ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
MODEL : Gak tau tapi ganteng😆
---- back to Story :
"Mm, Mimi," panggil King D yang terbangun dari tidurnya dan mendorong pintu yang sudah terbuka sedikit itu sembari mengucek mata.
Lysa dan Tobias terkejut melihat kedatangan King D yang berjalan terhuyung mendekati keduanya.
Lysa segera meraihnya dan memangku anak lelaki kesayangannya. King D kembali memejamkan mata saat Lysa meninabobokan balita mungil itu dalam dekapannya.
"Aku menyayangi King D meski aku bukan Ayah kandungnya. Aku menyayangi King D karena ia mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Aku bahagia melihat King D disayang oleh banyak orang sepertiku sebelum berubah menjadi lelaki mengerikan ini," ucap Tobias pelan.
Lysa diam sembari mencium kepala anaknya lembut.
"Bagaimana dengan ibumu? Apa dia tahu apa yang terjadi padamu?" tanya Lysa tiba-tiba.
Wajah Tobias berubah seketika. Lysa bisa melihat kemarahan bercampur dengan kesedihan menyelimuti jiwanya.
Tobias mengepalkan kedua tangannya erat seperti akan berteriak, tapi ia tahan karena ada King D di sana. Jantung Lysa kembali berdegup kencang.
"Ibuku mati karena tak tahan melihatku dijadikan budak se*s para wanita itu. Ia depresi dan berulang kali mencoba membawaku kabur, tapi tak berhasil sampai kematian merenggut nyawanya," jawabnya dengan kening berkerut.
Lysa mendekap King D erat yang sudah kembali tidur dengan mata terpejam. Ia melihat Tobias memegangi kepalanya dengan wajah tertunduk yang kembali menangis.
Lysa segera bangun dan berjalan tergesa keluar ruangan sembari menggendong anak lelakinya. Lysa menidurkan King D di kasur perlahan dan menyelimutinya.
Lysa kembali masuk ke ruangan tempat Tobias berada dan menghampirinya. Lysa menarik kedua tangan Tobias dan membuat lelaki itu kembali menatapnya.
Lysa membersihkan noda darah di kedua tangannya. Ia juga mengelap kepala Tobias yang terkena noda darah dengan tisu basah. Tobias diam membiarkan Lysa melakukan banyak hal untuknya.
"Tidurlah, Toby. Ini sudah malam. Temani King D," pinta Lysa sembari memberikan kemeja yang Tobias geletakkan di papan meja rias.
Lelaki bertato itu diam saja dengan pandangan tertunduk. Lysa mengambil inisiatif untuk memakaikannya.
Tobias menurut saat Lysa mengenakan baju itu untuknya sampai mengancingkannya.
"Tidurlah," ucap Lysa lagi memegang lengan Tobias lembut meminta untuk bangun.
Tobias berdiri perlahan dan Lysa memegangi kedua lengannya, mengajaknya kembali ke kamar. Lysa merebahkan Tobias di kasur samping King D.
Saat Lysa akan beranjak, Tobias memegang pergelangan tangan Lysa erat.
"Di sini saja," pintanya lirih.
Lysa bingung dalam bersikap. Tobias masih bersikukuh dengan permintaannya. Pada akhirnya Lysa mengangguk. Ia tidur di samping King D.
Balita menggemaskan itu diapit ayah ibu yang begitu menyayanginya. Tobias merapatkan tubuhnya ke tubuh King D dan tangannya masih memegang pergelangan tangan Lysa erat.
Jantung Lysa berdebar kencang. Ia terlihat gugup karena perlakuan tak biasa dari musuhnya itu.
"Selamat malam, Lysa," ucapnya lirih dan perlahan memejamkan mata.
"Malam, Toby," jawabnya pelan.
Obama Otong yang diam-diam ikut terbangun mengintip di balik pintu. Namun kali ini, ia tak melakukan perekaman. Ia kembali tidur dan menutup dirinya dengan selimut.
"Otong gak mau cepet gede. Jadi orang tua banyak masalah. Otong maunya main terus tiap hari sama King D," gumannya pelan menatap langit-langit kamar.
