Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?!" teriak Javier dengan nafas menderu.
"Aku menagih janji," jawab Tobias santai yang seketika, banyak lelaki mendatanginya bersenjata lengkap entah sejak kapan berada di dalam Kastil Borka.
Javier panik. Ia dikepung dan tak bisa melawan karena para penjaga dalam Kastil sudah tak sadarkan diri, tergeletak di tiap sudut ruangan.
"A-aku akan memberikanmu anak perempuan seperti yang dijanjikan," jawab Javier cepat, tapi malah membuat Tobias bingung.
"Kau bisa memberikannya? Kau tak ingat jika di perjanjian tertulis harus darah dagingmu, Sultan? Otakmu sepertinya bermasalah," jawab Tobias terheran-heran menatap lelaki yang seperti ketakutan di hadapannya.
"Kau bisa mengetesnya nanti. Ia anakku, darah dagingku. Akan kuberikan besok padamu. Katakan saja di mana, anak buahku akan mengantarkannya padamu," jawab Javier terlihat serius.
Tobias bingung dengan ucapan Javier yang seperti berseberangan dengan Lysa. Namun, seringai Tobias muncul.
Tiba-tiba, Tobias melemparkan sebuah ponsel kepada Javier dan sang Sultan segera menangkapnya.
"Aku akan menghubungimu. Pastikan jangan terlambat," ucap Tobias tersenyum tengil.
Javier mengangguk cepat dan menggenggam ponsel itu erat. Tiba-tiba, CLEB! BRUKK!
"Hehe, sepertinya akan ada pertunjukan seru. Hmm, aku ingin tahu siapa yang berani membohongiku. Lysa atau Javier," ucap Tobias terlihat bersemangat.
"Apa maksudmu, Toby?" tanya pion Damian bingung.
"Kita lihat besok. Jadi, sudah beres?" tanya Tobias dan para D yang berdiri di sekitarnya mengangguk.
Tobias segera mengajak tim-nya keluar dari Kastil Borka yang berhasil disusupi.
Namun, saat Tobias akan memasuki hutan di belakang Kastil, ia terkejut ketika mendapati Vesper berdiri dengan piyama tidurnya dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
CEKREK!!
Para pion D langsung mengarahkan senjata ke arah Vesper. Orang-orang itu panik dan waspada terhadap sekitar. Vesper tersenyum tipis.
"Kau tak terkena dampak?" tanya Tobias curiga. Vesper kembali tersenyum.
"Aku mengenalmu, Toby. Aku mempelajari strategimu menyusup. Mungkin, karena ini dulunya rumah Joel jadi kau tahu seluk beluknya. Kau nakal," jawab Vesper berjalan perlahan mendekatinya.
Kembali, para pion D mengarahkan pistol ke tubuh sang ratu, tapi terlihat Vesper tak terintimidasi.
Ia tetap berjalan perlahan. Vesper tak terlihat memiliki pengaman di tubuhnya karena gaun tidurnya yang tipis dan membuat lekuk tubuh indahnya terlihat.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu sebelum pergi. Cepat, waktu kita tak banyak. Di taman saja," ajak Vesper yang kini berdiri di depan anak angkatnya.
Para pion D menatap Tobias seksama dan lelaki bertato itu mengangguk. Para D mengikuti Tobias di belakangnya terlihat waspada dengan sekitar.
Di taman belakang, Kastil Borka, Rusia.
"Apa yang ingin kau katakan? Lima menit," tanya Tobias menatap Vesper tajam tak ikut duduk di sampingnya.
"Apa kabarmu? Kau tak berubah. Kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Vesper menatapnya dengan senyuman.
Tobias terdiam. Para pion D saling melirik dengan moncong pistol masih diarahkan ke tubuh Vesper.
"Kau hanya ingin mengatakan hal bodoh itu?" tanya Tobias berkerut kening.
"Aku mencemaskan keadaanmu, Toby. Mau sampai kapan kau muncul dan menghilang? Kau mengatakan jika aku Ibumu, tapi kau masih dalam jajaran The Circle. Kenapa kau tak ikut dalam jajaranku saja, seperti keluarga sesungguhnya?" tanya Vesper mulai terlihat serius.
Tobias terkekeh.
"Kau tak ingat dari mana asalku? Jika aku lahir dalam jajaranmu mungkin hal konyol yang kau katakan itu bisa terjadi, Mom. Namun sayangnya, tidak. Aku lahir dari wanita dalam jajaran The Circle," jawab Tobias memasang wajah malas.
"Aku tahu. Namun, kalian sudah habis. Apalagi yang akan kau pertahankan? Kau ingin menjadi pemimpin tunggal The Circle?"
"Yes. Aku memiliki tanggungjawab berat sebagai penerus. Tubuhku mengalir darah Lucifer Flame," jawabnya tegas.
Vesper mengangguk pelan.
"Apakah ... kita akan selalu bertikai, Toby? Kau tak mungkin menjadikan D sebagai mesin pembunuh yang akan melenyapkan keluarga yang selama ini menyayanginya 'kan?"
"Itu bukan urusanmu."
"Jika ya. Kenapa tak kau selesaikan sekarang? Kau bisa meruntuhkan Kastil ini dan menimbun kami semua di dalamnya. Setelah sekian lama, kenapa tak kau lakukan?" tanya Vesper menatap Tobias seksama.
Para pion D saling melirik dan Tobias masih diam menatap Ibu angkatnya tajam.
"Apa yang kau rencanakan, Toby? Apa yang kau rahasiakan dariku?" tanya Vesper yang kini berdiri perlahan, tapi membuat para pion D langsung dengan sigap menodong Vesper dengan pistol dalam jarak yang sangat dekat.
"Kau ... terlalu banyak bertanya, Mom. Tidurlah, sudah malam," jawab Tobias malas.
