Ditengah perjalanan ponsel Hazel terus berdering. Hazel langsung menepikan mobilnya, dan mengangkat telepon.
"Apa?" tanya kesal pada sahabatnya.
"Hei tenang dulu beb."
"Kenapa menelponku? Aku sedang sibuk sekarang."
"Tadi pak Edzhar nyari kamu, katanya kamu harus cepat temui dia." jelas Delia diseberang sana.
"Memangnya ada apa?"
"Aku tidak tau, kamu harus temui dia cepat. Nanti dia marah lagi, dah bye." Delia langsung menutup sambungan teleponnya. Hazel menatap kesal kearah layar ponselnya.
"Sial." umpatnya langsung memutar arah menuju kantornya. Sesampai disana Hazel dengan cepat berjalan masuk kedalam gedung.
Braak.
Dengan cepat Hazel membuka ruangan kerjanya. Delia lagi-lagi terkejut dengan kedatangan Hazel.
"Astagfirullah, woi bisa nggak santai aja buka pintunya?" gemas dengan tingkah Hazel.
"Maaf." ucap Hazel terengah-engah. Tanpa permisi, gadis itu langsung menyambar minuman Delia.
"Hei itu minumanku Zel!" gerutu Delia.
"Nanti aku ganti." ucap Hazel sambil menatap berkas diatas meja Delia.
"Ini berkas yang anak itu kan?" tanya Hazel membuka berkas itu.
"Iyaa, itu udah selesai aku atasi. Tinggal sidangnya aja besok." jelasnya pada Hazel.
"Ooo okelah, ya sudah aku ke ruang Pak Edzhar." ucap Hazel berjalan keluar ruangan. Ia pun langsung menuju ruangan atasannya.
"Masuk." sahut seseorang didalam ruangan ketika Hazel mengetuk pintu ruangannya.
"Pak, ada apa memanggil Saya?" tanya Hazel sambil duduk diruangan atasannya.
"Bagaimana apa ada sesuatu?" tanya Edzhar menatap Hazel didepannya.
Hazel menghela napas. "Justru itu Pak, sekarang saya sedang memastikan sesuatu, tapi Bapak malah ganggu saya." gerutunya kesal.
"Berani sekali kamu sama saya! Kamu mau dipecat hah?!"
"Kalau Bapak pecat saya, ya kasus yang Bapak minta nggak bakalan kelar dong Pak." ucap Hazel lagi.
Edzhar menghela napas berulang kali, ia selalu naik darah jika berbicara dengan karyawan laknatnya yang satu ini. Meskipun Hazel suka berdebat dengannya, tidak dipungkiri jika banyak kasus yang ditangani gadis itu selesai dengan hasil memuaskan walaupun gadis itu baru saja lulus dari Universitas ternama.
"Huft, sudah sampai mana penyelidikan yang kamu lakukan?" tanya Edzhar lagi.
"Tiga puluh persen Pak, kali ini saya sangat suka kasusnya, penuh teka teki." seru Hazel tersenyum miring.
"Teka-teki? Apa ada yang janggal?" Edzhar berharap mendengar sesuatu yang baik dari mulut gadis itu.
"Ada Pak, bapak tau foto yang berkas Bapak kasih sama saya, ada yang berbeda dengan bukti yang saya temukan disana." jelas Hazel sembari duduk dihadapan Edzhar.
Edzhar terkejut, gadis itu dengan nekat datang ke tempat kejadian tanpa pengawal. "Apa? Kamu kesana langsung?"
"Ya iyalah Pak, kalau nggak gitu, saya tidak bisa pecahkan kasus ini Pak." jawabnya lagi.
"Hei, tanpa pengawal nyawa kamu bisa dalam bahaya Hazel. Apa kamu ingin perusahaan bertanggung jawab huh?!"
"Sudahlah Pak, Bapak tau sendiri saya bisa bela diri. Dah, jangan bahas tentang saya lagi. Kita fokus dengan kasus Muaz." ocehnya.
Edzhar memijit keningnya pelan."Kalau gitu, apa kamu ketemu dengan pelakunya juga?"
Deg.
Hazel masih bimbang mengatakannya. Entah kenapa hatinya mengatakan kalau ia tidak boleh memberitahu dulu kepada atasannya.
