Javier terlihat senang karena usahanya agar tetap bisa mengetahui keadaan keluarganya saat ia tak bisa lagi berada diantara mereka dianggap berhasil dengan menggunakan Otong.
Obama Otong juga gembira karena mendapatkan sebuah ponsel di mana ia tak pernah diizinkan oleh ayah ibunya untuk menggunakan benda pintar itu karena umurnya yang belum cukup.
Otong memasukkan ponsel itu di saku celananya dan kembali menemani King D berjalan-jalan memutari taman dengan keledainya.
Habib dan Sauqi merasa lega karena Javier terlihat baik-baik saja dengan keadaannya.
Javier duduk di kursi taman melihat anaknya seperti tak takut ketika memberi makan hewan tersebut dan malah ingin menungganginya.
"Om Sultan! Tolongin dong! D mau naik kudanya!" teriak Otong panik karena King D sudah melangkahkan salah satu kaki ke atas punggung hewan tersebut.
Javier berlari mendatangi anaknya dan memeganginya ketika menaiki hewan berkaki empat itu.
King D tertawa cekikikan karena baginya sungguh menyenangkan bisa menaiki kuda tersebut.
Lysa, menatap anak dan mantan suaminya yang terlihat begitu bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dari balik jendela di kamar lantai dua.
Hatinya kembali sakit saat teringat akan perselingkuhan yang dilakukan Javier meski alasannya untuk kebaikan keluarga.
"Javier, hiks ... ini sangat menyakitkan. Kenapa rasa sakit ini tak bisa hilang?" ucap Lysa kembali meneteskan air mata sembari memukul-mukul dadanya yang terasa menyesakkan.
TOK! TOK! TOK!
Lysa tertegun dan dengan segera menghapus air matanya. Ia berjalan cepat menuju ke meja rias dan segera merapikan penampilannya.
Ia menyemprotkan cairan penyegar ke wajahnya agar tak terlihat ia habis menangis. Lysa mendatangi pintu dengan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Lysa membuka pintu terlihat tenang.
"Ya?"
"Surat perceraianmu, Nona Lysa. Kau ingin aku yang memberikannya pada Javier? Jika kau mau, aku bisa memaksanya. Nyonya Vesper sudah mengizinkan," tanya Buffalo dan Lysa mengangguk.
Buffalo tersenyum. "Kau wanita kuat, Lysa. Jika aku jadi kau, aku juga akan sangat marah. Aku yakin, kau akan baik-baik saja tanpa Javier di sisimu," ucap Buffalo sembari menepuk pundaknya dan Lysa mengangguk dengan senyuman.
Buffalo pergi untuk memberikan surat itu pada Javier berikut meminta tanda tangan persetujuan untuk bercerai dengannya.
Javier yang sedang bermain dengan King D tentu saja terlihat sedih ketika Buffalo sudah memberikan pulpen padanya.
Habib dan Panglima Perang Javier mengangguk pelan sebagai tanda jika Sultan mereka harus bersedia melakukannya.
"Mungkin kau tak tahu, Fal. Namun, dalam agamaku, perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah," ucapnya sedih.
"Bukan hanya di agamamu saja, agamaku pun demikian. Hanya saja, wanita mana yang tak sakit hati ketika suami yang dicintainya malah mengkhianatinya, meskipun bagimu alasan yang kau lakukan itu benar. Sayangnya, tidak demikian bagi kami, kaum wanita. Jika kau sungguh menyesal dengan perbuatanmu, jadilah Ayah yang baik untuk anakmu, King D dan relakanlah ketika suatu saat nanti, Lysa menemukan kekasih hatinya dan menjadikannya pendamping hidup menggantikanmu," jawab Buffalo, tapi hal itu malah membuat mata Javier melebar.
"What? Siapa lelaki itu?" tanyanya dengan intonasi meninggi.
Kening Buffalo berkerut.
"Kau marah ketika ada lelaki lain yang mendekati isterimu, tapi kau tak memikirkan bagaimana perasaan isterimu saat ia tahu kau menyelingkuhinya. Ini baru perumpamaan, Sultan dan kau sudah merasa seperti di duakan. Kenapa kau tak memikirkan hal ini sebelum melakukannya? Jika saja kau jujur pada kami, matipun, Nyonya Vesper rela untuk bertempur melawan Tobias demi kebahagiaan keluargamu karena Nyonya Vesper sudah menganggap kau sebagai anaknya. Sayangnya, kau seorang anak yang durhaka. Jadi, tanda tangani," ucap Buffalo kembali menyodorkan surat perceraian itu kepada Javier.
Sang Sultan terlihat enggan melakukannya, tapi Buffalo bersikukuh dengan keinginannya. Dengan berat hati, Javier pun menandatangani surat perceraian itu.
