Alex sepertinya benar-benar sangat kesal dan terkejut dengan perkataanku. Dia benar-benar mendiamkanku.
Sehari setelah mengatakan itu, Aku mengembalikan ponselnya dan menaruhnya di laci mejanya. Alex mengetahui keberadaan ponsel itu, namun dia tidak mengambilnya. Dia tetap membiarkan ponsel itu berada di sana selama beberapa hari ke depan.
Hubungan Kami bagaikan dua orang tak saling mengenal. Ingin kusentuh punggung yang hanya berjarak satu meter itu dan merebahkan kepalaku di sana. Bohong namanya kalau Aku tidak sakit hati. Aku benar-benar sakit hati.
Meskipun ucapan itu terlontar dari mulutku, namun begitu melihat Alex benar-benar mengacuhkanku membuatku sakit hati. Selama hampir satu tahun berada di sekolah ini, hanya Alex yang benar-benar peduli padaku. Mengajakku berbicara. Menawarkan begitu banyak bantuan.
Dari memberi contekan, membantu ketika ban sepeda bocor, meminjamkan ponsel, mengantarkanku ke rumah, menjadi tutor mapel yang kutakuti, membelikanku makanan kantin dan banyak hal lainnya. Bila mengingat kebaikan Alex, Aku selalu menangis. Hanya Alex yang memperlakukanku seperti manusia. Namun dengan begitu jahatnya Aku berkata seperti itu. Alex pasti sakit hati bukan?
Tapi bila Aku membiarkan Alex terlalu baik padaku hanya akan ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Aku akan semakin menyukai Alex dan berharap lebih padanya. Kemungkinan kedua hubungan Alex dan Diana bisa terganggu karena keberadaanku. Sebelum dua hal itu terjadi, Aku lebih baik menjauhkan diriku darinya.
***
Hari ini tamu bulananku datang. Aku begitu dilema, harus mengikuti mapel olahraga atau tidak. Ketika menstruasi datang, Aku selalu mengalami dismenore. Biasanya sakit itu akan hilang ketika perutku di kompres oleh air hangat.
Hari ini ada penilaian lari jarak pendek. Bila Aku tidak mengikuti mapel olahraga, maka penilaianku akan kosong. Sepertinya Aku harus menahan rasa sakit ini untuk sementara waktu. Semoga saja sakit ini tidak akan begitu menggangguku.
Semua murid tampak berkumpul di lapangan. Beberapa murid memasang tanda sebagai persiapan lomba lari. Mataku secara otomatis mencari-cari Alex. Pria itu berdiri di antara kerumunan orang. Dia juga sedang menatapku.
DEG
Mata Kami bertemu. Jantungku berdetak dengan sangat kencang. Sudah lama Kita tidak saling berpandangan. Getaran aneh mengaliri tubuhku. Membuat tubuhku merinding.
Lama Kami saling bertatapan. Sebelum akhirnya tatapan itu terputus begitu ada seseorang yang menyentuh bahu Alex. Aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Bertatapan dengan Alex seolah-olah membuat oksigen di sekitarku menjadi habis. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Lomba lari jarak pendek itupun segera dimulai. Guru memanggil berdasarkan urutan absen. Semakin mendekati absenku, perutku menjadi semakin sakit. Entah karena nervous atau dismenore. Keringat dingin mulai bermunculan di dahiku.
Aku berusaha menahan rasa sakit di perutku. Tiba-tiba saja namaku sudah di panggil.
"Khansa Aulia, Itha Rosita, Helmi Anggraini, Nela Kurniaty, siap-siap di posisi." Aku bersama tiga teman sekelasku yang lain bersiap-siap.
Rasa sakit di perutku semakin tak tertahankan. Pandanganku semakin buram. Aku seolah-olah tak sanggup untuk berdiri lagi.
"Aturannya, siapa yang lebih dulu mencapai garis finish, itu yang menang. Juara pertama akan mendapatkan skor tertinggi, begitu pula sebaliknya. Apa kalian mengerti?" Guru olahraga bernama Pak Riswan itu menjelaskan. Semua dari Kami mengangguk mengerti.
"Bersiap di posisi." Kami berempat bersiap-siap di posisi. Mengambil ancang-ancang untuk berlari. "3... 2... 1... Prriitttt!!" Dan Kami segera berlari.
Aku berusaha berlari semampuku. Dalam pelajaran olahraga Aku berada di posisi tengah-tengah. Tidak sangat baik, namun juga tidak sangat buruk. Setidaknya Aku tidak boleh gagal di mapel ini.
