ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
------ back to Story :
Pagi itu. Kamar Sierra.
TRETTT!!
Mata Sierra langsung terbuka dan meraih ponselnya. Ia melihat nama salah satu bodyguard di layar ponsel dan segera menerimanya.
"Yes?"
"Jonathan sudah siuman dan ia bersikeras keluar dari sini, Nona. Bagaimana?" tanya pria yang menelepon majikannya terdengar gelisah.
"Baik. Bawa dia pulang. Pastikan Jonathan tak kabur. Katakan jika Lysa datang untuk menjenguk dan membawanya pulang."
"Yes, Mam."
KLEK! TUT ... TUT ... TUT ....
Sierra terlihat murung melihat jendela kamarnya yang selalu ia biarkan terbuka. Membiarkan angin malam berganti dengan hembusan udara pagi yang sejuk menerpa tubuhnya.
Sierra kembali menatap kaki robot yang pernah membantunya berjalan. Ia marah. Ia mengambil kaki robot itu dan merayap mendekati jendela dengan mengandalkan kedua tangannya.
BRAKK!!
"Agh! Kaki sialan! Dasar tidak berguna!" teriak Sierra emosi, tapi matanya berlinang.
Ia kembali roboh dan duduk berlutut di bawah jendela, memeluk lututnya. Sierra menangis di mana hanya sebagian saja ingatannya yang masih tersisa dan sayangnya, tak ada nama Jonathan di sana.
"Apa yang harus kulakukan agar dia tetap berada di sini?" tanyanya sedih.
Tanpa sepengetahuan Sierra, Lysa yang sudah bangun sejak awal karena penasaran dengan kediaman salah satu pemimpin No Face terkejut ketika melihat gadis cantik itu melemparkan benda dari jendela lantai dua dan marah karenanya.
Lysa mendekati benda yang tersangkut di semak taman. Lysa memungutnya dengan kening berkerut.
"Apa ini? Kaki robot? Namun, lebih tepatnya seperti penopang," guman Lysa berpendapat.
Lysa segera memotret temuannya itu dan mengirimkan kepada Kai. Cukup lama Lysa menunggu hingga akhirnya, salah satu ayah tirinya itu membalas pesannya.
"Kau menemukan itu di mana? Bisa kau bawa pulang benda itu? Aku ingin menelitinya lebih jauh," pinta Kai.
"Oke, Papa. Akan aku bawakan," jawab Lysa cepat.
Anak pertama Vesper segera masuk ke kamarnya dengan tergesa. Menyembunyikan sepasang kaki robot dalam gaun yang ia kenakan.
"Eh, Tante udah bangun? Otong cariin kirain Tante ilang kemana," ucapnya kaget melihat kedatangan Lysa yang langsung mendekati koper dan memasukkan sebuah benda ke dalam.
"Apa itu, Tante?" tanya Otong penasaran.
"Oh, salah satu senjata Tante. Harus disimpan biar gak dimaling orang," jawabnya santai berkesan bercanda.
Otong tertawa. Tak lama, King D bangun dan langsung duduk meski matanya masih terpejam. Otong dan Lysa tertawa karena balita itu terlihat menggemaskan.
"Mimi, pony," ucapnya tiba-tiba.
"Pony? Oh iya. Pony di mansion sendirian dan gak ada yang jaga. Aduh," sahut Lysa panik dan baru teringat akan keledai kecil itu.
"Pony ... hiks, Pony, Mimi ...," ucap King D langsung menangis teringat akan hewan peliharaannya.
Lysa langsung menghampiri dan menggendongnya. Ternyata, tangisan King D membangunkan penghuni mansion.
CEKLEK!
"D?" panggil Tobias langsung membuka pintu mencari keberadaan anaknya.
"Pipi, Pony, hiks ... Where is Pony?" tanyanya sedih dengan kedua tangan minta digendong.
Tobias langsung mendekati dan mengambil King D dari gendongan Lysa.
