Javier yang mengenakan baju lapis anti peluru tak terkena dampak dari tembakan Tobias. Namun, darah dari anak perempuannya menempel pada baju kebesarannya itu.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Masalahmu baru dimulai, Sultan. Kau benar-benar bodoh. Semoga kau punya jawaban jitu atas keputusan egoismu itu. Selamat tinggal, Sultan. Hahaha!" tawa Tobias sembari berjalan dengan gembira meninggalkan Javier yang masih menangis terisak atas kehilangan anak perempuannya.
Habib mendekati Javier dan menepuk pundaknya.
"Sultan. Kita harus segera ke Kastil Borka. Nyonya Vesper mencarimu. Sepertinya ... ada hal penting yang ingin ia bicarakan," ucap Habib menunjukkan ponselnya.
Namun, Javier masih menangis sedih memeluk anak perempuannya yang telah tewas. Habib menghela nafas panjang.
"Kami akan memakamkan Fara dengan layak, Sultan. Anda pergilah. Anda bisa kemari lagi setelah urusan dengan ibunda Ratu selesai. Sepertinya, ini gawat. Beliau juga menghubungiku," ucap Panglima Perang Javier menunjukkan ponselnya.
Javier akhirnya mau menoleh dan menatap dua lelaki yang berdiri di sampingnya memasang wajah serius. Javier mengangguk paham.
Sauqi meminta kepada anak buahnya untuk memakamkan Fara di sekitar tempat itu dan membuatkan nisan untuknya.
Javier terlihat lesu saat melepaskan gendongannya dan memberikan jasad puterinya kepada salah satu anak buahnya.
Javier berjalan gontai masuk ke mobil dengan wajah sendu. Sauqi dan Habib saling berpandangan terlihat seperti satu pemikiran.
"Sultan. Gantilah pakaian Anda. Darah Fara menempel di baju Anda," ucap Sauqi menyarankan, tapi Javier diam saja seakan ucapan dari Panglima Perangnya tak didengar.
Hingga akhirnya, mobil yang ditumpangi oleh Javier masuk ke dalam gerbang Kastil. Terlihat Drake dan Buffalo berdiri di pintu utama seperti menunggu kedatangannya.
Javier turun dari mobil begitu saja, tak mengindahkan ucapan dari sang Panglima untuk berganti pakaian. Buffalo dan Drake saling melirik, tapi tak mengatakan apapun.
"Sultan!" panggil James.
Javier menoleh ke atas, ia melihat James menunjuk sebuah ruangan agar ia masuk ke sana.
Javier mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju ke ruangan tersebut. Semua orang menatap Javier tajam, tapi sang Sultan yang masih dirundung kesedihan tak memperhatikan.
Sedang Habib dan Sauqi merasakan hal buruk akan terjadi. Mereka berdua mengikuti Sultan di belakang dengan jantung berdebar.
"Salam, Sultan," sapa Vesper dan Javier membungkuk hormat.
Namun, mata Javier langsung tertuju pada Lysa yang duduk di sebuah sofa memasang wajah dingin dengan pandangan tertunduk. Javier menatap isterinya seksama di kejauhan.
"Sultan. Seingatku, hukuman bagi seorang pembohong adalah potong lidah. Aku bisa memberlakukan hal itu di tempat ini. Jadi, jujurlah jika kau ingin lidahmu masih berada di tempatnya," ucap Vesper tiba-tiba yang ikut memasang wajah dingin tak melihatnya.
Javier bingung karena orang-orang yang berada di ruangan itu seperti membencinya. Habib dan Panglima perangnya hanya bisa berdiri diam diapit oleh Drake serta Seif.
"Ada apa?" tanya Javier gugup seketika.
"Darah siapa itu?" tanya Kai ikut menginterogasinya dari tempatnya duduk.
Javier tertegun. Ia baru menyadari jika bajunya terkena noda darah dari anak perempuannya yang tewas.
Javier berusaha menutupinya, tapi ia akhirnya sadar, jika usahanya sia-sia. Semua orang sudah melihatnya.
"Mm ... i-ini ...."
"Siapa gadis kecil itu?" tanya Han menimpali.
Mata Javier melebar. Ia melihat Vesper, Kai, Han dan Lysa duduk membentuk seperti sebuah lingkaran dengan ia berdiri di tengah-tengah. Jantung Javier berdebar kencang tak karuan.
"A-a ...."
"Kau mengkhianatiku, Javier?" tanya Lysa menaikkan pandangan dan kini menatap wajah suaminya lekat dengan kening berkerut, seperti akan menangis.
Javier tergagap, ia menggeleng cepat.
"Demi Allah, Lysa. Aku sangat mencintaimu," ucapnya gemetaran.
"Jangan sebut nama Tuhan di sini! Berapa banyak? Berapa banyak wanita yang kau miliki, Sultan?! Jawab!" teriak Lysa dengan air mata langsung meluncur begitu saja dari mata indahnya.
