Telah dua bulan berlalu sejak pernikahan Melati dan Jino. Sikap Jino masih sama. Ia hanya datang untuk menyalurkan hasratnya dan setelah puas ia akan meninggalkan Melati seorang diri.
Melati merasa tubuhnya sedikit berbeda. Ia merasa sering capek dan ingin tidur terus.
Tapi itu tak mungkin, ia hanya sendirian dirumah. Jika ia bermalas malasan pastilah rumah ini akan berantakan. Dan ia mau makan apa jika ia malas masak.
Nia menghubungi Melati , bertanya tentang kabarnya.
"Selamat siang Melati, apa kabarmu. Maaf aku belum sempat melihat keadaanmu"
"Nggak apa mbak, aku sehat sehat saja...."
"Mela, aku akan ke luar kota selama seminggu. Temanku mengadakan pesta pernikahan. Jino tak bisa ikut karena masih banyak pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan..."
"Oh, gitu ya mbak. Hati hati ya mbak...."
"Iya, Mela . Terima kasih. Mela....aku mau kamu melayani Jino selama aku di luar kota. Aku akan minta ia menginap dirumahmu selama tak ada aku. Aku harap kamu nggak keberatan"
"Iya ,mbak. Nggak apa. Bukankah aku memang harus melayani mas Jino"
"Melati, aku harap kamu jangan sungkan. Bukankah posisi kita sama...kita berdua istrinya Jino. Aku harap kamu bisa melayani semua kebutuhan mas Jino dari sarapan hingga ia akan tidur...."
"Baik , mbak. Boleh aku bertanya sesuatu ,mbak"
"Ya ,silakan...."
"Apa makanan yang disukai dan tak disukai mas Jino agar aku bisa menyiapkannya"
"Jino itu pemakan apa saja. Dari kami pacaran saat kuliah dulu , ia tak pernah menolak apapun makanan yang aku berikan. Jadi kamu jangan kuatir, apapun yang kamu siapkan pasti dimakannya"
"Terima kasih mbak karena sudah memberitahuku"
"Melati, udah dulu ya. Aku mau siap siap dulu. Semoga dengan kalian tinggal bersama selama seninggu ini, aku akan dapat berita baik . Semoga kamu segera hamil"
"Semoga mbak...."
"Selamat siang...jangan telat makan, jaga kesehatanmu agar kamu segera mengandung buah hati kita bertiga..."
Nia menutup sambungan ponselnya. Melati meletakan ponselnya dan memegang perutnya.
"Sudah satu minggu aku telat datang bulan. Apakah aku saat ini sedang hamil. Aku takut untuk mengeceknya dan bila ternyata aku positif. Aku belum siap jika aku hamil begitu cepatnya. Karena aku takut nanti jika aku benar hamil dan melahirkan, mereka tak mengizinkan aku bertemu dengan anakku. Membayangkan saja aku sudah tak sanggup apalagi jika semua itu menjadi kenyataan.... " gumam Melati
Sore harinya sebelum Jino pulang seperti biasanya Melati segera berdandan menyambut kedatangan suaminya itu.
Melati tampak makin cantik dengan busana yang dikenakannya saat ini. Semua pakaian Melati disiapkan Nia.
Ia membelikan Melati banyak pakaian berupa dress pendek diatas lutut.
Nia mengatakan jika Jino menyukai wanita yang selalu berpakaian seksi.
Sebenarnya Melati tidak biasa memakai dress pendek, pakaian sehari harinya selama ini hanya celana jeans dan baju kaos.
Melati akan memasak buat makan malam mereka ketika terdengar suara langkah kaki mendekat.
Melati mengurungkan niatnya buat memasak. Ia takut nanti Jino marah. Karena ia tahu Jino akan menggaulinya jika ia datang ke rumah ini.
Karena Jino akan datang hanya untuk meminta jatahnya. Setelah itu ia akan kembali ke rumah Nia dan tak pedulikan Melati.
Melati melihat Jino yang duduk bersandar di sofa dengan tangan yang satu sedang membuka dasinya.
Melati mendekati Jino dan berjongkok dihadapan Jino, ia membuka sepatu dan kaos kaki Jino.
Jino yang kaget atas apa yang dilakukan Melati memandangi Melati yang menunduk karena membuka sepatu suaminya.
Kenapa ia membuka sepatuku. Lima tahun aku telah menikahi Nia, tak pernah sekalipun ia membuka sepatuku.
