Bab 5.

Ditengah hujan yang deras, mereka berlari menuju rumah yang ditempati Muaz. Sesampai disana, mereka terkejut rumah itu dipenuhi genangan air.

"Sial!" umpat Muaz langsung berlari masuk. Hazel pun ikut menyusul Muaz masuk kedalam rumah.

"Syukurlah." gumamnya pelan namun masih terdengar oleh Hazel. Hazel melirik Muaz yang tengah memeluk tas pria itu.

"Apa tas itu sangat berharga bagimu?" tanya Hazel spontan, lalu dengan segera ia menutup mulutnya. Hazel merutuki ucapannya yang main ceplos keluar. Muaz tidak menghiraukan Hazel, ia pun berjalan keluar dari rumah. Hazel langsung menyusul Muaz.

"Ayo ke Apartemenku!" ajak Hazel menatap Muaz. Muaz spontan menoleh kearah Hazel dengan tatapan horor.

"Haiis, aku bermaksud baik padamu, rumah ini udah nggak layak ditempati lagi. Sekalian aku buatkan makan malam di sana," usul Hazel lagi menyakinkan Muaz untuk ikut dengannya. Tidak ada respon dari Muaz membuat Hazel geram, ia pun menarik tangan Muaz menuju mobilnya. Muaz menepis tangan Hazel.

"Ingat, kau sudah setuju dengan tawaranku!" ucap Hazel dengan santai, lalu ia kembali menarik tangan Muaz. Muaz pun akhirnya mengikuti gadis gila didepannya ini.

Dengan baju yang basah kuyup, Hazel langsung menghidupkan penghangat dalam mobil. Ia pun tak lupa memberikan jaketnya pada Muaz.

"Pakai nih!" Titah Hazel melemparkan jaketnya pada Muaz yang duduk di kursi penumpang. Setelah itu Hazel langsung mengambil sweaternya dibelakang kursi kemudinya. Hazel melajukan mobilnya keluar dari kompleks itu. Ditengah perjalanan, mereka diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Hazel membelokkan stir mobilnya didepan toko baju.

"Ngapain kesini?" tanya Muaz melihat toko baju didepannya.

Hazel langsung keluar tanpa menjawab pertanyaan Muaz. Lima belas menit kemudian, Hazel datang sambil membawa beberapa kantong belanjaannya lalu meletakkannya dibelakang. Tak lupa juga mereka berhenti di Supemarket membeli bahan-bahan masak untuk nanti. Setelah itu Hazel langsung melajukan mobilnya menuju apartemennya.

Sesampai di apartemennya, Hazel meletakkan barang-barangnya di atas meja. Hazel berjalan kearah Muaz dan memberikan kantong belanjaan baju pada pria itu.

"Kau bisa pakai kamar disana!" tunjuk Hazel kearah kamar yang didekat ruang tamu. Muaz mengambil kantong itu dan berjalan kearah kamar yang ditunjuk Hazel tadi.

Begitu juga dengan Hazel, ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah mengganti bajunya, ia pun berjalan kearah dapur.

"Hmm masak apa ya?" gumamnya menatap belanjaan yang dibelinya tadi. Hazel mengambil beberapa alat dapur yang digunakannya nanti.

Sementara itu Muaz, melihat dirinya di cermin. Muaz memakai baju yang barusan dibeli Hazel dan keluar dari kamar itu. Aroma masakan tercium oleh Muaz, ia melirik kearah Hazel yang sibuk memasak. Muaz duduk di sofa yang tak jauh dari dapur. Tak berapa lama Muaz tertidur di sofa.

"Az! Muaz!" panggil Hazel menepuk lengan Muaz. Muaz terbangun sambil mengucek matanya. Muaz melihat makanan didepannya. Bohong jika Muaz tidak selera melihat makanan itu.

"Nih sendoknya," Hazel memberikan sendok pada Muaz. Hazel pun duduk disamping Muaz sambil membawa makanannya.

"Ini apa?" tanya Muaz sambil menunjuk makanan didepannya

"Ayam kecap pedas." ucap Hazel langsung memasukkan potongan ayam kedalam mulutnya.

Muaz mengambil sendoknya, dan mulai memasukkan potongan ayam itu kedalam mulutnya. Muaz terdiam sambil mengunyah ayam itu, lalu Muaz kembali menyuap ayam masuk kedalam mulutnya dengan cepat. Tak peduli orang disampingnya melihat begitu antusias, air matanya lolos keluar sambil menyantap masakan Hazel. Hazel yang melihat Muaz dengan semangat makan masakannya tersenyum tipis, lalu mengambilkan air untuk Muaz. Tak berapa lama, Muaz menghabiskan makanan sampai tak bersisa.

"Minum dulu," seru Hazel sambil menyodorkan segelas air dan sapu tangan basah pada Muaz. Muaz langsung meneguk air putih itu lalu meletakkan sapu tangan dimatanya.

