Perasaan sesak tadi menghilang begitu saja. aroma mint pria ini membuat kenyamanan bagi Hazel. Hazel mendongak menatap Muaz yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"nikahi aku." seru Hazel tiba tiba sontak Muaz langsung melepas paksa pelukan Hazel dan mundur perlahan menjauh dari Hazel.
"kau gila!" ucap Muaz tak habis pikir apa yang diucapkan Hazel.
Hazel semakin mendekat berjalan kearah Muaz membuat jarak mereka semakin menipis.
"apa yang kau lakukan?" tanya Muaz melihat Hazel semakin dekat padanya.
"kau kan sudah berjanji padaku akan menuruti semua keinginanku bukan? nah sekarang aku minta kita menikah." seru Hazel menatap intens.
*S*eharusnya aku tidak menghabiskan makanannya waktu itu. dalam hati Muaz menyesal.
"hei kau tau pernikahan bukan main main." elak Muaz.
"emang bukan,aku kan memang serius." ucap Hazel.
"lebih baik kau pulang saja,jangan nyebar fitnah disini." Muaz mendorong Hazel keluar dari apartemen
"hei udah menumpang kau mengusir pemiliknya." gerutu Hazel.
"ya sudah aku pergi,dan kau tidak mendapatkan info apa apa tentang kasusku." ucap Muaz membuat Hazel menghadang jalannya
"baiklah,baiklah aku aja yang pergi puas??" pasrah Hazel mau tak mau ia harus mengalah demi memecahkan kasus pria didepannya ini.
"apalagi kau tunggu,pintu sudah terbuka lebar." tunjuk Muaz kearah pintu. Hazel menggerutu melangkah keluar. Sebelum keluar Hazel berbalik menatap Muaz, "kau harus menikah denganku Muaz Edmon Bark." ucap Hazel lantang. Muaz langsung cepat menutup pintu.
Gadis gila yang benar saja. Muaz langsung berjalan kearah kamarnya,namun matanya melirik sesuatu yang tergeletak di atas meja.
Dia bukan hanya gila tapi juga ceroboh. gerutu Muaz langsung menyambar tas Hazel yang ketinggalan. ia pun berlari mengejar gadis itu.
"hei!" teriak Muaz membuat Hazel yang menunggu lift menoleh kearahnya.
"aku punya nama."
Muaz menghiraukan ucapan Hazel ia pun melempar tas pada gadis itu.
Hazel sontak menangkap tasnya "thanks ternyata kau sa—" ucapan Hazel terpotong saat ia mendongak tidak melihat siapa siapa.
Sial aku dikacangin. gerutu Hazel langsung masuk kedalam lift. namun tidak dipungkiri kini gadis itu tersenyum tipis menatap tasnya.
***
Muaz terbangun dari tidurnya,beberapa hari ini ia selalu tidur dikamar gadis itu. ia tidak bisa berbohong jika ia sangat nyenyak tidur dikamar gadis itu. dengan langkah gontai menuju kamar mandi. setelah itu Muaz keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"yuhuu hai Az." sapa Hazel duduk santai menyuap nasi goreng miliknya.
Muaz terkejut,menatap tajam kearah Hazel
"sejak kapan kau disini?"
Hazel melirik kearah jam tangannya "sekitar 30 menit yang lalu,sempat juga aku buatkan nasi goreng, makanlah." ujar Hazel menyodorkan sepiring nasi goreng lainnya.
Muaz masih menatap tajam kearahnya. "ngapain kesini?" tanyanya.
"aku mau pergi ke rumah mu yang itu,kau juga harus ikut denganku."
"untuk apa?"
"mencari bukti lain,siapa tau hari ini ketemu." Hazel langsung membawa piring kotornya ke wastafel
Muaz hanya duduk sambil menyantap nasi goreng buatan gadis itu. setelah selesai ia pun langsung mencuci piringnya.
"cepatlah siap siap calon suamiku." seru Hazel sambil tersenyum manis.
Ini anak kerasukan keknya. heran Muaz melihat tingkah Hazel agak berbeda dari biasanya. Muaz menjentik kening Hazel
"auw sakit bege!!" gerutu Hazel sambil mengelus keningnya.
"ngomong jangan ngawur." ucapnya langsung mengenakan jaketnya dan juga maskernya.
Kini mereka berada didepan rumah orang tua Muaz. rumah yang dulunya tempat kenangan Muaz sebelum kejadian itu.
Muaz menghela napas sebelum masuk kedalam rumah itu,sebenarnya ia enggan masuk rumahnya namun paksaan gadis disampingnya ini membuatnya terseret kedalam.
"kau tau aku menemukan pisau itu kemarin dikamar ini,kau tau itu kamar siapa?" tunjuk Hazel kearah pintu di samping tangga itu.
Muaz tahu siapa pemilik kamar itu,ia pun berjalan kearah kamar itu.
Nggak mungkin dia kan?. gumam Muaz menatap sekeliling kamar.
"ini kamar siapa?" tanya Hazel penasaran.