"Mas Jino...." panggil Melati membuat Jino tersadar dari lamunannya.
"Mas...apa mas mau melakukan penyatuan denganku. Atau mandi dulu. Aku siapkan air panas ya buat mas. Kelihatannya mas capek.... "
"Ya, aku mandi aja dulu," ucap Jino dengan pelan.
Melati tersenyum manis dengan suaminya. Ia senang banget Jino mau menjawab perkataannya dengan lembut. Melati lalu meletakan sepatu ke rak.
Ia menyiapkan air panas. Ketika ia akan memanggil Jino, ia melihat suaminya berbering di tempat tidur.
Melati mendekati Jino dan duduk disamping suaminya yang berbaring. Ia membuka kancing baju suaminya untuk membantunya.
Jino menepis kasar tangan Melati yang membuka kancing bajunya.
"Jangan berbuat jauh Melati. Aku akan menginap di sini atas permintaan Nia dan aku harap kamu tidak berpikir yang bukan bukan. Aku juga harus mengingatkan kamu , jangan menyentuh tubuhku jika aku tak meminta. Ingat posisi kamu, kamu tak lebih dari seorang j*l*ng."
Jino bangun dari tidurnya dan membuka pakaiannya menyisakan pakaian dalamnya.
Jino tanpa malu masuk ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Melati menarik nafasnya. Ia menahan rasa sakit kepala yang seminggu ini dirasakannya.
Setelah mandi Jino mendekati Melati yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kenapa wajahmu terlihat pucat. Apa kamu masih takut jika aku menggaulimu."
"Bukan mas. Sudah satu minggu aku merasakan sakit kepala."
"Apa ini alasanmu agar tak melayaniku saat ini. "
"Bukan mas, aku tak bohong. Tapi mas jangan takut, aku akan tetap melayani mas."
Melati membuka satu persatu kain yang menutupi tubuhnya hingga ia saat ini polos.
Melati selalu ingat perkataan Jino untuk ia membuka sendiri bajunya.
Jino memandangi tubuh Melati tanpa kedip. Jino mengakui jika Melati memiliki bentuk tubuh yang bagus.
"Mas...aku siap" ucap Melati. Ia telah terbiasa menerima perlakuan kasar Jino setiap melakukan penyatuan tubuh mereka.
Jino langsung membuka handuknya dan menaiki tubuh Melati untuk melakukan penyatuan.
Melati merasakan sedikit sakit di bawah perutnya ketika Jino melakukan penyatuan dengannya secara kasar.
Setelah mencapai klimaksnya, Jino menjatuhkan tubuhnya disamping Melati.
"Mas, aku mandi dulu baru masak buat makan malam ya"
"Hhhmmmm" dehem Jino.
Melati melihat Jino yang memejamkan matanya. Tampak sekali jika Jino kurang semangat.
Apa Jino lesu karena Nia pergi. Apakah ia begitu sangat mencintai Nia sehingga ia begitu sedihnya saat Nia pergi. Padahal Nia hanya pergi selama seminggu, bagaimana jika Nia meninggalkannya. Apa yang akan Jino lakukan.
Dengan perlahan Melati bangun, ia mencoba menghilangkan rasa sakit kepalanya. Ia segera mandi agar bisa masak buat makan malamnya.
Sementara di sebuah hotel di kota Bandung tampak Nia sedang duduk di atas ranjang menunggu seseorang yang mandi.
Seorang pria keluar dari kamar mandi dan mendekati Nia. Ia mengecup dahi Nia lembut.
"Akhirnya aku bisa berdua denganmu lagi. Sudah lama aku menantikan saat saat ini"
"Maaf, aku baru bisa keluar lagi sekarang. Karena aku tak mau Jino kembali curiga. Apa kamu lupa saat kita hampir ketahuan oleh Jino"
Nia memeluk pinggang pria yang berdiri dihadapannya dan membenamkan kepalanya di perut pria itu.
*****************
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
Jasmine
Jino lbh baik bersikap baik pd Melati,,Nia istrimu ternyata tukang selingkuh makanya rela menyuruhmu menikah lg tuk menutupi kelakuan nazisnya
2023-01-12
0
Jasmine
aataga selingkuh toh...sama berondong pula ya
2023-01-12
0
@InunAnwar
eaaalaah dalah istri yg di sanjung² ternyata yg jalang😂😂😂😂
2022-11-25
0