Sudah 2 jam mereka menunggu di depan Ruang Operasi tersebut.
"Nek, duduklah" Ucap Tama merangkul pundak Nenek.
"Aku tak bisa tenang, Nak. Bagaimana keadaan Ayu" Balas Nenek dengan meneteskan air mata nya.
Tama memeluk Nenek dengan sesekali mengusap punggung wanita tua itu. Dia juga sama sedih nya dengan Nenek.
Ceklek.
Dokter keluar dengan wajah lelah dan lega nya. Nenek langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi Cucuku?" Dengan cepat Nenek menanyai kabar Ayu.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, Nyonya. Namun kondisi Nona Ayu maaih kritis karena tubuhnya yang lemah" Jawab Dokter dengan setenang mungkin.
Nenek langsung menitikkan kembali air mata nya. Ia tak kuasa mendengar semua kenyataan seperti ini.
"Terimakasih, Dok" Ucap Nadin mewakili Nenek.
Ibu , Ayah , Gibran , Putri dan Amanda serta Nicolas hanya mampu diam saat melihat wajah sedih Nenek.
"Sudah puas kalian hah , kalian bukan saja menghancurkan hati Cucuku tapi kalian juga menghilangkan nyawa Cicit ku" Dengan berurai air mata Nenek mengatakan semua itu.
"Dan kau Gibran , aku merestui kalian bukan untuk kau sakiti. Jika saja aku tau dulu kau main hati di belakang Ayu aku tidak akan merestuimu. Dan kau Putri kau tau bahwa Ayu yang menyelamatkan mu saat kan tenggelam bahkan dia tega membahayakan dirinya sendiri demi kamu sahabatnya. Tapi apa bahkan kau dengan tega nya menorehkan luka" Ucap Nenek dengan hati yang sesak memikirkan nasib sang Cucu.
Dokter wanita dan Perawat hanya diam, mereka tak berhak berpendat apapun.
"Tuan, Nyonya saya permisi dahulu, nanti pasien akan di pindahkan ke ruang rawat" Ucap Dokter lalu ia berlalu pergi dari sana.
"Mas ayo pulang nanti Anak kita nangis" Celetuk Putri dengan tak tau malu nya.
Nadin , Tama dan Pranss sudah mengepalkan tangan mencoba untuk tidak membuat keributan di Rumah sakit.
"Pergilah Tuan , Nyonya Wibawa , dan kalian juga pergilah aku tak sudi melihat kalian ada disini" Usir Nenek dengan menunjuk semua anggota keluarga Wibawa termasuk Nicolass dan Malik.
"Tapi Nek aku ingin menemani Kak Ayu" Ucap Amanda dengan terbata.
"Tidak ada yang boleh mengizinkan kalian masuk selangkah saja ke ruangan Cucuku apalagi kalian" Bentak Nenek dan menunjuk Gibran serta Putri.
Amanda memeluk Nicolass dan menangis di pelukan suaminya. Dia tak menyangka bahwa akan terjadi seperti ini.
"Ayo kita pulang dulu, besok kita kesini lagi untuk menjenguk Ayu" Bujuk Nicolass lembut.
Mereka langsung pergi dengan menunduk sedih , bahkan Ayah dan Ibu Gibran tak berani membuka suara sedikitpun.
Setelah keluarga Wibawa pulang , Nenek dan lainnya langsung menyuruh perawat memindahkan kamar Ayu ke VVIP dan tidak boleh ada yang mengizinkan siapapun masuk tanpa memberitahu dulu pada nya.
**
Mansion Wibawa.
Malik hanya mengantarkan saja Tuan nya lalu ia memilih untuk pulang.
Amanda dan Nicolass masuk terlebih dahulu tanpa menghiraukan Gibran dan yang lainnya. Di ruang keluarga Ibu Putri sedang menimang Cucu nya karena ia haus ingin menyusu.
Putri langsung memberi Asi untuk anaknya dan duduk di sana bersama dengan yang lainnya.
Amanda menatap Gibran dengan tajam bahkan ia sudah menahan emosi dari tadi.
"Kak apa sekarang kau puas? Apa kau akan membiarkan Kak Ayu pergi?" Tanya Amanda dengan nafas yang memburu. Nicolass mengusap punggung Amanda agar ia tenang.
"Aku dan Bang Nico akan pindah dari sini mulai besok, dan aku titip Ayah dan Ibu ku" Ucap nya kembali lalu pergi dari sana dengan di ikuti Nicolass.
Putri hanya diam , dia hanya tesenyum tipis tanpa ada yang tahu. Bahkan ia merasa bahagia melihat Gibran yang tak membela Ayu.
Ayah Salim membuang nafas kasar dan menatap Putra nya dengan wajah kecewa.
"Nak, jika memang ini pilihanmu Ayah tidak akan melarangnya tapi jika nanti kamu menyesal jangan salahkan kami, Ayah dan Ibu akan pergi ke Negara T untuk menetap disana. Urus semua bisnis disini dan jaga Adikmu" Ucap Ayah Salim dengan panjang lebar.
Gibran langsung menatap Orangtua nya tak percaya , ia bisa melihat wajah serius sang Ayah.
"Tapi kenapa Ayah? Kenapa Ayah juga pergi?" Tanya Gibran lirih.
"Ayah dan Ibu hanya ingin menenangkan diri saja" Jawab Bu Yulia dengan tegas.
Lalu mereka masuk ke kamarnya tanpa permisi pada mereka yang ada disana.
"Bi" Panggil Gibran pada Art disana.
"Iya Tuan" Jawab Art
"Antarkan Ayah dan Ibu ke kamar tamu ya" Perintah Gibran.
"Baik Tuan. Mari Tuan , Nyonya" Ucap Art tersebut.
Lalu Orangtua Putri mengikuti Art Gibran untuk ke kamar.
Putri menatap Gibran yang sedang melamun sambil menatap kosong.
"Mas " Ucap Putri dengan memegang pundak suaminya
"Ehh iya Put" Jawab Gibran yang baru sadar dari lamunannya.
"Jangan bengong saja, Mas. Ayo kita istirhat kamu pasti lelah dan lihatlah Putri kita sudah tertidur" Ucap Putri tersenyum lembut.
Gibran mengangguk dan membawa Putri ke atas untuk istirahat.
***
Di Rumah Sakit.
Sedangkan Tama masih terjaga di depan tubuh tak berdaya Ayu. Dia merasa menyesal karena membiarkan Ayu menanggung semuanya sendiri.
"Maafkan aku , bangunlah aku mohon" Lirih Tama memegang tangan Ayu.
"Bangunlah, Ay. Apa kamu tak kasihan melihat Nenek yang sudah tua menangisi kamu, aku mohon bangunlah dan balaslah pada mereka semua" Ucapnya kembali.
Lalu Tama merebahkan kepalanya di sisi tubuh Ayu dan tangannya masih menggenggam tangan Ayu dengan erat.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
nesya
syukurlah ayu keguguran, jd dia tak perlu berfikir dua kali utk bercerai dan membalas dan menghancurkan duo pengkhianat itu nanti nya.
2022-10-02
2
Mira kader Mira
semoga satu saat putri membuat kau gibran hancur se hancurnya
2022-03-16
0
Umi Idah Saidah
nenek ayu sediihh
2022-03-05
0