Bab 20

"reaksimu sama dengan orang orang yang bertemu denganku" ucap Beyza pelan menatap adik iparnya.

"ma..maaf kak" lirih Hazel

"tenanglah,udah biasa kok,nah kita langsung bicarakan intinya" ucap Beyza serius

"sudah sampai mana penyelidikan mu?" tanya Beyza lagi

"enam puluh persen kak,tapi bukti yang aku kumpul masih kurang" jelas Hazel

"tentu saja masih kurang,bukti itu banyak yang disembunyikan Zel" kekeh Beyza

"tunggu..kakak tau semua tentang kasus ini?"

Beyza menyandarkan badannya sambil melipat tangan didada "aku tahu"

"lalu kenapa kakak tidak ada melakukan apa pun selama lima tahun itu?"

Beyza tersenyum tipis "melatih mental dia"

Hazel yang mendengar hal itu hanya menganga tidak percaya,mengedip matanya berkali kali mencerna perkataan Beyza yang tidak masuk akal itu.

"maksudnya kak?" tanya Hazel tak mengerti

"hmm aku sengaja membiarkan Muaz masuk penjara" ucap Beyza pelan. Hazel hanya diam mendengarkan menunggu kakak iparnya itu berbicara lagi

"Muaz plin plan dalam mengambil keputusan,jadi pas kejadian itu aku membiarkan dia menjadi pelaku,tidak peduli sesakit apa dia disana yang penting dia bisa menjaga dirinya sendiri"

oh kakak ipar kenapa kau begitu kejam dengan adikmu sendiri. gumam Hazel menatap kakak iparnya yang santai mengatakan itu.

"kak,waktu itu kau ada dimana?" tanya Hazel pelan

"oh aku ada diluar negeri tepat dua hari sebelum kejadian malam itu" jawab Beyza

"hmm maaf kak,saat kakak tau kabar tentang malam itu,apa kakak tidak sedih?" tanya Hazel hati hati ia takut menyinggung perasaan kakak iparnya.

Beyza menatap datar kearah Hazel "tentu saja ada,tapi aku tidak bisa terpuruk terus,aku harus cepat mencari pelakunya" lirih Beyza

"kau tau Zel,saat aku mendengar hal itu..yang aku pikirkan bagaimana sibrengsek itu bisa masuk padahal penjaga kami banyak,dan kenapa hanya membunuh ayahku tapi memperkosa bunda..apa yang terpikir olehmu soal itu?"

"hmm sepertinya dia hanya mengincar bunda" jawab Hazel

"tepat sekali..aku juga memikirkan hal yang sama,dan sampai sekarang aku masih mencari keberadaan bunda"

deg. Hazel terkejut lalu menatap Beyza "Bunda masih hidup kak?"

Beyza mengangguk "mayat yang kemarin bukanlah jasad bunda,aku sempat mengotopsi mayat itu sebelum dibakar"

jadi alasan kasur itu tidak ada darah karena bunda masih hidup,dan diganti dengan mayat orang lain..akhirnya satu teka teki sudah dijawab. gumam Hazel sambil menopang dagunya.

tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka,mereka lalu diam menikmati masing masing makanan mereka.

"terimakasih atas traktirnya kak" ucap Hazel sopan

"iyaap, tapi kau tidak perlu berbicara formal gitu,santai saja" ucap Beyza santai sambil membuka bungkusan permen dari saku celananya.

"kau mau?" Beyza menyodorkan bungkusan permen lainnya pada Hazel. Hazel langsung menerimanya dan ikut mengemut permen seperti Beyza.

"kuy jalan jalan dulu,mumpung masih banyak waktu..kau nggak sibukkan hari ini?" tanya Beyza melirik jam tangannya

"nggak kak,tapi dirumah aku belum menyiapkan makan siang untuk Muaz"

"biarkan saja dia,sesekali tidak usah pedulikan dia..dia bisa sendiri kok" ajak Beyza menarik tangan Hazel. Hazel hanya pasrah mengikuti kakak iparnya itu.

"aku beruntung kau yang menjadi istrinya Muaz" ucap Beyza menatap kearah ombak yang menerpa pasir pantai. kini mereka tengah duduk di salah satu bangku ditepi pantai.

"kenapa gitu kak?"

