Hazel membeku menatap pria didepannya ini, bukan takut melainkan kagum menatap makhluk ciptaan Tuhan didepannya ini. Sejenak lupa dengan latar belakang pria ini. Muaz mengernyit bingung menatap gadis didepannya ini diam. Beberapa detik kemudian ia paham, mungkin gadis ini takut melihatnya. Muaz menghela napas lalu berjalan mendahului gadis itu.
Hazel langsung tersadar dari lamunannya, ia pun langsung berjalan menyesuaikan langkah kakinya dengan Muaz. Muaz langsung berhenti dan menatap tajam kearah gadis disampingnya ini.
"Mau apa kau?!" tanya Muaz ketus.
Hazel tersenyum dibalik maskernya, ia menatap pria didepannya lagi.
"Perkenalkan namaku Hazel Blaire," seru Hazel sambil mengulurkan tangannya pada Muaz. Muaz hanya memandangnya dingin seolah tidak suka keberadaannya disini. Hazel menghela napas dan membuka maskernya.
"Bisa kita bicara sebentar? Tapi nggak disini," ajak Hazel pelan berharap Muaz mau ikut bersamanya.
"Untuk apa? Kau ada urusan apa denganku huh?!" ketus Muaz.
Hazel menghela napas."Aku seorang pengacara, dan tujuanku di sini ingin membuka kembali kasus mu," jelasnya.
Muaz yang mendengar penjelasan gadis didepannya dengan cepat mencengkram kerah kemeja Hazel. "Kau jangan pernah berani mengganggu urusanku, jangan pernah membuka kasus itu lagi!" menatap Hazel dengan tatapan mematikan.
Hazel terkejut dengan tindakan Muaz, ia langsung tersenyum seringai. "Aku akan tetap buka kasus itu, walaupun kau melarangnya."
Muaz tertegun dengan keberanian gadis ini yang tidak takut sama sekali dengannya, apalagi di tempat sepi seperti ini.
"Apa keuntungannya kalau kau membuka kasus ku?" tanya Muaz yang masih mencengkram kerah kemeja Hazel, ia harus tau alasan gadis ini.
Hazel menepis kuat tangan Muaz yang mencengkram kemejanya. "Aku belum tau, tapi kasus itu ada yang janggal bagiku," jelas Hazel.
"Apa maksudmu?" tanya Muaz penasaran.
"Ada beberapa barang bukti tidak sesuai dengan skenario dalam kasusnya, apalagi saksi tidak ada ditempat, jadi menurutku ada beberapa bukti yang lain hilang," jelas Hazel lagi.
"Cukup, jika kau tidak tau apa-apa jangan pernah menyentuh kasus ku!" kesal Muaz, ia sudah muak dengan hal yang menyangkut pembahasan itu. Muaz langsung berjalan mendahului gadis itu. Hazel menatap punggung pria tampan itu sambil tersenyum.
"Semakin menarik, akan aku gali lebih dalam kasus mu Muaz Edmon Bark!" melirik jam tangannya.
"Huft...aku harus pulang," saat Hazel berbalik ia melihat dua orang pemabuk berjalan kearahnya. Sambil memutar bola matanya, ia menggulung lengan kemejanya keatas, ancang-ancang mau menghajar mereka. Kedua pria preman itu tersenyum seringai menatap Hazel seperti mangsa bagi mereka.
Sial, aku nggak akan menang lawan mereka berdua. gerutu Hazel dalam hati.
Hazel langsung melempar botol didekatnya tepat mengenai salah satu kepala preman itu dan berlari kencang kearah yang berlawanan dengan tempat mobilnya berada. Kedua preman itu juga berlari mengejarnya, Hazel semakin mempercepat larinya berharap keluar menemukan jalan besar. Antara panik dan bingung Hazel terus berlari tanpa tau arah membuatnya tanpa sengaja tersandung akar pohon. Hazel terjatuh, lalu ia berusaha menahan sakit kakinya merangkak bersembunyi di balik pohon mangga itu. Berharap kedua preman tadi tidak menemukannya disini.
"Dimana gadis itu?!" tanya salah satu preman itu sambil melihat sekeliling mereka.
"Sudahlah, kita cari mangsa yang lain aja, kali ini harus dapat!" kata preman yang satu lagi. Kedua preman itu pergi dari tempat itu. Hazel menghela napas lega, sambil memegang kakinya mulai membiru ia bersandar di pohon sambil menatap keatas.
Hazel mengerjap matanya berkali-kali melihat seseorang berada di atas pohon yang ia sandarkan tadi. Cukup lama ia baru menyadari jika memang ada orang diatas sana.
"Muaz?!"
Muaz menatap Hazel dari atas pohon, lalu melirik kearah kaki kanan Hazel yang terlihat memar pada kaki gadis itu. Muaz langsung turun dan tanpa permisi mengangkat Hazel. Hazel terkejut dan memberontak meminta pria itu menurunkannya.
"Diam atau ku lempar kau!" ancamnya lalu berjalan kedalam rumahnya, menurunkan Hazel di atas sofa Muaz. Ia langsung mengambil air dan kain lalu membawa kearah Hazel.
"Tuh, obati lebam kau dulu!" Seru Muaz meletakkan air dan kain itu dimeja. Hazel melihat sekeliling ruangan itu, terlihat lusuh dan kotor.
"Kau kesini pakai apa?" tanya Muaz pada Hazel.
"Apa?"
"Huft, kau kesini gunakan apa? Mobil, motor atau apa?" tanya Muaz kesal dengan gadis disampingnya itu.
