Rommy tengah mendengarkan perkataan yang ada di seberang telponnya. Sedikit terkejut, karena ia baru mengetahui keadaan Bossnya yang sudah meninggal dunia.
"Sekarang, Dik Terra ada di mana?" tanyanya.
"...."
Setelah mendengar jawaban dari Terra. Rommy memutuskan sambungan teleponnya. Kini ia men-scroll layar. Dicarinya sebuah nama. Setelah dapat, ia menekan nomor itu untuk melakukan panggilan.
"Hallo, Tuan Sofyan!" sapanya setelah sambungan terangkat.
"Apa-apaan kamu, ini Ayahmu, kenapa kau tidak sopan!" sebuah teriakan menjadi santapannya.
Rommy memutar matanya malas. "Ayah tahu jika Tuan Hudoyo sudah meninggal dunia?"
"Hmmm ... ya, Ayah sudah tahu. Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Sofyan.
"....."
Sofyan mendengarkan apa perkataan anaknya. Sebagai pengacara Hudoyo. Pria setengah baya yang masih tampan itu, mengerti apa yang ia harus lakukan.
"Ayah akan ke rumah Terra sekarang," ujarnya kemudian, "kau urus semuanya, nanti kita adakan konferensi pers dan pemegang saham."
Sofyan menutup telepon setelah mendengar jawaban putranya itu.
"Triana!" panggilnya.
Sosok wanita cantik berbalut busana seksi masuk ke ruangan, Sofyan langsung mendengkus marah.
"Apa maksudmu memakai baju seperti ini?!" sentaknya. "Kau pikir aku bernapsu melihatmu!"
"Menjijikkan!" maki Sofyan. "Kau kupecat!"
"Pak ... maaf kan saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," rengek Triana.
"Keluar kau!" Sofyan mengusir Triana.
Dengan terisak gadis yang tengah mencoba peruntungan untuk menggoda Bossnya itu keluar dari ruangan.
Sofyan menghela napas, Ia mengurut pelipisnya. Kemudian ia mengeluarkan beberapa berkas dari laci mejanya.
Setelah tiga puluh menit, ia telah usai mempelajari berkas, Sofyan langsung membawa berkas itu dan pergi menuju rumah Terra.
Mobil sedan hitam berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Hati Sofyan merasa perih.
Ketika sampai depan pintu, pria itu mengetuk. Sosok wanita setengah baya membuka pintu.
"Selamat sore, apa benar ini rumah dari Terra Arimbi Hudoyo?" tanya Sofyan ramah.
"Ah, benar Pak."
"Siapa, Bik?" sebuah suara muncul.
Sosok cantik, nampak dalam pandangan Sofyan. Pria yang sangat tahu wajah dari mendiang Ben hudoyo, langsung mengenali gadis itu.
"Selamat sore, Nona, Saya Sofyan Birawa S.H.. Saya adalah pengacara dari mendiang Tuan Ben Hudoyo," jelas Sofyan memperkenalkan diri.
Terra langsung mempersilahkan masuk. Terdengar suara anak kecil yang tengah berdebat. Terra meminta ijin pada Sofyan untuk menenangkan anak-anak.
"Darren,.Lidya!" Terra memanggil dua bocah yang tengah berdebat.
Seketika mereka diam kemudian menunduk. Terra menghela napas. Gadis itu menghampiri kedua bocah yang kini menatapnya takut.
"Ada apa, kenapa kalian berdebat?" tanya Terra lembut.
"Tata Dalen, eunda mahu nalah. Masa Iya eunda buoleh matan apel," jelas Lidya masih menundukkan kepalanya.
"Kenapa adikmu tidak boleh makan apel, Dar?" tanya Terra mengusap kepala bocah lelaki.
Darren menghela napas, "Iya giginya kan goyang, Ma. Darren takut nanti dia bertambah sakit."
Penjelasan bijak Darren, membuat Terra terenyuh. Gadis itu salut akan kepedulian Darren akan saudaranya.
"Kamu dengar kan 'Iya. Gigimu masih goyang. Kakakmu khawatir kamu akan kesakitan," jelas Terra lembut pada Iya, panggilan kesayangan Lidya.
Iya menarik napas. Gadis kecil itu mengucap kata maaf lirih pada kakak laki-lakinya. Dengan sayang, Darren mengelus kepala Lidya, memaafkan adik perempuannya.
Terra tersenyum, kemudian gadis itu menyuruh keduanya bermain dan menjaga adiknya yang paling kecil.
Terra menghampiri Sofyan yang sudah duduk di ruang tamu. Segelas teh hangat sudah terhidang di meja itu.
"Silahkan diminum, Tuan," ujar Terra mempersilahkan tamunya.
"Terima kasih," jawab Sofyan tersenyum. Pria itu menyeruput teh.
'Enak,' gumamnya dalam hati.
"Begini Nona ...."
"Terra, Tuan. Panggil saya Terra," potong Terra sambil tersenyum.
"Baiklah. Begini Terra. Almarhum Ayahmu telah memberikan kuasa pada saya, akan perihal semua harta peninggalannya. Dan kamu adalah ahli waris satu-satunya," jelas Sofyan.
"Ahli waris satu-satunya?"
"Benar."
"Lalu anak-anak ayah yang lain?' tanya Terra.
"Mereka tidak berhak atas harta Ayahmu. Karena pernikahan kedua Tuan Hudoyo tidak terdaftar di negara," jelas Sofyan lagi.
Terra mengangguk mengerti.
"Lalu, apa saja harta peninggalan Ayah, Tuan?" tanya Terra tidak bersemangat.
"Beberapa perusahaan ritel dengan omset triliunan dolar ...."
Terra hanya terbengong mendengar deretan harta kekayaan yang ditinggalkan ayahnya.
bersambung
uh ... jadi kaya raya nih Terra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 603 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
alhamdulillah terra tidak sendiri2 amat & tidak miskin
2025-01-02
2
Lina Maulina
heran ak sama cwe d novel ko ska nya pke baju yg ketat. kckckck
2024-12-01
0
Dini Mariani s
keren terra...
2025-02-04
0