Bab 12

Hazel menyerngit bingung menatap kedua lelaki itu yang saling bertatapan seperti ingin memangsa. Hazel menoleh lagi kearah Muaz.

"ada apa?" tanya Hazel lagi

Muaz langsung berjalan kearah Hazel dan menggenggam tangan Hazel. Hazel tertegun lalu ia menatap tangannya yang sedang digenggam Muaz.

kenapa sikapnya sangat aneh?. gumam Hazel menatap Muaz.

"Hazel dia ini siapa?" tanya Iram membuat kedua pasutri itu menoleh kebelakang

"aku suaminya." ketusnya menatap tajam kearah Iram. Iram hanya tersenyum tipis "wah aku kira,kamu masih single rupanya sudah ada yang punya yaa."

Hazel hanya tersenyum tipis lalu berbalik badan. tibalah giliran Hazel dan Muaz. setelah mereka mendapatkan tiket,mereka langsung masuk kedalam bioskop.

Walaupun Muaz memakai masker tidak dipungkiri banyak kaum hawa melirik kagum kearahnya,Hazel hanya menghela napas risih melihat mereka mengagumi suaminya. Hazel langsung menarik cepat menuju tempat duduk mereka.

"eh ternyata kita bersebelahan yaa??" Iram duduk manis disamping kursi Hazel. Muaz langsung berdiri.

"tukar." pinta Muaz tanpa permisi memindahkan Hazel ketempat duduknya,dan dia duduk ditempat Hazel tadi.

"hei!" Hazel terkejut

"dasar posesif." seru Iram sambil tersenyum seringai

Muaz melirik kearah Iram lalu mencengkram jaket yang dikenakan Iram, "jangan macam macam dengan istriku." ancamnya sambil berbisik,lalu melepaskan kasar dari Iram.

Hazel berdecak kesal lalu menarik tangan Muaz "sstt diamlah!" gerutu Hazel

selama film diputar,diantara mereka bertiga hanya Hazel lah yang menghayati film itu. sedangkan Muaz selalu menghadang tatapan Iram pada Hazel,begitu pun dengan Iram yang tidak menyerah menatap Hazel walau terus dihalang oleh Muaz.

kenapa aku kesal setiap dia melirik kearah Hazel. gerutu Muaz tak habis pikir dengan tingkah konyolnya. setelah film itu habis mereka langsung berjalan kearah parkiran,Hazel berjalan sambil mengetik sesuatu diponselnya sampai sampai ia tidak melihat mobil yang melaju keluar parkiran kearahnya.

Muaz langsung menarik Hazel menjauh dari mobil itu. Mobil itu melaju lalu berhenti beberapa meter dari mereka

"woi liat jalan tuh!!" bentak pria tua dari dalam mobil melihat kearah belakang

"hei seharusnya bapak tidak melajukan mobilnya disini,sudah tau disini jalannya sempit!!" bentak Hazel tak kalah keras.

"dasar anak muda,nggak sopan!" gerutunya langsung menancap gas meninggalkan parkiran.

"hei pak!! nggak minta maaf malah kabur!!" geram Hazel.

"cih,pentingkan nyawamu dulu." ucap Muaz berlalu masuk kedalam mobil. Hazel menoleh kesal kearah Muaz.

ini lagi,kenapa dia aneh kali?! huft mengapa aku berada diantara orang aneh sih??? gerutunya ikut masuk kedalam mobil. Muaz langsung melajukan mobil meninggalkan area parkir.

Saat diperjalanan,Hazel menyerngit bingung. jalan yang mereka lewati bukan kearah apartemennya,lalu ia menoleh kearah Muaz.

"kita mau kemana?" tanya Hazel sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore.

Muaz hanya diam dan fokus mengemudi,Hazel menggeleng pelan lalu menatap kearah luar.

tunggu ini??. Hazel terkejut melihat pemandangan didepannya,bukan pergi ketempat wisata yang ia bayangkan malahan ia saat ini berada di pemakaman. Hazel menoleh cepat kearah Muaz "hmm Az?"

Muaz seolah mengerti maksud Hazel,ia pun mengangguk pelan lalu memberhentikan mobil dibawah pohon. mereka pun turun dan berjalan kearah pemakaman. mereka berdua berhenti didepan makam kedua orang tua Muaz.

Muaz hanya menatap datar kearah makam kedua orang tuanya. Hazel menunduk lalu membersihkan rumput rumput diarea pemakaman. cukup lama Muaz berdiam diri membuat Hazel sedikit kasihan.

"Az,do'a dulu." ucap Hazel pelan menuntun Muaz. setelah mereka selesai berdoa Muaz kembali berdiam diri lagi.

"tenanglah,mereka sudah tenang disana." ucap Hazel sambil menepuk bahu Muaz pelan

"aku salah, seharusnya aku lebih cepat datang nya,seharusnya aku nggak pergi nongkrong sama yang lain,seha—" ucap Muaz menyesal

"kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri Az,kita tidak tau masa depan kayak mana,bagaimana kita nantinya nggak ada yang tau. aku tau ini berat buatmu,tapi berusahalah tegar didepan mereka,tunjukkan kau bisa berdiri sendiri walau mereka nggak ada disisimu lagi,aku yakin kau bisa." seru Hazel semangat sambil tersenyum kearah Muaz.

