Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku Indonesia campuran.
"Welcome, Prince Jonathan," sapa Tobias menyambut kedatangan anak ketiga Vesper dengan rentangan tangan dan senyum iblisnya.
"Wow! Kau ... To-Tobias? Hish, kenapa dateng-dateng disambut sama wajah kaya setan gini sih? Mana cewek cakepnya?" keluh Jonathan yang kaget karena kemunculan Tobias yang tak disangka.
"Ha? What did you say?" tanya Tobias bingung.
Tiba-tiba, Tobias melangkah mundur terlihat kaget ketika muncul dua orang dari dalam mobil mendekati Jonathan dan kini berdiri di belakangnya bertolak pinggang.
"Kenapa kalian di sini?!" pekik Tobias menunjuk dua lelaki besar berkepala gundul.
"Oh, kau kenal sama dua orang ini? Oia, kalian 'kan satu perguruan ya, The Circle maksudnya. Eh, dia udah tahu belum sih?" tanya Jonathan bertanya pada dua orang di belakangnya.
Dua lelaki gundul yang memakai alat translator di salah satu telinganya menggeleng pelan. Jonathan terlihat gembira dan bertepuk tangan.
Ia lalu merogoh salah satu sakunya dan melemparkan sebuah benda ke arah Tobias. Dengan cepat, lelaki bertato itu menangkapnya dengan satu tangan. Ia melihat benda itu seksama dan melirik Jonathan di kejauhan.
"Use it, then you'll understand what I'm saying," ucap Jonathan menunjuk benda seperti earphone di tangan Tobias.
Lelaki itu lalu memakainya dengan ragu di salah satu telinganya.
"Tes, tes, hallo! Tobias! Sekarang udah ngerti belum, Nathan bilang apa?" tanya Jonathan lantang di kejauhan.
Tobias terkejut karena alat translator itu bisa menerjemahkan dengan baik ke bahasa Inggris cukup cepat. Tobias mengangguk lugu. Jonathan tersenyum.
Tak lama, muncul Lucy dan Yohanes dari mobil yang ada di belakangnya. Mata Tobias menyipit saat dua orang itu ikut mendekati Jonathan.
"Apa Lysa yang memanggilmu kemari?" tanya Tobias memasukkan kedua tangan di saku celana.
"Mama lebih tepatnya, eh Vesper," jawab Jonathan santai.
Tobias mengangguk pelan. Jonathan melihat sekitar dan melirik di salah satu jendela yang kini di tempati oleh Lysa, King D serta Otong. Tobias menatap Jonathan seksama seperti menyadari sesuatu.
"Ada yang ingin kubicarakan, tapi mereka tak boleh terlibat. Hanya kau dan aku," ucap Tobias tegas menunjuknya dan Jonathan mengangguk pelan.
Namun, ketika Jonathan akan melangkah, salah satu lelaki yang memiliki tato di lengannya memegang bahu Jonathan kuat. Jonathan menoleh seketika.
"Dia licik dan penuh tipu daya. Pastikan kau baca seribu kali perjanjian itu karena pasti ada jebakan dalam tiap kalimatnya," ucap lelaki bertubuh besar menatap Jonathan seksama.
"YOU! JANGAN IKUT CAMPUR, CLACK!" teriak Tobias lantang menunjuknya.
Lelaki bernama Clack langsung berjalan dengan langkah besar mendatangi Tobias seperti siap untuk menghajarnya, begitupula lelaki berkepala gundul lainnya.
Tobias terlihat takut dan melangkah mundur dengan cepat. Namun, para pion D dengan segera keluar dari tempat persembunyian dan menodongkan moncong senapan ke tubuh dua lelaki besar itu.
"Wow! Wow! Hei, hei ... kalian saling bertikai? Ish, sudahlah. Kalian kini harus akur. Kalian semua sudah di bawah kepemimpinanku dan Nathan gak mau ada keributan dalam kelompok baru The Circle," ucap Jonathan langsung berdiri di tengah-tengah.
"Wait, what? Apa katamu? Kepemimpinanmu? Hah, kau pemimpin The Circle?" kekeh Tobias menunjuknya.
Jonathan menghela nafas. Ia lalu melepaskan sarung tangan hitamnya dan menunjukkan bekas luka di telapak tangannya.
Mata Tobias dan para pion D melebar seketika. Mereka terkejut dan saling memandang meski moncong senapan masih diarahkan ke tubuh dua lelaki besar itu.
"Kau dapat dari mana?" tanya Tobias terlihat panik.
