Terra mengantar Darren ke sekolah. Pria cilik itu menyalimnya dengan takdzim.
"Belajar yang rajin ya, jadi anak baik," ujar Terra menasehati.
"Baik, Ma!" ucap Darren tersenyum.
Terra mencium kening Darren. Kemudian pria kecil itu berlari bersama teman-temannya.
Terra mendatangi kantor kepala sekolah. Hari ini ia membawa beberapa berkas menunjukkan bahwa wali kelas Darren berpindah padanya.
Kepala sekolah mengucap bela sungkawa. Begitu juga beberapa dewan guru.
"Oh ya, Mba Terra. Kebetulan Nak Darren termasuk anak cerdas. Kami ingin memasukkannya ke kelas akselerasi," jelas pak kepala sekolah.
"Apa Darren sanggup. Saya tidak ingin dia terlewat waktu bermain," ujar Terra sedikit keberatan.
Mendengar jawaban Terra membuat kepala sekolah tersenyum. Baru kali ini ada wali murid yang keberatan bila anaknya masuk akselerasi.
"Tapi, itu akan jadi kebanggaan kami, jika Darren ikut kelas akselerasi," jelas kepala sekolah lagi.
"Karena hanya dia satu-satunya anak yang masuk," lanjutnya.
Terra terdiam. Ia merenungkan banyak hal. Teringat jika Darren baru saja terpukul akan kepergian kedua orang tuanya secara tragis. Gadis itu sangat khawatir akan mental Darren nantinya.
"Maaf, Pak. Saya tidak mengijinkan Darren untuk ikut kelas akselerasi. Dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Saya takut akan berdampak dengan psikologisnya," ujar Terra menolak tawaran kepala sekolah.
Kepala sekolah hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak bisa memaksa gadis yang kini menjadi wali dari Darren.
"Saya harap, Mba pikirkan lagi," ujar kepala sekolah masih ingin berdiskusi.
Terra menggeleng, menandakan ia tetap pada pendiriannya. Akhirnya mau tak mau, kepala sekolah tidak memaksakan lagi kehendaknya.
"Baiklah, terima kasih atas perhatian Bapak," ujar Terra sambil bersalaman dengan kepala sekolah.
Ketika gadis itu berdiri. "Oh ya, jika sekolah ini memasukkan Darren secara diam-diam ke kelas akselerasi. Saya akan menuntut sekolah ini!" ancamnya.
Baik kepala sekolah maupun para dewan guru terdiam mendengar ancaman Terra.
"Saya menjamin, jika Darren tidak akan masuk kelas akselerasi, Mba Terra!" ujar salah satu guru.
Terra menatap seorang pria berkisar usia dua puluhan.
"Saya Danu, wali kelas Darren," ujar pria itu memperkenalkan diri.
"Terra, Ibu dari Darren," Terra menyambut tangan Danu, "saya pegang ucapan Bapak!"
Terra akhirnya berlalu dari ruang guru. Semuanya hening. Menyayangkan. Tapi, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
******
Terra masuk ke sebuah universitas ternama di kota itu. Mendaftar ulang dirinya sebagai mahasiswi dengan beasiswa.
Banyak pria yang memandanginya takjub. Padahal dandanan Terra biasa saja. Baju kemeja yang dimasukkan ke dalam celana jeans. Sepatu sneaker warna hitam. Rambut dikuncir kuda.
Ah, Terra memang cantik dari dulunya. Bahkan tetap cantik tanpa riasan beraneka rupa. Banyak gadis-gadis memandangnya iri.
Drrtt ... drrrtt!
Ponsel dalam saku celananya bergetar, tanda ada panggilan masuk. Terra mengambilnya. Terpampang nama "Om Sofyan".
"Halo assalamualaikum, Om," ujar Terra ketika ponselnya sudah di telinga.
"...."
"Baik, Om. Terra akan ke cafe yang Om bilang," ujar Terra kemudian.
"...."
"Iya, Om. Wa'alaikum salam," Terra memutuskan sambungan telepon.
Terra memesan layanan ojek online, menuju cafe di mana ia ditunggu oleh Sofyan dan Rommy, putranya.
Hanya butuh waktu lima belas menit, Terra sudah sampai tujuan. Setelah membayar. Gadis itu masuk dalam cafe.
Design cafe ini cukup mewah. Terlihat dari deretan mobil sport mahal yang terparkir di depan.
Ketika masuk, Terra disuguhi pandangan yang glamor. Warna hitam dan emas mendominasi ruang cafe.
Netranya meradar mencari sosok yang menunggunya. Tiba-tiba seorang pelayan menghampirinya.
Wajah pelayan itu memandangnya dengan tatapan merendahkan.
