Hazel sontak memejamkan matanya saat Muaz mengarahkan pisau padanya.
Zreeek.
Hazel mendengar jelas suara tusukan pisau itu, namun ia tidak merasa kesakitan pada tubuhnya. dibuka matanya perlahan melihat kedepan. Muaz tengah menatapnya tajam. Hazel melirik kearah samping, dapat ia lihat pisau tadi menancap dimeja.
Hazel kembali menoleh kearah Muaz.
"Kenapa kau tidak jadi membunuhku?" lirih Hazel menatap sendu kearah Muaz.
"Tidak ada gunanya kau ku bunuh!" ketus Muaz melepaskan pisau yang menancap tadi, lalu menjauhkan pisau itu dari area mereka, ia pun langsung berjalan kearah jendela apartemen.
Hazel hanya diam sambil mengatur napasnya yang masih syok dengan kejadian tadi. Walaupun keliatannya ia tenang namun dalam hatinya begitu was-was.
"Ngomong-ngomong, aku teringat sesuatu, bagaimana kau bisa dapat narkoba itu?" tanya Hazel mencairkan suasana yang dingin itu.
Muaz berbalik,"Entahlah, aku merampasnya dari preman sialan itu." ketus Muaz.
"Kenapa kau berurusan dengan mereka?"
"Mereka menghalangi jalanku lagi." jawab Muaz singkat.
Hazel berjalan menuju Muaz, sambil membawa segelas air putih ditangannya. Hazel duduk di sofa kecil samping jendela.
"Kenapa mere—" ucapan Hazel terpotong, saat mendengar nada dering dari ponselnya. Ia pun langsung mengangkat telepon itu tanpa melihat nama si penelepon.
"Hazel." panggil seorang pria baya diseberang sana.
"Hm?" jawab Hazel datar saat tau suara yang tidak asing meneleponnya.
"Kosongkan jadwalmu malam besok, kamu harus ikut Papi ke acara besok malam!"
"Pi, aku ngak mau, kalian saja yang pergi ke acara tuh." gerutunya.
"Nggak, kamu harus ikut, Papi nggak mau tau. Kalau kamu nggak ikut jangan harap Papi akan mengizinkan kamu kerja!" ancam Evrin lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Praank.
"Aaarrgh!" Hazel langsung melempar gelas yang ia pegang ke lantai hingga pecah. Muaz hanya menatap diam kearah Hazel yang terlihat frustasi.
Hazel langsung menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya, menangis kencang seakan lupa jika ada seseorang tengah bersamanya saat ini. Muaz langsung mengambil serpihan gelas itu lalu membuangnya ketempat sampah.
"Ternyata gadis ini bisa nangis juga." gumam Muaz pelan lalu berbaring di sofa sambil meletakkan tangan di atas kepalanya.
Tak terasa sudah satu jam Hazel menangis, dengan tersengal-sengal ia menatap sekeliling apartemennya. Matanya langsung melirik kearah seseorang yang tengah berbaring di sofanya.
Hazel menyeka sisa air matanya berjalan pelan kearah Muaz. Ia pun duduk di atas meja dekat sofa menatap lekat kearah Muaz.
"Udah selesai?" tanya Muaz yang masih memejamkan matanya.
Hazel terperanjat kaget. "Ku kira kau tidur." ucap Hazel tanpa menjawab pertanyaan Muaz.
Muaz langsung bangun dari posisinya dan duduk didepan Hazel. Muaz dapat melihat dengan jelas wajah Hazel yang sembab, mata yang bengkak, dan hidungnya terlihat merah sehabis nangis. Muaz langsung berjalan kearah kamarnya. Tak berapa lama kemudian Muaz keluar sambil membawa sapu tangan yang sudah ia basahi.
"Duduk." tunjuk Muaz kearah sofa,Hazel hanya menuruti saja,ia pun duduk di sofa. Muaz langsung meletakkan sapu tangan itu di atas mata Hazel.
Muaz langsung berjalan kearah dapur lalu membuat secangkir teh panas untuk Hazel. Ia pun meletakkan teh panas itu dimeja.
Hazel membuka pelan sapu tangan dari matanya,ia pun tersenyum tipis melihat secangkir teh panas didepannya.