"Oh, aku pakai mobil. Memangnya kenapa?" tanya Hazel penasaran.
"Mana kunci mobilmu?" tanya Muaz mengacuhkan pertanyaan Hazel.
"Untuk apa?" tanya Hazel mengernyit bingung.
"Biar aku bawa kesini, kau harus pulang." ucapnya lalu merampas jaket Hazel dan mengambil kunci mobil didalamnya.
"Hei, bagaimana kau tau kunci itu ada disana??" terkejut dengan tindakan Muaz yang tahu keberadaan kuncinya.
Gila bagaimana dia bisa tau? Gumam Hazel dalam hati.
Muaz tidak menghiraukan Hazel, tinggallah Hazel sendirian dirumah itu. Hazel langsung membasahi kain dengan air dan mengusap pada luka lebamnya.
"Ugh." Hazel meringis sambil mengusap lebamnya dengan kain basah.
Kenapa dia tinggal disini? Dan ini rumah siapa? Pikir Hazel heran melihat sekeliling ruangan itu. Terdengar suara deruman mobil didepan rumah itu. Hazel tertatih-tatih mengintip dibalik jendela.
Wow dia cepat juga. Gumam Hazel kagum mengamati dibalik jendela. Tidak menyangka jika orang yang ingin ia selidiki malah memakirkan mobilnya. Sungguh lucu takdir ini.
"Sedang apa kau di sana?" tanya Muaz mendapati Hazel berdiri didekat jendela.
"Aku sedang berdiri, apa kau tidak lihat?" jawab Hazel dengan ketus ia pun dengan tertatih-tatih berjalan kearah sofa.
"Pulanglah!" usir Muaz menatap tajam kearah Hazel
Ya tuhan ini manusia ada hati nggak sih? Masa orang cedera gini disuruh pulang sendiri. Gerutu Hazel menatap Muaz.
"Kau mau aku lempar keluar atau jalan sendiri?" ancamnya sambil membuka pintu lebar. Hazel berdecak kesal menyambar jaketnya lalu berjalan pelan keluar rumah. Muaz hanya diam melihat Hazel berjalan kearah mobilnya. Namun gadis itu berbalik badan menatap Muaz.
"Terimakasih." ucapnya pelan lalu masuk kedalam mobilnya. Muaz tidak menjawab gadis itu, setelah memastikan gadis itu sudah masuk kedalam mobil barulah ia menutup pintu rumahnya.
Hazel yang melihat itu kesal sendiri, melirik sekali lagi kearah rumah lusuh itu barulah ia menancap gas meninggalkan kompleks itu. Di tengah perjalanan Hazel merasa lapar. Tentu saja lapar bagaimana tidak Hazel membututi Muaz seharian dan ditambah lagi kesialan yang dialaminya sekarang. Hazel melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam. Ia pun dengan cepat pulang ke rumah.
Hazel terlihat bingung, rumahnya kini tampak ramai. banyak mobil mewah terparkir dihalaman rumahnya.
"Pak, apa ada acara didalam?" tanya Hazel pada satpam rumahnya.
"Iya Non, acara kolega Nyonya sama Tuan besar Non." jelas satpam itu. Hazel menghela napas.
"Ya sudah, bilang sama mereka saya nginap di rumah Delia yaa." ucap Hazel dari dalam mobilnya.
"Baik non." jawab satpam itu.
Hazel langsung memundurkan mobil dari halaman rumahnya, ia pun langsung menancap gas kerumah Delia. Hazel langsung memberi pesan kepada Delia jika ia menginap dirumah sahabatnya.
Kedatangan Hazel disambut Delia didepan pagar. Hazel langsung memarkirkan mobilnya di bagasi rumah Delia.
"Hei, kenapa kamu nggak masuk kerja hari ini Zel?" tanya Delia sambil membuka pintu rumahnya.
"Aku lagi selidiki kasus itu," ucap Hazel pelan sambil berjalan pelan mengikuti Delia.
"Ooo kasus abang ganteng yaa...gimana dah ada perkembangan?" tanya Delia penasaran.
"Belum ada," jawab Hazel berjalan pelan masuk kedalam rumah. Delia yang heran melihat cara jalan Hazel. Baginya hari ini sungguh melelahkan.
"Hazel, kenapa kakimu?" tanya Delia sambil membantu Hazel duduk disofa.
"Aku jatuh abis dikejar preman," jawab Hazel pelan.
"Astaga, kau ini abis dari mana sih?" tanya Delia melihat penampilan Hazel berantakan.
"Kan udah ku bilang, abis dikejar preman," gemas Hazel menatap Delia. Delia hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Del aku lapar," ucap Hazel dengan polos.
"Kuy ke dapur, lagian orang tuaku lagi keluar kota, jadi tinggal kita bebas disini." jelas Delia.
Hazel menatap langit rumah Delia. Mengingat lagi kesialannya selama satu hari ini. Hazel mengetik sesuatu di ponselnya. Sedikit demi sedikit mulai terkuak kasusnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
yulia nisma
baru mampir thor...kayaknya sih seru....semoga nih cerita sampai tamat😊😊😊
2023-02-02
1
Evelyne
kayaknya si MUAZ ne korban fitnah.. orang laen yang bunuh ortu nya tapi Muaz yang jadi tersangka nya.. kayaknya seeh gitu...hihihi
2022-09-10
2
Putri Adilamyska
garasi bukan bagasi
2022-09-06
1