Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Akhirnya ... setelah sekian lama. Aku menemukanmu, Sierra. Hai, kita bertemu lagi," ucap Jonathan dengan senyum terkembang diliputi kebahagiaan.
"Kau ... siapa?"
DEG!
Senyum Jonathan sirna seketika. Matanya bergerak tak beraturan. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Rasa sesak menyelimuti hatinya.
"A-aku Jonathan. Jonathan Benedict. Kau ... tak ingat padaku?" tanyanya tergagap terlihat sedih.
Namun, gadis cantik itu menggeleng. Jonathan terlihat shock seketika. Nafasnya tersengal, terlihat begitu sedih dan kecewa.
"Kau tak mengingatku? Jangan bercanda, Sierra! Aku mencarimu selama bertahun-tahun karena menyesal sudah menolakmu saat itu! Apa kau balas dendam padaku dengan mengatakan hal konyol seperti ini, hah?!" teriak Jonathan tersulut emosi menunjuk Sierra dengan mata berlinang.
Sierra terlihat bingung. Para bodyguard yang berada di sekitar Sierra segera mengamankannya.
"Pergi dari sini! Nona Sierra tak mengenalmu," ucap salah seorang bodyguard menarik tangan Jonathan.
BUAKK!! BRUKK!!
Sierra terkejut termasuk Tobias dan rombongannya. Mereka segera mendekati Jonathan yang memukuli para lelaki di sekitarnya dengan membabi buta.
Sierra terlihat ketakutan. Ia menggerakkan kursi rodanya melarikan diri dari perkelahian itu.
"Berhenti! Sierra Valdiscanosafariva Imelda Flame! Kau tak kuuizikan pergi! Kembali ke sini!" teriak Jonathan lantang dengan nafas tersengal menunjuk tubuh Sierra yang membelakanginya.
Sierra terlihat ketakutan saat ia mendengar suara langkah kaki dan nafas tersengal mendekatinya penuh emosi.
Sierra tetap melajukan kursi roda elektriknya dengan panik. Jonathan mengejarnya dengan nafas menderu.
GRAB!!
"Ahh," rintih Sierra saat kursi rodanya ditarik dan tangannya dipegang kuat oleh Jonathan.
Sierra ketakutan ketika Jonathan menatapnya tajam dengan berlinang air mata.
"Kau melupakanku? Apa karena kau kecewa padaku saat itu?" tanya Jonathan yang pada akhirnya meneteskan air mata tak bisa menahan kesedihannya lagi.
Sierra menatap wajah Jonathan seksama dengan gugup. Jonathan terlihat begitu sedih. Air matanya tak berhenti menetes.
Namun perlahan, Jonathan melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Sierra perlahan.
Jonathan kembali berdiri tegak dan mengambil sebuah buku dalam saku jas terdalamnya.
BRUKK!
Sierra menatap buku itu seksama yang dijatuhkan Jonathan tepat di bawah kakinya.
"Apakah semua isi dari buku itu sebuah kebohongan?" tanya Jonathan menunjuk buku itu.
Sierra tak bisa menjawab dan terlihat bingung akan hal ini.
"JAWAB, SIERRA! KAU PUNYA MULUT UNTUK BICARA!" teriak Jonathan lantang di depan wajah gadis cantik itu sampai wajahnya memerah.
Sierra terkejut dan terlihat takut akan sikap Jonathan padanya.
"Jonathan enough!" teriak Tobias mendatangi dan menariknya menjauh dari tubuh gadis cantik yang gemetaran itu.
GRAB!
"Kau apakan dia, hah? Kau pasti sengaja melakukannya! Kau membohongiku! Semua orang The Circle adalah pendusta!" teriak Jonathan lantang mencengkeram kuat jas Tobias dan melotot tajam padanya penuh kebencian.
Tobias mendorong dada Jonathan kuat hingga cengkeramannya terlepas. Semua orang terlihat tegang seketika.
Jonathan yang diliputi kesedihan, kekecewaan yang mendalam dan amarah, melampiaskannya dengan berkelahi dengan Tobias.
