Usai pertemuan dengan pihak Osaka, Jepang. Terra langsung menuju kampus. Hari ini ia mendapat mata kuliah di sore hari.
Hari ini mood Terra sangat bahagia. Karena tadi ia dan tim berhasil meyakinkan pihak Osaka untuk melakukan kerja sama.
Sebuah rumah sakit besar akan dibangun di sebuah kota kecil. Terra berencana akan ke kota itu bersama Rommy suatu hari.
Usai mata kuliah. Gadis itu langsung pulang ke rumah. Tidak ada waktu baginya untuk bersenang-senang. Padahal banyak teman yang mengajaknya. Yang paling banyak sih teman pria.
Namun, gadis itu mengingat tanggung jawabnya yang lain. Sampai rumah ia disambut oleh tawa riang Lidya.
Semua penat yang ada di tubuh Terra hilang seketika mendengar tawa ceria itu.
Lidya berceloteh panjang lebar, menceritakan apa saja yang ia lakukan ketika Terra tidak bersamanya.
"Jadi benar, Iya nggak nakal, nggak nyusahin Bik Romlah?" tanya Terra.
"Ndak Mama. Iya ndak natal ama setali," jawab Iya dengan logat cadelnya.
"Uhh ... pinternya anak Mama," puji Terra kemudian menciumi wajah Lidya yang kini terkikik geli karena ciuman itu.
Terra melihat Darren yang hanya diam, terheran. Gadis itu merengkuh tubuh kecil itu.
"Kenapa sayang?" tanya Terra kemudian mencium pucuk kepala Darren.
"Ma, boleh nggak Darren minta pindah sekolah?" tanya pria kecil itu dengan suara lirih.
Terra mengernyit. "Ada apa, sayang. Kenapa kau ingin pindah?"
"Darren cape Ma, disuruh ngerjain tugas melulu. Mana tugasnya sulit-sulit lagi. Trus nggak boleh salah lebih dari satu," jawaban Darren membuat Terra geram.
"Siapa yang menyuruhmu membuat tugas, apa Pak Doni, wali kelasmu?" tanya Terra.
Lidya sudah diambil bik Romlah untuk memudahkan Terra berinteraksi dengan Darren.
"Bukan Ma. Darren sudah empat hari ngerjain tugas itu kalau pas jam istirahat, dan bukan di kelas, tapi diajak ke ruang BP sama Bu Ira," jawab Darren dengan nada lemah dan tidak bersemangat.
Terra mengepalkan tangannya. Ia sudah memperingati pihak sekolah untuk tidak memasukkan Darren ke kelas akselerasi.
"Bu Ira siapa, Dar?" tanya Terra.
"Bu Ira itu wakil kepala sekolah, Ma," jawab Darren. "Boleh ya Ma, Darren pindah sekolah?"
"Nanti kita bicarakan lagi ya. Besok Mama akan ke sekolah kamu untuk membicarakan ini," ujar Terra memberi pengertian pada Darren.
"Tapi Darren nggak mau ngerjain tugas lagi. Darren cape, Ma!" rengek pria kecil itu.
"Jangan khawatir, Sayang. Besok, kamu ikuti dulu kemauan Bu Ira ya," ujar Terra.
"Tapi, Ma ...."
"Percaya sama Mama ya," Darren akhirnya mengangguk setelah melihat mata Terra yang meyakinkannya.
Terra mencium lembut kening Darren. Setelah putranya pergi untuk kembali bermain dengan adiknya. Terra langsung menelpon Sofyan.
^^^"Halo assalamualaikum, Om."^^^
"Wa'alaikum salam, ada apa Ra?"
^^^^^^"Terra bisa minta tolong nggak Om?" ^^^^^^
"Bisa, ada apa?"
Terra menceritakan apa yang dialami oleh Darren dan perihal kelas akselerasi itu.
"Ok, nanti Om ikut kamu besok."
Terra memutuskan sambungan telepon setelah mengucap terima kasih dan salam.
Di otaknya telah tersusun rencana yang sangat matang, untuk menuntut sekolah putranya.
************
Esok hari.