"Pony? You miss Pony?" tanya Tobias menatap wajah anaknya seksama dan King D mengangguk dengan air mata.
Tobias mengeluarkan ponselnya. Lysa menatap layar ponsel itu di mana terlihat Pony sedang asyik makan rumput di halaman tengah mansion.
"Waa, Pony is eating. Nyam ... nyam," ucapnya imut.
"Yes. How about you? Hungry? Let's have breakfast together," tanya Tobias sembari menekan perut King D dengan telunjuknya.
Balita itu tertawa dan Tobias menciuminya gemas. Lysa memalingkan wajah. Entah kenapa hatinya menjadi sakit ketika melihat kedekatan Tobias dengan King D.
Lysa sangat berharap jika itu adalah Javier. Namun, perbuatan Javier kembali membuatnya sakit hati tiap mengingatnya.
Lysa berusaha menenangkan hatinya yang kembali kalut akan dilema rumah tangganya.
"Aku tunggu di bawah," ucap Tobias dan Lysa mengangguk, memunggungi Tobias.
Lelaki bertato itu menatap Lysa yang enggan melihatnya. Tobias menggendong King D dengan Otong ikut bersamanya keluar kamar.
Cukup lama Lysa di kamar menyendiri karena ia tak ingin bergabung bersama yang lain.
TOK! TOK! TOK!
Lysa mendatangi pintu dan mengintip dari lubang atas. Ia menarik nafas dalam mencoba untuk tenang.
CEKLEK!
"Hai. Good morning. Aku hanya ingin memberitahu jika Jonathan dalam perjalanan pulang. Mungkin kau mau menyambutnya?" tanya Sierra gugup.
Lysa menatap Sierra tajam dan malah memintanya masuk ke dalam kamar. Sierra mengangguk pelan dan mengarahkan kursi rodanya ke dalam. Lysa menutup pintu.
"Aku tak suka basa-basi. Jadi jawab pertanyaanku. Jangan berbohong," ucap Lysa tegas berdiri di depan gadis cantik itu dan Sierra mengangguk.
"Apa kau lumpuh?"
Sierra tertegun dengan pertanyaan Lysa yang cukup mengguncang hatinya, tapi ia mengangguk.
"Kenapa kau lumpuh?"
"Sejak lahir. Aku lumpuh layu," jawabnya tertunduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
"Adikku pernah bercerita jika kau bisa berjalan. Apa kau mencoba menipu kami?"
Sierra langsung menaikkan pandangan. Ia menggeleng dengan cepat. Lysa menyipitkan mata.
"Tidak seperti itu. Sebenarnya ... aku menggunakan penopang kaki agar aku bisa berdiri. Kaki itu bisa digerakkan menggunakan pengendali dari jarak jauh. Saat aku bertemu Sandara, Tuan Miles yang mengendalikannya. Hanya saja, Tuan Miles sudah meninggal. Dia satu-satunya orang yang tahu cerita masa laluku," jawab Sierra terlihat sedih.
Lysa diam menatap Sierra yang terlihat jujur menjawab pertanyaannya.
"Kau ... apa kau kekasih ayahku, Tobias?" tanya Sierra.
Lysa terkejut dan menggeleng. Sierra mengangguk pelan.
"King D anakmu?" tanyanya lagi yang kini malah berbalik menginterogasinya.
Lysa mengangguk.
"Lalu ... di mana ayahnya?"
Lysa mengembuskan nafas keras.
"Kami bercerai karena ulah ayahmu. Puas?" jawab Lysa ketus.
"Kenapa kau menyalahkan ayahku?"
Lysa menggertakkan giginya terlihat kesal karena Sierra terus bertanya. Hingga tiba-tiba, terdengar suara klakson mobil di luar gerbang.
Lysa mendekati jendela untuk melihat kebisingan yang terjadi di luar di mana terdengar seperti orang berdebat.