Keesokan harinya, saat Lysa membuka mata, ia terkejut ketika melihat Tobias sudah tak ada di ranjang yang sama.
Bahkan, King D juga ikut tak ada. Lysa panik dan segera bangun mencari keberadaan anak semata wayangnya dengan jantung berdebar.
Namun, saat Lysa membuka pintu, pikiran buruk lenyap dari dirinya ketika melihat King D menunggangi keledai yang sudah dipakaikan pelana di punggungnya.
Balita lucu itu menunggangi piaraannya di koridor rumah dengan Otong berjalan di sampingnya memegangi tali hewan tersebut. Keduanya terlihat gembira.
Lysa bernafas lega. Ia hampir terkena serangan panik karena berpikir anaknya dibawa pergi Tobias.
Tak lama, muncul pion Darius mendatanginya dengan seragam tempur dan senapan laras panjang dalam genggaman seperti siap berperang.
"Tobias memanggilmu. Perubahan perjanjian," ucapnya tegas dan Lysa mengangguk pelan.
Lysa merapikan pakaiannya dan menyisir rambut dengan jarinya. Ia bahkan bertelanjang kaki dan membiarkan kakinya kotor terkena debu di lantai rumah yang tak terawat itu.
Lysa berjalan berdampingan dengan Darius menuju ke sebuah ruangan yang masih berada di lantai yang sama.
CEKLEK!
"Duduk," pinta Tobias tak menatapnya dan terlihat fokus pada dokumen yang sedang dibaca.
Lysa melangkahkan kaki dan duduk di kursi kerja seperti permintaan Tobias. Pion Darius kembali keluar dan tersisa pion Darwin dan Tobias saja di ruang kerja itu.
"Baca dan tanda tangani," ucap Tobias menyerahkan sebuah map berisi dokumen yang sudah ia tanda tangani dan cap darah.
Lysa menarik dokumen itu dan mendekatkan ke tubuhnya. Kening Lysa berkerut saat membaca isi dari dokumen yang tak ia sangka.
"Apa ini sungguhan? Kau tak sedang mabuk ketika menulisnya 'kan?" tanya Lysa dengan mata terbelalak.
"Baiklah. Akan kuubah lagi semua," jawab Tobias langsung memegang ujung dokumen itu siap diambilnya.
"No! No! Oke, akan aku tanda tangani," sahut Lysa cepat dan segera mengambil pulpen di hadapannya.
Lysa menandatangani dan memberikan darahnya ke kolom persetujuan itu. Lysa menatap isi dari persetujuan baru dengan senyum terkembang.
"Thank you, Toby," ucapnya terlihat terharu.
"Sekarang masak. Kami lapar," pintanya tegas tanpa ekspresi.
Lysa mengangguk dengan senyuman. Ia membawa dokumen itu ke kamarnya dan memotret dengan ponsel miliknya. Ia segera mengirimkan isi perjanjian barunya kepada ibunya.
Lysa kembali menatap isi dokumen itu dengan seksama, membacanya ulang karena ia khawatir ada poin yang terlewat karena ia terlalu senang ketika merasakan kebebasan dari Tobias.
Namun tak lama, ponsel Lysa berdering. Vesper menghubunginya dan dengan segera, Lysa menerimanya.
"Mah," jawab Lysa sumringah.
"Benarkah? Tobias membebaskan King D? Ia kini bisa tinggal bersama kita?" tanya Vesper setelah membaca dokumen kiriman Lysa beberapa menit yang lalu.
"Ya, Mah. Aku belum menanyakan detail isi perjanjian ini padanya. Namun aku merasa, tak ada ancaman di balik perjanjian yang dirombak ini. Apa kau berpikiran sama?" tanya Lysa dengan jantung berdebar.
"Ya. Aku merasa juga demikian. Oh, syukurlah. Kau di mana, Mama akan menjemputmu," tanyanya cepat.
"Kau ... tak bisa melacakku?" tanya Lysa lugu.