Darren malas untuk keluar kelas untuk beristirahat. Ia begitu takut jika nanti harus mengerjakan tugas-tugas yang membuat ia berpikir dua kali lipat.
Sebenarnya Darren tidak lah begitu kesulitan mengerjakan soal-soal tersebut. Tapi, lambat laun pria kecil itu jenuh karena kehilangan waktu bermain dan makan siangnya. Hari ini lagi-lagi Pak Doni tengah tidak masuk karena sedang mengantar anak kelas lain yang tengah mengadakan komite.
"Darren kenapa nggak keluar kelas, Nak?" tiba-tiba sebuah suara yang sangat Darren hindari.
Darren hanya tersenyum. Ira mendekatinya, kemudian duduk berhadapan dengannya di halangi meja belajar.
Ira melihat kanan kiri. Setelah melihat situasi aman. Wanita dengan make up tebal itu menyodorkan beberapa kertas di meja.
"Nah, Ibu mau kerjakan ini. Kalau bisa jangan ada yang salah satu pun," titah Ira dengan suara dilembut-lembutkan.
Darren bergeming. "Ayoo jangan diem aja! Kerjain!"
Suara galak Ira membuat Darren takut dan mulai ingin menangis.
"Eh, jangan nangis. Nanti, Ibu hukum kamu loh, kalau tidak mau mengerjakan perintah Ibu!" ancam Ira.
"Ayo kerjakan!"
Dengan tangan gemetar, Darren mengambil alat tulis yang telah disodorkan oleh wakil kepala sekolah itu.
Tiba-tiba.
"Apa yang Ibu lakukan?" Ira dan Darren menoleh.
"P-pak D-Doni?" Ira gugup setengah mati.
Doni wali kelas Darren langsung menyambar kertas yang ada di atas meja. Netranya membeliak melihat isi kertas itu.
Tiba-tiba kertas yang ada di tangan Doni dirampas oleh seorang.
"Jadi ini yang membuat putra saya ingin pindah?"
"Mama!" panggil Darren kemudian pria itu menangis sambil berlari ke arah Terra yang sudah berdiri di sisi Doni.
Terra memeluk tubuh pria kecilnya yang gemetar ketakutan.
"Panas!" gumam Terra ketika tubuh Darren didekapnya.
"Sayang, tubuh kamu panas. Kita ke pulang ya," ajak Terra.
"Darren tidak boleh pulang sebelum mengerjakan ini semua. Kami berhak atas itu, karena Darren adalah murid kami!" tiba-tiba Ira melarang Darren pergi.
Argumen Ira langsung dibantah Sofyan yang tadi memang diajak Terra.
"Tidak ada itu istilahnya sekolah memiliki hak penuh atas murid-muridnya!" bantah Sofyan.
"Om, urus semuanya. Saya akan membawa Darren ke rumah sakit," ujar Terra lalu menggendong Darren yang sudah lemas karena menangis.
"Pergilah. Biar Om urus semuanya!" ujar Sofyan kemudian.
Terra buru-buru keluar ruang kelas. Doni mengejar Terra.
"Mba, Saya selaku guru minta maaf atas semuanya ini. Sungguh saya tidak tahu menahu!" ujar Doni dengan napas terengah-engah karena berbicara sambil berjalan cepat mengimbangi jalan Terra.
Terra hanya melirik pria yang mengejarnya. Memilih tak merespon.
'Biar Om Sofyan yang mengurus semuanya,' gumam Terra dalam hati.
Terra masuk mobil yang terparkir. Supir pribadi Sofyan telah diberi tahu untuk segera mengantar Terra.
Melihat Terra mengabaikan permintaan maafnya. Doni berhenti mengejar. Pria itu hanya menghela napas panjang. Sungguh pria itu tidak tahu jika salah satu guru malah mencoreng nama pendidikan.
bersambung.
duh mudah-mudahan Darren tidak apa-apa.
semangat ya Boy!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 603 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
memang tidak seharusnya anak2 dipaksa belajar apalagi masih kecil
2025-01-02
2
AYU TIME KARTIKA
pemaksaan
2024-12-03
0
Jamayah Tambi
Pelik2 perangai Bu guru.
2024-11-10
1