Radha meraung dalam batinnya, meminta Jelita menghentikkan langkah Gian. Kalut, takut dan berbagai macam pikiran buruk mulai menguasai Radha bersamaan dengan langkah Gian yang kini meniti anak tangga.
"Diam, kau, atau aku lempar tubuh kecilmu ini."
Gian menahan langkahnya, melirik tajam istrinya yang kini gemetar dalam peluknya. Sedari tadi Radha tak bisa diam meski bibirnya terkunci, tubuhnya bak cacing kepanasan meminta di lepaskan.
Radha menelan salivanya pahit, bagaimana bisa hidupnya yang masih di usia semuda ini harus menjalani hal gila semacam ini. Radha berpegang pada bahu pria itu, takut jika Gian benar-benar akan serius dengan ucapannya.
Membuka pintu kamar sedikit kasar, Gian melangkah masuk ke kamar yang sejak beberapa tahun lalu hanya ia tempati sesekali dalam seminggu. Pun itu atas permintaan Jelita yang tidak ingin jauh dari putranya.
BRUGH
"Awww, Mama."
Meski Gian menjatuhkan tubuh Radha di tempat tidur, tetap saja ia terkejut. Kakinya terasa ngilu lantaran Gian cukup kasar memperlakukannya, ranselnya jatuh begitu saja di lantai. Tak ada niatan Gian menaruhnya ke tempat yang lebih baik.
"Sssshhh," rintih Radha menggigit bibir bawahnya, ia sedikit sulit menunduk kala mencoba melepas sepatunya.
Sang suami yang kini membuka kemeja, menatap pergerakan Radha yang terlihat begitu kesulitan. Bahkan kancing kemejanya masih terbuka sebagian, Gian menghampiri Radha.
Pria itu berlutut dan menatap lutut sang Istri, jelas itu terasa perih. Kini ia berganti membuka tali sepatu Radha, bahkan ukuran kakinya begitu kecil, pikir Gian sembari menarik sudut bibirnya.
Radha menatap lekat puncak kepala yang kini berada di depannya, tangan kekar dan dada bidang Gian yang terlihat sebagian membuatnya salah tingkah. Sedikit merasa geli dan kagum secara bersamaan.
Begitu halus Gian membuka sepatu dan kaos kaki Radha satu persatu, tanpa ada ucapan sepatah kata pun. Segera beranjak dan meletakkan sepatu Radha di tempat yang telah tersedia.
Siapapun yang melihat, jelas dapat menyimpulkan bahwa Gian adalah sosok pria sempurna dan rapi dalam segala hal. Bahkan Radha merasa kamar suaminya lebih rapi dibandingkan kamarnya.
"Sampai kapan kau akan menatapku, Zura?" tanya Gian membuat Radha secara spontan mengalihkan pandangannya. Sial, dia tertangkap basah.
"Kau tertarik pada pria gila ini, hem? tambah Gian kini menatap sang Istri yang enggan menatapnya lagi.
Kembali ia teringat Radha menjulukinya demikian, jelas saja hal itu membuat Radha tertekan. Dengan bertelanjang dada dan hanya celana pendek jiwa usil Gian muncul begitu saja.
Sengaja ia mendekat, dan menarik sudut bibirnya membentuk bulan sabit. Menatap Radha yang kini memainkan jemarinya demi meminimalisir gugupnya membuat Gian merasa di anggap bak predator anak-anak.
"Zura," panggil Gian kini berdiri tepat di depan Radha dengan bahunya bersandar di tembok kamar.
"A-apa, Kak?"
"Apa yang kau katakan pada Mama sebelum aku datang?"
Radha menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Gian, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya. Benar dugaanya jika Gian lebih menyeramkan dari apa yang ia duga.
"Tidak ada, Kak. Mama hanya bertanya tentang lukaku saja," elak Radha takut jika nanti Gian akan membuatnya terpojok.
Gian mendekat, meneliti wajah gugup itu dan kini meraih dahu Radha dengan telunjuknya. Netra keduanya berpadu, wajah cantik itu memang kadang kala membuat Gian terpukau.
"Kau dengar, jangan hanya karena Mama memberimu tempat istimewa kau bisa bertindak seenaknya, mengerti kan?"
Menekan setiap perkataan dan melepaskan dagu Radha perlahan, sungguh mirip dengan tokoh utama dalam serial psikopat yang Radha sukai selama ini.
"Ehm," jawab Radha singkat.
Jujur saja, Radha bukan perempuan lemah. Jelas saja ia enggan tunduk begitu saja di depan Gian. Meski saat ini ia memang masih belum bisa berbuat banyak, ada saatnya nanti Gian tunduk, pikirnya.
"Woah, besar juga nyalimu, Zura."
Ia menarik sudut bibir, istrinya terlihat berusaha tegar kala ia mencoba menindasnya. Entah mengapa ia suka menatap Radha yang terlihat tertekan, bukan semacam dendam, hanya saja Gian merasa tengah menemukan mainan baru.
Hadirnya Radha, membuat hidupnya semakin rumit. Kisah cintanya yang hilang kala rasa sayang tengah subur-suburnya belum lagi beberapa hubungan gagal karena berbagai hal membuat Gian semakin geram. Dramanya telah terlalu banyak, ia terlalu puas merasa sebagai permainan takdir.
"Istirahatlah selagi aku baik, untuk sementara silahkan tidur di kamar ini."
Radha bertanya-tanya apa maksud Gian, mengapa ia berkata demikian. Bukankah Jelita dengan nyata mengatakan kamar ini kamarnya jua, pikir Radha.
Gemericik mulai terdengar, Radha enggan mendapat hal gila lainnya. Memilih untuk tidur siang adalah jalan terbaik, toh dia juga memang benar-benar lelah hari ini. Menjadi korban kecelakaan akibat ulah suami sendiri adalah hal paling konyol yang Radha alami.
"Dasar psikopat, semoga pintu kamar mandi mendadak rusak. Aamiin!!" ujar Radha dengan mata terpejam, kantuk mulai menyerang namun kekesalannya belum usai jua.
Sedangkan di kamar mandi, Gian tengah membersihkan tubuhnya. Sungguh ia merasa gerah luar biasa, sejak pagi usai menghajar Haidar ia sudah cukup berang. Belum lagi kejadian siang bolong yang menghambat perjalanannya semakin membuat otaknya seakan mendidih.
"Ck, apa aku terlalu berlebihan ya?"
Gian sejenak bertanya pada dirinya sendiri, tetesan air yang begitu damai membasahi tak mampu menjawab dengan pasti pertanyaan konyolnya.
"Ah terserah, kenapa aku harus peduli."
Gian kembali menikmati air dingin yang begitu menyejukkan tubuhnya, tak ingin terlalu banyak berpikir yang membuatnya bisa gila dalam waktu singkat.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Halimah
Amiiiiin🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-04
0
Yus Warkop
rada yg gak berdosa dijadikan pelampiasan rasain nanti gian kamu bakalan jatuh cinta sama radha jatuh sejatuhjtuhnya 😭
2024-09-05
0
komalia komalia
kasihan rada
2023-10-16
2