Javier mengepalkan kedua tangan dengan wajah tertunduk. Ia terlihat bingung dalam menjawab.
"Mereka bukan wanitaku. Aku menikahi mereka. Para wanita itu ... isteri siriku."
Mata Lysa langsung terpejam. Vesper, Kai dan Han bahkan sampai terlihat seperti berusaha agar tak marah mendengar pengakuan mengejutkan dari Javier yang selama ini tak mereka ketahui.
"Kenapa kau sejahat itu padaku? Apa karena aku tak bisa memberikanmu anak lalu kau mencari rahim pengganti agar bisa memberikan yang Tobias inginkan?" tanya Lysa berusaha untuk tetap tegar meski air matanya terus menetes.
"Aku tak ingin Tobias mengambil anak kita, Lysa. Aku lebih rela jika Tobias mengambil anak dari wanita lain selain kau, meski masih darah dagingku sendiri," jawabnya membela diri.
Lysa tertawa. Vesper, Kai, Han, Habib dan Sauqi langsung menoleh ke arah Lysa yang menangis, tapi tertawa.
Vesper menelan ludah. Ia seperti bercermin pada dirinya ketika sebuah rasa kecewa dan sakit hati menghampiri jiwanya.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku, Javier? Kau membuat keputusan tanpa persetujuanku. Apa aku mengizinkan kau untuk menikah lagi demi perjanjian Tobias?" tanya Lysa menatapnya tajam.
"Aku minta maaf, Lysa. Aku tahu aku salah. Aku ...."
"Baguslah jika kau tahu kesalahanmu, Sultan. Oleh karena itu, mulai detik ini, semuanya berakhir. Pergi jauh dari hidupku dan King D. Layani semua isteri-isterimu itu. Besarkan semua anak-anakmu. Karena sungguh, aku sudah muak dengan segala keegoisanmu selama ini," ucapnya bengis.
Javier langsung menaikkan pandangannya yang sedari tadi tak sanggup menatap wajah sang isteri.
Ia berjalan mendekatinya, tapi dengan cepat, Lysa menunjuknya dan membuat Javier berhenti melangkah.
"Lysa. Tak lihatkah yang Tobias lakukan pada anak perempuanku, Fara? Ini darahnya! Fara adalah korban dari kebiadapan Tobias! Gadis kecil itu tak salah apapun dan Tobias membunuhnya!" teriak Javier lantang.
"Dan Fara meninggal karena keegoisanmu, Sultan! Begitupula anak-anak lainnya yang akan lahir dari rahim para wanitamu itu! Kau yang membuat petaka di hidupmu sendiri! Kau terlalu takut dan sempit dalam berpikir! Kita menikah, kita hidup bersama! Segala kesulitan yang dialami kita berdua harus dihadapi bersama, tapi kau mengabaikan keberadaanku! Kau menganggap aku tak mampu! Kau buat keputusanmu sendiri dan kini kau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu?! Kau sungguh picik!" teriak Lysa langsung berdiri dari tempatnya duduk dan mendekati Javier dengan suara menggelegar.
Semua orang langsung terdiam. Mereka tak pernah melihat Lysa sebegitu marah sebelumnya.
Vesper sampai terdiam tak bisa bicara apapun untuk menasehati anak perempuannya.
Javier berdiri mematung saat Lysa mendekatinya dan melemparkan cincin pernikahan yang melingkar di jarinya.
Mata Javier melebar, ketika cincin itu dilemparkan ke wajahnya dan menggelinding di lantai.
Javier menatap Lysa dengan nafas menderu, sedang Lysa menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku tak akan pernah memaafkanmu, Sultan. Sampai mati, kebencianku padamu akan terus ada di hatiku bahkan sampai aku mati," ucapnya bengis dan berpaling begitu saja.
Dengan sigap, Javier langsung memegang tangan kiri Lysa. Namun, wanita cantik itu langsung mengepalkan tangan kanan dan meluncurkannya tepat ke wajah sang suami.
BUAKK!!
"AGH!"
DUAKK!!
BRUKK!!
"SULTAN!"
"BAWA PERGI SULTAN BRENGSEK ITU! DIA TAK DITERIMA LAGI DI SINI! PERGI!" teriak Lysa mengusir Javier dan anak buahnya dari Kastil Borka.
Habib dan Sauqi segera membantu Javier bangun setelah terkena tendangan di dada hingga ia jatuh terlentang di lantai.
"Pergilah, Javier. Kami sudah tahu semua. Drone Eiji mengikutimu. Tak ada gunanya lagi kau membela diri. Yang kau lakukan itu salah dan aku sungguh kecewa padamu. Kau tak mau membicarakan hal ini pada kami sebelum kau melakukan perselingkuhan itu. Walaupun aku seorang lelaki dan suami sepertimu, tapi ... aku tak akan sedangkal itu dalam berpikir, Sultan," ucap Han tegas dari tempatnya duduk.