"Hmm belum Pak," ucap Hazel pelan. Sebaiknya aku rahasiakan dulu keberadaan Muaz. gumamnya dalam hati.
Edzhar menghela napas lagi. "Ya sudahlah, bukti apa yang kamu maksud beda?"
Hazel mengeluarkan foto-foto dari jaketnya. ia pun meletakkan diatas meja Edzhar.
"Lihat Pak, bentuk pisau yang ada diberkas mata pisaunya runcing, sedangkan yang saya temukan waktu itu pisaunya sedikit lebih besar dan mata pisaunya sedikit tumpul. Itupun saya temukan dibawah langit meja." terangnya.
Tampak diraut wajah atasannya terkejut, Hazel semakin penasaran apakah ada hubungan apa atasannya dengan Muaz. Sejak kasus ini diberikan padanya, Hazel sebenarnya curiga. Ia yakin pasti ada sesuatu diantara mereka.
"Pak, sudah lama saya penasaran ada hubungan apa Bapak dengan pelaku itu?" tanya Hazel.
Cukup lama Edzhar terdiam, barulah ia menjawab pertanyaan Hazel. "Dia sahabat saya." ucap Edzhar pelan.
"Sahabat? Apa Bapak sudah lama tau tentang hal ini?Kenapa dia melakukan hal itu?" cerca Hazel bertanya sekaligus.
"Sudah, waktu itu saya ada diluar negeri pergi liburan dengan keluarga saya. Saya juga nggak nyangka saat mendengar itu, lalu saya temui dia di penjara. Tapi, dia tidak mengatakan apa apa, semenjak itu setiap saya kesana dia tidak mau menemui saya bahkan orang lain sekalipun."
"Apa menurut Bapak, dia pembunuhnya?"
"Kalau berdasarkan firasatku tidak, tapi kalau fakta dan bukti memang dia pembunuhnya." Lirihnya pelan.
"Makanya Bapak minta saya membuka kasus itu lagi yaa?" tebaknya.
Edzhar mengangguk lalu, mengambil sesuatu dilaci kerjanya. "Ambil ini!" Edzhar menyodorkan kotak kecil hitam pada Hazel.
"Apa ini Pak?"
"Flashdisk, itu isinya rekaman video selama dia di penjara. Saya memang belum melihat videonya, karena kemarin baru diantar. Tapi saya serahkan semuanya padamu untuk kasus ini. Jika memang dia pembunuhnya ya sudahlah, tapi jika dia tidak pembunuhnya saya sangat lega." jelas Edzhar terdengar penuh harap.
"Kenapa Bapak mempercayai saya menangani kasus sahabat Bapak?"
"Saya percaya kamu, saya yakin kamu bisa memecahkan kasus ini." Edzhar berdiri mengambil jas yang digantungnya dibelakang kursi kebesarannya.
"Ya sudah saya mau ketemu istri saya, kamu boleh keluar!" serunya berjalan kearah pintu ruangannya.
"Baik Pak." ucap Hazel lalu mengambil kotak hitam dan foto-foto tadi masuk kedalam jaketnya. Ia pun berjalan keluar ruangan.
"Hazel!" panggil Delia saat melihat Hazel baru saja keluar dari ruangan Edzhar.
"Apa?" tanya Hazel.
"Apa kalian tadi perang?" tanya Delia penasaran sambil membawa kantong ditangannya.
"Tidak, hari ini dia lagi goodmood, jadi dia berbicara baik padaku." ujar Hazel.
"Kamu mau kemana?" tanya Delia melihat Hazel melangkah keluar kantor.
"Aku mau pergi menyelesaikan sesuatu." seru Hazel sambil melambaikan tangannya.
"Cih, kamu pergi lagi kan, kali ini kemana lagi?" tanya Delia penasaran karena akhir-akhir ini sahabatnya ini sering berpergian keluar.
"Apartemenku, mau menyelidiki sesuatu." jawab Hazel lagi.
"Ooo, kasus itu yaa. Kayaknya berat kali kamu memecahkannya, lihat wajahmu kusam kali ku lihat!" seloroh Delia langsung melemparkan minuman kaleng kearah Hazel.
