Kastil Borka, Rusia.
"Happy birthday, happy birthday, happy birthday King D ...."
Suara orang-orang bernyanyi dengan gembira dan ditutup dengan tepuk tangan meriah serta sorakan-sorakan. King D tertawa senang.
Pipinya yang menggemaskan menjadi serangan bibir orang-orang yang begitu menyayanginya meskipun balita menggemaskan itu menjadi sandera Tobias selama ini.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Bahasa non baku menggunakan Indonesia.
"King D sayang. Kau ingin hadiah apa dari Oma?" tanya Vesper dengan senyum terkembang.
"Pony," jawabnya imut.
"He?" tanya Vesper mengedipkan mata. "Pony? Horse?" tanya Vesper menebak.
King D mengangguk pelan.
"Oh. Oke," jawab Vesper mengangguk dengan wajah lugu.
"Eko! Carikan kuda pony untuk King D! Aku beri waktu 3 hari sebelum ia dijemput oleh Tobias. Cepat! Pergi sekarang!" teriak Vesper memulai perintahnya.
"Walah. Beli di mana, Mbak? Itu kuda beneran atau boneka?" jawab Eko langsung panik.
"Kuda beneran, Eko. Makan rumput dan bisa berlari. Cepat! Banyak bicara. Ajak paman BinBin untuk mencarinya. Ia pasti punya rekanan untuk membeli hewan itu. Jerapah, piranha dan Lion saja bisa, terlebih pony," jawab Vesper langsung memasang wajah garang.
Eko memelas seketika. Dewi dan Obama Otong hanya meringis karena Eko tak jadi makan nasi kuning dari tumpeng yang sudah diincarnya sedari tadi.
"Nasib jadi bawahan. Disuruh-suruh. Ealah urip ... urip ...," ucapnya bersenandung sembari berjalan meninggalkan ruangan dengan gontai.
Orang-orang iba padanya, tapi tak ada niatan untuk membantu. Para undangan terlihat menikmati sajian yang dihidangkan oleh penyelenggara acara.
King D terlihat begitu disayangi oleh semua orang. Ia dimanja, ditemani kemanapun pergi dan mendapatkan banyak kado di ulang tahun keempatnya itu.
"Tak ada acara ulang tahun menurut ajaran kita, Sayang. Kau tahu itu," ucap Javier menyilangkan kedua tangan di depan dada terlihat tidak senang.
"Ya, aku tahu. Namun, kau tahu sendiri 'kan, Mama. Dia tak beragama. Dia mengambil sisi positif dari yang terkandung dari agama-agama itu. Maklumi saja. Ia hanya merasa bahagia karena bisa bertemu dengan King D setelah sekian lama. Dan bukannya kau dulu juga pernah membuatkan pesta ulang tahun untukku saat di Afganistan?"
Javier langsung terdiam. Lysa menahan senyum karena ia tahu jika suaminya baru menyadari perbuatannya di masa lalu, tapi tak mau mengakui.
"Aku tak akan mengucapkan ulang tahun untuknya. Aku anggap ini sebagai acara syukuran karena King D kembali meski ia nanti akan pergi lagi. Lelaki itu, bagaimana caranya aku menghentikan sikapnya yang semena-mena? Mengaku D anaknya bahkan keluar masuk rumah kita seenaknya. Aku sungguh ingin membunuhnya," ucap Javier geram yang masih berdiri di kejauhan tak ikut berkumpul dengan yang lain merayakan pesta ulang tahun anak lelakinya.
"Bersabarlah, My Sultan. Kita pasti akan menemukan solusinya. Sebaiknya kita datangi si D yang menggemaskan itu. Waktu kita bersamanya tak banyak. Jangan sampai anak kita satu-satunya kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya," ucap Lysa sembari merangkul lengan suaminya dan mengajaknya berjalan mendekati D.
Javier mengangguk. Ia akhirnya ikut bergabung dalam pesta meski tak mau menyentuh kue ulang tahun yang dibuat Jonathan untuk keponakan yang sangat disayanginya.
"D! Sini, sini! Lihat! Kuenya bagus 'kan? D mau satu?" tanya Jonathan saat menunjuk sebuah sajian yang dibuat seperti gunung kepada keponakannya yang asyik membuka kado.
"Cupcake," ucapnya imut dengan mata berbinar.
Jonathan mengangguk senang dan D dengan segera mendatangi kue berwarna putih biru itu. Namun, kening orang-orang berkerut saat menyadari ada yang salah dengan kue tersebut.
"Kenapa tulisannya Nathan? Inikan ulang tahun D?" tanya Lysa heran.
"Kan Nathan yang kasih surprise buat D. Jadi ya nama Nathan harus terpampang dong," jawabnya tak suka diprotes.
"Oh. Oke," jawab Lysa tak mau berdebat.
