Hazel menyerngit bingung menatap Muaz yang tak kunjung meresponnya.
"Az! Muaz" panggilnya dengan keras membuat siempunya nama tersadar.
Muaz menggeser pelan wajah Hazel darinya,lalu berjalan keluar dari ruangan. Hazel bingung menggeleng pelan melihat punggung Muaz yang kini mulai menjauh.
"ada apa dengan suamimu?" tanya Delia yang ikut bingung juga melihat tingkah Muaz
"entahlah" Hazel menaikkan bahu. baru beberapa langkah Hazel menuju mejanya,ia dikejutkan dengan kedatangan Muaz yang menatapnya tajam. tanpa basa basi Muaz menarik tangan Hazel keluar dari ruangan. Hazel memberontak pelan saat suaminya menarik tangannya kuat.
"Az sakit!" rintihnya,membuat suaminya langsung melepaskan tangan Hazel.
"maaf" ucapnya tanpa melihat kearah Hazel. Hazel mengelus tangannya yang sempat merah karena Muaz,ia melirik heran melihat suaminya.
"Az,ada apa?" tanya Hazel pelan
Muaz menoleh kearah Hazel "jika suatu saat kita terjebak disituasi berbahaya,kau tidak boleh mempercayai siapapun termasuk aku" jelas Muaz menatap intens kearah Hazel
"apa maksudnya Az?" Hazel menatap heran kearah suaminya
"aku belum bisa memastikan sesuatu,jadi kalau aku mengangkat kelingking ku,itu artinya aku berbohong dengan apa yang aku omongkan nanti" jelas Muaz lagi
Hazel menghela napas pelan "tenang dulu Az,apa terjadi?apa ada yang mengincar kita?"
"ada,kau juga harus berhati hati dengan pria itu"
"maksudmu Iram?"
"iyaa,jaga dirimu baik baik" ucap Muaz berjalan mendahului Hazel,ia pun langsung keluar dari kantor Hazel. Hazel hanya diam melirik menatap punggung suaminya yang kini kian menjauh.
"Hazel!" panggil seseorang dibelakang Hazel,Hazel menoleh melihat Delia mengejarnya.
"ada paket untukmu Zel" serunya sambil memegang paket milik Hazel
"ini persis seperti paket yang aku dapatkan kemarin" ucap Hazel mengingat paket yang sempat dikirim. padanya tapi tidak tau siapa pengirimnya.
"apa kamu sudah membuka paket kemarin?" tanya Delia
"belum,aku aja baru ingat kalau ada paket itu" Hazel memegang paket itu sambil mencari nama pengirimnya.
"ini juga tidak ada nama pengirimnya"
"kalau gitu coba buka Zel"
"ayoo keruangan" ajak Hazel berjalan menuju ruangannya. belum sampai melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan,ia dikejutkan dari jauh oleh seseorang. Hazel menoleh malas saat mendengar suara cempreng menghampirinya.
"Hazel" seru Marsya berjalan cepat menuju Hazel
"apa?" tanya Hazel malas,sedangkan Delia sudah kabur duluan masuk kedalam ruangan kerja mereka
"kau masih ingat bukan hari ulang tahunku??" tanya Marsya menatap Hazel. Hazel baru teringat hal itu,undangannya sudah dikirim sebulan yang lalu tepat saat kemarin Marsya ketempatnya. dan ulang tahun itu dua hari lagi.
"ingat"
"jangan lupa yaa,oh yaa dresscodenya gaun,jangan pakai kemeja atau jeans nanti datang okee,satu lagi bawa temanmu yang tadi..aduh siapa namanya?" tunjuk Marsya kearah Delia
"Delia?"
"nah iya..bawa dia sekalian, undangannya udah aku kasih kemarin kan? kau harus datang pokoknya!"
"hmm akan aku usahakan,tap.."
"tidak ada tapi tapian,kau wajib datang ke pesta ultahku,apa kau punya pacar Zel?"
"tidak" jawab Hazel spontan
"ya ampun masa sih?,kau kan cantik masa nggak ada pacar..tenang aja Zel nanti aku akan perkenalkan temanku pas dipesta nanti,aku yakin kau akan suka" ucapnya yakin.