"Mama sedang berada di tengah sawah. Ini ponsel bisnis. Jika kau menghubungiku dengan ponsel dewan atau GIGA, aku bisa melacakmu!" jawab Vesper langsung garang.
Lysa terkekeh.
"Aku akan meminta Jonathan untuk menjemputmu. Kalau tidak salah, ia sedang berada di Paris untuk meresmikan ...."
"Oh, benarkan? Jonathan di Paris? Ya, aku sedang di sini, Mah. Di sebuah rumah entah milik siapa. Namun sepertinya, entahlah, apa ini hanya firasatku. Mungkin ini dulunya rumah milik salah satu D," jawab Lysa sembari mengamati sekitar.
"Darwin Flame? Benarkah?" sahut Vesper cepat.
"Mm, mungkin. Rumah ini sangat besar, Mah. Oh, atau bisa jadi, ini rumah yang dulu pernah didatangi Jonathan saat diculik pertama kali. Jangan-jangan ...," ucap Lysa menggantung.
"Aku akan mengirim Jonathan ke sana. Ulurlah waktu. Pastikan kau di tempat itu cukup lama. Kau mengerti?" perintah Vesper dan Lysa menyanggupi.
Lysa segera mematikan ponselnya dan memasukkan dokumen itu dengan tergesa ke koper.
Saat ia akan keluar ruangan, Lysa terkejut ketika mendapati Tobias berada di depan pintu. Jantung Lysa kembali berdebar kencang.
"Apa kau sekarang memasak di tempat ini? Mana makananku?" tanyanya dengan wajah dingin.
"Akan segera kulakukan," jawabnya cepat dan segera berlari keluar kamar dengan tergesa menuju dapur bertelanjang kaki.
Tobias melirik Lysa dalam diamnya. Ia menutup pintu dan mendatangi Lysa di dapur yang kini terlihat sigap memasak.
Tiga puluh menit kemudian, King D dan Otong ikut masuk ke ruang makan menunggu masakan matang.
Otong membiarkan keledai itu memakan rumput yang tumbuh liar dan subur di halaman tengah mansion.
Lysa memasak banyak menu pagi itu untuk seluruh penghuni mansion. Namun, Lysa merasa tak nyaman karena kumal. Ia mengajak D dan Otong untuk mandi terlebih dahulu sebelum sarapan.
Mereka bertiga meninggalkan dapur kembali ke kamar. Tobias dan para D menikmati sarapan.
Saat sarapan sudah hampir usai, pion Darius melihat jam tangannya yang berkedip. Semua orang di ruang makan siaga seketika.
Para pion D segera berlari menuju ke lobi mansion dan betapa terkejutnya, saat mereka melihat dua buah mobil memasuki gerbang yang berhasil di buka dari balik jendela.
"Berpencar," perintah Tobias dan para pion D menyebar ke beberapa titik, siap membidik.
Tobias melihat dari layar tablet dalam genggaman, siapa orang-orang yang berani masuk ke wilayahnya dengan serius, tapi perlahan senyum tipis terbit di wajahnya.
"Tahan tembakan. Hmm," perintah Tobias saat ia sudah mengetahui siapa tamu yang berkunjung ke tempat istirahat sementaranya.
CEKLEK!
Tobias muncul membuka pintu utama dengan senyum iblisnya.
"Prince Jonathan. Welcome," sapanya berdiri seorang diri tanpa pengawal merentangkan kedua tangan menyambutnya.
***
Yey! Lunas ya 3 eps untuk hari ini. Lele nguantuk dan lapar sehari ngetik 5 eps. Lele isi amunisi dan rehat dulu. Trims tipsnya besok masih dobel eps ya😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
hmd
🧡🧡🧡🧡🧡🧡💚
2021-09-06
0
𝒜⃟🍏⋆𝖑𝖊𝖊࿐
tekadang yg terkenal psiko lebih setia dari pada yg terlihat normal😌
apaan seh wkwkkwkw
2021-09-02
2
..
iya bener Le, pion Darius emang ganteng, radarku langsung kuat klo liat cowok ganteng tp begitu inget dh punya suami langsung redup lagi🤭😅
2021-08-05
0