Orang-orang menahan tawa karena kue itu malah seperti ulang tahun untuk Jonathan. Anak ketiga Vesper memberikan sebuah cupcake untuk keponakannya.
Terlihat Jonathan begitu menyayangi D. Ia memangku dan menyuapinya. Orang-orang yang melihat merasakan haru dan hangat dalam hati.
"D. Kak Nathan kasih hadiah keren loh buat kamu. D mau?" tanya Jonathan.
D hanya menoleh sekilas, tapi kembali menyantap kue putih biru itu hingga mulutnya belepotan.
"Kok Kak? Om," sahut Arjuna ikut merasa ada yang janggal dalam penyebutan dalam silsilah keluarga mereka.
"Ish, Nathan gak mau dipanggil Om. Tar kaya om-om girang," jawabnya sewot.
Orang-orang yang mendengar kembali menahan senyum. Bagi mereka, ada saja jawaban unik yang terucap dari bibir anak Erik tersebut.
Hingga akhirnya, pesta ulang tahun itu berakhir saat malam hari. D sampai mandi 3 kali karena tubuhnya yang kotor setelah bermain seharian bersama orang-orang di berbagai tempat.
D terlihat menikmati pesta ulang tahunnya hari itu. Ia berfoto dengan banyak orang yang ingin mengabadikan momen bersamanya dan berharap balita mungil itu mengingat mereka.
Usai mandi bersama dengan sang ayah, Javier. D segera dibaringkan di samping ibunya, Lysa untuk dininabobokan.
D diapit dengan penuh kasih oleh kedua orang tuanya malam itu. Bahkan, tak perlu dongeng sebelum tidur, D sudah terlelap.
Lysa dan Javier terkekeh karena anak tunggal mereka terlihat begitu lelah.
"Aku masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Kau tidurlah dulu, aku akan menyusul," ucap Javier sembari mengelus kepala isterinya lembut.
Lysa mengangguk dengan senyuman. Javier mengecup keningnya mesra dan Lysa menemani D tidur di sampingnya dengan mata terpejam.
Javier menghentikan langkah dan melihat dua orang yang sangat disayanginya itu sebelum menutup pintu. Terlihat ia seperti memikirkan sesuatu karena wajahnya yang sendu.
Javier menutup pintu dan membiarkan isteri serta anaknya tidur dengan nyenyak di hari yang sudah gelap.
Orang-orang dalam jajaran Vesper, para senior berkumpul di ruang meeting Kastil Borka karena ada hal penting yang ingin Vesper bahas mengenai King D.
Para undangan yang sudah diminta datang telah berkumpul dan duduk di kursi yang disediakan. Pintu ruang meeting dijaga ketat oleh Black Armys termasuk seluruh Kastil.
Entah sudah berapa lama Lysa dan King D tertidur, tiba-tiba anak perempuan pertama Vesper merasakan jika ada gelanyar aneh di tubuhnya.
Lysa melihat ada sebuah tangan yang menggenggam pergelangan tangannya kuat. Lysa tersenyum karena berpikir jika itu Javier, tapi perasaan aneh muncul di hatinya.
Lysa membuka matanya semakin lebar dan menyadari jika sosok di belakang anaknya kini menatapnya tajam.
Lysa tertegun bahkan sampai tersentak, tapi ia tak bisa melawan karena melihat dada anak satu-satunya itu seperti dipasangi sebuah peledak.
Lysa langsung berlinang air mata hingga nafasnya tersengal. Lelaki itu menyeringai.
"Berani berteriak, kau akan melihat D dalam serpihan, Lysa," ucap Tobias masih menggenggam tangannya kuat.
Lysa menangis dan hanya bisa mengangguk, membungkam mulutnya rapat agar suaranya tak membangunkan D serta lainnya.
Tobias tersenyum lalu menopang kepalanya dengan satu tangannya. Ia memiringkan tubuhnya sembari mencium kepala D lembut.
Lysa tak bisa menahan air matanya yang terus menetes karena takut jika anaknya tewas karena perbuatan bodohnya nanti.
Benda itu berkedip dan aktif. Lysa tak bisa menahan tubuhnya yang bergetar karena ketakutan.
Tobias melirik Lysa yang berusaha untuk tetap diam meski air matanya terus menetes.
"Ini sudah dua tahun, Lysa. Aku menagih janji dari kesepakatan kita," ucap Tobias yang kini menatapnya tajam.
"A-a ... hiks ...."
Lysa kesulitan menjawab. Ia tak bisa mengendalikan ketakutannya. Tobias menatap Lysa tajam yang gemetaran dan terus meneteskan air mata.
Hingga akhirnya, Tobias melepaskan cengkeramannya dan memeluk perut D. Lysa langsung menggenggam kedua tangannya di depan dada dengan mata terpejam.
