Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
Di ruang makan Red Mansion, Filipina.
"Kau ingin mengunjungi laboratorium besok? Aku sudah mendapatkan 3 kandidat penerus, hanya saja, mereka ini lebih payah dariku. Maksudku, mereka tak bisa bertempur dan penakut. Aku tak bisa membangkitkan keberanian dalam diri mereka. Mungkin kau bisa membantu?" tanya Jeremy melirik Vesper yang duduk di sampingnya.
Vesper tersenyum dan mengangguk. Ia melirik Arjuna, Naomi, Lopez, Seif dan Tora yang sudah ikut duduk menyusulnya. Vesper melihat sekitar.
"Lalu, mana dua isteri dan anakmu? Mereka tak di sini?" tanya Vesper tak menemukan sosok keluarga inti Jeremy sejak kedatangannya.
"Mereka ke Camp Militer sudah satu minggu ini. Aku ditinggal. Rayya dan Roxxane mengatakan jika anak-anak butuh latihan fisik serta mental, mengingat mereka lahir dalam keluarga mafia. Aku ... mengizinkan," jawab Jeremy kikuk sembari menatap gelas di hadapannya yang diisi air mineral oleh pelayan mansion.
Semua orang menatap Jeremy seksama dalam diam.
"Kenapa?" tanya Arjuna berkerut kening.
"Aku lemah. Dari sekian banyak orang dalam jajaran Vesper, hanya aku yang tidak bisa bertarung. Sandara saja bisa. Ini sungguh memalukan. Aku saja kalah adu panco dengan dua isteriku. Aku ... melindungi diri dengan obat-obatan yang bisa kubuat, selebihnya, aku hanya orang yang lemah," ucapnya tertunduk.
Vesper memegang punggung tangan Jeremy dan lelaki berkacama itu tertegun. Arjuna menatap Ibunya seksama yang tersenyum pada adik Joel Ramos tersebut.
"Tak semua orang dilahirkan sempurna, Jeremy. Jika tak ada kau, mungkin orang-orang dalam jajaranku kalah di medan pertempuran. Gas buatanmu, serum penawar dan yang paling ekstrim, serum Monster, itu adalah sebuah anugerah tak ternilai bagi kami semua. Aku saja tak bisa membuatnya. Oleh karena itu, kita saling melengkapi, Jeremy."
Jeremy menatap mata Vesper lekat dan mendengarkan tiap katanya dengan seksama.
"Aku menggunakan kekuasaan dan kekuatan untuk melindungi orang-orangku, sedang kau, menggunakan kejeniusanmu dalam kemampuan medis untuk membantu orang-orang kita dalam menghadapi bahaya. Kau, sangat berjasa dan sampai kapanpun, aku tak bisa membalasnya. Aku berhutang banyak padamu, Jeremy," ucap Vesper berwajah sendu.
Jeremy berlinang air mata dan langsung menggenggam tangan Vesper erat dengan kedua tangannya.
Ia meletakkan tangan Vesper dalam dekapan kedua tangannya di depan wajahnya dengan mata terpejam.
"Aku sangat beruntung bertemu orang sepertimu, Vesper. Aku tak pernah meragukanmu sejak pertama kali melihatmu. Terima kasih, terima kasih telah mau menerima orang sepertiku," ucapnya yang malah meneteskan air mata.
Semua orang terdiam dan terlarut dalam suasana haru.
Arjuna menatap Jeremy yang sampai menangis dengan senyum kebahagiaan hanya karena perbuatan Ibunya dulu. Arjuna memikirkan ucapan orang-orang tentang ibunya.
"Hmm, tapi ... ada satu hal yang akhir-akhir ini mengganggu tidur nyenyakku, Jeremy," ucap Vesper sembari melepaskan tangannya perlahan.
"Apa itu?" tanya Jeremy sembari menghapus air matanya dengan tisu di meja makan.
"Apa Tobias menemuimu?"
Jeremy langsung mematung dengan wajah tertunduk. Matanya melebar dan terlihat tangannya sedikit gemetaran dengan tisu dalam genggaman tangan.
"Demi Tuhan, Vesper. Aku tak pernah mengkhianatimu," ucapnya serius dan kembali menarik tangan Vesper dalam genggamannya.
"Aku tahu. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu. Apakah dia mengancam keluargamu?" tanya Vesper pelan.
Jeremy melepaskan tangannya dengan wajah tertunduk. Ia terlihat lesu sembari memainkan buntalan tisu dalam genggamannya. Orang-orang di meja makan menatap Jeremy seksama.
"Dia tahu jika aku yang membunuh Joel, Vesper. Para BIAWAK itu. Mereka pernah menyusup kemari. Ia membongkar rahasia kita tentang kematian Joel yang sebenarnya kepada Tobias. Aku tetap dibiarkan hidup dan menjaga rahasia ini dengan syarat, aku memberikan akses penuh padanya agar bisa keluar masuk Kastil Borka, mansion Ramos di Rusia dan semua markas milikmu. Dia berjanji tak akan membunuh orang-orang kita. Oleh karena itu, aku memberikan gas bius dosis tinggi pada Tobias. Dia, menyebarkan gas itu melalui penyaring udara. Aku ... aku juga memberitahukan cara menyusup tanpa menyalakan sensor. Aku ...."