Javier memegangi dadanya yang sakit dan tertunduk diam mendengar ucapan Han padanya.
"Kau sepertinya tak belajar satupun dari kejadian yang telah diceritakan oleh ibu angkatmu, Vesper. Lysa isterimu, kau tak menghargainya, kau menyakitinya dengan menyelingkuhinya. Mungkin bagimu tindakan yang kau lakukan benar, agar keluarga intimu aman dari ancaman Tobias, tapi ... keputusanmu menikah siri bahkan menyerahkan anakmu kepada Tobias dari isterimu yang lain, itu kesalahan berlipat yang kau buat, Sultan. Kau tak menyelesaikan masalah, kau malah membuat masalah baru dan maaf. Kami tak mau terlibat lebih jauh lagi. Kami lihat, kau bisa menghadapinya sendiri, Sultan. Terima kasih atas semuanya, tapi kau tak diterima lagi di sini," imbuh Kai yang praktis, membuat mata Javier, Habib dan Sauqi terbelalak.
Javier lalu memandangi Vesper yang masih terlihat tenang dengan tegukan teh dalam cangkir di genggamannya.
Javier merangkak mendekati kaki Vesper dan memeganginya erat.
"Pergilah, Javier. Aku tak bisa lagi memihakmu. Yang kau lakukan pada Lysa, itu sungguh menyakitiku. Kukira setelah kejadian terakhir di Oman, kau akan berubah, tapi sepertinya ... kau tak memahami satupun arti dari penyesalan. Sudahlah, aku tak ingin Lysa terus menderita karenamu. Jangan khawatir, aku masih mengizinkanmu menemui D, tapi tidak di sini. Akan aku beritahukan nanti dan silakan, tanda tangani surat perceraianmu dengan anakku. Ini sudah berakhir," ucap Vesper melirik Javier sekilas dengan wajah datar.
Javier tertegun saat Kai mendatanginya dan memberikan sebuah surat untuk ia tanda tangani. Javier merebut dan merobeknya.
"Egois! Kau lelaki paling egois yang pernah kutemui sepanjang hidupku, Sultan! Robeklah sebanyak yang kau mau! Kau bukan, suamiku lagi. Selamat tinggal," ucap Lysa penuh penekanan dan pergi meninggalkan ruangan di susul oleh Vesper, Kai dan Han.
"LYSA! LYSA!" teriak Javier mencoba untuk bangkit dan mengejar sang isteri yang sangat dicintainya.
Namun dengan cepat, ketujuh bodyguard Vesper menghalangi tubuh Javier yang akan menerobos pintu.
"Kami sudah merapikan semua barang-barang Anda, Sultan. Helikopter sudah kami sediakan untuk membawamu sampai ke bandara. Silakan," ucap Eiji sopan.
Javier marah. Ia berteriak dan berusaha untuk menyingkirkan tubuh para bodyguard Vesper dari hadapannya.
Namun, dengan sigap, tujuh orang itu mendorong tubuh Javier hingga lelaki Arab tersebut terlempar jauh dan kembali jatuh ke lantai.
"SULTAN!" teriak Habib dan Sauqi panik.
"Kau sungguh tak tahu arti menyesal, Sultan. Pergilah. Nona Lily sudah mengizinkan kami melakukan kekerasan padamu jika tak mengindahkan peringatan dari kami. Keluarlah lewat pintu belakang. Borka sudah tertutup untukmu. Semoga selamat sampai tujuan. Salam," ucap Seif sopan.
Javier terlihat seperti akan menangis. Habib dan Sauqi membantu Tuannya untuk bangun. Javier jalan tergopoh di papah oleh dua orang kepercayaannya pergi melewati pintu yang disebutkan.
Javier menaiki helikopter meninggalkan Kastil Borka di mana ia sudah dilarang untuk menginjakkan kakinya ke tempat itu lagi.
Javier menangis melihat tak ada satupun orang yang mengantarkan kepergiannya di helipad. Javier memeluk Habib dan lelaki tua itu balas memeluknya, mencoba menenangkan.
"Sebaiknya kita pulang dulu ke Oman, Sultan. Setelahnya, kita putuskan, apa yang harus Anda lakukan dengan kelima isteri Anda. Ingat, dari kelimanya, hanya Sahara yang melahirkan bayi perempuan. Sisanya, tak ada," ucap Habib sembari menepuk punggung pria yang sedang bersedih itu.
"Ya. Aku sudah membuat keputusan, Habib. Aku terima saranmu. Kita pulang. Aku ingin menyelesaikan semuanya," ucap Javier tegas dengan air mata yang sudah mengering.
Habib mengangguk pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
abian lim
astag mmm no komen dah tapi pegen ya ku tabok
2022-04-25
0
Maryani Ani
kayanya dulu Javier g mau ada selir dah eh sekarang punya selir ..salah BKN sih
hadeuh Javier 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2022-01-23
0
❤D_D❤
wahhh Lysa sama Toby aja dehhh...
2021-11-13
0