"hm,sama sepertimu berusaha tegar didepan semuanya bukan." Muaz menoleh kearah Hazel.

"hahaha,menyembunyikan luka itu sangat berat...memang orang tuaku yang membuat luka itu semakin lebar,tapi bagaimanapun juga mereka tetaplah orang tuaku,tetap keluargaku...aku bahkan tidak bisa membenci mereka walau kadang ada terbesit sekalipun." lirih Hazel menatap langit

"jangan menyesal dengan apa yang terjadi,lebih baik jalani aja apa yang ada didepan matamu." lanjutnya.

"seharusnya kata-kata itu untukmu." ucap Muaz ikut menatap langit

"iya juga ya." Hazel tertawa hambar

"bagaimana perasaanmu waktu itu?" lanjut Hazel

"perasaan apa?"

"perasaan sedih tidak ada yang mempercayaimu waktu itu."

Muaz menghela napas "aku tidak tau entah bagaimana perasaanku waktu itu."

"lalu dimana saudara tirimu itu?"

"tepat dua hari sebelum kejadian itu,dia pergi keluar negeri...udah lima tahun kami nggak pernah ketemu,bahkan tidak pernah sekalipun dia menjengukku."

"bagaimana bisa kau memiliki saudara tiri?,eh maaf seharusnya aku tidak nanya itu." Hazel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"ayahku dulunya pernah menikah sebelum menikah dengan bunda,dia anak dari istri ayahku dulu." jelas Muaz. Hazel mengangguk pelan. mereka kembali diam hening sampai matahari tenggelam.

Hazel bingung mau melakukan apa,ia terus melirik kearah Muaz yang masih setia menatap makam kedua orang tuanya. Hazel tidak tau harus berbuat apa,tapi yang ia tahu menjadi Muaz bukanlah mudah.

"kenapa?" tanya Muaz melirik sekilas kearah Hazel.

"hmm ini sudah malam,apa kita tidak pulang?" tanya Hazel pelan

Muaz langsung menggandeng tangan istrinya. Hazel melirik kearah Muaz yang bersikap tidak biasa.

"akhir akhir ini kau sangat aneh Az." ujar Hazel menatap kearah Muaz. kini mereka didalam mobil dalam perjalanan pulang.

"kenapa?" tanya Muaz sambil fokus mengemudi

"entahlah,aku merasa kau aneh...tadi pas kita mau pergi kau mengomentari rokku,trus pas dibioskop kau marah dengan Iram...ya jadinya menurutku kau itu aneh" jelas Hazel santai

ciiit.

Muaz langsung mengerem mendadak sontak membuat kepala Hazel terbentur dasbor mobil

"Az,kenapa kau mengerem mendadak?!" gerutunya sambil mengelus kening yang terbentur tadi

Muaz hanya melirik Hazel,lalu ia kembali melajukan mobilnya. Hazel semakin heran dengan tingkah Muaz.

"kau benaran Muaz kan?" tanya Hazel

lagi lagi Muaz tidak menjawab,Hazel langsung membuang muka melihat pemandangan jalan.

astaga dia aneh sekali,ya Allah kembalikan dia seperti biasanya. gumamnya sambil memejamkan mata. angin sepoi sepoi menerpa wajah cantiknya.Muaz langsung memberhentikan mobilnya di tepi jalan.

"Hazel." panggil Muaz menatap Hazel disampingnya

deg. Hazel membeku mendengar Muaz memanggil namanya. selama ini Muaz tidak pernah menyebut namanya,apalagi kalau ia mau memanggil Hazel hanya 'kau' atau 'hei'. Hazel menoleh pelan kearah Muaz.

deg. astaga wajahnya sangat tampan. gumamnya sambil mengangguk wajah Muaz. kontak mata mereka saling bertemu menatap intens.

"ada apa?" tanya Hazel

"kenapa kau bisa masuk kedalam hidupku?" tanya Muaz masih menatap Hazel.

Hazel menyerngit bingung, "maksudnya?"

"kau...sudahlah lupakan saja" Muaz langsung menatap lurus kearah depan,saat ia mau melajukan mobilnya. Hazel langsung mencegat Muaz sambil menaikkan rem tangan mobil.

"apa yang kau lakukan?" tanya Muaz sedikit terkejut dengan tindakan Hazel tiba-tiba.

"apa yang mau kau katakan tadi Az?,haiss dari kemarin kau suka kali menggantung omonganmu itu!" gerutunya.

"terserah akulah kenapa kau yang sibuk." ucapnya menggeser tangan Hazel dari rem tangan mobil.

"katakan dulu Az! jangan membuatku mati penasaran." seru Hazel keras kepala menatap tajam kearah suaminya.

Muaz menghela napas lalu dengan malas menatap Hazel,"apa kau mau tau?"

Hazel mengangguk cepat menatap Muaz menunggu ucapan keluar dari mulut suaminya itu.

"dirumah aja." ucap Muaz lalu melajukan mobilnya, sedangkan Hazel menghentakkan kakinya kesal.

"sial." umpatnya membuang muka keluar. tanpa Hazel sadari Muaz melirik sekilas kearah Hazel sambil tersenyum tipis.

Terpopuler

Comments

Evelyne

Evelyne

waaahhh... mau minta jatah karena udah jadi suami sah ya,...hihihi

2022-09-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!