"selama ini,banyak yang mau bersama Muaz tapi hanya mengincar harta keluarga kami,aku tidak ingin terjadi itu..lalu setiap mereka mendekati Muaz aku selalu menggagalkan langkah mereka kearah Muaz" ucap Beyza puas mengerjai para para wanita itu.

Hazel hanya tertawa kecil "kakak sangat menyayangi Muaz yaa"

Beyza melirik sekilas kearah Hazel "hmm walaupun kami beda ibu,kami saling menyayangi kok.. apalagi bunda tidak pernah membedakan kami sedikitpun" ucap Beyza pelan menatap langit yang mulai terik

"aku yakin kita bisa menemukan bunda kak,tenang saja"

"iyaa aku percaya padamu Zel,dan untuk kasus Muaz aku senang kau yang menyelidikinya..ngomong ngomong kasus itu kan sudah ditutup,siapa yang menyuruhmu membuka lagi kasus itu?" tanya Beyza penasaran

"pak Edzhar kak"

"Edzhar? wah sudah lama tidak bertemu dengannya yaa,bagaimana dia sekarang?"

"dia sangat menyebalkan kak,trus sering marah marah kalau kami tidak sesuai targetnya" gerutu Hazel

"buahahaha ternyata dia masih sama sifatnya,lalu Daffa gimana?" tanya Beyza

"Daffa? siapa dia kak?"

"oh kau belum pernah bertemu Daffa yaa??"

Hazel menggeleng pelan "emangnya Daffa siapa kak?"

"dia sahabat Muaz,tapi kami sering kumpul bersama" Jawab Beyza tersenyum membayangkan perkumpulan mereka.

"Muaz tidak tau kan kalau kita bertemu?"

"nggak kak"

"baguslah"

"hmm kak,kalau kakak tau semua kasus ini,kenapa kakak tidak melacaknya?"

"ada dua alasan kenapa aku tidak melakukan itu,pertama aku ingin pelaku itu dihukum secara sah bukan ilegal,kedua aku hanya bisa melacak beberapa tidak sedetail yang kau bayangkan"

"ooo"

"kemungkinan besar Muaz juga melakukan hal yang sama sepertiku"

"apa dia juga mencari pelakunya?"

"iyaap,bocah itu nggak akan tinggal diam aja soal ini" jelas Beyza

"kakak tidak mau bertemu dengan Muaz?"

"belum saatnya aku bertemu dengan dia,cukup rahasiakan saja pertemuan kita okee"

"baiklah" Hazel melirik kearah jam tangannya menunjukkan pukul dua siang. tidak terasa mereka menghabiskan waktu selama lima jam dari restoran tadi hingga duduk ditepi pantai saat ini.

"kak,aku harus membeli gaun untuk pesta nanti malam"

"oh yaa? pesta siapa emangnya?" tanya Beyza melirik kearah Hazel. ia memang tau tentang pesta itu tapi ia tidak bilang jika teman Hazel itu memiliki niat jahat pada adik iparnya.

"pesta ultah Marsya kak,dia model" jawab Hazel sambil memakai sepatu sneakersnya.

"hati hati,jangan sembarangan menerima minuman apapun nanti,terutama minuman berwarna merah" ucap Beyza penuh makna,ia hanya tersenyum tipis menatap adik iparnya.

Hazel bingung dengan maksud Beyza,tapi ia urung niatnya bertanya lagi,ia harus bergegas pergi ke butik.

"kalau gitu sampai jumpa kak Bey" pamit Hazel melangkah menuju mobilnya,dan dibalas anggukan oleh Beyza.

Beyza hanya menatap kearah mobil Hazel yang sudah melaju menjauhi tempatnya berada saat ini.

"semoga tidak terjadi sesuatu padamu Zel" lirih Beyza.

huft..membosankan sekarang aku harus ngapain yaa???" gerutunya menatap desiran ombak

***

Muaz menatap gusar kearah jam dinding,dari tadi ia tidak dapat menemukan istrinya. Muaz ingin sekali menelpon Hazel namun karna egonya ia mengurungkan niatnya itu.

"telpon atau tidak,cih..anak itu meresahkan juga" gusarnya mengusap wajahnya.

ceklek. pintu apartemen terbuka menampakkan seorang wanita membawa tas belanjaannya,Muaz melirik kearah pintu menghela napas lega saat tahu Hazel pulang dalam keadaan baik baik saja.