Hazel spontan menangkap minuman kaleng itu, "Wajahku seperti biasa aja loh, btw thanks minumannya."
"Nanti gantinya dua kali lipat yaa, semangat!" seru Delia sambil mengepal tangannya keatas seraya memberikan semangat pada Hazel.
Hazel tersenyum, ia bersyukur memiliki sahabatnya seperti Delia. Walaupun Delia jarang menanyakan masalah hidup Hazel, Delia selalu menghiburnya dengan cara uniknya.
Delia menatap sendu punggung Hazel yang kian makin menjauh dari pandangannya "Aku tau kamu habis nangis Zel, tapi kamu menyembunyikan itu semua masalahmu." lirihnya pelan. Lalu ia berjalan kembali ke ruangannya.
***
Bruuk.
Muaz terbangun mendengar barang yang jatuh disebelahnya. Ia langsung mengucek matanya menatap sekeliling, dahinya mengerut melihat ruangan yang asing baginya. Ia pun langsung melihat buku yang tergeletak dilantai, lalu mengambil buku itu.
"Oh, aku baru ingat kalau ini kamar dia." ucap Muaz pelan masih tercium aroma madu dari kamar ini. Ia merutuki dirinya sendiri karena tertidur dikamar gadis itu namun, setelah lima tahun ini baru kali ia dapat tidur dengan nyenyak.
Muaz melangkah keluar kamar, ia pun langsung meneguk air putih di dapur. Muaz melirik ke arah tong sampah yang penuh berisi sampah.
"Cih, kenapa aku harus peduli." Muaz duduk di sofa tetapi matanya kembali melirik ke arah tong sampah itu.
"Cih, menganggu pikiranku aja!" kesalnya langsung membawa tong sampah keluar apartemen, ia pun turun dan membuang sampahnya keluar. Saat Muaz membuang sampah, banyak orang-orang menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan.
"Bukankah dia yang membunuh orang tuanya itu?"
"Dia tampan, sayangnya pembunuh sadis."
"Apa dia akan membunuh orang lagi?"
"Bagaimana dia bisa tega membunuh orang tuanya sendiri?"
"Apa dia punya hati?"
"Ibu aku takut!"
"Dia tinggal disini? Bagaimana bisaa?"
Semua cemoohan terdengar jelas ditelinga Muaz. Muaz tidak memperdulikan cemoohan orang-orang itu, ia pun berjalan masuk menuju Apartemennya. Sampai di Apartemen Hazel, ia meletakkan kembali tong sampah ke tempat semula.
"Terimakasih." ucap gadis yang baru saja keluar dari kamarnya.
Deg.
Muaz terkejut lalu berbalik menatap Hazel yang kini berada didepannya.
"Kenapa kau terkejut?" tanya Hazel bingung.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Muaz menatap tajam kearah Hazel.
"Sejak tadi, sejak kau bangun dari kamarku tadi." ucapnya pelan sambil mengoles selai pada rotinya
Hazel menahan tawa melihat ekspresi Muaz seperti orang tertangkap basah.
"Tenang ,aku nggak akan marah. Kalau kau nyaman tidur di kamarku silahkan." ucapnya lalu menyodorkan sepiring roti kearah Muaz.
Muaz masih diam menatap kearah gadis yang terlihat santai didepannya. "Kenapa kau tidak takut padaku seperti orang orang diluar sana?"
Hazel menatap lekat kearah Muaz. "Untuk apa aku takut? Kau kan juga manusia, sama sama makan nasi." ucap Hazel sambil mengunyah rotinya.
Muaz langsung mengambil pisau didekatnya, spontan membuat Hazel membulat matanya melihat Muaz menatap tajam padanya.
"Jika aku sedang memegang pisau, apa kau tetap berani berhadapan denganku?" tanya Muaz sambil menyentuh ujung pisau dihadapan Hazel.
Gleek.
Hazel terdiam menatap Muaz. "Kau mau membunuhku? Silahkan lakukan!" ucap Hazel menantang Muaz. Muaz tanpa basa-basi langsung mengarahkan pisau pada Hazel.
Deg.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Adama Askara
nah loh 😆
2023-08-01
1
Vita Liana
mendapat lawan yg sepadan
2022-09-27
3