"Maaf, di sini bukan tempat untuk cari sumbangan," Terra mengernyit mendengar perkataan sinis itu.
"Apakah terlihat saya cari sumbangan?" tanya Terra dengan dahi mengerut.
"Ck ... apa tidak lihat pakaian yang kamu pakai?!" sindir pelayanan itu sakras.
Terra melihat pakaiannya. Kemudian membandingkan pakaian orang-orang yang datang ke cafe. Rata-rata mereka memakai pakaian formal, atau setidaknya outfit dengan branded ternama.
"Apa kau pikir semua orang kaya berpakaian mahal?' tiba-tiba sebuah suara menginterupsi.
Pelayan langsung menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat pemilik cafe ada di hadapannya. Sosok pria tampan dengan postur tubuh tegap menatap pelayan dengan pandangan tidak suka.
"Bu-bu-kan be-gitu ...."
"Rio!" teriak pria itu. Terra masih bergeming di tempatnya.
Sosok pria muda berlarian menuju mereka. Ia sedikit terengah-engah.
"Ya, Boss!"
"Apa kau sudah training dia untuk tidak merendahkan siapa pun yang datang masuk ke cafe ini!" ujar pria itu menunjuk pelayan tidak suka.
"Oh ... maafkan saya. Saya akan menjamin hal ini tidak terjadi lagi," ujar pria bernama Rio sambil menunduk.
"Pecat dia!" titah pria itu datar.
"Ada apa ini, Rom!" sosok pria lain tiba-tiba datang.
"Om Sofyan!" panggil Terra.
"Ah Terra. Kau sudah datang. Ayo, sini, Nak," ujar Sofyan meraih bahu Terra dan mengajak ke mejanya.
Wajah pelayan itu bertambah pucat. Memang ia tadi dibrifing untuk menerima tamu spesial. Ia tidak menyangka jika orang yang baru saja ia hina adalah tamu yang ditunggu oleh tuannya.
"Rio, selesaikan tugasmu. Aku tidak mau lagi melihat muka orang ini!" titah tegas pria itu pada manager cafenya.
Setelah meninggalkan Rio dan pelayan itu. Rommy menyusul ayahnya ke ruangan VVIP.
Ketika dalam ruangan, ia telah mendapatkan ayahnya dan gadis itu tampak berbincang serius.
Terra melihat sosok yang baru saja menggeser pintu. Ruangan itu cukup besar dengan pemandangan air terjun buatan. Nampak begitu sejuk dan jauh dari keramaian tamu yang datang. Terra menaksir harga untuk membooking tempat ini, pasti bernilai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Karena design interiornya yang mewah dan diperuntukkan pada pebisnis mengadakan pertemuan atau rapat.
"Permisi, ini pesanannya," tiba-tiba seorang pelayan pria datang membawakan pesanan.
Terra memesan kopi tubruk dengan sedikit gula. Ia tidak begitu suka dengan aneka kopi lain, seperti late, capunino dan sebagainya.
"Selera kopimu mirip dengan mendiang Tuan Hudoyo, Terra," ujar Sofyan kemudian terkekeh.
Terra mengangguk, bukan hanya kopi. Bahkan kepribadian lain yang dimiliki ayahnya melekat pada diri gadis itu.
"Oh ya, perkenalkan ini putra Om," ujar Sofyan menunjuk pria yang kini duduk di sebelahnya.
"Rommy!"
"Terra!"
Mereka saling berjabat tangan sambil tersenyum. Rommy menatap raut cantik di depannya. Netranya tak berkedip. Sofyan menyenggol bahu Rommy ketika pria itu tidak fokus akan pembicaraan.
"Ah maaf," ujar Rommy malu.
Sofyan menggeleng.
'Dasar anak muda!' cicitnya lirih.
Rommy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Terra sedikit menunduk menyembunyikan rona merah pada pipinya. Jujur, ia juga terpesona pada pandangan pertama ketika Rommy menegur karyawannya.
"Apa kita akan melanjutkan pembicaraan ini, atau Ayah akan meninggalkan kalian untuk ...."
"Ah, maaf, Om. Kita lanjutkan saja pembicaraan ini," ujar Terra memotong.
Sofyan tersenyum sambil menggeleng. Sejurus kemudian mereka pun mulai serius membicarakan hal yang telah disepakati bersama.
bersambung
boleh dong like and love juga vote..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 603 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
masih aja ada yg memandang hina orang berpenampilan sederhana ya
2025-01-02
2
Novie Achadini
pegawai cafe biasanta ditraining.sopan santun dan etika itu yg utama
2024-12-13
0
Jamayah Tambi
Terra kamu kena hati2
2024-11-10
0