Muaz pura pura bermain ponselnya rebahan disofa seolah olah tidak menyadari kedatangan Hazel. Hazel melirik kearah suaminya yang tengah bermain ponsel itu,tetapi matanya malah fokus dengan bibir suaminya mengingatkan kejadian tadi pagi.

Hazel menggeleng cepat ia pun langsung masuk kedalam kamar dengan tergesa gesa.

braak. Muaz terkejut saat Hazel membanting pintu setelah menatapnya sekilas. ia bingung dengan sikap istrinya tiba tiba seperti itu.

apa aku melakukan kesalahan? gumam Muaz lalu ia pun melirik undangan yang tergeletak diatas meja.

"sial acaranya malam ini kan?" gumamnya melirik kearah kamar Hazel. ia pun tadi melihat sekilas Hazel membawa barang belanjaan sepertinya baju yang akan digunakan untuk pesta nanti.

"cih perkataan si brengsek membuatku trus kepikiran"

"pasti tidak terjadi sesuatu dengannya kan??,sudahlah ngapain juga aku peduli" ucap Muaz menghempas dirinya ke sofa menatap langit ruangannya.

Perkataannya tidak sesuai dengan tindakannya,lihatlah dia sekarang ada dimana,mengikuti istrinya pergi menuju pesta itu. Muaz mengenakan masker,kacamata bening dan jas sesuai dengan tema pesta itu. malahan dia sempat menduplikat undangan istrinya agar bisa masuk kedalam pesta.

Muaz menertawakan dirinya sendiri, ia melakukan hal gila yang belum pernah ia lakukan sebelumnya,dan sekarang ia melakukan itu hanya untuk membututi istrinya. kalau saja bukan karena si penelpon brengsek yang tidak dikenal itu mungkin Muaz tidak akan berada disini saat ini.

"huft..apa yang ku lakukan?" ucapnya pelan melirik sekeliling ruangan pesta yang tampak mewah,tetapi tidak membuat Muaz betah didalamnya. ia terus menghela napas. melirik kearah Hazel yang tengah berbincang pada teman temannya.

bukan dipungkiri jika Hazel salah satu wanita yang banyak dilirik pria yang hadir dipesta itu termasuk Muaz. kecantikan Hazel seperti bersinar pada malam itu. ia tersenyum menatap istrinya yang begitu cantik,ia pun tidak menyangka bisa menikahi Hazel.

namun senyuman itu pudar karna banyak cowok yang mulai mendekati Hazel. Muaz berjalan mendekati pria yang mau menggoda istrinya itu.

Muaz mencengkram bahu pria itu saat hendak menyentuh bahu Hazel. ia menatap tajam kearah pria itu.

"jangan pernah menyentuhnya!" ancamnya,pria tadi ketakutan melihat Muaz menatap tajam kearahnya. pria tadi hanya tersenyum remeh lalu menepis tangan Muaz kasar.

"kau siapa? apa hakmu melarangku menyentuhnya?"

Muaz berbisik pada pria itu,sontak membuat pria tadi yang meremehkan dirinya sekarang ketakutan menatap Muaz. ia pun tergesa gesa menjauh dari Hazel.

Hazel sampai saat ini masih belum menyadari keberadaan Muaz. ia terus mengagumi dekorasi pesta Marsya.

"akhirnya kau datang Zel" ucap gadis yang merupakan pemilik pesta mewah itu

"selamat ulang tahun Sya" ucap Hazel tulus sambil menjabat tangannya dengan Marsya

"thanks,ayoo sini ikut aku,aku mau perkenalkan dengan seseorang" ajak Marsya langsung menarik tangan Hazel menuju pria yang berdiri tidak jauh dari mereka.

cih kurang ajar sekali dia mau memperkenalkan istriku dengan pria lain. gerutu Muaz diam diam mengikuti mereka.

"aduh" seru seseorang yang tak sengaja menabrak Muaz. Muaz hanya berdecak kesal dan melenggang mengikuti istrinya pergi. sedangkan orang yang menabrak Muaz hanya tersenyum tipis.

"menarik" ucapnya

gara gara wanita yang menabraknya tadi,ia kehilangan jejak Hazel. ia melirik sekeliling ruangan mencari keberadaan istrinya. Muaz menghela napas lega saat menemukan Hazel,tetapi ia memicingkan mata saat melihat seseorang bersama Hazel. ia pun mulai mendekati mereka.

