Kami masih saling bertatapan. Mata Alex tampak melembut. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar-benar nyata, wajah Alex bergerak semakin dekat dan dekat. Menyisakan jarak hanya beberapa senti saja. Hembusan napas hangatnya bisa kurasakan di pipiku. Tubuhku seolah terpaku dan tak bisa digerakan. Tujuh senti, lima senti, tiga senti... Aku mulai menutup mataku... Satu senti lagi...
"Mbak, Adek pulang!!"
Suara itu membuyarkan anganku. Serta merta Aku mendorong tubuh Alex dan Kita saling menjauh. Aku menatap si pengganggu. Ternyata adekku yang bernama Fian sudah pulang.
Fian mendekat padaku dan mencium tanganku. Kemudian dia menatap Alex dengan curiga.
"Siapa Mas itu?" tanyanya dengan nada tidak suka.
"Dia teman Mbak. Salim dulu sana..."
"Nggak mau!"
"Fian kan anak pintar, salim dulu sana Dek."
"Tadi Mas itu ngapain dekat-dekat? Mau ngapain Mbak?" Fian bertanya curiga. Fian masih kelas 2 SD. Umurku dan Fian selisih tujuh tahun. Jarak umur yang cukup jauh membuat Fian menganggapku sebagai pengganti Alm. Ibu.
"Oh, oh... Tadi Mbak bantuin bersihin debu di mata Mas Alex. Fian salim dulu. Kenalan dulu ya." Setelah dibujuk rayu akhirnya Fian menuruti perkataanku. Dia berjalan mendekati Alex. Tapi raut matanya masih penuh kecurigaan dan permusuhan. Fian mengambil tangan Alex dan menciumnya.
"Wah namamu Fian ya. Namaku Alex. Fian kelas berapa?" tanya Alex sembari mengelus kepala Fian yang langsung ditepis oleh tangan kecilnya.
"Nggak usah tanya-tanya. Nggak usah sok akrab." Fian langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku mengikutinya dari belakang.
Aku membantu Fian berganti baju. Setelah itu kembali ke ruang depan. Biasanya sepulang sekolah Fian akan langsung bermain dengan temannya. Tapi melihat tamu kakaknya sepertinya membuatnya menjadi lebih waspada. Fian memilih menemaniku berbincang-bincang dengan Alex.
Tatapan tidak ramah Fian sepertinya membuat Alex merasa tidak nyaman. Beberapa kali Alex mencoba bercakap-cakap dengan Fian, namun laki-laki kecil itu memilih untuk tidak menjawabnya.
"Hari sudah siang. Kalau begitu Aku pamit pulang dulu ya..." Wajah Alex merasa sangat tidak enak.
"Iya, terima kasih banyak ya. Terima kasih karena telah menolongku tadi pagi. Terima kasih untuk semuanya..."
"Sesama teman memang harus saling membantu. Aku pulang dulu ya Khans, semoga segera sembuh. Aku pulang ya jagoan kecil." Alex kembali mengusap kepala Fian yang lagi-lagi ditepis oleh tangan kecilnya.
"Pulang sana. Jangan kesini lagi!" Ucap Fian dengan berang.
Aku menutup mulut Fian cepat-cepat. Tapi Alex sudah terlanjur mendengarnya. Alex tersenyum kecil. Sepertinya perkataan Fian tidak dia masukan ke hati.
Kemudian Alex berjalan ke arah motornya. Sebelum berlalu dia melambaikan tangannya dan tersenyum dengan manis. Kakiku terasa terbuat dari agar-agar. Langsung lemah dan meleleh. Sungguh Aku wanita yang lemah!
***
Aku tidak memiliki waktu untuk menafsirkan tindakan Alex. Kami memang hampir berciuman. Hanya kurang satu senti lagi maka bibir Kami akan bertemu! Dan itu membuat tubuhku panas dingin.
Otakku ingin menelaah dan menduga-duga apa maksud tindakan Alex itu. Namun Aku tidak bisa melakukannya karena Aku memiliki masalah sekarang. Masalah yang cukup besar bagi seorang siswi berusia 15 tahun.
"Kamu sudah 6 bulan berturut-turut tidak bayar SPP (sumbangan pembinaan pendidikan). Sesuai dengan peraturan sekolah, Kamu tidak bisa ikut ujian." Ujar petugas TU (tata usaha) tersebut.
Aku tercengang mendengar pernyataan itu. Hari ini Aku sengaja datang ke ruangan TU untuk meminta kartu ujian. Semua murid di kelasku sudah menerima kartu tersebut. Hanya Aku saja yang belum menerimanya. Ternyata alasan mereka tidak memberikan kartu itu karena Aku belum membayar SPP.
Keringat dingin mulai bermunculan di dahiku. Bagaimana mungkin Aku tidak diperbolehkan ikut ujian? Sedangkan ini adalah ujian akhir kenaikan kelas?