Aku berlari dan semakin berlari. Semakin dibuat lari, rasa sakit di perutku semakin menjadi-jadi. Sengatan nyeri datang berkali-kali. Aku sudah tidak tahan lagi. Bumi tampak goyah dan keadaan sekitarku lambat laun menjadi gelap. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Hal yang kuingat terakhir kali adalah teriakan orang-orang dan wajah yang kurindukan berlari ke arahku.
***
Aku merasa dahiku sangat sejuk dan perutku juga hangat. Perasaan ini benar-benar sangat menyenangkan. Aku tidak ingin terbangun dan menikmati perasaan ini.
"Sepertinya dia dismenore. Dia sedang menstruasi sekarang."
"Apa dismenore Dok?" terdengar suara yang sangat familiar di telingaku. Aku membuka mata perlahan untuk mengintip. Benar dugaanku. Alex sedang duduk disebelah ranjangku dan berbicara dengan dokter UKS (unit kesehatan sekolah).
"Dia pacarmu?" tanya dokter bernama Nina itu dengan kepo.
"Bukan. Tapi dia sahabatku."
"Oh, Aku pikir pacarmu. Seingatku Kamu kan siswa populer di sini. Pacarmu yang dapat julukan Princess D itu kan?"
"Hem. Dismenore itu apa? Apa itu berbahaya?" Alex kembali mengalihkan ke topik utama.
"Dismenore itu adalah nyeri yang dirasakan ketika sedang menstruasi. Ada yang ringan, namun ada juga yang berat. Sepertinya gadis ini mengalami dismenore yang berat. Mengingat dia sampai jatuh pingsan seperti ini."
"Apa itu sangat sakit Dok? Apa obatnya? Pasti ada obatnya bukan?"
"Kenapa Kamu sangat perhatian sekali. Orang akan mengira dia pacarmu kalau Kamu seperti ini, hihihi." Dokter Nina menggoda Alex yang wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Sudah kubilang dia sahabatku. Cepat beri dia obat Dok."
"Kamu yakin tidak memiliki perasaan apa-apa. Mengingat tadi Kamu heboh banget menggendongnya kesini, pasti Kamu punya perasaan kan? Ayo ngaku sini sama Kakak, Kakak bisa jaga omongan kok, hihihi." Dokter Nina tertawa cekikikan.
"Sebenarnya dokter berumur berapa sih? Tingkah Anda sangat kekanak-kanakan sekali. Segera beri dia obat." Alex tampak gusar.
Nina tidak bisa menyembunyikan tawanya. Dokter Nina berumur 26 tahun. Dia sudah menikah dan memiliki anak. Bertugas di UKS seperti ini membuat jiwa mudanya kembali bangkit. Dia sering mendapati sepasang anak kecil memadu kasih. Saling memberikan perhatian. Melihat adegan seperti itu membuatnya tertawa geli, tak terkecuali saat ini.
"Tenang anak muda. Obatnya sudah ada. Kamu lanjutkan saja kompres perutnya dengan air hangat. Dan juga lap keringatnya. Sebentar lagi dia juga akan membaik. Aku tinggal cari makan dulu ya. Awas, jangan mesum di ruang UKS ya, hihihi." Dan dokter Nina pun pergi dengan sengatan kesal di mata Alex.
"Dasar dokter usil." Gerutu Alex dengan kesal.
Sekarang hanya tinggal Kami berdua. Aku begitu bingung, sumpah benar-benar bingung. Aku sudah sadar, namun Aku tidak berani membuka mata. Bisa membayangkan kecanggungan macam apa yang akan terjadi?
Dan... Dan kenapa Alex mengompres perutku dengan air hangat? Ini sangat memalukan. Aku merasa benar-benar ingin bersembunyi di lubang paling dalam!!
"Khansa... Kamu belum sadar?" Aku tidak menjawab pertanyaan Alex. Aku berakting mati!
"Khansa... Perkataanmu yang terakhir kali membuatku sedih. Bagaimana mungkin Kamu berkata seperti itu? Khansa yang kukenal tidak seperti ini. Dia adalah gadis yang polos, pendiam, pemalu dan suka menangis. Khansa yang kukenal tidak pernah berkata jahat seperti itu. Kenapa Kamu mengatakan hal itu? Apa Kamu benar-benar tidak ingin berteman denganku? Padahal Aku tulus ingin berteman dan bersahabat denganmu. Apa keinginanku terlalu tinggi?"
***
Happy Reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Ningke Endengi
ha ha ha Dokter usil
2024-06-12
0
Alea
hahaha dokter Nina
2023-05-19
0
Tasyarani Putri
"cowo dan cewe bisa sahabatan tanpa baper-baperan, itu bisa, kalo cowonya gay"-fuji
2023-03-19
0