Hazel hanya mengangguk walau dalam hatinya tidak setuju dengan usulan Marsya. lebih baik meng iyakan dulu biar cepat selesai. nanti masalah itu akan menjadi urusan belakangan.
"oh tadi aku melihat pria tampan!,tampan kali!!" pekiknya membuat Hazel spontan menutup telinga
astaga nih anak kok mekak kali. gerutu Hazel dalam hati
"pria yang mana?"
"pria memakai jaket hitam bertopi tadi,sebenarnya sih aku tidak melihat wajahnya karna tertutup masker.. tapi aku yakin dan percaya dia pria yang sangat tampan" serunya membayangkan pria yang baru ditemuinya tadi.
"kalau tadi dia nggak buru buru mungkin aku akan mendekatinya,lagian kan tubuhku ini seksi..pasti dia tertarik denganku"
cih berani sekali dia menggoda Muaz. gerutu Hazel jengah melihat Marsya.
"kenapa wajahmu seperti itu Zel?" tanya Marsya saat melihat raut wajah Hazel
tentu saja karena kau mengincar suamiku
"tidak ada" jawab Hazel bohong,ia pun langsung berjalan duduk ditempatnya. Marsya mengikutinya dari belakang.
"wah banyak sekali berkasnya yaa" ucap Marsya melirik kearah berkas yang berserakan diatas meja Hazel.
"kalau aku tidak perlu pusing pusing soal ini,cukup menandatangani kontrak,foto,dah langsung transfer uangnya" ucapnya santai
"ya lah ya lah..level model memang beda"
"hehehe" cengirnya
"aku akan datang ke pestamu,puas kan?"
Marsya mengangguk semangat "nah gitu dong,ya sudah aku pergi dulu byee" ia berjalan keluar ruangan Hazel.
ceklek. pintu itu tertutup,awalnya wanita itu riang senang mendengar temannya akan datang ke pestanya,tetapi tak lama kemudian senyum manis itu berubah senyuman licik.
cih aku benci wajahmu yang masih meremehkan aku,lihat saja akan aku pastikan masa depanmu hancur nantinya. gumamnya langsung melenggang keluar.
***
Iram memasuki rumah besar keluarganya,melenggang masuk melihat sang kakak tengah duduk disofa.
"apa?" tanyanya ketus
"ternyata kau tau wanita itu,bagaimana kau bisa tau hah? apa kau mengincarnya?" tanya Daren sambil memeluk wanita seksi disampingnya.
"wanita mana?"
"nggak usah sok polos,kau mengincar Hazel bukan?" tanya Daren menatap tajam namun tangannya memainkan rambut wanita disampingnya itu.
Iram tersenyum miring "kalau iya kenapa?"
"jauhi dia,dia milikku!"
"cih,kau saja ada wanita ja***g disampingmu,kau masih juga mengincar Hazel??"
"dia itu mainan baruku,aku akan merebutnya dari suaminya" ucapnya santai
Iram memasukkan tangannya kedalam saku celananya menatap tajam kearah kakaknya "ck tidak tau malu,kita lihat siapa yang akan mendapatkan Hazel nanti" ucapnya
Daren menaikkan alis seolah meremehkan adiknya "kau aja tidak tau siapa suaminya"
"aku tau"
"oh baguslah,kalau gitu kita akan taruhan,siapa cepat membunuh suaminya dialah pemenangnya"
"hahahaha" gelak Iram menatap kakaknya,Daren hanya diam menatap tajam kearah adiknya.
"kau bercanda kak? kan kau tau suaminya Hazel ada sangkut pautnya dengan papa"
"aku sudah tidak peduli lagi dengan pria tua yang menyedihkan itu"
"oh yaa?? lalu harta warisan gimana?" menatap remeh kearah kakaknya,Iram duduk disofa sambil menaikkan kakinya dimeja.
"aku akan merebut paksa"
"cih,gampang sekali ngomongnya,kau tau kak..." Iram memberi jeda sebentar lalu menatap lurus "kau tidak akan pernah mendapatkannya"
Daren langsung mencengkram kerah baju Iram kuat "berani sekali kau mengatakan itu" Iram tersenyum tipis lalu ia melirik kearah belakang Daren
"tuh wanitamu ketakutan melihatmu kak" cibirnya,Daren langsung menghempaskan Iram jatuh ke lantai
"dengar baik baik,aku akan mendapatkan semua yang aku inginkan termasuk Hazel! jangan berani mencoba mengganggu rencanaku!" ancamnya sambil menarik wanita yang bersamanya tadi kedalam kamarnya. Iram berdiri sambil mengibas bajunya.
