Pembunuh!!
Dasar pembunuh!! anakku kau bunuh?!Psikopat gila!
Kau bunuh ayah kandungmu sendiri,dimana hatimu hah?! Hiks..hiks kembalikan anakku sekarang!!
Aku tidak akan memaafkanmu sampai aku mati sekalipun!
Kau bukan lagi cucuku, manusia iblis!!
Deg.
Muaz langsung terbangun dari tidurnya, ia pun melihat sekeliling kamar lalu menghela napas lega. Napasnya tersengal, rasanya sesak terus menghantuinya. Namun, Muaz masih merasakan dengan jelas bagaimana makian sang nenek padanya. Sorot kebencian neneknya menatap Muaz tersimpan jelas diingatannya.
Muaz mengusap wajahnya kasar, lalu pergi ke dapur. sambil meneguk minuman kalengnya, Muaz tanpa sengaja melirik kearah pintu kamar yang lain. Pintu itu terlihat tidak terkunci, pria itu berjalan pelan kearah pintu itu.
*Bukannya dia tidak tinggal disini*? gumamnya sambil membuka pintu pelan. Muaz lega tidak ada siapapun di sana. Awalnya ia ragu masuk kedalam, namun entah niat dari mana, ia pun melangkah masuk kedalam.
"Harum madu." ucap Muaz sambil menghirup aroma kamar itu. Muaz melirik kearah buku yang ada di atas nakas. Penasaran, ia pun berjalan kearah buku itu.
My diary. Judul dibuku itu. Muaz membuka perlahan buku itu. Muaz kira akan banyak catatan yang tertulis disana namun nyatanya nggak seperti yang ia bayangkan. dibuku itu tidak ada berisi curhatan didalamnya,melainkan foto-foto yang tertempel rapi.
Satu persatu Muaz membuka lembaran buku itu, Muaz tersenyum kecil menatap foto gadis kecil yang memegang lolipopnya sambil tersenyum cerah. Ia pun terus membuka, hingga sampai halaman terakhir. Muaz mengernyit bingung menatap tulisan di halaman terakhir itu.
Apa aku boleh bahagia?
Muaz tentu sangat heran dengan kalimat itu, bagaimana tidak semua dalam foto-foto gadis kecil itu tampak bahagia, lalu kenapa kalimat dihalaman terakhir seperti itu? Tidak mau ambil pusing, Muaz meletakkan kembali buku itu ke tempatnya semula, ia pun merebahkan dirinya dikasur. Menatap langit kamar lama sebelum matanya mulai menutup masuk kedalam mimpinya.
***
Hazel berlari kecil disekitar kompleks rumahnya, suasana subuh yang belum menampakkan sinar matahari. Hazel menghirup udara segar itu, walaupun terlihat berlari serius namun pikirannya memikirkan hal yang lain. Hazel tengah memikirkan teka-teki kasusnya. Ia belum menemukan titik terang inti permasalahan kasus itu. Tadi malam, ia sibuk berkutat dengan bukti yang barusan didapatnya, bukannya mendapat titik terang namun malah membuat kasus itu semakin rumit dipecahkan. Hazel jadi bingung sekarang, apakah Muaz pembunuhnya atau pria itu hanya terjebak dalam masalah ini?
"Arrrgh semakin sakit kepalaku memikirkannya!" gerutunya sambil duduk di atas batu besar yang terletak ditepi sungai dekat rumahnya. Hazel memandang kearah sungai yang mengalir, ia pun mengambil kerikil kecil dilemparkannya kearah sungai itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Hazel kembali melemparkan kerikil kecil lagi.
"Kau sedang apa?"tanya seseorang tak jauh dari Hazel, Hazel terkejut langsung menoleh kearah suara itu.
"Maaf Anda siapa?" tanya Hazel heran.
"Perkenalkan aku Iram," ucap lelaki tinggi itu, karena suasana masih terlihat gelap, Hazel samar-samar melihat wajahnya.
"Hazel." balasnya lalu kembali menatap sungai.
"Boleh aku duduk disini?" tanya lagi, Hazel hanya mengangguk. Iram pun duduk disalah satu batu besar yang tak jauh dari Hazel duduk.
"Apa kau ada masalah?" tanya Iram.
Astaga ini orang ngapa kepo kali sih. Jengkelnya tidak suka dengan orang yang baru dikenalnya ini.
"Tidak." jawabnya ketus.
"Lalu kenapa kamu terlihat kesal gitu, kalau ada masalah kau bisa ceritakan padaku." tawar Iram sambil menyunggingkan senyumannya.
"Maaf, aku tidak terbiasa berbagi cerita pada orang asing. Aku pergi dulu permisi." Hazel bangkit lalu melanjutkan lari paginya tanpa menoleh kebelakang. Iram menatap Hazel yang berlari kian menjauh.
Menarik. Gumamnya menampakkan senyum seringai pada wajahnya.
***
Hazel masuk kedalam rumah langsung menuju dapur.
"Astagfirullah Non, saya kira siapa tadi." Tina terkejut kedatangan Hazel tiba-tiba berlari kearah dapur.
