Sudah dua minggu, Terra kuliah sambil bekerja sebagai wakil CEO. Banyak yang heran atas keputusan Rommy selaku CEO sementara, ketika melakukan konferensi pada para pemegang saham dan karyawannya.
Tentu saja mereka heran. Betapa dengan beraninya Rommy memperkenalkan Terra memangku jabatan sebagai wakil direktur di perusahaan ini. Terlebih status Terra yang terbilang masih belia dan seorang mahasiswi.
Akibat keputusan sepihak itu, harga saham mulai goyang dan para investor pun agak ragu menanamkan modal mereka.
Namun, tiba-tiba Terra mengungkap sebuah fakta tentang banyaknya departemen terlibat kasus penyuapan. Hal ini dikemukakan Terra ketika mengadakan rapat internal.
Terra telah mempelajari banyak hal tentang perusahaan. Banyak proyek-proyek fiktif terselip diantara proyek asli yang sedang dibangun.
"Apa ada yang bisa menjelaskan saya tentang ini?" tanya Terra ketika melempar lembaran berkas ke lantai.
Foto-foto kecurangan dan transaksi penyuapan.
'Darimana gadis itu mendapatkan semuanya?' gumam beberapa peserta rapat dengan wajah pucat.
Tentu saja, banyak yang tidak diketahui tentang Terra. Bahkan Rommy sangat sulit mendapatkan bukti-bukti kecurangan itu.
Ternyata saat itu Terra tidak sengaja membuka laci meja di ruang kerja ayahnya. Gadis itu menemukan beberapa dokumen dengan tulisan merah "Top Secret".
Karena menurutnya dia adalah pewaris yang berhak. Terra membuka berkas-berkas itu. Dipelajarinya satu persatu.
Seketika tangan Terra mengepal. Rahangnya gemerutuk menahan geram dan emosi.
Ternyata ayahnya semasa hidup juga melakukan penyelidikan. Terra melihat tanggal di mana ayahnya memulai kegiatan detektifnya.
"Tiga tahun, Ayah sudah melakukan penyelidikan ini. Apa jangan-jangan kecelakaan Ayah ini disengaja?'' tanyanya bermonolog.
Ketika ia mengembalikan semua berkas dalam map. Secara tak sengaja ia menyenggol buku yang bertumpuk di meja.
Bruk!
Terra beristighfar. Gadis itu memunguti satu persatu buku yang jatuh dan diletakkan kembali ke atas meja.
Ketika ia meletakkan salah satu buku. Tiba-tiba sebuah foto jatuh di antara selipan buku.
Terra memungutnya. Ia melihat sampai menyipitkan matanya. Sosok seorang wanita tengah berciuman dengan sosok pria. Ia sangat yakin jika pria itu bukan ayahnya.
"Siapa wanita ini? Kenapa Ayah menyimpan foto ini?" lagi-lagi Terra bertanya pada diri sendiri.
Terra kembali mencari bukti lain. Tapi tiba-tiba, ia mendengar tangisan Rion. Bergegas gadis itu bangkit dari kursi dan keluar ruangan.
Setelah mendapati Rion yang sedang menangis meraung. Ternyata popoknya sudah penuh dan tembus ke mana-mana.
Terra hendak melihat Bik Romlah. Ternyata perempuan usia tiga puluhan itu sibuk mengurusi Darren dan Lidya yang berlarian.
Bik Romlah, nampak tergopoh-gopoh mendatangi majikannya. Ternyata ia juga mendengar Rion menangis.
"Maafkan Bibik, Non. Saya sedang mengejar Den Darren dan Non Iya buat minum susunya," ujarnya menjelaskan dengan napas terengah-engah.
Darren dan Lidya langsung berhenti berlarian ketika melihat Terra yang memandangi mereka.
Keduanya nampak berjalan menunduk takut. Mereka tahu jika kelakuan mereka tidak baik.
Terra sebenarnya tidak pernah menghukum dua anak itu, karena Terra sangat menyayangi mereka. Gadis itu sangat tahu, jika baik Darren dan Lidya tengah masa aktif dan usil mereka.
"Kalian tahu, kalau kalian salah?" tanya Terra dengan suara lembut namun penuh ketegasan.
Keduanya mengangguk. Sungguh, Terra tidak tega melihat kedua adiknya yang kini menjadi anaknya itu ketakutan. Terlebih di usia mereka yang harusnya tidak mengerti apa itu salah dan benar.
Terra langsung memeluk mereka berdua. Menciumi pipi Darren dan Lidya dengan penuh kasih sayang.
"Maaf Mama, Iya nda atan natal ladhi," cicit Iya dengan suara cadelnya.
"Darren juga, Ma?' ujar Darren sambil menunduk.
"Hei ... tidak apa-apa. Bik Romlah juga tidak keberatan kok. Iya kan, Bik?"
Bik Romlah mengangguk sambil menggendong Rion yang sudah dibersihkan dan kini tengah mengemuti jemarinya.
"Dari mana kau mendapatkan semua bukti-bukti itu, Terra?" tanya Rommy membuyarkan lamunan Terra.
"Ah .. oh itu. Dari laci meja kerja Ayah. Itu hanya sebagian. Aku belum bisa mengungkapkan semua," jawab Terra kemudian.
Rommy mengangguk. "Sepertinya, Tuan Handoyo, Ayahmu juga menyelidiki semua."
Terra diam tak menanggapi. Pikirannya masih melayang entah kemana. Masih ada satu foto yang mengganjal dipikirannya.
"Ini sudah waktunya makan siang. Oh ya, kita harus bertemu dengan Klien dari Osaka, Jepang. Kita makan siang sekalian dengan mereka sambil membicarakan perihal proyek di kota M," jelas Rommy.
Terra mengangguk. Mereka ditemani dengan assiten pribadi masing-masing.
Terra melirik Bianca yang menjadi asisten pribadi Rommy. Gadis itu selalu melirik sinis Terra.
Terra yang merasa tidak memiliki urusan, tidak mempedulikan perangai gadis itu.
bersambung.
wah ada rahasia besar ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 603 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
masih banyak yang harus terra selidiki
2025-01-02
2
AYU TIME KARTIKA
semangat terra....
2024-12-03
0
Jamayah Tambi
Kamu tidak tau lagi siapa Terra./CoolGuy/
2024-11-10
1