu bicara kasar begitu dengan Melati"
"Wanita itu mengganggu saja"
"Kamu tak terganggu, buktinya kamu masih bisa terus bermain di tubuhku"
"Udahlah sayang, jangan buat aku jadi bad mood karena bicarakan wanita bodoh itu"
Jino kembali bermain ditubuh Nia dengan penyatuan tubuh mereka.
Sementara itu Melati yang mendengar bentakan dari Jino mencoba menghapus air mata yang tanpa bisa ditahan telah membasahi pipinya.
"Aku memang pantas dimarahin. Padahal aku tahu mereka sedang melakukan apa masih saja bicara dengan Nia. Mas Jino pasti merasa terganggu, apa lagi ia yang sudah seminggu ini begitu merindukan Nia"
Melati menarik nafasnya, ia berjalan keluar rumah menuju jalan raya. Ia menaiki angkot menuju salah satu apotik.
Ia ingin membeli tespek. Udah lebih dari seminggu ia telat datang bulan. Ia tak ingin salah meminum obat jika ternyata ia memang hamil.
Setelah membelinya, Melati kembali ke rumah. Dan ia segera melakukan pengujian apakah saat ini ia sedang hamil atau bukan.
Melati melihat hasil tespek dengan cemas. Ia melihat dua garis merah. Melati menrik nafasnya.
"Aku hamil, pantas saja sudah seminggu ini badanku terasa tidak enak. Apakah aku harus memberitahukan ini pada mbak Nia atau mas Jino. Jangan sekarang. Aku tunggu dulu beberapa hari. Mas Jino masih melepaskan rindunya dengan mbak Nia. Aku takut mengganggunya. Aku tak mau mas Jino marah lagi...." gumam Melati.
Ia mengambil segelas air hangat dan meminumnya. Sudah beberapa hari ini Melati malas melakukan semuanya. Tapi ia tidak ingin memanjakan dirinya. Ia paksakan dirinya trtap melakukan semua kegiatan.
Melati melangkah kembali masuk kekamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Sayang, bunda harap kamu baik baik saja dan sehat terus di rahim bunda. Bunda tahu walau kamu darah daging bunda, tapi bunda tidak ada hak untuk memiliki kamu. Bunda harap jika kamu dewasa kamu mengerti dengan keputusan yang bunda ambil. Jika suatu saat kita harus terpisah karena hak asuh kamu ada pada mami Nia, hanya satu yang bunda ingin katakan... bunda menyayangi dan mencintaimu nak. Bunda hanya terpaksa menyerahkan kamu, karena ini telah menjadi perjanjian bunda dengan papimu. Bunda sebenarnya juga tak ingin berpisah darimu..."
Melati menangis mengingat, waktunya akan tiba saat ia akan menyerahkan darah dagingnya. Baru saja ia tahu ada nyawa dirahimnya hatinya sudah begitu sedih mengingat jika bayi yang dikandungnya bukanlah miliknya. Bayi ini hanya akan berada bersamanya selama dalam kandungan, setelah lahir ia akan menjadi milik Nia.
"Mbak Nia wanita yang baik. Aku yakin ia akan menjaga anakku dengan penuh kasih sayang. Mbak Nia pasti menyayanginya seperti darah dagingnya sendiri"
Setelah lama termenung dengan alam pikirannya, akhirnya Melati tertidur.
Pagi harinya ia merasakan kepalanya makin pusing. Ia merasakan mual. Melati masuk kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku jadi ingat mas Jino. Aku ingin berada disampingnya , memeluk dan mencium bau tubuhnya. Apakah ini keinginan bayiku. Apakah jika aku meminta ia menginap, mas Jino akan mengabulkan. Tidak... aku tak boleh mengatakannya, nanti mas Jino pasti marah dan mengatakan aku ngelunjak...."
Melati kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia masih ingin bermalas malasan. Jika diikuti kata hatinya, Melati hanya ingin tiduran saja. Tapi itu tak mungkin, ia harus tetap membersihkan rumah dan memasak buat makannya.
Apa lagi sudah tiga hari sejak Nia kembali dari Bandung , Jino tak pernah datang ke rumah. Melati harus bisa melakukan semuanya sendiri.
Sementara itu dikediaman Jino, ia dan Nia sedang menyantap sarapan yang dibuatkan pembantu rumah tangganya.
"Melati selalu memasak dan menyiapkan sarapan buatku dari tangannya sendiri. Dan masakannya terasa enak sesuai dengan lidahku. Apaan sih...kenapa aku jadi memikirkan Melati. Aku tak boleh membandingkan Nia dan Melati, karena mereka memang tak pantas dibandingkan. Nia adalah wanita terbaik...."
"Jino...Jino...." panggil Nia. Namun Jino masih dengan lamunannya.
Nia lalu menyentuh telapak tangan Jino membuat ia kaget dan langsung menoleh.
"Jino...kamu sedang memikirkan apa" tanya Nia cemberut.
"Nggak ada sayang, siapa yang ada dipikiranku selain kamu..."
"Kenapa dari tadi aku panggil kamu diam aja"
"Aku memikirkan pesta nanti malam, sayang" ucap Jino berbohong.
"Jino, aku nanti mengajak Melati ya ke pesta ulang tahun perusahaan"
"Nanti orang akan bertanya siapa Melati"
"Akan aku katakan ia sepupuku"
"Terserah kamu aja, asal ia tidak akan melakukan sesuatu yang membuat aku malu"
"Aku pastikan ia tidak melakukan itu. Melati akan berada disampingku terus."
"Apa nanti ia tidak akan memalukan kamu dengan penampilannya"
"Aku akan mendandaninya. Aku akan mengenalkan Melati pada keluargamu. Bagaimanapun ia juga istrimu. Tapi kamu jangan kuatir aku tidak akan mengatakan kebenarannya. Aku hanya ingin Melati tahu bagaimana kehidupan keluargamu"
"Terserah kamu aja. Aku pamit dulu ya. Aku akan melihat persiapan pesta nanti malam"
Jino lalu mengecup dahi Nia dan bibirnya sebelum ia berjalan meninggalkan rumah menuju perusahaan.
**********************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Jasmine
org kaya tp tak punya mata2 tuk menyelidiki kegiatan nia di luar rumah..atau seseorg.melaporkan aksi nia diberbagai tempat kunjungannya..pasti rekan kerja atau partner bisnisnya dlm 5 thn prnh tak sengaja melihat atau bertemu nia berjalan tanpa didampingi Jino
2023-01-12
0
Borahe 🍉🧡
si Nia itu tdk bersyukur banget adh dpt suami yg mencintainya dgn gila kaya tampan baik malahan. eh di selingkuhin dong. gila emang Si Nia
2022-10-08
0
Sarah
🤣🤣cinta memang buta...klo dah cinta mati mah susah..susah membedakan antara kebohongan n kejujuran...mau dia selalu melakukan kesalahan pun psti akan selalu terlihat baik n sempurna
makan tuh jino c nia bekas pakai orang....klo lo dah tau baru lo ngerasa jijik😛...
emotion aquh😅
2022-02-11
0