Hazel tersenyum lagi, ia pun membereskan bekas piring di mejanya, lalu membawa ke dapur. Dengan cepat ia mencuci piring itu, setelah selesai ia pun berjalan kearah Muaz.

"So?" tanya Hazel menatap Muaz dengan senyum manisnya. Muaz mengambil sapu tangan itu dari matanya lalu menatap Hazel yang kini berdiri didepannya.

"Huft, baiklah aku akan menuruti kemauanmu." ucap Muaz pasrah.

Hazel bersorak riang. "Yey, kalau gitu mulai hari ini kau tinggal disini!" ujar Hazel memutuskan sepihak.

"Apa kau sudah gila? Kau dan aku? Berdua di Apartemen ini??" tanya Muaz tak percaya, apa gadis itu masih waras?

"Kenapa?" tanya Hazel bingung melihat Muaz.

Muaz menepuk keningnya pelan, ia langsung berdiri berjalan kearah Hazel. Hazel yang melihat Muaz mendekatinya spontan memundurkan langkahnya. Hazel terus mundur hingga membentur dinding. Muaz semakin mendekati Hazel yang terlihat cemas melihat kearahnya.

"Ma-mau apa kau?" tanya Hazel gugup menatap Muaz kini berdiri sangat dekat dengannya.

"Kenapa kau takut? Dimana keberanianmu itu tadi huh?" ledek Muaz sambil tersenyum seringai menatap Hazel menunduk ketakutan.

"Ma-maksudmu a-pa?" tanya Hazel lagi, kali ini ia mendongak menatap Muaz. jarak mereka sangat dekat. Hazel dapat melihat jelas paras wajah tampan Muaz. Alis hitam yang tebal, hidung yang mancung, dan juga bibir yang merah.

Astaga, tampan sekali dia! Pekiknya dalam hati.

Muaz menjentik kening Hazel. Gadis itu tersadar lalu mengusap keningnya.

Ah sial aku malah terpesona pula liat wajahnya. gerutu Hazel merutuki kebodohannya apalagi jantungnya berdetak tidak karuan saat ini.

"Jangan terlalu baik dengan pria lain, apalagi mengajaknya kesini!" ujar Muaz penuh makna lalu berjalan kearah sofa. Hazel yang menyadari hal itu, ia tertawa pelan merutuki kebodohannya itu.

"Tenang, aku tidak tinggal disini. Kau bisa pakai apartemen ini." jelas Hazel berjalan mengambil air mineral dan meneguknya kandas.

"Dan aku juga tidak sembarangan membawa pria lain kesini!" tegasnya menatap Muaz sebelum dirinya masuk kedalam kamar. Muaz menoleh sekilas kearah Hazel lalu menikmati teh panas yang sempat dibuat gadis itu tadi. Tak berapa lama menit setelah itu, Hazel keluar sambil membawa tasnya.

"Oke aku pergi, dan ini uang untukmu. Oh iya jangan lupa nanti tolong buangkan sampahnya keluar yaa, besok aku akan datang lagi kesini!" jelas Hazel sambil memberikan beberapa lembar uang pada Muaz.

"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Muaz serius menatap Hazel. Ia ingin tahu apa tujuan gadis ini menolongnya?

"Aku memiliki alasan sendiri, anggap saja ini balas budiku karena kau menolongku waktu itu." ucap Hazel sambil memakai sepatu sneakersnya, lalu berbalik menatap Muaz yang masih menatapnya

"Aku pergi du—"

"Terimakasih." ucap Muaz tiba-tiba, Hazel mengurungkan niatnya keluar dan kembali berbalik menatap Muaz.

"Untuk?"

"Mencegahku memakan barang haram itu dan juga membiarkanku tinggal disini." ucap Muaz langsung masuk kedalam kamarnya. Hazel tersenyum dan menutup pintu. Hazel berjalan kearah parkiran mobil dan melajukan mobilnya pergi dari Apartemennya.

Muaz yang melihat dari jendela mobil Hazel menjauh dari apartemen yang ditempatinya ini. Terlihat senyum tipis di wajah tampannya. Lalu ia melihat langit malam dari sana, sejenak ia tampak tenang dengan Apartemen ini.

huft, bunda apa yang ku lakukan waktu itu benar? lirihnya masih setia menatap langit.

Terpopuler

Comments

Lailatul Hawa

Lailatul Hawa

Muaz disini kayak masih kecil gitu yah? mungkin karena lama di penjara jadi tidak tau dunia luar yang kejam. polos polos galak gitu 😁😁😁

2022-12-30

1

mentari pagi

mentari pagi

masih menjadi misteri....cusss lanjut....

2022-03-03

1

Inah Ilham

Inah Ilham

maaf sedikit koreksi ya, dipart ini kebanyakan kata "langsung" jadi agak kurang nyaman bacanya

2022-02-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!