Hazel berjalan pelan memasuki rumah Muaz yang menjadi tempat pembunuhan lima tahun yang lalu. ia kembali menyelidiki kasus yang belum terpecahkan selama sebulan itu. Hazel langsung berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. ia pun langsung membuka pintu kamar orang tua Muaz.
Hazel sedikit iba melihat kamar itu yang terlihat banyak bekas darah dan juga terlihat berantakan. Hazel memakai sarung tangannya,lalu mulai mencari jika ada barang bukti lainnya yang akan ia temukan nanti.
Hazel melirik kearah kasur,lalu diamatinya sebentar sebelum ia mendekat kearah jendela kamar.
bagaimana pria itu bisa masuk? sedangkan rumah ini ada penjaganya. gumamnya memeriksa bagian jendela yang terpasang teralis. lalu menatap ke sekeliling ruangan.
"tidak mungkin dia lewat jendela,lalu dia lewat mana lagi?" gumamnya mengecek kearah kolong kasur. Saat Hazel hendak berdiri ia melihat sesuatu dikolong kasur,ia pun langsung meraih benda kecil itu.
cincin? apakah ini punya bundanya Muaz kah?. Hazel langsung memasukkan cincin itu kedalam plastik sebagai buktinya. Hazel terus meneliti setiap sudut ruangan.
Hazel langsung menatap kearah lantai dekat nakas terdapat keranjang buah dilantai. ia pun langsung menggeser keranjang itu.
okee,kita lihat skenarionya. Hazel mengeluarkan berkas dari ranselnya. ia pun membaca kembali berkas itu lalu memandang sekitar kamar. ia membayangkan seolah olah sedang berada dikejadian malam itu.
jika memang ada pria lain berarti posisinya berada disini saat Muaz mengambil pisau buahnya. gumamnya sambil berdiri didekat nakas. lalu,ia melirik kearah kasur tetapi tidak terdapat bercak darah sedikitpun.
jika bunda Muaz meninggal dikasur,mengapa tidak ada bekas darah disini??. tanpa sengaja ia melihat kearah laci yang sedikit terbuka disamping lemari,ia pun langsung menuju kesana dan membuka laci itu.
obat Antiplatelet? obat apa ini? kenapa banyak sekali??.gumamnya sambil memegang obat obat itu. lalu ia masukkan kedalam plastiknya lalu dimasukkan semua bukti yang ia temukan tadi diranselnya.
braak. suara dobrak keras dari lantai bawah,Hazel terkejut mendengar itu. lalu ia mulai mencari tempat persembunyian. tidak tau harus kemana,mau tak mau ia masuk kedalam lemari pakaian dan bersembunyi disitu. Hazel dengan cepat mensilentkan ponselnya agar tidak ketahuan nantinya.
braak. seseorang mendorong pintu itu kuat,masuklah segerombolan orang kedalam kamar itu.
"cari barang yang bersangkutan dengan papa ku sampai dapat!! jangan sampai mereka tau!!" titahnya menyuruh para bawahannya mencari barang milik tuannya.
"cih seharusnya waktu itu aku teliti lagi menghilangkan bukti itu" gerutunya berjalan keluar kamar membiarkan para bawahannya mencari barang.
Hazel sangat mengenali suara ini,ia mengintip sedikit dibalik lemari,dan terkejut melihat pria itu yang tak lain adalah Iram.
dia?! tau masalah ini?! gumamnya terkejut sambil menutup mulutnya.
Hazel semakin panik saat salah satu dari gerombolan itu mendekati lemari,dengan cepat ia mengetik sesuatu diponselnya mengirim pesan kepada suaminya.
Hazel
tolong aku Az,aku dirumahmu sekarang! disini berbahaya.aku bersembunyi didalam lemari
setelah mengetik pesan itu ia berharap dirinya akan baik baik saja dan tidak ketahuan tempat persembunyiannya sekarang. tetapi,setidaknya ia tahu ternyata Iram ada sangkut pautnya dengan kasus ini.
pintu lemari itu terbuka,saat pria itu mau memasukkan tangannya kedalam lemari.
"apa yang kau lakukan disitu??" tanya pria yang tak lain adalah Iram.
