Keluar kamar mandi usai membersihkan tubuhnya, Gian hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuh dari pinggang hingga bawah lututnya.
Sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangan kirinya, ia melewati ranjang king size hendak mengambil pakaian yang telah ia pilih sebelumnya di atas nakas.
Pandangannya tertuju pada Radha yang kini tertidur begitu lelapnya, mulut yang terbuka menunjukkan jika ia sangat lelah. Masih dengan seragam SMA yang membuatnya terlihat lucu di mata Gian.
Sial, rok ABG itu sedikit tersingkap, menampakan paha mulus dan putihnya itu. Bagaimanapun Gian tetap laki-laki yang jelas akan merasakan hal yang sama jika dia normal. Segera ia menarik napas dalam-dalam dan membuangkan kasar, memilih berlalu dengan cepat meraih pakaiannya.
"Ck, lupakan. Dia hanya anak kecil, kau takkan puas merasakannya, Gian!!"
Gian menggelengkan kepala berkali-kali, menatap tajam pantulan wajahnya sembari menepuk-nepuk kepalanya. Awalnya Gian berpikir, Radha sama sekali bukan tipenya, terlalu rata dan tak berbentuk pula.
Akan tetapi, kaki mulus dan indahnya itu membuat ia ragu akan keyakinannya dahulu. Tak bisa ia lebih lama di dalam kamar ini, Gian memilih berlalu, menemui sang Mama untuk mengurus Haidar yang ia ketahui hendak kembali ke luar negeri tanpa restu Jelita.
Dengan langkah panjangnya, Gian menuruni anak tangga. Pria tampan dengan sejuta pesona ini kerap membuat siapa yang bekerja salah tingkah. Kehadiran Gian yang hanya beberapa kali dalam sebulan semakin membuatnya di rindukan.
"Mau makan, Tuan muda?" tanya wanita cantik yang menurut Gian wajahnya cukup asing, entah sejak kapan Jelita mengizinkan wanita muda itu bekerja di rumah ini.
"Ehm, tidak," jawab singkat Gian tanpa menatap wajah itu, wajah penuh harap akan jawaban manis dari sang majikan.
Jika sang Mama tak berada di dalam rumah, sudah pasti ia akan menghabiskan waktu dengan bunga di taman belakang.
Gian tersenyum lega kala Jelita kini duduk manis sembari menatap anggrek yang semakin indah. Sejak Gian dan Haidar menemukan dunianya, Jelita kerap merasa kesepian, dan hanya dengan tanaman berbagai jenis inilah ia merasa dapat tersenyum.
"Mama,"
"Hem, anak Mama semakin tampan. Istrimu mana?"
Gian menghela napas perlahan, Jelita benar-benar melekatkan panggilan itu untuk Radha. Sejenak ia ingin tertawa mendengar kalimat itu.
"Tidur, katanya lelah, Ma."
Senyum hangat Gian mengalirkan kebahagiaan untuk Jelita, perlakuan manis Gian membuat Jelita berharap lebih hubungan mereka akan semakin baik, dan akan lebih baik.
"Mama, tadi pagi, Gian menemui Haidar."
Jelita menghentikan kegiatannya, menatap Gian perlahan kemudian membuang napas seraya mengelus dadanya. Terlihat jelas, ia kecewa namun tak dapat marah pada siapa saja. Saat ini, ia hanya ingin sang Putra bungsunya pulang dalam keadaan apapun.
"Lalu?"
"Aku menyakitinya," ujar Gian jujur, kepada Jelita pria itu mengungkapkan apa yang ia lakukan jika memang penting untuk Jelita ketahui.
"Gian, sudah berapa kali Mama katakan, jangan gunakan tanganmu untuk hal semacam itu," ungkap Jelita begitu halus, baginya baik atau tidaknya. Haidar tetap putranya, tak mungkin ia izinkan siapapun menyakitinya.
"Terlanjur," jawab Gian singkat yang membuatnya mendapat cubitan di tangan kekarnya.
Dengan teliti Jelita mendengarkan cerita Gian, saat ini ia butuh persetujuan sang Mama apa yang hendak dilakukan pada Haidar selanjutnya. Setelah sebelumnya ia menghubungi Raka, saat ini ia ingin mendapat izin langsung dari sang Mama.