"terimakasih." ucap Hazel tulus, ia pun menyesap teh panas itu. perasaannya mulai membaik,ia merasa tersentuh dengan apa yang dilakukan pria disampingnya ini.
Hazel menoleh lagi pada Muaz, "kenapa kau membuatkan ku teh?" tanya Hazel.
"sama sepertimu aku memiliki alasan sendiri." jawab Muaz sekilas.
Hazel tersenyum tipis,perasaannya kini sedikit membaik namun ia tetap harus pergi menemui papinya. jika tidak ia akan kehilangan pekerjaan yang susah payah ia gapai.
"kau mau kemana?" tanya Muaz melihat Hazel tengah menyandang tasnya.
"aku harus pulang, Assalammualaikum." jawab Hazel lalu berjalan kearah luar apartemen tanpa melihat kebelakang.
Hazel tiba didepan rumahnya,ia berjalan pelan masuk kedalam.
"selamat sore non." sambut Hana didepan pintu
"selamat sore Han,kapan mereka pulang dari luar negeri?" tanya Hazel melihat sekeliling rumah.
"tuan dan nyonya masih dalam perjalanan,tapi tadi tuan bilang nona harus bersiap siap untuk besok non." jelas Hana pelan.
"apa mereka tidak lelah bolak balik gitu? ah sudahlah,tidak perlu aku pusingkan." gerutunya pelan.
"emang acara apa besok malam?"
"saya kurang tau non,saya cuman menyampaikan pesan saja." jawab Hana.
"ya sudah,aku istirahat dulu."
***
Besok sorenya,Hazel menghela napas pelan memikirkan untuk acara nanti malam.
"nona,tuan dan nyonya meminta anda untuk siap-siap." seru Hana langsung dianggukan Hazel.
"baiklah,aku bersiap-siap dulu." ucap Hazel langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Hazel langsung membersihkan diri setelah itu ia langsung memakai gaun lengan panjang dongker selutut. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai.
Tak butuh waktu yang lama Hazel selesai dengan make upnya yang natural. Hazel langsung menuju teras rumah. Ia melihat pak Emin datang menyambutnya
"silahkan masuk nona." ucapnya sambil membukakan pintu untuk Hazel.
"terimakasih pak." Hazel langsung duduk di kursi penumpang belakang. mobil melaju ketempat acara yang disebut papinya. Hazel turun melihat acara yang megah didepannya. dituntun pelayan,Hazel tiba di meja bersama kedua orang tuanya dan orang yang seumuran orang tuanya dan juga pria asing didepannya ini.
"ya ampun jeng,anakmu cantik sekali." seloroh wanita yang berada di samping maminya
"bisa aja jeng,ini anak saya Hazel...nak kenalin ini nyonya Sarah teman bisnis Mami." panggil mami lembut kepada Hazel. Hazel hanya menatap datar pada maminya.Hazel tidak menyukai acara bisnis orang tuanya,ia ingin segera cepat cepat keluar dari tempat itu.
Melihat Hazel hanya diam saja,Tresya menginjak kaki Hazel keras lalu menatap tajam kearah putrinya. Hazel menghela napas lalu menampakkan senyum palsunya pada wanita itu.
"hohoho mungkin Hazel masih malu jeng,jadi maklum." ucap Tresya.
"tak apa memang wajar sih,lagian kita juga sebentar lagi jadi besan."
Apa? besan?. tanya Hazel dalam hati lalu menoleh kearah maminya
"tentu saja jeng sebentar lagi anak kita akan menikah,oh iya hampir terlupa Hazel ini Daren calon suamimu." tunjuk Tresya pada Daren yang asyik bermain ponsel didepan Hazel.
Apa?aku disuruh menikah dengan dia? yang benar saja. gerutu Hazel menatap tidak suka dengan pembicaraan orang tuanya.
Sarah pun langsung menepuk pelan lengan Daren agar mendongak kearah Hazel. Daren seketika terpesona dengan kecantikan wanita didepannya ini.
Mangsa baruku cantik juga. gumam Daren menatap lekat Hazel. Hazel merasa risih lalu ia berdiri pergi dari meja orang tuanya. orang tua Hazel terkejut dengan ketidaksopanan Hazel,Tresya langsung mengejar putrinya.