"Ada apa?" tanya Sierra bingung mendekat ke arah Lysa.
Namun, Lysa tak menjawab dan malah meninggalkan Sierra. Lysa menuruni tangga dengan cepat dan langsung menuju ke pintu utama.
"Lysa!"
"Javier? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau bisa tahu tempat ini?" tanya Lysa gugup.
"Aku datang menjemputmu. Di sini tak aman, Lysa. Katanya Jonathan terluka. Ada yang berusaha membunuhnya. Aku belum memberitahukan hal ini pada ibunda Ratu karena tak ingin ada masalah. Jadi, pulanglah bersamaku," ucapnya dari balik jeruji besi.
KRAKK!
"Hiks, Tante."
"Otong!" pekik Lysa saat anak lelaki Eko dipegangi kuat baju belakangnya oleh pion Diego.
Pion Dexter membanting sebuah ponsel dan menginjaknya. Obama Otong menangis sesenggukan terlihat takut.
"Ponsel siapa? Apa yang kau lakukan pada Otong? Lepaskan dia!" teriak Lysa lantang dengan mata melotot.
"Mantan suamimu licik, Lysa. Dia menggunakan bocah kecil ini sebagai mata-mata selama dia tak ada diantara kalian," jawab Daido tersenyum licik.
Lysa menoleh dan menatap Javier tajam. Sang Pangeran Padang Pasir hanya bisa diam dan menatap wajah Lysa dengan sendu.
"Aku yang menghubunginya semalam saat para pengawal Sierra tertidur ketika menjagaku," sahut Jonathan keluar dari mobil dengan sebuah tongkat penyangga di lengannya.
"Nathan?!" pekik Lysa kaget karena adik lelakinya terlihat berantakan dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Lysa panik menatap Jonathan yang mendapat luka lebam di wajah dan kepala terbalut perban.
"Tobias menghajarku dan Sierra mencoba membunuhku," jawabnya ketus.
"Itu tidak benar! Bukan aku pelakunya, tapi ...."
"Bla ... bla ... bla ... teruslah mengoceh Sierra bla bla Flame. Hutangku padamu sudah lunas. Aku tak memiliki urusan apapun lagi denganmu. Terima kasih. Sikapmu sudah menyadarkanku. Aku saja yang terlalu naif dan terus berpikir kau mengharapkanku. Ternyata ... sudahlah. Ayo pulang, Kak," ucap Jonathan mencibir.
Sierra membungkam mulutnya. Ia terlihat begitu terpukul akan ucapan Jonathan yang menyakiti hatinya.
Sauqi segera memapah Jonathan masuk ke mobil. Obama Otong dilepaskan. Pintu gerbang dibuka dan anak lelaki itu segera berlari mendatangi Javier lalu memeluknya.
"Sudahlah. Jangan menangis. Om akan mengantarkanmu pulang," ucap Javier sembari menghapus air mata di wajah anak lelaki Eko dan Otong mengangguk cepat.
Lysa merasa jika ia sudah tak ada urusan lagi di tempat itu. Lucy dan Yohanes keluar dari mansion mendekati Lysa.
"Kita pulang. Bawa semua perlengkapan dan segera masukkan ke mobil Javier," perintah Lysa dan dua orang itu mengangguk cepat.
"Kau tak bisa pergi dari sini!" teriak Tobias lantang dengan King D dalam gandengannya.
"Kembalikan anakku, Tobias," ucap Lysa lantang.
"No."
"Kita sudah membuat kesepakatan baru!" jawab Lysa lantang.
"Dalam perjanjian tak ada nama Javier di sana! Hanya ada kau, aku dan King D!" sahut Tobias berteriak.
"Baba ... Baba ...," panggil King D melangkah untuk mendekati Javier, tapi Tobias menariknya.
Javier tertegun.
"Baba ... hiks, Baba ...," tangis King D saat Tobias menggendongnya dan mendekap tubuhnya.