"sa..saya mau mencari barang tuan" ucapnya pelan
"cari tempat lain!!" titahnya langsung dilaksanakan oleh bawahannya. Hazel menghela napas lega saat pria itu sudah mulai menjauhi lemari tempat persembunyiannya.
bugh..bugh..bugh. Hazel terkejut saat mendengar suara tumbukan itu,lalu ia melirik sedikit kearah luar dan terkejut melihat pria bawahan yang tadi hampir membuka lemari sekarang terkapar tidak sadarkan diri dilantai.
Hazel menutup mulutnya yang hampir teriak itu saat melihat Iram menumbuk secara brutal pada bawahannya.
"huft..aku benci tatapan sinisnya menatap ku tadi,kurang ajar!" marah Iran sambil melonggarkan dasinya melenggang keluar kamar.
untuk sekarang Hazel sangat takut untuk keluar,apalagi ia takut keluar karena bisa jadi ia menjadi santapan mereka. ia melirik kearah ponselnya yang tidak kunjung ada balasan dari suaminya. ia mulai khawatir apakah dirinya akan bisa selamat atau tidak darisana.
huhuhu seharusnya aku mengajak Muaz kesini,bukannya malah pergi sendiri!!. menyesal tidak mendengarkan Muaz tadi pagi.
suaminya menyuruhnya untuk pergi bersamanya,namun Hazel menolak karena tidak ingin membuat Muaz jatuh sakit saat melihat kamar orang tuanya Muaz. alhasil disinilah ia sekarang.
satu jam ia menunggu akhirnya tidak ada terdengar suara langkah kaki lagi,Hazel melirik sedikit kearah pintu yang terbuka lebar. lalu berjalan mengendap keluar kamar. saat melewati kamar itu,ia samar sama melihat seseorang sedang berdiri bersandar di dinding. ia melirik sekilas berharap apa yang ia lihat itu hanyalah ilusi sematanya saja.
"lama sekali" ketus orang itu menatap kearah Hazel. Hazel terkejut lalu berbalik menatap pria yang memakai Hoodie hitam dan wajahnya tertutup tudung hoodienya.
pria itu langsung mendorong Hazel ke dinding dan mengunci gadis itu dengan tangannya. Hazel syok lalu berusaha melepaskan diri dari pria asing itu. tetapi karena kurang cukup kuat melawan tenaga pria itu,Hazel langsung mengeluarkan semprotan parfumnya lalu menyemprot kearah wajah pria itu.
"sial" umpat sambil memegang matanya yang terkena semprotan Hazel. Hazel langsung berlari kencang menuruni anak tangga dan terkejut mendapati atasannya tergesa gesa masuk kedalam rumah Muaz.
"syukurlah kamu baik baik saja" serunya sambil mengatur napasnya yang tersengal Sengal akibat lari tadi.
"ba..bagaimana anda bisa disini pak?" tanya Hazel
"suka hati saya,kenapa kamu sewot sekali" ketus Edzhar lalu duduk disofa yang telah berdebu itu. ia ingin istirahat sebentar.
"dahlah" jawab Hazel malas meladeni atasannya itu. tetapi,tatapannya terdiam melihat pria memakai hoodie tadi turun pelan sambil sesekali mengucek matanya.
"ka..kau siapa?!" kesal Hazel mengingat kejadian tadi. walau sedikit takut Hazel harus bisa melawan pria didepannya ini.
Hazel berlari mendekati atasannya itu.
"pak tolong saya pak!!" serunya pada atasannya itu,Edzhar hanya melirik ke pria itu lalu menatap Hazel sambil mengangkat bahu tidak peduli. setelah itu pria itu berjalan santai melewati pria asing tadi keluar rumah.
siapa sih pria ini? tapi sepertinya tidak berbahaya mengingat pak Edzhar tidak memperdulikannya. gumamnya menatap tajam kearah pria itu.
"hei kau!! kenapa diam saja?!" sarkasnya tetapi pria itu hanya diam saja menatapnya. Hazel merasa sedikit takut pura pura berjalan santai keluar melewati pria itu.
"kau itu bodoh" ucap pria itu membuat Hazel berbalik menatap tajam kearah pria itu.
