Muaz berhenti disebuah rumah kecil yang tak berpenghuni itu. Tanpa berpikir panjang ia masuk kedalam rumah yang tidak terkunci. Ia terlihat lelah dan butuh tempat berteduh. Sedangkan ia tidak memiliki uang setelah keluar dari penjara.
Muaz masuk kedalam rumah yang penuh debu dan kotor itu. Ia membersihkan sedikit barang yang menghalang jalannya. Ia pun mengibas sedikit sofa yang lusuh itu sebagai tempat istirahatnya malam ini. Setelah selesai ia langsung merebahkan dirinya diatas sofa.
Berjam-jam membaringkan dirinya tidak membuat mata memejam untuk tidur. Ia terus mencari posisi nyamannya namun tetap tidak bisa tidur. Muaz menghela napas pelan keluar dari rumah, tanpa sengaja matanya melihat pohon mangga. Merasa lapar Muaz memanjat pohon itu sambil mengambil beberapa petik buah mangga. Setelah itu ia langsung mengupas dengan menggigit mangga tersebut. Air matanya turun membasahi pipinya sambil menikmati mangga. Dimalam yang dingin sesenggukan memakan mangga dengan cepat. Perasaannya kini kacau sedih, takut, sesak bercampur menjadi satu. Masa lalunya masih terus menggerogotinya, semakin ia ingin lupakan semakin sesak ia rasakan.
Lima tahun dipenjara bukanlah hal yang mudah untuk Muaz, sering mendapat siksaan dan rudungan dari narapidana lain. Muaz yang sudah muak ia pun melatih dirinya menjadi lebih kuat sampai tidak ada yang berani berkutik melawannya. Muaz menjadi sosok pria yang dingin dan sangat ditakuti narapidana lainnya. Bahkan narapidana yang dulu sering menyiksanya kini menjadi budaknya selama dipenjara.
Setelah puas meratapi dirinya, ia langsung masuk kedalam rumah dan terlelap di sofa yang lusuh itu.
Sementara disisi lain, gadis yang baru saja pulang dari tempat kerjanya harus menarik napas berat menatap rumah mewahnya.
"Selamat malam nona," sapa Tina—asisten rumah Hazel.
"Tolong buatkan aku teh ya, Tin," seru Hazel langsung berjalan menaiki anak tangga. "Dimana orangtuaku, Tin?" tanyanya berhenti ditangga.
"Belum pulang non, sepertinya mereka lembur." ucap Hana pelan. Hazel hanya mengangguk pasrah langsung menuju kamarnya.
Hazel langsung merebahkan dirinya di kasur sambil menatap langit kamarnya. Teringat dengan berkas itu Hazel langsung bangkit dari tidurnya berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan membuka berkas itu diatas kasur.
Ia buka satu persatu foto-foto bukti, lalu ia tempelkan di dinding kamarnya. Setelah semua foto ia tempelkan, ia lihat satu persatu foto-foto itu. Lima puluh foto yang menjadi bukti kuat tersangka dihukum penjara.
"Semua foto-foto ini kuat mengarah ke pelaku, tapi ada yang aneh." gumamnya sambil berpikir memandang semua foto itu.
Tok...tok.
Hazel langsung melirik kearah pintu, "Masuk."
"Maaf non, ini tehnya." ucap Tina langsung meletakkan teh milik Hazel di atas nakas.
"Terimakasih Tina." ucap Hazel.
"Sama-sama non, saya permisi." pamit Tina langsung menutup pintu kamar Hazel. Hazel kembali fokus menatap foto-foto itu. Lalu melirik skenario kasus yang sempat ia tandai tadi dikantornya.
"Muaz Edmon Bark,diumurnya yang dua puluh dua tahun membunuh kedua orang tuanya, ckckck ya ampun...berarti sekarang umurnya dua puluh tujuh bukan?" gumamnya lagi.
"Kenapa dia melakukan itu? Kalau bukan masalah ekonomi berarti masalah pribadi kayaknya," gumam Hazel sambil menempel sticky note nya disamping foto-foto itu. Senyum lebar di wajah cantiknya yang semakin menarik dengan kasus Muaz.
"Wow semakin kesini semakin menarik, kalau mau selesai teka-teki kasus ini, aku harus temui pelakunya itu!" tekadnya dengan semangat namun senyuman itu pudar saat mendengar keributan dari luar kamarnya. Hazel tahu kedua orang tuanya baru saja pulang. Hazel berjalan kearah pintu sedikit membuka pintu sambil mengintip kedua orang tua berdebat didepan kamar mereka.
"Papi, bagaimana nih masa saham kita turun dua puluh persen!" gerutu Tresya—Maminya Hazel.
"Astaga mami, kan dah Papi bilang tadi nanti Papi carikan solusinya," jelas Evran—Papinya Hazel.
"Mami ngak mau tau, Papi harus carikan solusinya cepat!" tegas mami langsung masuk kedalam kamarnya. Evran langsung menyusul istrinya dikamar.