"Semoga Tuhan selalu memberkatimu, Sultan. Sampai jumpa," ucap Buffalo pamit pergi meninggalkan tamunya kembali masuk ke Kastil.
Javier menundukkan wajah terlihat seperti menahan air mata. Habib mendekati dan memeluknya.
Javier menangis dalam pelukan penasehatnya. King D melihat Ayahnya menangis dan ia ikut mendatanginya.
"Baba ... Baba," panggilnya menarik celana kain Javier minta untuk digendong.
Javier menghapus air matanya cepat dan kembali menggendong buah cintanya bersama Lysa dulu. King D menatap wajah Ayahnya lekat yang basah karena air mata.
King D terlihat sedih. Ia memeluk Ayahnya dan Javier membawa King D masuk ke dalam Kastil diikuti oleh dua orang kepercayaannya.
Obama Otong terlihat bingung dan memilih untuk memasukkan kembali keledai itu ke dalam kandang.
Lysa yang melihat kejadian dari lantai atas terlihat berusaha sekuat tenaga agar tak menangis lagi.
Ia sudah membulatkan tekatnya untuk mengubur cintanya dan takkan kembali lagi pada Sultan.
Keesokan harinya, Javier pamit untuk pulang ke Oman. Lysa hanya mengizinkan Javier bertemu King D jika anak lelakinya itu datang seperti perjanjiannya dengan Tobias.
Lysa enggan mengantarkan kepergian Javier dan memilih untuk tetap tidur menemani putera kesayangannya meski ia terjaga.
"Otong. Aku titipkan D padamu ya. Jika ada telepon masuk, angkat saja, itu dariku. Kau mengerti?" bisik Javier dan Otong langsung memberikan hormat.
Javier tersenyum lebar sembari menepuk pundaknya.
Helikopter yang membawa Javier lepas landas dari helipad Kastil Borka diterbangkan oleh Buffalo dan tiga Black Armys untuk menjaga.
Buffalo dan timnya akan mengantarkan Javier dan rombongannya sampai ke Bandar Udara Kaliningrad, Rusia.
Sepeninggalan Javier.
Lysa merasa jika perasaannya tak menentu. Ia tak ingin tinggal di Kastil Borka lebih lama lagi. Ia berencana untuk membawa King D ke mansion Ramos untuk menenangkan hatinya.
Lysa segera bersiap dan mengemasi pakaiannya dan juga milik King D. Ia meminta kepada Eko untuk mengantarkannya ke mansion Ramos dan salah satu bodyguard Vesper itu bersedia.
King D pun dibangunkan oleh Ibunya. Balita lucu itu terlihat masih mengantuk saat ia disuapi sebelum melakukan perjalanan dengan jalur darat.
Saat para Black Armys memasukkan barang-barang milik Lysa dan King D ke dalam bagasi mobil, penjaga di gerbang terdepan berlari mendekati Lysa dan King D yang sudah bersiap untuk masuk ke dalam.
"Nona Lysa! Mam!" panggilnya lalu memberikan hormat, berdiri di depannya terlihat gugup.
"Yes?" tanya Lysa bingung.
"Tobias. Dia ... dia meminta izin untuk masuk ke dalam."
"What?!" pekik orang-orang terkejut mendengar hal tersebut.
Para penjaga di sekitar Lysa langsung menyiagakan senjata. King D yang tak mengerti dengan apa yang terjadi di tempat itu hanya berdiri diam sembari menggandeng tangan Ibunya.
"Ini belum satu minggu. Kenapa ia datang lebih awal untuk menjemput King D?" tanya Lysa terlihat panik.
"LYSA!" teriak Tobias lantang yang suaranya terdengar dari gerbang terluar.
"Pipi?" ucap King D seperti mengenali suara itu.
"D! King D!" panggil Lysa saat anak lelakinya melepaskan gandengannya dan berlari mendekati gerbang sendirian.
Orang-orang terkejut, tapi tak ingin membuat balita itu menangis dengan menahannya.
Obama Otong dengan sigap langsung mengejar. Lysa pun akhirnya ikut mengejar King D dan Otong yang sudah lebih dulu berlari di depannya.
"Pipi!" panggil King D imut mendatangi gerbang yang masih ditutup rapat dengan belasan pria bersenjata lengkap mengarahkan moncong senapan ke hadapan Tobias.
"Hei, My son. Pipi is coming," jawabnya dengan senyum merekah, membungkuk di hadapan anaknya di balik jeruji besi gerbang.
"Pipi. D have a pony. Come in and have a look! Come on, Pipi!" pintanya riang, menarik tangan Tobias yang masih berada di balik jeruji dengan jemari imutnya.