"kurang ajar sekali mulutmu itu!! siapa kau hah?!" tanya Hazel dengan amarahnya
pria itu mendekat kearah Hazel sambil membuka tudung hoodienya. Hazel terkejut melihat pria itu yang tak lain adalah suaminya.
"Muaz?! kau? haiis kurang ajar!!" gerutunya sambil memukul lengan Muaz,lalu memeluk pria itu dengan erat "kau menyebalkan sumpah kau menyebalkan Az!!" gerutunya sekaligus lega ia selamat.
"cih tidak tau terimakasih" ketus pria itu memaksa melepaskan pelukannya. ia pun berjalan keluar dari rumahnya.
Hazel tersenyum tipis,lalu menyamai langkahnya dengan Muaz
"Az,apa kau lihat tadi penjahatnya?" tanya Hazel
"tidak" jawabnya berjalan kearah mobil Hazel. ia pun menoleh kearah Hazel sambil mengadakan tangannya meminta kunci mobil pada istrinya.
"kau hampir membuat kesalahan besar"ucap Muaz saat mereka sudah berada didalam mobil.
"maksudnya?" tanya Hazel menyerngit bingung
"mobilmu terparkir disini,kau sudah membuat jejak pada orang itu" ucapnya sambil melajukan mobilnya
"lalu aku harus bagaimana?" tanya Hazel panik
"hancurkan saja mobil ini" ucap pria itu dengan santai
Hazel melotot kearah Muaz "enak banget yaa ngomongnya"
"makanya kalau parkir mobil itu agak jauh dari situ..kau tau kemungkinan besar mobil ini udah terpasang GPS. kemanapun kau pergi dia bisa melacak mu" jelas Muaz
Hazel berdecak kesal "ya udah aku ngikut aja" ucapnya sambil memejamkan mata.
Muaz melirik sekilas kearah istrinya,jauh dari lubuk hatinya ia lega bahwa istrinya baik baik saja.
#flashback on
Setelah mendapat pesan dari Hazel,Muaz langsung menuju rumahnya itu. membawa beberapa bawahannya mereka tiba ditempat. Muaz dan bawahannya sembunyi dibalik semak menunggu waktu yang tepat untuk masuk.
lima orang. gumamnya sambil menghitung jumlah penjaga yang berada diluar rumah. tak lama kemudian keluarlah pria yang sepertinya tidak asing baginya. oh,dia ingat pria menyebalkan itu yang sempat membuatnya kesal karena terus melirik kearah istrinya.
"bagaimana bisa dia disana? apa dia juga terlibat?" tanya Muaz pelan. setelah pria itu sudah kian menjauh Muaz beserta rombongannya berjalan menunduk menuju mobil Hazel yang terparkir disana. ia pun menyuruh anak buahnya menukar plat mobil Hazel dengan yang lain. Muaz langsung masuk mencari keberadaan Hazel.
syukurlah dia baik baik saja. saat mengetahui istrinya masih bersembunyi didalam lemari. ia pun menunggu istrinya keluar sendiri.
#flashback off
Hazel teringat sesuatu lalu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.
"Az,aku mau nanya sesuatu?" tanya Hazel menatap suaminya
"hmm"
"apa kau tau obat ini?" tanya Hazel sambil menunjukkan bungkusan obat yang ia temukan tadi.
ciiit
Muaz berhenti mendadak lalu merampas obat yang dipegang Hazel. menatap obat itu dengan raut bingung lalu menoleh kearah Hazel
"aku menemukannya dikamar orang tuamu Az,apa kau tau itu obat apa?" tanya Hazel lagi
Muaz menggeleng pelan "aku tidak tau obat ini,apa kau menemukan yang lain lagi?"
"oh ada" Hazel langsung merogoh ranselnya lalu mengeluarkan cincin.
"ini" Hazel memberikan langsung pada Muaz. Muaz menatap cincin itu seksama "ini punya bunda" lirihnya sambil menggenggam kuat cincin itu.
"cincin itu sangat cantik,aku menyukai ukirannya..hmm Muaz aku mau nanya lagi nih,apa kau tau bundamu meninggal karena apa?" tanya Hazel pelan. ia tahu pertanyaan itu akan membuat luka dalam suaminya kembali terbuka,namun ia ingin memastikan sesuatu yang sempat janggal dipikirannya tadi.
