"Cepat kau keluar dari rumah ini!" teriak Bi Fatma, yang merupakan adik tiri ayahnya.
"Pergi?" tanya Terra bingung. Sungguh otaknya buntu.
"Ya. Kau tak berhak tinggal di rumah ini. Dari dulu ibumu bukan pilihan orang tua kami. Jadi kamu nggak berhak atas harta peninggalan Kakakku!" seru Fatma lagi.
"Aku tak mau tahu. Besok kau harus pergi dari rumah ini. Dasar anak tidak tahu diri!" sentak Fatma lagi sambil mendorong bahu Terra dengan telunjuk.
"Kok nunggu besok sih. Sekarang aja suruh dia pergi," sebuah suara pria tiba-tiba memprovokasi.
Paman Sugeng. Suami baru bibinya ini mulai menghasut istrinya.
"Aku akan membantunya, mengeluarkan semua pakaiannya," ujar Paman Sugeng lagi.
Pria yang usianya hanya terpaut di atas Terra tiga tahun itu, nampak berlari menaiki tangga menuju kamar.
"Hei ... jangan kau berani masuk kamarku!" sentak Terra. Sugeng berhenti.
"Biar aku yang mengepak sendiri!" lanjutnya.
Sungguh. Terra saat ini tak bisa berpikiran jernih. Ia menyusul pria itu ke atas. Memasuki kamarnya dan langsung menarik koper dari dalam lemari. Semua baju juga ijasah dan buku tabungan pun ia masukkan ke dalam tas. Sebuah laptop dan beberapa berkas penting juga ia masukkan ke dalam sebuah ransel.
Serasa cukup. Ia menyeret koper dan keluar. Ia tak menghiraukan apapun. Bahkan ketiga bocah yang ada di rumah itu, sudah gadis cantik itu lupa keberadaan mereka. Tak sadar ketiga bocah itu mengikutinya.
Terra yang sampai di bawah dikejutkan oleh pertanyaan bibinya.
"Anak-anak siapa ini?" Terra menoleh.
"Mereka anak-anak Kakakmu. Maka rawatlah!" ujar Terra geram.
Ia bergegas keluar sambil terus menyeret kopernya.
"Ih ... bawa bocah-bocah ini. Mereka bukan tanggunganku!" teriak Fatma.
Terra menggubris kata-kata bibinya. Ia terus menyeret langkah dan kopernya. Tanpa peduli ketiga bocah itu yang terus memanggilnya mama.
"Terra ...," sebuah suara lembut memanggilnya.
Sejenak langkahnya terhenti. Ia berusaha mengenali suara itu. Tapi ia sadar. Suara itu hanya halusinasinya saja. Ia kembali melangkah. Tapi lagi-lagi suara itu memanggilnya.
"Terra ... sayang,"
"Mama ...," suara parau Terra menyahut panggilan itu.
Ia membalikkan tubuhnya. Tampak sosok wanita dengan wajah cantik dan teduh. Tersenyum padanya sambil merangkul dua bocah kecil di depannya. Tampak ketiganya menangis histeris.
"Sayang ... mereka adalah darahmu. Jagalah, Nak," ujar wanita lembut itu.
"Tapi Ma ... hiks ...!" Terra sangat ingin egois.
Gadis delapan belas tahun itu. Belum sepenuhnya dewasa. Air matanya terus mengalir.
"Sayang ... Mama tahu ini berat. Tapi darah mereka sama dengan darah yang mengalir dalam tubuhmu," ujar wanita lembut itu lagi.
"Mama ...," Darren menatap Terra dengan wajah permohonan.
Terra menutup matanya. Tangisan pilu ketiga bocah itu meluluhkan dinding yang baru saja ia bangun di hatinya itu.
Terra langsung berlari mendekati bocah itu dan memeluk mereka. Tangisan pilu dari ke empat manusia beda usia itu sangat mengiris hati yang mendengarnya.
Beruntung jalanan di mana mereka berada sepi.
"Maafkan Mama. Maafkan Mama," ujar Terra sambil terus menciumi bocah-bocah yang masih menangis.
"Kalian lapar?" Dua bocah itu mengangguk. Kecuali bayi yang berada dalam gendongan Darren. Ia masih menangis.
Terra bingung. Masalahnya, baju mereka masih ada di rumah. Bahkan dompet dan ponsel ayahnya juga masih di sana. Terra berniat kembali ke rumah itu. Tapi urung ia lakukan. Karena pasti bibinya tak akan mengijinkan ia memasuki rumah itu lagi.
Terra celingukan. Wanita ayu berwajah teduh tadi sudah menghilang.
'Mama ... terima kasih,' gumamnya dalam hati.
Kini Terra mengajak ketiga bocah itu. Ia menggendong Rion dan menggandeng tangan Lidya. Sedangkan Darren mengaitkan tangannya pada rok Terra.
Terra mampir di sebuah tenda bubur ayam. Mereka sarapan di sana.
Terra juga menyuapi Rion dengan menghaluskan buburnya terlebih dahulu. Selesai makan. Gadis dan ketiga bocah itu menaiki angkot. Pergi dari daerah di mana ia tinggal.
Sementara di rumah yang tadi diambil paksa oleh Fatma tampak sudah berantakan.
"Bangs**!" teriak Fatma kesal.
Masalahnya, ia tak menemukan satu akta pun yang menunjukan kepemilikan rumah itu.
"Di mana mereka menaruh sertifikat rumah ini!" geramnya. Sedang Sugeng juga mulai memijat pelipisnya.
"Sepertinya dugaanku. Kakakmu, Ben menaruhnya bukan di rumah ini," ujar Sugeng.
Fatma tercenung. Ia pun menduga hal itu.
"Satu-satunya cara, memanipulasi kertas-kertas itu. Tapi, tentu saja resikonya besar sekali. Dan di jaman sekarang sudah tentu sulit untuk melakukan manipulasi.
"Jika semua surat penting itu ada di bank. Kita tak mungkin mendapatkannya dengan mudah," ujar Sugeng lagi.
"HAH! SUDAH JANGAN KAU BUAT PUSING KEPALAKU!" teriak Fatma kalap.
"Jika kau tak bisa membantu. Sebaiknya kau
DIAM!" seru Fatma lagi sambil menekan kata terakhir.
Sugeng pun terdiam. Tentu ia tak mau ambil resiko, wanita di hadapannya ini. Karena wanita inilah yang mencukupi kebutuhan mewahnya.
'cis ... jika bukan karena uangmu. Aku tak sudi dengan wanita tua seperti mu,' sungut pria usia 21 tahun itu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 603 Episodes
Comments
Juli Asmina
dasar brondong mataduitan mau enak nya aja.bibi yang enggak jelas asal usulnya dia enggak kasihan sama kemanaannya demi harta Dia tidak ingat ada anak yatim piyatu yang perlu diperhatikan.awas kena karma nya loooh biii
2025-01-31
1
Yunita Sri wahyuni
oalaaa barang 2 adikmu kok ditinggal...kan lumayan uang peninggalan mama tiri dan ayah mu bisa tuk biaya hidup... semoga jgn sampai telantar ni anak 2 🥺
2024-12-26
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
2025-01-02
2