"cih lihat saja nanti,siapa yang akan mendapatkan Hazel" serunya lalu tanpa sengaja ia melirik kearah wanita paruh baya sedang menggendong adik tirinya yang baru berusia dua tahun
"kau lihat apa wanita tua??" tanya Iram berjalan mendekati wanita paruh baya itu
"ti..tidak ada nak" ucapnya sambil mengeratkan pelukannya dengan anak yang digendongnya.
Iram melirik kearah adik kecilnya yang menatap binar kearahnya,lalu ia melirik kearah wanita itu.
"anggap saja kau tidak mendengarkan apa apa,dan kau harus menjaga adikku dengan baik!awas kau melukainya" ancam Iram lalu berjalan mendahului wanita itu.
kasihan sekali gadis yang bernama Hazel itu,semoga saja dia tidak terjebak dalam permainan kedua manusia laknat ini. lirihnya.
walaupun posisinya sebagai istri siri dari tuan besar,tidak dipungkiri ia akan mendapat perlakuan yang layaknya sebagai nyonya besar dirumah itu. malahan kedudukannya dirumah itu hanya sebagai pelayan. bahkan kedua anak tirinya itu tidak menganggapnya sebagai ibu sambung mereka.
wanita tadi hanya menunduk ketakutan tanpa sengaja membuat seseorang dalam pelukannya menangis terisak. wanita itu langsung tersadar dan menenangkan anaknya itu
"ma..maafkan bunda nak" ucapnya sambil menepuk pelan anaknya,ia menatap lurus menahan rasa sesak yang menggerogotinya selama lima tahun ini. ia kini tidak bisa berbuat apa apa selain menuruti kemauan pemilik rumah yang bagaikan neraka itu. tidak ada kasih sayang,cinta didalamnya. wanita itu langsung dengan cepat membawa masuk anaknya kedalam kamar saat melihat suaminya baru saja tiba dirumah. ia tidak boleh melanggar aturan yang telah dibuat untuknya,jika melanggar anaknya yang akan menjadi taruhannya.
dalam hati ia berharap agar bisa bertemu dengan kedua anaknya lagi diluar sana dan keluar dari tempat iblis itu. tetapi,ada satu hal yang ia penasaran.Anak tirinya itu sempat membicarakan seseorang yang tidak asing baginya.
***
Muaz melirik kearah Daffa yang masih kukuh dengan pendiriannya yang tidak mau mengatakan apa pun tentang malam kejadian itu. Muaz menghela napas lalu ia berjalan kearah Daffa.
"kenapa kau keras kepala sekali?!" kesalnya sambil menendang botol didekatnya
Daffa mendongak keatas menatap Muaz sambil tersenyum tipis "waktunya nggak tepat"
"apa yang kau tunggu?!" sarkasnya menatap tajam kearah Daffa.
"kau akan tau nanti" ucapnya pelan sambil menyandarkan kepalanya didinding. Muaz tidak tau apa yang dipikirkan Daffa saat ini,ia bingung mau percaya atau tidak sahabatnya itu. Yang jelas Daffa waktu itu Daffa jelas jelas diam tidak berkutik menyaksikan semua kejadian itu. dan lebih parah lagi ia tidak membela atau mengatakan apapun ke pengadilan tentang dirinya.
Untuk sekarang ia tidak mempercayai Daffa sampai pria itu mau mengatakan alasannya. Muaz sambil memijat kepalanya memandang kosong ke langit ruangan.
Daffa dapat merasakan apa yang dirasakan Muaz,tapi saat ini ia belum bisa mengatakan sebenarnya tentang yang ia lakukan waktu malam itu. ia ingin sekali mengatakannya sekarang pada Muaz,tetapi karena permohonan seseorang yang membuatnya tetap bungkam sampai hari ini. seseorang yang berarti baginya,dan juga berarti buat Muaz. ia telah jatuh hati pada orang yang membuatnya sampai saat ini bertahan. ia pun teringat gadis itu sekilas.
apa yang dilakukannya sekarang?apakah jika dia datang Muaz akan memakinya? entahlah aku yakin dia akan memakinya karna sudah keterlaluan dengan Muaz. gumamnya sambil tersenyum tipis membayang wajah gadis idamannya.