"Tapi Bu, kalau Saya tidak ikut ujian Saya tidak akan naik kelas..."
"Itu urusanmu dan orangtuamu. Makanya bayar SPP yang rajin, biar bisa ikut ujian." Ujar petugas TU yang bernama Nurul itu dengan ketus.
"Tapi ayah Saya belum punya uang Bu. Kalau sudah ada uang, Saya pasti akan bayar Bu..."
"Begini ini yang Aku tidak suka. Sudah tahu tidak mampu masih saja sekolah di sini. Ini sekolah favorite di kota ini. SPP mahal itu wajar, karena sesuai dengan standar sekolah. Kalau tidak mampu mending cari sekolah di pinggiran saja. Meskipun ini sekolah negeri, bukan berarti Kami menerima murid secara cuma-cuma! Maaf Aku tidak bisa memberimu kartu ujian sebelum Kamu melunasi SPP mu." Bu Nurul menutup data pembayaranku dan beralih mengerjakan hal lain. Benar-benar mengacuhkanku.
Dengan langkah lunglai dan kaki gemetar Aku kembali ke kelas. Otakku berputar-putar untuk mencari cara. Bagaimana caranya Aku bisa bayar SPP dan ikut ujian? Meminta pada ayah itu tidak mungkin. Penghasilan ayah sehari-hari hanya cukup untuk di makan hari itu juga. Tidak ada uang tersisa.
Uang SPP di SMA ku ini tergolong mahal. Dua ratus ribu sebulan. Padahal waktu di SMP uang SPP ku hanya dua puluh ribu. Itulah bedanya sekolah pinggiran dan sekolah favorite di pusat kota. Selain beda status, jumlah pembayaran ini-itu yang dikeluarkan pun juga berbeda.
Aku benar-benar tidak punya jalan keluar. Ujian tinggal tiga hari lagi. Darimana Aku bisa mendapatkan uang satu juta dua ratus ribu rupiah? Apakah Aku seharusnya tidak sekolah saja? Tapi fokus membantu ayahku bekerja?
Hah, entahlah. Aku pasrah saja. Bila memang nasibku tidak naik kelas dan berhenti sekolah, Aku akan menerimanya dengan lapang dada. Toh memang tidak seharusnya Aku berada di sekolah ini.
***
Hari ujian pun tiba. Aku bingung harus masuk sekolah atau tidak. Bila Aku masuk sekolah, akan percuma juga. Toh Aku tidak akan ikut ujian juga. Bila Aku tidak masuk sekolah, ayahku akan curiga dan bertanya-tanya alasanku melakukannya. Apa yang sebaiknya kulakukan?
Setelah menimbang-nimbang akhirnya Aku memutuskan untuk memakai seragam dan berpura-pura masuk sekolah. Hal ini kulakukan untuk mengelabui ayahku agar tidak curiga.
Aku tidak ke sekolah. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan daerah yang letaknya tak jauh dari sekolahku. Aku menghabiskan waktu di sana sembari kembali mempelajari pelajaran-pelajaran yang tak bisa kuikuti ujiannya.
Setiap hari ada dua mapel yang di ujikan. Setiap mapel membutuhkan waktu satu setengah jam. Bila ujian dilaksanakan dari jam tujuh pagi, seharusnya jam setengah sebelas siang ujian sudah selesai (di tambah dengan jam istirahat).
Aku berencana pulang ke rumah ketika sekolah juga usai, jadi ayahku tidak akan curiga kalau Aku tidak bersekolah.
Aku menunggu dan menunggu hingga akhirnya waktu yang kutunggu tiba. Aku melihat di jalanan banyak siswa-siswi berseragam putih abu-abu sudah berhamburan. Waktu yang pas untuk pulang.
Aku membereskan semua buku yang berserakan. Memasukannya ke dalam tas dan bersiap-siap untuk pulang.
Kemudian Aku berjalan ke arah parkiran untuk mengambil sepeda kayuhku. Aku menuntun sepeda itu ke jalan besar dan berusaha berbaur dengan kumpulan anak-anak yang baru saja keluar.
Aku akan naik ke sepedaku ketika seseorang menarik tanganku dan membuatku berbalik. Aku menatap mahluk tampan yang balik menatapku dengan kemarahan.
"Khansa, kemana saja Kamu?! Kenapa tidak ikut ujian?!" Alex terlihat marah dan geram. Aku tak bisa menjawab, bibirku menjadi bungkam.
***
Happy Reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Juwita Maimunah
jadiingat masa SMA bayar SPP smpe berbulan2 ga bisa bayar pas mau semester utung TU baik hati Masi ada toleransi bisa ikut smester
2025-01-03
0
Be snowman
sedih jadi Khanza ,mau bilang sama ayah tapi tau keadaan ayah 😭💔
2024-11-23
0
Ningke Endengi
alex akan membayar uang spp kanza?
2024-06-12
0