"Oia. Sebaiknya saat kau jemput D nanti pastikan membawa pesawat kargo atau kapal. D meminta kuda pony dan ia memiliki segunung kado. Kau pasti akan kerepotan membawanya," ucap Vesper tiba-tiba yang membuat Tobias membalik tubuhnya di mana ia sudah mulai berjalan meninggalkan Ibu angkatnya itu.
"Sebanyak itu?" tanya Tobias heran.
Vesper mengangguk dengan senyuman. Tobias mendesah malas dan mengangguk.
"Hmm, baiklah. Bius aku di sana saja. Aku sudah siapkan selimut dan bantal. Anggap saja aku ketiduran di taman," pinta Vesper menunjuk ayunan berwarna putih di dekatnya duduk.
Para pion D terheran-heran, tapi pion Dexter mengangguk pelan. Dexter mengikuti Vesper yang berjalan perlahan mendekati ayunan seperti tempat tidur santai itu.
Vesper merebahkan dirinya dengan anggun sembari menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
"Selamat malam, Toby," ucap Vesper memejamkan mata.
Tobias diam saja dan seketika, CLEB!
Dexter berjalan mendekati Tobias yang masih berdiri mematung menatap Ibu angkatnya yang tertidur pulas setelah terkena tembakan bius.
"Kau lebih cocok jadi anak kandungnya, Toby. Vesper sama gilanya denganmu, tak punya rasa takut," ucap Dexter sembari memasukkan pistol bius di rompi anti pelurunya.
Tobias tersenyum miring dan mengikuti anak buahnya memasuki hutan yang gelap meninggalkan Kastil Borka entah menuju kemana.
Keesokan harinya, di tempat yang dijanjikan.
Javier diminta untuk datang sendiri menyerahkan anak perempuannya kepada Tobias di sebuah dermaga masih di Kaliningrad.
Tobias berdiri di depan sebuah yacht yang akan membawa anak perempuan itu pergi.
Javier terlihat gugup saat mendatangi Tobias sembari menggendong anak perempuan yang terlihat mirip dengan Javier seperti keturunan Arab.
Para pion D bersiaga dengan senjata yang diarahkan ke tubuh Javier. Habib yang ikut sebagai saksi hari itu dibuat gugup berikut para pasukan Jihad Javier yang berjumlah sepuluh orang tanpa senjata sesuai persyaratan.
"A-aku membawakan anakku padamu, Tobias," ucap Javier sembari menunjukkan anak perempuan yang berada dalam gendongannya masih tertidur lelap di hari yang masih pagi.
Pion Damian mendekati anak perempuan itu. Javier terkejut saat Damian mengambil sampel darahnya yang membuat gadis kecil itu terbangun dan menangis.
Javier berusaha menenangkan anak perempuannya. Damian lalu mendekati Javier dan ikut mengambil sampel darahnya.
"Tunggu di sini sampai aku memastikan jika ia sungguh anakmu, Sultan," ucap Tobias menatapnya serius dengan pistol di arahkan ke punggung gadis kecil itu.
Damian kembali masuk ke yacht melakukan pemeriksaan kecocokan dari tes darah tersebut.
Javier terlihat cemas sembari mengelus lembut lengan anak perempuannya yang sakit.
Hingga akhirnya, Damian keluar sembari membawa sebuah kertas dalam genggaman. Orang-orang dalam kubu Javier terlihat gugup ketika Tobias menerima kertas itu dan membaca isinya.
"Hem, yah dia anakmu, Sultan," ucap Tobias sembari mengangguk-anggukkan kepala.
Javier terlihat lega berikut orang-orang dalam jajarannya.
"Tapi ...," lirik Tobias dengan seringai muncul di wajahnya. Wajah Javier tegang seketika.
"Ia bukan anakmu dengan Lysa. Siapa ibunya? Kau ... berselingkuh? Hohoho, ini sangat menarik. Kau ... sadar yang kau lakukan, Sultan? Kau berusaha mencurangi aku ya? Apa kau takut padaku hingga kau bertindak bodoh? Apa Lysa tahu hal ini? Hahahaha, sayang sekali. Ini bukan isi dari perjanjiannya. Anakmu manis."
DOR!
"NO! Fara!" teriak Javier hingga tubuhnya gemetaran saat punggung anak gadisnya ditembak oleh Tobias dan menewaskannya.
"TOBIAS!" teriak Javier dengan air mata langsung mengucur deras.
Tobias tertawa terbahak dengan pistol dalam genggaman. Javier roboh sembari memegangi wajah anak perempuannya yang telah tewas dalam gendongannya.
Habib dan pasukan Jihad tak bisa melakukan apapun karena semua senjata di arahkan ke tubuh mereka.
Kesedihan meliputi hati semua orang, tapi tidak dengan Tobias dan para pion D yang tersenyum penuh kemenangan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
wah udh ada yg tips😍 makasih ya. baiklah besok dobel eps. tengkiyuw💋💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
Ayay Nya Yuda
baru baca juga udh tegang lagi hadeuhhh
2025-01-14
0
*
𝖩𝖺𝗏𝗂𝖾𝗋 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗁:𝗏
𝖲𝖾𝗄 𝗌𝖾𝗄 𝗍𝖺𝗄 𝗄𝗎𝖺𝗍𝗂 𝖺𝗍𝗂 𝗄𝗎 𝗌𝖾𝗄 𝗄𝖺:)
𝖡𝖺𝗋𝗎 𝗄𝖺𝗅𝗂 𝗂𝗇𝗂 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗃𝖾𝖽𝗈𝗋 𝗃𝖾𝖽𝗈𝗋..
2022-02-19
2
❤D_D❤
piye ikiii piyee.,kok otakku ra tekan......
2021-11-13
1