"maaf,mungkin dia masih syok,tenang saja istri saya akan menasehatinya." ucap Evran pelan saat melihat putrinya main pergi saja.
Hazel berjalan keluar acara menuju parkiran,saat ia hendak masuk kedalam mobilnya tiba tiba Tresya menahan tangannya.
"dimana sopan santunmu Hazel?!" marah Tresya melihat putrinya.
Hazel kesal langsung membanting pintu mobilnya,lalu mengkode agar pak Emin pergi dari tempat mereka.
"aku udah nurutin kalian untuk datang,lalu apa?kalian mau menjodohkan aku dengan pria yang aku tidak sama sekali kenal!!" cerca Hazel.
"kamu itu masih kecil Hazel,mami tau apa yang terbaik untukmu!"
"hah? terbaik untukku mi? selama ini mami kemana aja?? aku dari kecil selalu sendiri Mami!!" bentak Hazel sambil menangis.
plaak.
Tresya menampar keras pipi Hazel. Hazel tersenyum kecut melihat orang tua tega menampar dirinya.
"kurang ajar,aku melahirkanmu kamu bersikap seperti ini padaku?!" marah Tresya menatap tajam kearah putrinya.
"Mami tau tidak bagaimana perasaanku?! aku butuh perhatian kalian!!,aku lelah semua tekanan ini menggerogotiku trus,aku nggak berdaya mami..disaat aku butuh seseorang tentang perasaanku Mami selalu nggak ada waktu untukku!! sekarang mami mau menjodohkan aku dengan pria brengsek itu?? apa Mami sudah gilaa??!" teriak Hazel ditengah tangisannya. ia terlanjur mengeluarkan kata apa yang ada dipikirannya sekarang. Sambil menatap tajam kearah maminya
Tresya terdiam mendengar perkataan putrinya. Ada terbesit didalam hatinya bersalah melihat anaknya.
"mami memilihkanmu jodoh agar hidupmu lebih baik nak." ucap mami pelan.
"tapi mi...aku nggak mau,tolong jangan paksa aku melakukan yang tidak aku suka...aku juga manusia mi aku punya perasaan,aku bukan robot yang nurut dengan tuannya...coba hargai perasaanku mi sekali aja." lirih Hazel terduduk dilantai. ia tak sanggup menatap kearah maminya.
Tresya menghela napas pelan,"terserah kamu aja,tapi kamu harus tetap menikah terserahlah sama siapa." balas maminya berjalan meninggalkan Hazel yang masih terdiam ditempat. Perasaannya kini tak karuan. sesak,marah,sedih bercampur.
"nona Hazel." panggil pak Emin pelan,ia iba melihat anak majikannya terpuruk seperti itu. Hazel mendongak menatap pak Emin "pak tolong antar saya ke apartemen saya pak." lirih Hazel.
"hmm apartemen nona yang mana?" tanya pak Emin pelan.
"nanti saya tunjukkan." ucap Hazel pelan langsung masuk kedalam mobil. Pak Emin hanya menurut ia pun langsung melajukan mobilnya menuju apartemen yang diarahkan Hazel.
Saat tiba di apartemen,Hazel langsung berjalan gontai meninggalkan pak Emin yang masih setia menunggunya masuk kedalam lift. Setelah nona mudanya masuk barulah ia pergi meninggalkan apartemen itu. Hazel berdiri didepan pintu apartemennya,sambil memencet kata sandi pintunya. Setelah terbuka ia melihat sekeliling ruangan yang terlihat gelap. Ia pun langsung menghidupkan lampu.
"kenapa kau disini?" tanya seseorang dibelakang Hazel. Hazel berbalik langsung memeluk pria itu. Muaz sontak terkejut,ia berusaha memberontak melepaskan pelukan Hazel.
"biarkan sebentar seperti ini Az." lirih Hazel sambil mengeratkan pelukannya. Muaz hanya diam membiarkan gadis itu memeluknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
_cloetffny
sebenernya dia ini pake kata baku atau non baku sih?
2023-06-04
0
°αηggιє ησєямα ⏤͟͟͞R❣️
tdi di dlm mobil skrg di lantai
2022-02-26
3
°αηggιє ησєямα ⏤͟͟͞R❣️
kata ya ortunya ke luar negeri mam..
2022-02-26
1