"maksudmu?" tanya Muaz
"maaf aku ingin tanya saja,diberkasnya bundamu banyak mengeluarkan darah" ucap Hazel mengingat isi berkasnya.
"oh,saat aku terbangun polisi sudah menutup jasad bunda,jadi mereka berasumsi aku membunuh keduanya..padahal aku baru tersadar waktu itu" jelas Muaz lagi
Hazel menghela napas lalu menepuk pelan bahu suaminya "kau kuat ternyata" ucapnya lalu memasukkan kembali obat itu kedalam ranselnya.
"ini untukmu" ucap Muaz langsung memasang cincin mendiang bundanya pada jari manis Hazel. Hazel langsung mendongak menatap suaminya
"ini?" menatap cincin yang sudah tersemat dijari manisnya
"yaa itu untukmu,terimakasih sudah menemukannya" ucap Muaz tulus sambil mengelus pelan kepala istrinya. Hazel menyeka air matanya,lalu mencium pipi Muaz "terimakasih Az"
mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Hazel menyerngit bingung saat Muaz mengarahkan mobilnya menuju tempat rongsongan mobil.
astaga pria ini memang ingin menghancurkan mobilku. terkejut menatap Muaz yang santai turun dari mobilnya. Hazel melihat Muaz berbincang bincang pada pemilik rongsongan mobil.
"turun" ucapnya sambil mengambil barang barangnya didalam mobil,Hazel pun mengikuti suaminya sambil membawa semua barang barangnya dimobil.
"ini pak kuncinya" ucap Muaz menyerahkan kunci mobil Hazel
"oke terimakasih" balas pria tua itu.
Hazel dan Muaz langsung berjalan keluar meninggalkan tempat rongsongan sampah mobil.
"hmm Az,kita pulang pakai apa Az?" tanyanya menatap jalanan sepi
"tunggu disini" titahnya langsung berjalan menyebrang menuju tempat dealer mobil yang kebetulan berada disana. tak berapa lama kemudian,Mobil hitam berhenti didepan Hazel. Hazel terkejut saat melihat orang itu didalam.
"astagfirullah Az,ka..kau membeli mobil?!" pekiknya laku diangguk Muaz. Hazel masih enggan menaiki mobil sebelum puas bertanya pada suaminya.
"darimana kau dapat membeli mobil ini?" tanya Hazel menatap tajam kearah Muaz
"masuklah dulu,nanti kau akan tau" ucap Muaz,namun Hazel tetap tidak bergeming ditempatnya.
"oh,kau mau aku tinggalkan. ya sudah aku dulu.."
"aku ikut!" Hazel langsung duduk disamping kemudi dan meletakkan tas dibelakang
"jawab pertanyaanku dulu" Hazel kembali menatap tajam
"ini" jawab Muaz sambil mengeluarkan blackcardnya. Hazel melongo menatap kartu unlimited itu,menatap Muaz tidak percaya "bagai..bagaimana kau bisa,perusahaan ayahmu bukannya sudah jatuh ke tangan orang itu?" tanya Hazel hati hati
"cih,aku punya perusahaanku sendiri bodoh" ucapnya langsung melajukan mobilnya
"haiiss,kalau kau punya kartu legend itu,kenapa kau tinggal dirumah lusuh itu waktu tuh?"
"hmm sekretarisku baru memberikan kartu itu aku waktu ketemu dijalan" jelasnya singkat sedangkan Hazel hanya ber oo ria.
Muaz kau sangat misterius bagiku,ada lagi yang kau sembunyikan dariku?
~
~
~
sengaja aku panjangkan yaa guys hehehe,jangan lupa like,coment,dan favoritenya yaa..thank you🤗🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
duoNaNa
maraton baca...tiap bab ga ada yang membosankan. goodjob thor
2023-08-26
2
Lina ciello
penisirinnnn tenin simi ceriti ini 😁
2022-09-18
2
Lina ciello
mosok buktine iseh okeh banget ngunu kok.. lha dekben2 kok ga doh dijupuk ki pie polisine ki 😞
2022-09-18
2