"kau sangat cantik"

"terimakasih tuan"

"tidak perlu memanggilku tuan,panggil saja aku Daren" ucap Daren menatap lekat kearah Hazel.

Hazel merasa tidak nyaman terus dilihatin,ia pun menarik tangan Delia mendekat kearahnya.

"baik tu..hm maksudku Daren,senang berkenalan dengan anda,kalau begitu saya permisi dulu yaa..ayo Del" ajak Hazel menarik tangan Delia,Delia yang sibuk mengambil makanan menggerutu saat Hazel menariknya tiba tiba.

"Hazel,aku ingin pergi ke toilet sebentar" ucap Delia langsung pergi meninggalkan Hazel sendirian. Hazel hanya duduk diam menatap pesta ulang tahun yang begitu membosankan. tidak ada tiup lilin,atau potong kue..malah ini seperti acara formal yang biasanya ia ikuti dengan orang tuanya.

"kita bertemu lagi Zel" ucap Daren girang lalu duduk disamping Hazel. ia pun menatap lekat kearah wanita yang seharusnya saat ini menjadi istrinya.

sedangkan Hazel tidak ingat jika ia pernah bertemu dengan Daren saat acara kolega orang tuanya kemarin,karena ia tidak ingin mengingat hal yang membuatnya kesal. lebih baik lupakan daripada terus diingat membuat stres.

ya ampun pria ini membuatku kesal. gerutu Hazel dalam hati,ia pun sedikit menjaga jarak dengan pria itu.

cantik sekali mainanku. gumamnya menatap lekat kearah Hazel. ia pun langsung memesan minuman sambil berbisik pada pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya.

tak lama kemudian pelayan itu datang membawa dua minuman berwarna merah,sudah pastinya salah satu diantara minuman itu sudah ada campuran sesuatu didalamnya.

Daren langsung menyodorkan minuman itu pada Hazel,awalnya Hazel enggan menerimanya namun karena Daren terus memaksanya iapun menerimanya.

Hazel melirik kearah minuman yang dipegangnya,teringat ucapan Beyza.

hati hati,jangan sembarangan menerima minuman apapun nanti,terutama minuman berwarna merah.

shit,aku harus gimana. gumamnya menatap minuman itu. ia tidak akan meminum minuman itu.

Hazel menatap kearah seseorang yang tampak tidak asing baginya melirik kearahnya.

Muaz? kau kah itu? serunya dalam hati

"kenapa belum minum?" tanya Daren

"oh,aku sedang tidak haus" jawab Hazel asal

"ayolah diminum,anggap saja ini tanda pertemuan kita" bujuk Daren agar Hazel mau meminum itu.

kenapa pria ini trus memaksaku minum?? sudah ku duga pasti ada sesuatu didalamnya..aku tidak bodoh!. gerutunya

entah keberuntungan berpihak padanya,pria yang memakai masker berdiri disampingnya saat ini. ia yakin tujuh puluh persen jika pria itu adalah suaminya. dengan sengaja ia tersandung dan menumpahkan sirup itu kearah pria itu.

"ya ampun maaf" ucap Hazel sesal menatap jas pria tadi terkena minumannya. Daren yang melihat itu mengumpat pelan karena rencananya gagal menjebak Hazel.

Hazel menatap mata tajam pria yang memakai masker itu,senyum lebar tercetak jelas diwajahnya. ia sangat tahu mata setajam elang itu milik siapa,Agar ia tidak diganggu lagi dengan pria yang bernama Daren,dengan cepat ia merangkul pria masker itu sambil berbisik

ternyata kau suamiku. bisiknya membuat pria tadi terkejut yang tak lain adalah Muaz. Muaz berdecak pelan lalu membalas pelukannya dengan Hazel membuat Hazel tersenyum tipis dipelukannya.

Terpopuler

Comments

X

X

Aku yakin marsya itu boneka mainan daren , wanuta d samping daren saat ngobrol dgn iram . Karna daren n iram mau memuja hasel maka nya marsya mau berbuat buruk ama hasel

2022-09-14

1

ℓ ι ƒ ι α 💕

ℓ ι ƒ ι α 💕

sepertinya othor nya suka huruf Z ya? Hazel, Muaz, Beyza

2021-10-08

3

Chandra Dollores

Chandra Dollores

ilmu baru...
jan terima minuman berwarna merah
catat ya

2021-10-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!