"Mam ...."
Langkah panjang itu terhenti, pria itu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Tak ia duga sang Mama akan berada di rumah saat ini. Mata penuh amarah itu menatap tajam dirinya, sudah pasti ia akan mendapat pertanyaan beruntun sesaat lagi.
"Darimana saja, Kau, Gian?!!"
Ibu mana yang tak marah kala putranya berlalu pergi usai pernikahan. Meski Jelita paham betul mana mungkin Gian akan menerima statusnya secepat itu.
"Ehm, anu apa, aku harus menyelesaikan urusanku kemarin."
Gian berkilah, menatap Radha sekilas dan kini melangkah maju menghampiri istri kecilnya. Pria itu sedang menimbang hal apa yang akan ia lakukan setelah ini, meski Gian berani menentang, ia akan luluh kala berhadapan dengan Jelita, sang Mama.
"Urusan?"
"Urusan apa yang membuatmu pergi begitu cepat bahkan mendahului penghulu, hah!!"
Jelita menatap tajam putranya, meski pria itu begitu gagah, ia tetap akan memperlakukannya sebagai seorang putra kecilnya. Dadanya kembali memanas, menahan malu lantaran Haidar kabur dari pernikahan telah cukup membuatnya kehilangan separuh nyalinya.
Jelas saja kepergian Gian dengan wajah tak bersahabat pada hari pernikahan itu membuat Jelita semakin tertekan, bahkan sangat amat tertekan.
"T-tapi itu diluar rencanaku, Ma. Jika saja aku tahu dari awal, tentu aku takkan membuat janji pada siapapun bukan?"
Gian memang pandai dalam hal, termasuk bersilat lidah. Jelas saja ia takkan memberitahukan apa yang ia lakukan sebenarnya. Semarah-marahnya Jelita, ia takkan mengizinkan Gian menyakiti Haidar.
"Apapun kau tetap salah, Nak. Kau tahu betapa sedihnya istrimu, di tinggalkan pasca akad dalam situasi masih ramai, kau bayangkan malunya, Gian."
Berucap selembut mungkin, ia tak dapat menyalahkan Gian di sini. Karena semua berasal dari kesalahan mereka semua, meski tetap saja kedewasaan Gian patut di pertanyakan menurut Jelita.
"Maafkan aku, Ma."
Pria itu menunduk patuh, sadar betul apa yang ia lakukan kemarin benar-benar salah. Bahkan Raka beberapa kali menelpon namun tak ia hiraukan sedikitpun.
"Minta maaf pada istrimu, kau lihat bagaimana keadaannya gara-gara kecerobohanmu."
Gian mulai kesal, ia lirik Radha yang hanya menunduk sembari memainkan kukunya.
"Gian, Mama tau apa yang ada di pikiranmu. Tapi, bagaimanapun dia istrimu, Gian."
Radha menyimpan banyak tanya atas ungkapan mertuanya, jujur saja ia tak mengerti akan kegaduhan kemarin. Yang jelas ia hanya tahu bahwa Gian seakan enggan menikahinya.
"Sialan, apa yang bocah ini katakan pada Mama." Gian membatin, melihat dari raut wajah Jelita terlihat jelas wanita itu tengah kecewa.
"Gian, kau dengar Mama?"
"Ehm? Iya, kenapa, Ma?"
"Kau lihat menantu Mama, bagaimana bisa kau bersikap santai melihat istrimu begini, dia lebih mirip korban tabrak lari, Gian."
Sial, ia lupa berakting panik, seharusnya ia lakukan sejak pertama kali masuk, pikir Gian sembari menyusun kalimat yang akan ia ucapkan tentang keadaan Radha.
"Memangnya dia kenapa? Bukankah dia sudah cukup besar dan dapat menjaga diri?"
Mereka duduk berhadapan, dengan wajah santai tanpa dosa Gian menatap wajah Radha penuh ancaman. Manakala manik indah gadis itu tak sengaja membalas tatapannya, Gian semakin mempertajam tatapannya.
"Gian," ujar Jelita selembut mungkin, ia tak bisa memaksa Gian harus perduli layaknya pasangan suami istri yang baru menikah lainnya.
Lagipula Jelita cukup paham bagaimana Gian memperlakukan wanita, tidak ada kata manja dan lembut sedikitpun. Pria itu tetap sama, acuh tak acuh jika ia belum menerima wanita itu dalam hidupnya.
"Huft, baiklah Mama."