"Akan aku ceritakan, tapi berjanjilah kalian gak saling pukul, oke? Suer? Janji kelingking," ucap Jonathan menunjuk tiga orang itu bergantian.
"Janji kelingking? Apa itu?" tanya Click bingung.
Jonathan mendesah malas. Ia pun menunjukkan caranya kepada Click dengan melakukan janji kelingking pada Tobias.
Orang-orang hanya saling berkedip melihat yang Jonathan lakukan dengan senyum merekah.
"Aku tak mau melakukannya. Kekanak-kanakan. Kau bisa pegang janjiku jika aku tak akan membunuh mereka," sahut Clack dan Jonathan akhirnya mengangguk pasrah.
Rombongan Jonathan masuk ke dalam rumah dengan penjagaan ketat dari para pion D. Namun, pion Dexter dan Damian meminta kunci mobil keduanya karena kendaraan itu harus disembunyikan.
Click dan Yohanes memberikan pada mereka berdua meski terlihat ragu. Terlihat, Jonathan memandangi sekeliling dengan wajah sendu seperti memikirkan sesuatu.
"Memiliki kenangan dengan tempat ini, Jonathan?" tanya Tobias yang berjalan di sampingnya.
"Yes. Singkat, tapi melekat kuat di pikiranku, bahkan sampai saat ini," jawabnya memegangi dadanya dengan wajah sendu.
Tobias diam saja dan terus melangkah. Ia mengajak Jonathan untuk masuk ke dalam ruang kerja, tempat ia melakukan kesepakatan baru dengan Lysa sebelumnya.
"Masuklah," ajak Tobias sembari membuka pintu dan Jonathan mengangguk pelan.
Click and Clack menunggu di luar pintu dengan wajah garang menatap para pion D yang masih mengarahkan moncong senapan ke tubuh mereka.
"Eh, itu ... kuda? Anak kuda?" tanya Lucy saat melihat keledai milik King D sedang duduk setelah puas menikmati sarapan rumput liarnya.
Senyum Lucy merekah saat membelai kepala hewan tersebut. Yohanes ikut duduk di samping Lucy sembari mengelus tubuh keledai lucu itu dan ikut tersenyum.
Di dalam ruang kerja Tobias.
"Mau ngomong apa, Bang Toby?" tanya Jonathan sembari merapatkan jasnya.
Ia duduk perlahan di kursi depan meja kerja, sedang Tobias duduk di kursi kebesarannya. Tobias menatap Jonathan seksama terlihat serius. Jonathan diam menatap Tobias dengan wajah lugu.
"Ceritakan padaku tentang logo di telapak tanganmu itu," pinta Tobias terlihat serius.
Jonathan menarik nafas dalam dan mulai bercerita dari awal ia menemukannya di gua sampai ia terlibat pertempuran dengan Madam yang pada akhirnya, ia diakui sebagai pemimpin The Circle dengan penuh dramatisasi. Tobias mendengarkan dengan seksama.
"Click and Clack kini menjadi bodyguard-mu?" tanya Tobias setelah Jonathan semangat bercerita satu jam lamanya.
"Yah, teknisnya sih gitu," jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Nafas Tobias menderu. Jonathan merasa jika lelaki bertato berwajah seram di hadapannya ini seperti akan mengamuk dan benar saja.
BRAKK!!
"Wow!" pekik Jonathan kaget saat Tobias menggebrak meja dan kini menarik dasi yang dipakainya hingga wajahnya terpepet dengan wajah lelaki bertato itu. Jonathan menelan ludah.
"Kau, merebut, apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Tobias geram.
"Memang apa milikmu? The Circle?" tanya Jonathan gugup.
"Yes," ucapnya mendesis.
Jonathan sampai tak bisa mengedipkan mata dan ia merasa terintimidasi dengan sikap Tobias padanya.
Jantung Jonathan berdebar kencang tak karuan dan membuatnya seperti terkena asthma seketika.
"Ki-kita bicarakan dengan baik-baik, Bang Toby," ucap Jonathan sampai tergagap di mana kedua matanya masih ditatap tajam oleh lelaki bertato itu.
"Kupotong tangamu demi tanda itu."
"Hei!" sahut Jonathan langsung mendorong bahu Tobias kuat hingga lelaki itu kembali duduk di kursinya dan cengkeraman di dasi terlepas.