"Tidak perlu, Gian. Dia putra Mama, jika dia memiliki nurani, ia akan kembali tanpa kalian paksa."
Tidak ada yang lebih sakit dari kecewa, dan kini Jelita merasakannya. Tidak akan ada paksaan temu lantaran rindu yang lama terbelenggu, dan tidak akan ada tangis untuk jiwa yang menolak di rindukan.
"Mama yakin?"
"Iya, saat ini, lakukan dan jalani saja apa yang seharusnya. Jangan menyalahkan keadaan, Papamu atau siapapun. Prihal Radha, mungkin memang jalannya anak itu menjadi istrimu."
Gian terdiam, sang Mama membuatnya terhenyak. Kalimat itu seakan benar-benar tak adil untuknya. Ia berhak bahagia memilih cinta, memilih wanita yang di inginkannya, dan mengobati luka yang sedari dahulu menganga.
Menatap kepergian Jelita yang kini semakin menjauh, Gian hanya mampu terdiam. Meneliti lagi dan lagi kalimat sang Mama. Lagi dan lagi, Gian mengeratkan tangannya, ingin sekali ia menyelesaikan semua ini dalam satu hentakan. Namun, ia tak bisa.
******
Sementara di luar, dengan jarak beberapa meter dari kediaman Raka. Sebuah mobil hitam sedari tadi tak jua pergi, Herdian yang merupakan salah satu penjaga rumah itu menatap curiga siapa yang berada di dalam sana.
"Kau yakin tidak ingin masuk?"
Pertanyaan itu sejenak membuat pria berjaket hitam tak lupa topi hitam dan kacamata menatapnya. Sudah hampir 30 menit, namun Haidar tak jua memutuskan langkah apa yang akan ia ambil.
"Tidak, aku hanya ingin tahu siapa wanita yang kemarin hendak Papa jadikan istriku."
Dari penjelasan Gian tadi pagi, ia yakin betul sang Kakak yang terkena imbas ego sang Papa. Ia ingat betul cincin yang tersemat di jari manis Gian tentu bermakna, dan ia paham betul cincin itu seharusnya tersemat di jarinya saat ini.
"Lalu kenapa kau menunggu di sini? Apa mungkin dia akan keluar sesore ini?"
Ricko berbicara seadanya, karena tak mungkin ia dapat menemukan apa yang ia inginkan. Haidar menatap sengit Ricko dari balik kacamata hitamnya.
"Kau gila?!! Bagaimana wajahku kau tahu, apa mungkin Mama akan membiarkanku melangkah keluar dari rumah setelah ini?!!"
Pria berkemeja merah itu mengangguk paham, benar saja, tentu Haidar takkan mampu keluar untuk waktu yang lama, pikirnya.
"Haidar,"
"Hem?"
"Bukankah itu Kakakmu?" tanya Ricko sembari menunjuk pria dengan kaos oblong putih dan celana pendek keluar rumah. Terlihat jelas jika ia akan pergi, namun sayang Gian hanya sendiri yang membuat Haidar terpaksa menelan kecewa.
Cukup lama ia disini namun tak ia temukan apa yang di nanti, memukul angin sembari bingung harus berbuat apa kini. Wajah yang masih memar dan merah-merah membuat Haidar tak mampu bergerak bebas.
"Club," ujar Haidar tanpa pikir panjang dan tanpa di tanya hendak kemana.
"What?! Kau gila?" tanya Ricko menautkan alisnya.
"Tidak, cepat jalan!!"
Sungguh amat sangat aneh, pria baik-baik dan polos ini memilih tempat gila itu kala di Indonesia. Benar-benar di luar nalar, pikir Ricko.
Tbc
Maaf telat, Up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Kenapa mainnya selalu Club??
2024-05-12
0
galaxi
wah...wah...pantesan si kama gilaaa.....rupanya bapakny juga gila gini 😂😂😂astaga.....
2024-02-22
2
komalia komalia
haidar belum tau kalau istri nya kaka nya wanita yang di cintai nya
2023-10-16
0