"kau sudah gila?" tanya Muaz pelan menatap aneh melihat Daffa. Daffa menoleh kearah Muaz hanya bisa menghela napas.
"kau sudah berubah yaa" ucap Daffa pelan
"tidak usah pedulikan aku,urus aja dirimu sendiri!" ketusnya. "cepat katakan padaku!" ucap Muaz entah sekian berapa kali bertanya pada Daffa dan Daffa juga tetap diam.
drrrt..drrrt,Muaz melirik kearah ponselnya di atas meja yang berdering dari nomor yang tak dikenal. ia pun mengabaikan nomor itu. tetapi,nomor itu kembali berdering lagi,Muaz langsung mengangkat telepon itu.
"Muaz Edmon Bark" ucap seseorang disana
"kau siapa?"
"ckckck,kau tidak perlu tau aku siapa,yang jelas aku memberitahumu sesuatu yang menarik"
"katakan dulu kau siapa?!"
"cih,emosian sekali..aku yakin kau akan menyesal tidak mendengarku"
"kau memiliki istri bukan? hmm kalau tak salah namanya Hazel Blaire" sambungnya
deg. Muaz membulat matanya sempurna,ia harus bersikap tenang agar tidak terjadi sesuatu yang diinginkan
"kenapa?"
"aku dengar dia mendatangi sebuah pesta besar,pesta ulang tahun model cantik"
"apa hubungannya?"
"kalau kau membiarkan istrimu pergi,aku jamin kau akan menyesal seumur hidupmu"
"cih,kau tau apa soal aku?? hah?!"
"aku tau segalanya Muaz,selagi hatiku seperti malaikat..aku memberitahu kalau istrimu pergi maka ada bahaya yang menyerangnya"
"aku tidak percaya padamu"
"kau tidak percaya?? ya sudah kita lihat nanti apkah istri kesayanganmu itu akan baik baik saja pulang atau menjadi gadis kotor"
"brengsek,jangan coba coba menguji kesabaran ku!!!"
"hahaha lihat, belum apa apa kau sudah marah..sudahlah tidak ada gunanya memberitahumu kau itu pecundang" ucap orang itu langsung mematikan teleponnya sepihak.
Muaz menatap kesal pada layar ponselnya yang sudah hitam.ia menjadi khawatir dengan istrinya. dengan bergegas ia mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar.
"aku tunggu kau sampai berbicara sebenarnya Fa!" tegasnya menatap tajam kearah Daffa sebelum menghilang dari sana.
sementara orang yang menelpon Muaz tadi tertawa cekikikan sambil memutar mutar kursi kebesarannya. sesekali mengemut permen tangkainya.
"hahahaha rasain,itulah menikah tanpa mengundangku" ucap gadis itu sambil menaikkan kakinya keatas meja. ia sempat mendengar kabar adiknya menikah tanpa memberitahunya.
"kalau diselamatkan dengan Muaz,artinya adik iparku berharga bagi Muaz" gumamnya
"untung saja aku tau situasinya disana,si model itu berani sekali berniat menyakiti adik iparku" ledeknya menatap kaca besar dalam ruangannya yang menampakkan pemandangan diluar.
walaupun dia seorang direktur, gadis cantik itu dengan rambut panjang yang sengaja dicepol,dan lebih memilih memakai celana dibanding rok. gadis tomboi itu yang tak lain adalah Beyza Aysun Bark,kakak tiri Muaz. walaupun lahir beda ibu,tetapi tidak membuat mereka saling menyakiti malah saling menyayangi satu sama lain seperti saudara kandung sendiri.
~
~
~
like, comment,dan favoritenya yaa,thank you 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Vita Liana
kyak'e msih hidup ,, pas ep brapa itu muaz gk liat jenazah ibunya
2022-09-27
1
Lina ciello
untung kaka tirine apik
2022-09-18
1
Lina ciello
wohhh iki ibune muaz iseh urip iki
2022-09-18
2