"Ya, ya, oke, oke. Nathan paham kalau Bang Toby pasti marah karena ... udah lama ngincer posisi ini. Nathan paham, tapi gimana ya? Nathan udah resmi dan diakui semua orang. Gak bisa main pindah kekuasaan gitu," jawab Jonathan mencoba menjelaskan dengan panik.
"Berikan kekuasaan The Circle padaku dan ... akan kuberikan apa yang selama ini kau cari. Aku yakin, kau tak mungkin menolaknya," ucap Tobias serius.
"Heh. Jangan sok tau. Emang Bang Toby tahu apa yang Nathan mau? Tebakan salah, kesepakatan gagal," jawabnya kesal.
Tobias menyeringai. Ia mengulurkan tangan mengajak Jonathan berjabat tangan, tapi Jonathan enggan melakukannya.
"Apa dulu? Jangan curang ya," tunjuknya tegas ke wajah Tobias yang kini mencondongkan tubuhnya di hadapan Jonathan.
"Sierra."
Jonathan diam sejenak, tapi pada akhirnya tertawa terbahak. Kening Tobias berkerut.
"Apa yang lucu?" tanya Tobias heran masih dalam posisinya.
"Heh, Bang Toby orang kesekian yang menjanjikan Sierra bla bla Flame padaku. Semua orang yang mengatakan itu tak pernah menepati janjinya dan beberapa dari mereka mati. Nathan gak percaya dan gak mau menerima kesepakatan itu. Lupakan saja," jawab Jonathan melipat kedua tangan di depan dada.
Tobias menyeringai. "Jika aku bisa mempertemukanmu dengannya, kau akan memberikan kekuasaan The Circle padaku?"
Jonathan mendesah malas, tapi ia mengangguk.
"Deal. Kalau begitu, menginaplah. Besok kita akan menemui Sierra," ucap Tobias tersenyum lebar.
Jonathan melirik Tobias dengan wajah datar terlihat ragu dengan ucapannya. Tobias lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. Jonathan beranjak dari kursinya dan keluar dengan malas.
"Nathan? Apa yang kau lakukan dengannya? Kalian membuat kesepakatan?" tanya Lysa yang ternyata sudah menunggu mereka sedari tadi di luar pintu ruang kerja.
"Mm, nggak, cuma ngobrol aja. Bang Toby cuma mau tanya tentang tanda di tangan Nathan doang," jawabnya santai sembari menunjukkan telapak tangannya.
"Bang Toby?" tanya Lysa dengan kening berkerut.
"Daripada Bang Toyib," sahutnya cuek.
Lysa mendesah dengan senyuman di wajahnya. Jonathan meringis sembari berjalan melewati para pion D yang meliriknya tajam.
Tobias menatap Jonathan yang berjalan dengan santai melewati orang-orangnya dan dua lelaki bertubuh besar yang kini menjadi bodyguard-nya mengikuti di belakang.
"Kita pergi sekarang?" tanya Lysa ikut berjalan di samping Jonathan.
Anak ketiga Vesper langsung menghentikan langkah. Ia menoleh dan menatap wajah Kakaknya seksama yang terlihat menaruh harap.
"Mm, Nathan capek, Kak. Nginep boleh ya? Nathan juga laper sampai gak jadi sarapan loh tadi gegara ditelpon sama Mama," jawabnya memelas.
Lysa mendesah pelan dan mengangguk.
"Tapi, semua kamar kotor, Om Nathan," sahut Otong.
"Bersihin dong," balas Jonathan menatap Obama Otong dengan kedua tangan dalam saku.
"Boleh, tapi bagi duitnya," ucapnya dengan tangan menengadah dengan senyum penuh maksud.
"Hish, kecil-kecil mata duitan. Hem, minta sama Tante Lucy. Sejuta cukup ya," jawabnya malas dan Obama Otong mengangguk senang.
Lysa tak percaya jika Otong malah senang disuruh-suruh dengan imbalan uang.
Namun lagi-lagi, Lysa tak tega membiarkan anak lelaki itu melakukannya sendirian. Ia ikut membantunya bersama Yohanes dan Lucy membersihkan dua buah kamar untuk tempat istirahat mereka malam ini.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
Makasih tipsnya. Cuma kayaknya jumat gak dobel eps karena gak ada tipsnya😆
Itu aja info dari lele dan tengkiyuw💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
Maryani Ani
yg penting duit y Otong semu beres jadi apa aja
2022-01-23
0
hmd
💚💚💚💚💚🧡
2021-09-06
0
Felisyah
lancar y si otong..
😅😅😅😅😅
2021-09-03
0