Gian berpindah duduk ke samping Radha, meneliti setiap inci wajah ayu gadis yang masih di bawah umur itu. Menatap luka terbalut perban itu satu persatu dan memeriksanya dengan pelan.
"Kenapa bisa seperti ini, Zura, kau jatuh? Atau kenapa?" tanya Gian begitu lembut yang membuat Radha ingin menarik kumis tipisnya.
Sungguh pandai membalikkan keadaan, beberapa menit lalu ia lebih mirip elang lapar, namun kini ia dapat selembut ini.
Jelita tersenyum hangat, menatap interaksi putra dan menantunya tanpa curiga sedikitpun. Secercah kebahagiaan dan harapan datang kala Gian bersikap manis pada istrinya.
"Ra, Kakak kan tanya, kenapa diam?" tanya Gian lagi, sungguh kali ini ia benar-benar bernafsu untuk mencabut nyawa suami kurang ajarnya ini.
"Ni botol kecap pinter banget sih lari dari kenyataan." Radha mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat.
Kemana otaknya, pikir Radha. Bahkan luka yang lalu masih membiru, dan kini ia bertanya apa yang terjadi seolah tak tahu sama sekali. Sungguh pandai memainkan peran, pikir Radha seraya menelan salivanya.
"Hem, nggak apa-apa, Kak. Hanya kecelakaan kecil, tadi siang ada Om-Om gilla yang melaju dengan kecepatan di luar nalar."
Gian mendelik tak suka, wanitanya pandai juga. Entah darimana ia belajar, apa mungkin Haidar, pikir Gian. Baiklah, sandiwara akan terus berlanjut, Gian menarik sudut bibir sembari menatap remeh Radha.
"Oh iya? Gila bagaimana, Ra?"
Suara itu seakan begitu lembut, seakan tengah mengintrogasi seorang adik yang tengah megadu pada kakaknya.
"Iya, Kak ... gila, dan kau tahu, dia yang bersalah tapi dia yang ngomel."
"Oh iya? Bukankah kalian yang melawan arah?" tanya Gian yang seketika terdiam, suasana ruang tamu mendadak hening seketika.
"Maksudmu apa, Gian?"
Bodoh, pertanyaan yang justru menjebak dirinya sendiri. Gian tak sadar, bukan saatnya ia membela diri saat ini. Pria itu menatap sang Mama ragu, jika sampai Jelita tahu, habislah dia.
"Gian, Kamu tau? Coba ceritakan, Nak."
Gian membisu, apa yang harus ia katakan pada Jelita saat ini, Radha yang kini menatapnya datar seketika menunduk kala Gian lagi-lagi mengancamnya dengan tatapan.
"Ah tidak, Ma, aku hanya menebak saja, kan dia masih ABG. Jadi Mama mengert maksudku."
Dasar pendusta, pandai sekali bersilat lidah, sunnguh ia di tengah derita. Ini hanya permulaan, apalagi yang akan Gian lakukan selebihnya nanti. Berapa lama ia akan mampu menjalani hidup bersama pria ini, pikir Radha tenggelam dalam ketakutannya.
"Apa benar, Radha?"
Sesaat Radha bungkam, menatap wajah Jelita sesaat kemudian kembali menunduk. Gian khawatir, kunci dari keselamatanya adalah mulut istrinya saat ini, berdebar jantungnya menanti jawaban yang akan Radha ucapkan.
"Radha?"
"Ehm, sebernarnya ...."
"Aaaaakkhhh!!"
Radha terkejut bukan main kala Gian kini menggendongnya tanpa aba-aba. Belum sempat berbicara banyak Gian memotong perkataannya dengan aksi tak terduga. Habislah, apa yang akan Gian lakukan padanya.
"Sayang, kau lelah. Sebaiknya istirahat," ujar Gian kini berjalan menuju kamarnya, tentu saja Jelita tak melarang. Biarkan saja, mereka juga butuh pendekatan, pikir-Nya.
Tbc
Mueheh😭 Mo di apain tuh bininya😭
Maaf ya, karena kesibukan luar biasa, mungkin gabisa crazy up sampe 4 bab seperti sebelumnya. Namun akan selalu usaha up tiap hari, kalaupun itu 2 berarti pagi sama siang/Malam. Jangan lupa favorit dan dukung couple satu ini, yak.
See you, sehat selalu untuk kamu, aku, dan kita semua🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-04
0
Yus Warkop
dasar gian oom gila😂😂
2024-09-04
1
Ma Malikha
semakin menarik aja niih
2024-07-22
0