"Kau pengkhianat, Paman Jeremy!" tegas Arjuna menunjuknya.
"Arjuna! Diam," teriak Vesper balas menunjuknya.
Jeremy terlihat begitu menyesal. Ia tertunduk tak berani menatap Vesper. Keningnya sampai berkerut dan kedua tangannya mengepal menahan kekecewaan pada dirinya.
"Aku tak menyalahkanmu, Jeremy. Aku malah berterima kasih."
"Ha?"
Semua orang yang berada di meja makan itu terkejut. Mereka langsung menatap Vesper seksama yang meraih gelas air mineral dan meneguknya sedikit.
"Lysa selama dikurung oleh Tobias, dia memang menyiksanya, tapi ia juga melindunginya. Saat Tobias mengurungku, dia memperlakukanku sama seperti Lysa. Namun, dari situlah, aku bisa melihat sosok Tobias yang aku khawatirkan selama ini," ucap Vesper terlihat serius.
"Apa maksud Anda, Vesper-sama?" tanya Tora berkerut kening.
"Tato pada tubuhnya. Ia menutupi luka di tubuhnya dengan tato-tato itu. Aku sangat yakin, jika luka-luka itu adalah sebuah tanda yang sengaja dibuat oleh orang-orang No Face padanya. Sayangnya, aku tak bisa melihat lebih dekat, tapi aku cukup yakin jika itu adalah sebuah huruf dan angka."
Praktis, orang-orang kembali tertegun mendengar pengakuan Vesper.
"Apa ada arti di balik huruf dan angka-angka itu, Mah?" tanya Arjuna ikut berpikir.
"Aku rasa ya. Hanya saja, aku tak memiliki banyak waktu untuk mencari tahu. Kini, aku hanya bisa menunggu keajaiban saja. Aku harap seseorang bisa menceritakan padaku maksud dari goresan luka itu. Angka dan huruf-huruf itu sangat banyak, Arjuna. Aku bisa melihat penderitaan yang sangat luar biasa dalam diri Tobias," jawab Vesper serius.
"Mungkin karena itulah sikapnya menyimpang," sahut Seif dan Vesper mengangguk.
Vesper kembali melirik Jeremy yang diam saja terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Jeremy. Dulu bibi Rena pernah bercerita padaku tentang masa lalu Joel dan masih teringat jelas di pikiranku tentangnya. Ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Tentang apa?" tanya Jeremy kembali menatap Vesper seksama.
"Apa kau tahu, siapa ibu Tobias?"
Mata semua orang kini menyorot Jeremy tajam. Lelaki itu diam terlihat berpikir keras sembari mengusap dagunya.
"Wanita Joel sangat banyak, Vesper. Aku bahkan tak mengingat nama mereka. Setahuku, maaf jika ini terdengar menjijikkan. Joel selalu menggunakan pengaman jika berhubungan dengan wanita-wanitanya. Oleh karena itu, saat aku melakukan tes DNA pada Tobias dan hasilnya positif, aku juga terkejut. Joel bukan orang yang teledor dalam berhubungan. Dia selalu sadar ketika melakukannya. Dia bahkan ingat siapa saja wanita yang ditidurinya. Hanya denganmu saja, ia tak menggunakan pengaman. Oleh karena itu, aku sangat menyesal ketika membunuhnya karena dari sana aku mulai sadar jika Joel memang mencintaimu. Maaf, aku terlambat menyadarinya," ucap Jeremy terlihat bersalah.
Orang-orang kembali terdiam mendengar pengakuan Jeremy. Vesper tersenyum sembari menepuk lengannya lembut.
"Mungkin, tak semua rahasia harus terungkap dalam satu waktu, Jeremy. Biarkan Tuhan memainkan takdir kita. Yah, kita ikuti saja ritmenya sebagai manusia. Hmpf, obrolan ini membuatku lapar. Aku makan duluan ya," ucap Vesper yang langsung mengambil garpu serta pisau di hadapannya, siap menyantap daging steak yang dihidangkan oleh petugas dapur.
Orang-orang terkekeh karena Vesper terlihat sangat santai dalam menanggapi hal yang bagi mereka cukup mengkhawatirkan ini.
"Mama ini sembrono. Gak dituntasin gitu penyelidikannya? Bilang apa dia tadi? Biar Tuhan yang menentukan takdir kita? Dia 'kan atheis, tapi kok percaya Tuhan. Mama aneh," batin Arjuna menatap Ibunya yang terlihat begitu menikmati steak domba di mulutnya.
Naomi melirik Tuan Mudanya yang terlihat sebal akan sesuatu. Ia memilih diam dan menikmati sajian steak lezat di piringnya.
***
Oia pengumuman nih. Vote vocer mulai besok senin ke novel 4YMS2 aja. Makasih ya~
wah ada tips lagi. kwkwkw besok masih dobel eps nih. makasih ya. lele padamu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
Maryani Ani
Juna ada Naomi tuh pengamat yg handal
2022-01-23
0
" Ira_W "
Dan ternya bibit-bibit pembangkang udah keliatan ada didiri Arjun
2022-01-16
0
❤D_D❤
mama Vesper itu udah berjuang mati2an Juna...jangan dilihat pas enaknya aja...
2021-11-13
1