Orang-orang terlihat bingung. Sedang Obama Otong terlihat kaget melihat sosok Tobias yang mengerikan.
Ia malah kabur dan bersembunyi di balik tubuh Lysa yang berjalan mendekati anak lelakinya.
"Kau datang lebih cepat, Toby," ucap Lysa pelan.
"Aku diberitahu oleh ibunda jika King D memiliki banyak sekali hadiah. Jadi, aku bermaksud untuk mencicil membawanya. Hem, sehari satu kado sepertinya cukup sampai tiga hari mendatang," jawabnya tersenyum tengil.
Lysa memejamkan mata sejenak terlihat tertekan. Eko melirik Lysa menunggu keputusannya untuk membuka gerbang Kastil.
Hingga akhirnya, Lysa mengangguk pelan meski terlihat terpaksa.
Tobias tersenyum lebar, terlebih King D saat Ayahnya yang lain datang dan kini berlari bersamanya menuju kandang untuk melihat peliharaan barunya.
Orang-orang dalam jajaran Vesper terlihat bingung, tapi tetap waspada, saat mobil yang membawa Tobias masuk ke dalam halaman Kastil sejumlah tiga buah.
Muncul para pion D dengan pakaian tempur mereka keluar dari mobil-mobil tersebut.
Suasana tegang kembali terasa. Obama Otong terlihat takut dan kini bersembunyi di belakang Ayahnya.
"Pak, D mau dibawa pergi?" tanya Otong sedih.
Eko mengangguk pelan. Obama Otong menundukkan wajah dan tetap bersembunyi di belakang Ayahnya saat para lelaki berwajah dingin itu berjalan begitu saja melewati para penjaga sembari menenteng senapan laras panjang dalam genggaman.
"Brasa digrebek ini dan kita gak bisa ngapa-ngapain. Mumet, mumet!" ucap Eko pusing menggaruk kepalanya yang masih botak sedang Otong, sudah tumbuh rambut karena Dewi tak mau anaknya disebut tuyul karena mengikuti gaya seperti ayahnya.
Lysa kembali menuju ke taman dan melihat King D di kejauhan bersama Tobias sedang bermain bersama keledai barunya.
"Ikutlah bersama kami. Tobias berencana untuk merombak isi perjanjian," ucap Pion Dexter tiba-tiba, berdiri di samping Lysa.
"Perubahan? Apa tidak cukup dengan perceraian yang terjadi antara aku dan Javier? Apa lagi yang Tobias inginkan?" tanya Lysa menatap Dexter tajam.
"Kau tahu seperti apa watak Tobias. Ucapannya adalah perintahnya dan perintahnya tak boleh ditentang. Seharusnya kami tak perlu menggunakan kekerasan untuk membawamu paksa, Lysa," tegas Pion Damian ikut menekan.
Lysa terlihat semakin tertekan dengan hal ini. Obama Otong terlihat serius mendengarkan percakapan orang-orang itu.
"Otong ikut, Tante Lysa. Kasian kalau D sendirian pas Tante lagi rapat penting. Otong bisa jagain D kok," sahutnya tiba-tiba dengan mengacungkan tangan.
"Welah bocah gemblung. Dikira mau diajak piknik kali ya. Ojo, ora oleh," ucap Eko langsung menarik tangannya dan membuat anak lelaki itu kembali mundur ke belakang.
Lysa diam sejenak memikirkan ucapan dari Otong.
"Ya, kau kuizinkan," jawab Lysa tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.
"Aku harus membawa Otong agar kalian membawa kami berdua pulang dengan selamat kembali ke Kastil Borka," ucap Lysa tegas di hadapan para D.
"Tak masalah," jawab Tobias santai sembari berjalan bergandengan tangan bersama King D.
Eko menepuk jidatnya dan terlihat gemas bukan main saat anaknya malah terlihat riang karena diajak pergi. Otong langsung mendekati King D dan memeluknya.
King D ikut terlihat senang karena Otong kembali mengajaknya bermain bersama keledai yang baginya kuda pony itu.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Makasih ya tips koinnya. Besok dobel eps lagi ya. Adeh, kalo serangan merah datang lele jadi rentan terserang migren. Jadi lele mau rehat dulu dan insya allah nanti pas udah mendingan bisa kasih bonus jadi 3 eps. Tengkiyuw
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
Dany Wahjudy
Lama lama tokoh Mafia Hebat Vesper dibuat jadi BEGO OLEH AUTHOR
ALUR CERITA YG SDH menawan jadi MURAHAN
SEMANGAT BERKARYA AUTHOR
2022-09-30
1
Maryani Ani
Otong kaya Eko ya kaga takut 😂
2022-01-23
0
" Ira_W "
AKU PADAMU LELE😘😘😘😘😘
2022-01-16
0