"Astaga, mereka masalah uang ributnya selangit!" gerutu Hazel menatap pintu kamar orang tuanya yang sudah tertutup rapat.
Hazel anak tunggal dari pasangan suami istri yang hanya sibuk mementingkan pekerjaan mereka dibanding anaknya sendiri. Dari kecil Hazel selalu berusaha mendapatkan perhatian kedua orang tuanya, namun orang tuanya tidak memperdulikan sama sekali. Setelah bertahun-tahun Hazel mencari perhatian orang tuanya dengan memenangkan beberapa perlombaan, bahkan lulus di universitas ternama tidak sekalipun dilirik oleh mereka. Sampai akhirnya ia pun tidak peduli lagi mendapat perhatian mereka, ia kini fokus untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Hazel bertekad mencari uang murni dari keringatnya sendiri, tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Diam-diam ia bekerja sampingan sambil kuliah. Setelah terkumpul tabungannya, ia pun diam-diam juga membeli apartemen untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya.
"Huft, kasus Muaz lebih menarik dari kehidupanku." ia kembali masuk kedalam kamarnya. Ia langsung merebahkan dirinya dan terlelap.
Esok paginya Hazel langsung bersiap-siap mencari keberadaan Muaz yang ia yakini masa hukuman pria itu sudah habis. Dengan memakai kemeja biru dipadu celana jeans tak lupa memakai sneakers putih. Hazel langsung menguncir satu rambutnya menatap cermin.
"Sempurna." bangganya menatap dirinya di cermin. Hazel langsung keluar kamarnya dan menuruni tangga. Ia dapat melihat kedua orang tuanya sudah duduk di meja makan sambil memegang ponselnya masing-masing. Hazel duduk di tempatnya lalu mengambil beberapa sendok nasi goreng kedalam piringnya.
Sudah menjadi kebiasaan keluarga Hazel makan sambil memegang ponsel mereka, kecuali Hazel. ia fokus dengan cepat menghabiskan sarapannya.
"Mi, Pi Hazel berangkat dulu." pamit Hazel, hanya dianggukan keduanya. Hazel berjalan kearah luar rumah menuju bagasi rumahnya.
"Selamat pagi nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Emin—supir pribadi orang tua Hazel.
"Selamat pagi Pak. Tidak ada, saya mau pergi keluar." ucap Hazel menuju mobilnya.
"Baik Non, kalau begitu saya permisi." pamit Emin, Hazel mengangguk pelan lalu masuk kedalam mobilnya.
Tujuan pertama Hazel adalah menuju kantor polisi dimana Muaz dipenjara. Sampai di sana Hazel langsung menanyai keberadaan Muaz setelah lepas dari penjara. Setelah mendapat info itu Hazel langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Muaz.
Sesampai disana, ia menggerutu kesal tidak menemukan siapa-siapa di rumah besar itu.
Cih, kemana dia?? Gerutu Hazel melihat sekeliling kompleks yang terlihat sepi. Hazel yakin penduduk di sana pada pindah semua setelah insiden dirumah besar ini. Hazel masuk kedalam mobilnya, keberuntungan berpihak padanya. Ia melihat laki-laki tinggi yang putih itu berjalan kearah rumah yang tadi dilihat Hazel. Laki-laki itu yang tak lain adalah Muaz sendiri.
Muaz berjalan sambil menatap kosong kearah rumahnya yang masih dikelilingi garis polisi. Muaz dapat melihat dengan jelas ingatan yang masih melekat di memorinya.
Apa benar dia seorang pembunuh? Tanya Hazel dalam hati tak percaya melihat raut wajah Muaz. Wajah yang menatap kosong kearah rumah mewah itu. Hazel semakin penasaran, ia pun memutuskan mengikuti Muaz seharian sebelum menemui pria itu secara langsung.
Hazel memarkirkan mobilnya dan mengikuti Muaz. Sambil memakai jaket hitam dan maskernya ia berjalan membututi Muaz. Hingga sore Hazel tetap mengikuti Muaz. Ia baru menyadari sudah melewati jalan ini sembilan kali. Hazel berhenti lalu menatap punggung Muaz yang kian makin menjauh berjalan.
Apa dia menyadari keberadaanku? Gumam Hazel, lalu ia mendongak ke depan terkejut tidak melihat Muaz didepannya. Tanpa ia sadari Muaz berdiri dibelakangnya.
Deg.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan tatapan dingin kearah Hazel, Hazel langsung berbalik badan dan terdiam menatap Muaz yang kini ada didepan matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
duoNaNa
ikut kaget aku 😅😅
2023-08-26
1
Vita Liana
makin penasaran
2022-09-27
2
Evelyne
gw suka...alurnya cepat..gak rumit..jelas dan bagus bahasa nya... kita lihat,seberapa menariknya konflik Disni...
2022-09-10
5