Semua orang terkejut. Aksi saling pukul pun terjadi. Namun, orang-orang tak bisa melerainya. Baik Jonathan ataupun Tobias tak mau mengalah.
"Stop! Stop! Daddy!" teriak Sierra ikut menangis melihat Ayahnya dipukuli Jonathan sampai wajahnya berdarah dan menghancurkan pot-pot di sana.
"Stop! Berhenti menyakiti Ayahku!"
Praktis, mata Jonathan terbelalak dan ia berdiri mematung seketika menoleh ke arah Sierra.
BUAK!! PRANGG!!
BRUKK!!
"JONATHAN!" panggil Click and Clack segera mendatangi anak ketiga Vesper yang pingsan karena dipukul oleh Tobias dengan sebuah pot mengenai kepalanya.
Jonathan langsung dibopong dan dibawa masuk. Sierra terlihat ketakutan dan bingung dengan kondisi ini.
Tobias melemparkan sisa pecahan pot dan mendatangi Sierra sembari mengelap tangannya dengan sapu tangan dalam saku.
"Dad," panggil Sierra memeluk lelaki bertato yang babak belur karena pukulan kuat Jonathan.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Ada yang ingin kukatakan padaku tentang pria itu," ucap Tobias pelan dan Sierra melepaskan pelukan di perut Tobias perlahan.
"Apa itu?" tanya Sierra menatapnya lekat dan Tobias tersenyum tipis membalasnya.
Malam hari. Di sebuah ruangan di mana Jonathan terbaring lemas dengan perban melilit kepalanya yang terluka.
"Agh, sakit," rintih anak ketiga Vesper saat tersadar sembari memegangi kepalanya.
"Nathan. Bagaimana? Apa kau merasakan mual? Sakit kepala berlebih?" tanya Clack langsung mendatanginya.
Jonathan masih memejamkan mata dengan anggukan kepala. Click and Clack saling berpandangan terlihat cemas.
Perlahan Jonathan membuka matanya. Wajahnya kembali sendu terlihat sedih.
"Tapi ... yang di sini rasanya lebih sakit," ucapnya memegangi dadanya erat.
Click and Clack tak bisa berkomentar. Mereka hanya bisa menghela nafas pelan dan tetap duduk menjaganya.
Tiba-tiba, CEKLEK!
Jonathan langsung memalingkan wajah terlihat enggan melihat tamu yang menjenguknya.
"Kita pulang. Nathan udah gak ada urusan lagi di sini," jawabnya malas.
Dua bodyguard bertubuh besar itu mengangguk paham. Saat mereka akan membangunkan Jonathan, Sierra memberikan kode dengan lambaian tangannya. Dua orang itu terdiam seketika dan keluar dari ruangan.
Jonathan bingung dan terkejut saat Sierra mendatanginya dengan kursi roda elektrik perlahan.
Jonathan langsung memejamkan mata dan malah menutup tubuhnya dengan selimut hingga tak terlihat.
Sierra tersenyum tipis melihat sikap Jonathan yang baginya cukup lucu tak menyeramkan seperti tadi. Ia memposisikan dirinya ke tubuh Jonathan yang menghadap ke sisi kiri.
"Nathan ...," panggilnya lirih.
"Nathan kecewa sama kamu! Sierra keterlaluan! Nathan sakit hati. Pokoknya gak mau ngomong sama kamu!" jawabnya dari balik selimut.
Sierra yang menggunakan earphone translator pemberian Tobias tersenyum tipis. Ia mengerti yang Jonathan ucapkan.
"Kakakku itu lucu. Dia tampan dan sangat mencintaimu, Sierra. Aku tinggalkan fotonya untukmu jika suatu saat nanti kau lupa padanya," ucap Sierra pelan dan Jonathan mengintip dari balik selimut.
Ia melihat Sierra membaca sebuah buku berwarna merah muda dalam genggaman. Jonathan menatap Sierra seksama yang membalik lembar dalam buku itu dan kembali membacanya.