"hehehe maaf Tin, aku haus." ucapnya sambil meneguk air itu sampai kandas.
"Pelan-pelan non, ntar tersedak."
Hazel mengelap mulutnya dan tersenyum tipis kearah Tina. Tina menggeleng kelakuan putri majikannya itu. Hazel langsung berjalan kearah anak tangga menuju kamarnya. Saat ia ingin masuk kedalam kamar, ia melihat Maminya baru keluar dari kamar sambil membawa koper besar. Hazel tidak peduli Maminya mau pergi kemana, ia pun melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Hazel!" panggil Tresya. Hazel yang masih diambang pintu kamarnya menoleh kearah Maminya. jarang sekali maminya memanggil dirinya.
"Ya?"
"Hmm, Mami sama Papi akan keluar negeri sebentar, kamu nggak papakan?" tanya Tresya.
Hazel menghela napas pelan "Bukannya Mami tidak pernah meminta izin padaku kalau mau pergi, kenapa sekarang Mami izin padaku?" ucap Hazel dingin.
"Lagian aku udah dewasa Mi, aku bisa jaga diriku sendiri. Hanya saja aku ingin ingatkan satu hal, tolong hargai waktu untuk orang yang Mami terlantarkan, jangan sampai menyesal nantinya." ucapnya lagi dengan penuh makna. Hazel langsung menutup pintu kamarnya. air matanya pun lolos membasahi pipinya,sambil bersandar di pintu.
Bodoh, seharusnya aku tidak mengatakan itu pada Mami.
Walaupun usianya kini dua puluh empat tahun, bukan apa-apa jika ia meminta sedikit perhatian dari orang tuanya. Kenangan masa kecilnya tidaklah seperti anak-anak lainnya yang mendapatkan kasih sayang bahkan perhatian penuh dari orang tuanya. Hazel berusaha tegar setiap harinya.
"Hazel kau harus lebih tegar lagi, harus kuat!" ucapnya menguatkan dirinya sambil menyeka air matanya. Tidak ada waktu untuk meratapi kehidupannya yang penting tetap maju melangkah.
Hazel menatap wajah sembabnya di cermin, sambil menampakkan senyum tipisnya. Ya, senyum palsu yang sering ia tunjukkan pada semua orang.
"Ayo semangat! Pecahkan kasus pria itu!" serunya menyemangati dirinya. Ia pun langsung masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya. Hazel
setelah itu Hazel sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Hazel mendengar nada dering dari ponselnya. Ia pun langsung mengangkatnya.
"Assalammualaikum hallo?"
"Wa'alaikumsalam,Zel. Hari ini kau masuk ke kantor kan?" tanya Delia seberang sana.
"Iya, aku memang datang tiap hari, kenapa kau selalu bertanya terus?" gerutu Hazel.
Terdengar gelak dari sahabatnya. "Kamu itu seperti jelangkung, muncul tiba-tiba hilang tiba tiba makanya aku terus nanyain." jelas Delia panjang lebar.
"Terserahlah, aku keluar menyelidiki kasus ini. Urus aja masalahmu sana."
"Kamu ini sahabat laknat ya, ya Allah kapan dia memiliki pasangan hidup agar hidupnya berwarna."
"Hei harusnya kamu mendo'akan dirimu dulu Adelia." ledeknya sambil mengeringkan rambutnya
"Sialan, aku sebagai sahabat baikmu aku ingin kamu duluan yang menikah baru aku."
"Nantilah aku pikirkan, aku belum ada pikiran kesana." Hazel melirik kearah foto-foto penyelidikan yang dipajangnya.
"Haiis kamu ini!" gerutu Delia.
"Udah dulu, nanti ketemu disana." Hazel langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari pihak seberang sana.
Hazel menyadari hal yang aneh, ia langsung melihat dengan teliti foto-foto itu. Hazel kemudian menyusun ulang letak foto-fotonya sesuai kejadian malam itu. Dengan instingnya, ia berhasil menyusun letak foto itu. Ia memundurkan langkahnya agar dapat melihat seluruh foto yang ditempelnya.
Hazel terkejut melihat bukti yang ditemukannya kemarin berbeda dengan bukti yang ada diberkas Muaz. Ia mengambil foto itu lalu mengambil foto bukti yang ia dapatkan kemarin.
Deg.
"Bagaimana pisaunya bisa berbeda?" tanyanya menatap kedua foto itu. "Apa Muaz menggunakan dua pisau sekaligus?! Itu sangat tidak mungkin. Cih, Aku harus tanya dia langsung." gumamnya dengan cepat ia mengenakan jaketnya berlari keluar kamar. Hazel melajukan mobilnya menuju apartemennya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
_water_blue2
oiya lupa diganti, makasih udah ngingatin kak😭🙏🏻
2022-10-05
1
Novita Sari
asistennya hana apa tina ya?
2022-10-05
1
Putri Adilamyska
klo saran kak dibuat netral aja agamanya kak karna dr awal saya liat novelx netral biar tdk racu🙏
2022-09-07
5