"saudara tiri ku." jawab Muaz pelan ia pun menutup pintu itu lalu berjalan menaiki tangga. Hazel mengikuti Muaz dari belakang. Muaz berhenti di anak tangga terakhir. Ia termenung menatap dua kamar itu.
Hazel langsung menepuk bahu Muaz.
"jangan pikirkan itu tenanglah." ucap Hazel sambil menggandeng tangan Muaz berjalan kearah kamar orang tua Muaz.
Hazel langsung membuka pintu. Muaz melihat hal mengerikan itu langsung keluar dari rumah itu dan memuntahkan sesuatu dari mulutnya.
Hazel begitu prihatin melihat Muaz. Sudah ia pastikan Muaz bukanlah pembunuhnya setelah melihat rekaman video Muaz selama dipenjara tadi malam.
Pasti ada yang menjebaknya. gumam Hazel menemui Muaz lalu memberikan minyak pada pria itu.
"kau semakin pucat Az,ayo kita pulang." ucap Hazel langsung membopong Muaz menuju mobilnya. Wajah Muaz terlihat berkeringat,Hazel langsung menancap gas laju mengemudi mobilnya ke apartemen.
Hazel membaringkan Muaz ditempat tidurnya. Ia tahu akhir akhir ini Muaz suka tidur dikamar miliknya. Hazel memegang kening Muaz yang terasa hangat,dengan cepat Hazel mengompres kain basah lalu meletakkannya di kening Muaz. Raut wajah Muaz sering berkerut dan mengeluarkan keringat.
"Az! sadarlah." lirih Hazel tidak tega melihat Muaz terbaring lemah. Hazel terus menjaga Muaz sampai panas demamnya reda.
"Jangan!!" teriak Muaz masih dalam tidurnya membuat Hazel terbangun dan segera membangunkan Muaz dari mimpi buruknya.
"Muaz!! Az!! sadar." seru Hazel sambil mengguncang badan Muaz. Muaz langsung tersadar dari tidurnya,ia langsung bangun dari tidurnya.
"syukurlah kau sadar juga." ucap Hazel pelan sambil mengambil minum untuk Muaz.
Muaz langsung memeluk Hazel sambil menangis. Hazel membalas memeluk Muaz sembari memberikan ketenangan pada pria itu.
"tenanglah itu cuman mimpi." sambil mengelus kepala Muaz. Setelah merasa tenang Muaz menatap Hazel lekat.
"apa kau terus mencari bukti lain?" tanya Muaz,Hazel langsung mengangguk.
"kau percaya padaku?" tanyanya lagi.
"tentu saja kenapa tidak?"
"kalau aku menceritakan apa yang aku alami,apa kau akan percaya?"
Hazel diam sejenak lalu mengangguk, "akan aku usaha percaya,bagaimana pun juga aku harus tau detail kejadian itu."
Muaz menghela napas pelan sambil memijat keningnya. bayangan kejadian itu terus menghantuinya.
"tapi kalau kau tidak sanggup menceritakannya,tidak perlu kau ceritakan Az...aku tau itu pasti berat untukmu."
Muaz tersenyum tipis. Hazel sejenak terpesona melihat senyuman Muaz.
Ya ampun senyumannya. girang Hazel dalam hati.
"kau tau Az,kehidupan kita sama sama hancur. kau terus dibawah bayangan masa lalu mu...sedangkan aku terus ditekan dengan kehidupanku saat ini." lirih Hazel menghela napas.
Muaz hanya diam tanpa menjawab celoteh Hazel. Muaz kembali membaringkan dirinya.
"jika kau jadi aku waktu itu apa yang akan kau lakukan?" tanya Muaz tanpa melirik kearah Hazel.
Hazel mengernyit bingung, "maksudnya?"
"lupakan saja." Muaz langsung membelakangi Hazel.
Hazel menatap iba lalu berjalan keluar,
"kau ingin butuh waktu sendiri,kalau ada butuh sesuatu panggil aku diluar." ucap Hazel sembari menutup pintu.
Hazel termenung didepan jendela sambil menyeruput coklat panas favoritnya. banyak hal yang ia pikirkan saat ini. disisi lain ia harus mencari secepatnya pelaku sebenarnya sedangkan disisi lain ia terus didesak kedua orang tuanya untuk menikah. entah apa alasan mereka memaksa Hazel untuk menikah.
Dimana pikiran mereka seenaknya mendesakku seperti ini...huft,maaf Muaz aku tidak ada pilihan lain selain memaksamu menikah denganku..dengan begitu aku bisa tenang menyelidiki kasus mu cepat. gumam Hazel melirik kearah kamar yang ditempati Muaz dengan tatapan yang susah diartikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
RINAWATI AZZA
jngan2 iram itu adik tirinya Muaz n dy pembunuh ortunya muaz
2023-07-02
0
Di Elva
ceritanya bagus 💥💥👏👏
2023-06-13
1
Vita Liana
makin penasaran
2022-09-27
2