"Namanya Jonathan Benedict. Ia selama ini mencarimu dan aku sangat yakin jika ia sama kecewanya denganku ketika mengetahui kau menikah dengan Afro," ucapnya pelan dengan wajah sendu.
Jonathan mulai menurunkan selimutnya dan kini wajahnya sudah sepenuhnya terlihat.
"Aku tinggalkan catatan ini sebagai pengingat untukmu, Sierra. Aku merasa jika kau juga akan melupakanku dan Afro juga," ucap Sierra dengan kening berkerut.
Jonathan terlihat bingung dan mulai duduk perlahan, menyender pada sandaran kasur.
"Maaf, bukan bermaksud menguping, tapi aku dengar jika kau sangat ingin bisa berjalan kembali. Kau menjalani pengobatan yang menyakitkan dan itu mempengaruhi syaraf di otakmu. Sesungguhnya, kau tak perlu melakukannya. Aku tahu tujuanmu agar bisa berjalan dan bersanding dengan kakakku, Jonathan. Selama ini kau merasa tak pantas karena lumpuh. Hentikan, kau tak perlu melakukannya. Kakakku, mencintaimu apa adanya. Percaya padaku. Sandara Liu."
Mata Jonathan terbelalak. Ia merebut buku itu dan membacanya seksama. Anak ketiga Vesper itu tak percaya jika tulisan tangan tersebut sungguh tulisan asli Sandara.
Jonathan mencoba mengingat kembali tanggal yang tertera pada buku itu.
"Ini kalau gak salah ... Oh! Pas Dara dibawa Afro saat itu!" pekiknya teringat akan kejadian beberapa tahun silam saat ia membiarkan Sandara pergi dengan Afro menggunakan helikopter dan malah menembak kaki Jordan.
Jantung Jonathan berdebar kencang. Ia tak menyangka jika Sandara akan bertemu Sierra.
Jonathan menatap Sierra yang memandanginya dengan wajah sendu. Jonathan memegang buku peninggalan Sandara erat.
"Kau 'kah, Jonathan Benedict itu? Lelaki yang pernah menolakku?" tanya Sierra sedih.
Jonathan tertunduk dan mengangguk pelan.
"Kenapa kau kembali? Kenapa kau mencariku?" tanya Sierra menekan.
"Minta maaf, apa lagi?! Aku ... menyesal. Hanya saja, sungguh, hal itu memang sangat tak mungkin karena kita dari kelompok yang berbeda. Namun, entahlah jika sekarang," jawab Jonathan memandangi telapak tangannya yang memiliki tanda penerus Lucifer Flame.
Sierra menatap Jonathan seksama entah apa yang dipikirkannya. Jonathan masih diam tertunduk meraba telapak tangannya perlahan.
"Sudahlah. Setidaknya kini kau tahu jika selama ini ... aku mencarimu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan aku menyesal. Maaf, sudah membuatmu kecewa saat itu, tapi ... kau sudah lupa 'kan? Jangan dipikirkan. Anggap saja aku ini hanya aktor yang numpang lewat," ucap Jonathan sembari menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Sierra menatap Jonathan yang berjalan gontai melewatinya begitu saja sembari membawa buku catatan peninggalan Sandara.
Sierra terlihat kebingungan dan panik. Ia segera memutar kursi rodanya dan berusaha mengejar Jonathan, tapi anak ketiga Vesper sudah menutup pintunya.
"Jonathan! Wait!" panggil Sierra lantang.
Ia melihat dari balik jendela kamar jika Jonathan tetap melangkah meninggalkannya dengan pandangan tertunduk.
***
Uhuy! Maksih tipsnya. Banyak uyy😍
Lele padamu Abee 💋💋💋
Kalo lele waras kudunya tar bisa up lagi jam 8 malam. Doakan saja😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
nur jannah
apakah hanya aku yg bingung. dimanakah cerita ine le...
2022-07-30
1
Dhesy Silver Liu
#
2022-01-10
1
hmd
💚💚💚💚💚💚🧡
2021-09-06
1