Lysa menarik nafas dalam dan segera menghapus air matanya. Tobias masih menatapnya seksama di balik tubuh King D.
"Mana anak perempuanku?" tanya Tobias lirih.
"A-aku tak bisa, Toby. A-aku tak bisa memberikannya ...," jawabnya tergagap dan tetap mencoba untuk tenang.
"Kau menyembunyikan anakku? Kau tahu akibatnya 'kan?" tanya Tobias mulai melebarkan mata.
"Bukan begitu. A-aku ... aku gagal, Toby. Aku ... aku tak bisa hamil. Aku ... hiks, aku sakit," jawab Lysa kembali menangis dan tetap berusaha agar isak tangisnya tak terdengar.
Kening Tobias berkerut. Ia langsung duduk dan menatap Lysa tajam. Lysa tersentak dan terlihat takut saat Tobias mengulurkan tangan kirinya.
Lysa langsung memejamkan mata dengan rapat karena masih teringat jelas perlakuan buruk Tobias padanya dulu.
"Sakit apa?" tanyanya lirih.
Lysa masih memejamkan matanya erat saat merasakan lehernya dipegangi oleh Tobias meski tak mencekiknya.
"A-aku terkena Toksoplasmosis. Aku sudah keguguran dua kali, Toby. Aku tak bisa ... hiks, aku tak bisa memberikanmu anak ...," jawabnya sedih dan menangis.
Tobias diam seketika seperti mematung. Lysa tak bisa membendung air matanya lagi. Tobias bisa melihat kesedihan dalam diri wanita yang kini sedang diancamnya.
"Aku sudah mencobanya, Toby ... hiks, aku sudah menjalani pengobatan selama dua tahun ini, tapi masih gagal. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Jangan pisahkan aku dengan D, Toby, please ... hanya dia satu-satunya yang kumiliki," pinta Lysa yang akhirnya membuka mata dan memegang pergelangan Tobias di lehernya lemah.
Tobias diam saja menatap Lysa yang berusaha untuk menghentikan tangisannya dan tetap tegar. Tobias melepaskan cengkeraman di leher anak pertama Vesper tersebut perlahan.
Lysa terkejut dan menatap Tobias seksama yang berwajah sendu. Tobias duduk dengan lesu menatap D yang masih tertidur pulas seperti tak terusik akan pembicaraan dua orang dewasa di sampingnya.
Tobias tiba-tiba beranjak dari tempatnya duduk sembari mengambil alat seperti peledak itu dan menonaktifkannya.
Lysa terkejut, tapi perasaan lega menyelimuti hatinya. Tangis Lysa reda seketika. Lysa perlahan bangun dan kini duduk di samping King D sembari menatap Tobias seksama yang terlihat seperti orang kebingungan.
"Toby ...," panggil Lysa lirih yang ikut bingung dengan sikap lelaki di depannya.
"Tak bisa disembuhkan?" tanya Tobias menatap Lysa tajam.
"Harusnya bisa. Dokter mengatakan jika keadaanku sudah mulai membaik setelah menjalani pengobatan selama 6 minggu. Namun, aku dianjurkan agar tak berhubungan terlebih dahulu sampai pemeriksaan selesai. Dikhawatirkan, kejadian seperti sebelumnya akan terulang dan menyebabkan keguguran," jawab Lysa pelan.
Tobias mengangguk sembari menenteng peledak itu di tangannya.
"Kuberikan waktu satu minggu lagi untukmu bersama D. Aku masih ada pekerjaan yang dilakukan," ucap Tobias menatap Lysa tajam.
Senyum Lysa merekah dan ia terlihat gembira. Ia segera menghampiri anaknya dan mencium keningnya lama dengan senyum terkembang. Tobias menatap dua orang itu seksama dalam diam.
"Thank you, Toby," ucap Lysa tersenyum manis.
Namun, tiba-tiba ....
CLEB!!
BRUKK!!
Tobias menembak bius Lysa dan membuat isteri Javier tersebut kembali tertidur di samping anak lelakinya.
Tobias menghembuskan nafas keras dan terlihat kesal sembari menggaruk kepalanya kasar hingga rambutnya berantakan.
Tobias keluar dari kamar dengan gusar dan betapa terkejutnya saat mendapati Javier sedang berjalan ke arahnya. Mata dua lelaki itu beradu dan terlihat saling membenci.
"Apa yang kau lakukan pada anak dan isteriku?!" teriak Javier tersulut emosi seketika.
Tobias menyeringai sembari menunjukkan peledak di samping kepalanya. Mata Javier terbelalak lebar.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 441 Episodes
Comments
Lindot
Tobias kesepian kasihan banget
2023-09-02
1
Warsih Tem
entah udah brp x baca nih nopel,ora ada bosennyah
2022-09-03
1
*
Firts coment tante aju umah:)
2022-02-18
1