Hari ini Terra kembali bekerja. Gadis sudah duduk dengan mimik serius mengamati tumpukan berkas.
Hingga tak terasa waktu makan siang datang. Terra beranjak dari kursi, mengambil ponsel juga dompet lalu keluar dari ruangan itu.
Ketika di luar ia berpapasan dengan Aden assiten sekaligus sekretaris pribadi Rommy yang baru.
Ya, Bianca sudah dipecat oleh Rommy. Padahal Terra tidak memintanya. Tapi, sepertinya pria itu langsung bertindak sebelum Terra yang melakukan tindakan selanjutnya.
"Siang Te. Kita makan bareng yuk, sekalian aku kenalin sama beberapa kolega yang juga datang di kantin kita siang ini," ajak Rommy.
Terra mengikuti langkah Rommy. mereka bertiga masuk kantin. Benar saja. Di sana banyak pria-pria muda dan tampan duduk sambil berbincang-bincang.
Tidak ada rasa sungkan dari mereka ketika duduk di tempat sederhana seperti ini. Bahkan satu hingga tiga orang memakan tanpa mengenakan sendok. Terra cukup terkejut.
"Selamat siang semuanya!' sapa Rommy.
"Selamat siang, Pak Rom!" mereka semua menyapa bebarengan seperti koor paduan suara.
Mendengar suara mereka sendiri, tiba-tiba jadi terdiam sejenak dan saling pandang. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
Rommy dan Terra melangkah menuju meja kosong. Sedang Aden pergi memesan makanan.
"Oh ya, perkenalkan ini adalah Terra, wakil direktur kami yang baru," ucap Rommy memperkenalkan Terra pada halayak.
"Selamat siang semuanya. Saya sangat tidak menyangka, jika Tuan Muda seperti kalian mau mampir ke kantin sederhana di kantor kami," ujar Terra ramah.
Terra duduk. Gadis itu tidak sadar jika ada dua pasang mata memandangnya dengan cara berbeda.
Aden datang dengan membawa pesanan mereka. Tak lama mereka makan diselingi obrolan ringan.
Entah siapa memulai. Tiba-tiba ruangan itu menjadi ajang diskusi bisnis dengan menggabungkan meja masing-masing.
Terra yang hanya diam menyimak cukup terkejut. Secara dia adalah wanita satu-satunya.
Tiba-tiba netra Terra menangkap wajah yang dikenalnya.
"Pak Haidar?" gumamnya.
"Kamu kenal Pak Haidar dari perusahan Bermegah Pratama Grup?" tanya Rommy.
Pria itu melihat sisa makanan di sudut bibir Terra. Dengan cekatan ia membersihkan kotoran itu dengan jempolnya.
Terra langsung menjauhkan wajah kemudian melotot pada Rommy.
"Maaf, ada kotoran di bibirmu," cicit Rommy.
Perbuatan Rommy tidak luput dari perhatian Haidar. Pria itu mengeram hingga mengeratkan gerahamnya. Mukanya sudah memerah menahan amarah. Buku tangannya pun mengepal kuat.
"Ah ... makanan di sini enak sekali. Selain enak, yang pasti ramah di kantong. Lumayan buat ngirit budget," ujar seorang CEO semringah.
"Terimakasih kepada Tuan Rommy yang sudah mengundang kami makan di kantin ini," lanjutnya.
"Ah, sama-sama, Tuan Jose," ujar Rommy sambil mengangguk hormat.
Semua pria dengan balutan jas formal berdiri. Mereka saling bersalaman satu dengan lainnya.
Ada banyak kesepakatan yang tercipta di ruang ini. Mereka akan berjanji dengan melakukan tim evaluasi ulang juga mengkaji tender yang sudah disepakati bersama.
Haidar mendatangi Terra. Gadis itu agak terkejut dengan kedatangan kekasihnya itu.
"Pak ...."
"Sayang!"
Dua panggilan berbeda. Rommy menatap wajah keduanya. Tiba-tiba Aden menarik tangan Rommy untuk segera meninggalkan dua sejoli itu.
"Ah ... aku duluan ya, Te!" ucapan pamit Rommy tidak ditanggapi oleh Terra.
Mata gadis itu tetap memandang raut wajah yang ada di hadapannya. Haidar menggenggam kedua tangan Terra.
"Sayang," panggilnya.
"Pak!"
"Kapan kau ubah panggilanmu itu, kita adalah pasangan kekasih, Sayang!"
"Maaf, belum terbiasa," cicit Terra.
"Baiklah. Apa nanti kau ada pertemuan lagi?" tanya Haidar.
Terra menggeleng. "Tidak tapi berkasku menumpuk di atas meja, sekarang."
"Baiklah. Segera selesaikan. Nanti pulang aku jemput," ujar Haidar.
Pria itu mengecup pucuk kepala Terra dengan sayang. Terra begitu menikmati kemesraan itu.
Haidar pamit. Setelah pria itu pergi. Terra menakup dua pipinya yang memanas.
Gadis itu tidak sadar jika sedari tadi ada sepasang mata menatapnya dengan rasa sedih juga kecewa.
Sedang di tempat lain. Sosok pria tengah melonggarkan dasinya. Di mejanya terdapat dua berkas tentang gadis yang tadi menarik perhatiannya.
"Terra. Delapan belas tahun, masih kuliah tapi sudah menjabat wakil direktur. Menarik!" ujarnya sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Aku harus mendapatkanmu. Bagaimana pun caranya," ujarnya bermonolog dengan tatapan dingin.
bersambung.
eh siapa tuh... bahaya nggak ya?
Terra. hati2
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 603 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
wess syerem para ceo bersaing merebut terra🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈💪💪💪💪💪💪💪💪
2025-01-02
2
Juli Asmina
waduh Terra kamu harus hati-hati ada orang yang ngincar kamu dengan tatapan yang licik
2025-01-31
0
Jamayah Tambi
Orang cantik dan ada kuasa,kaya raya mesti ramai yg ingin merebutnya.
2024-11-11
0