"Lepaskan anakku! Kau bukan Ayahnya! Sudah cukup kau bertindak seenaknya pada keluargaku, Tobias!" teriak Javier lantang melangkah memasuki gerbang.
"Berani kau mendekat, satu peluru akan bersarang di tubuhmu," ucap Tobias lantang menunjuknya.
Javier dan Lysa terkejut mendengar penuturan Tobias. Mata Javier menyipit. Ia tetap melangkah dengan sorot mata tajam ke arah anaknya yang terus memanggil namanya hingga air matanya menetes.
Sierra terlihat kebingungan dalam bersikap. Pandangan Lysa terus berganti dari Tobias ke Javier dan terus seperti itu. Lysa panik.
"King D. Ayo, ikut Baba pulang," ucap Javier mengulurkan tangan dengan senyum terkembang ke arah anaknya.
DOR!
"JAVIER!" teriak Lysa panik saat Tobias mengeluarkan pistol dari balik pinggang, menembak dada Javier dan pria itu mundur ke belakang beberapa langkah.
"Daddy," lirih Sierra tertegun sampai tubuhnya bergetar.
King D semakin menangis histeris.
"DIAM! DIAM!" teriak Tobias ke wajah King D yang menangis di pelukannya.
"Jangan meneriaki anakku!" balas Javier berteriak.
DOR! BRUKK!
"ARGH!"
"Javier! Tobias stop!" teriak Lysa lantang melihat Javier jatuh berlutut saat kakinya ditembak dan terlihat, pria itu berusaha untuk bertahan.
"Demi Allah, Tobias. Hentikan! Berikan King D padaku! Kau bukan Ayahnya dan kau sadar itu! Lebih baik kau urus Sierra yang jelas-jelas darah dagingmu! Gunakan waktumu untuk menemukan anak-anakmu, bukan dengan mengambil anak yang bukan milikmu!" ucap Lysa lantang.
Tobias tertegun dan menatap Lysa tajam. Pandangan Tobias tak menentu. Ia menurunkan King D perlahan dan balita itu menangis sedih.
Lysa segera mendatangi King D dan menggendongnya, menjauh dari Tobias.
Sauqi membantu Javier berdiri di mana sang Sultan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang terkena luka tembak meski tak membunuhnya karena tak mengenai organ vital.
Lucy dan Yohanes keluar membawa koper. Anak buah Javier segera membuka bagasi mobil dan memasukkan empat koper tersebut. Lysa berpaling pergi dengan King D dalam gendongannya.
"Toby. Kita akan biarkan mereka pergi?" tanya pion Dakota siap dengan pistol di balik pinggang.
"Biarkan saja," jawabnya terlihat sedih dan hanya bisa berdiri saat mobil yang membawa dua orang terkasihnya pergi meninggalkan mansion.
"Dad ...," panggil Sierra ikut bersedih karena Jonathan kini membencinya.
Suasana di tempat itu hening seketika. Tobias kembali masuk ke mansion dengan jalan terhuyung terlihat begitu terpukul. Sierra menatap Ayahnya yang tak pernah sesedih itu.
"Nona. Di luar dingin. Masuklah ke dalam," ucap pion Damian mendekatinya.
"Smiley. Ini semua gara-gara dia. Akan kubuat perhitungan dengannya," ucap Sierra geram dan semua orang yang mendengar terlihat kaget seketika.
***
Panjang nih epsnya. Trims tipsnya jeng Sarita & Salma😘 Dobel eps utk hari ini dan besok.
Happy weekend 💋💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
❀ 𝕽𝖆𝖈𝖍𝖊𝖑 𝕬𝖑𝖉𝖎𝖓 ❀
𝖇𝖆𝖈𝖆
2021-10-17
0
🚫 caps lock
like ceritamu ajuuuuu
2021-09-16
0
hmd
🧡🧡🧡🧡🧡🧡💚
2021-09-06
0