Radha melangkah perlahan, lukanya ternyata cukup menyiksa. Jikapun ia pulang ke rumahnya percuma, tidak akan ada yang peduli dengan keadaannya. Ardi tentu sibuk bekerja, sedangkan Celline tentu akan merasa bahagia jika melihat saudara tirinya tampak mengenaskan.
"Nona ...."
Budi berlari menghampiri nona mudanya, masih begitu kecil dan imut, pikirnya. Tak habis pikir mengapa majikannya menikahkan anak di bawah umur seperti ini.
"Non kenapa?"
"Sakit, Pak, kakinya susah jalan."
Manja, bahkan pada seorang sopir kepercayaan keluarga mertuanya Radha bersifat semanja itu. Wajah imutnya membuat Budi tak tega, hidungnya kini memerah serta matanya terlihat membasah.
"Mau saya gendong, Non?"
"Nggak mau, Radha tu berat."
Radha menggeleng pelan, tapi hatinya berkata "Gendong aku, Paman." Di rumah sakit memang tak terlalu terasa, entah mengapa ketika Gian memperlakukannya demikian seakan lukanya terasa dua kali lebih pedih.
"Nggak masalah, Non, pintu utama masih jauh loh."
Benar, memang halaman rumah itu terlalu besar. Bahkan Radha merasa tak sanggup jika harus berjalan lebih jauh untuk masuk rumah itu.
Bak anak SD yang di gendong pamannya, begitulah Radha saat ini. Tas ransel hitamnya menjadi saksi betapa manja dan lemahnya Radha saat ini.
Bahkan pemilik lesung pipi itu bertanya pada dirinya sendiri, mengapa ia merasa sebegitu lemahnya. Meski hal semacam ini telah lama ia rasakan, namun perhatian kecil Budi membuat Radha terhenyak. Mengingat betapa sulitnya ia mendapat perhatian sang Papa sejak pria itu menikah lagi.
Jelita yang sejak tadi berkutat dengan peralatan dapurnya panik bukan main kala melihat Radha dalam gendongan Budi. Dengan perban di kedua lutut dan juga lengannya, tentu hal ini benar-benar serius, pikir Jelita.
"Radha!!"
"Ya Allah, dia kenapa, Pak?" tanya Jelita meneliti setiap inci tubuh Radha yang terlihat mengkhawatirkan.
Layla menghampiri Jelita yang kini duduk di samping Radha yang duduk begitu lemas sembari membawa segelas air mineral.
"Sayang, minum dulu," ujar Jelita tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya, hendak bertanya banyak tentu sekarang bukan waktunya.
Segelas air itu tandas begitu saja kala, ia memang benar-benar haus saat ini. Banyak hal yang membuatnya merasakan dahaga luar biasa, sungguh ia lelah.
"Makasih, Ma."
Radha membenarkan posisi duduknya, merasa tak sopan dengan mertua cantiknya. Sejenak memejamkan mata dan kembali tersenyum seakan semua baik-baik saja.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Ehm, kecelakaan, Ma."
"Apa?!! Kenapa bisa, Radha?"
"Abian lawan arah, Ma, jadi ketabrak hehe."
Dalam keadaan demikian Radha masih memperlihatkan gigi rapihnya, bahkan Jelita menggelengkan pelan menatap sang Menantu.
"Abian? Kamu nggak pulang sama Adji?"
Sial, Radha menggigit bibirnya sesaat. Ia lupa jika seharusnya ia memang berbohong. Demi memenuhi janjinya pada Abian, Radha meminta Adji, sang sopir yang di tugaskan menjemputnya untuk kembali pada sore hari.
"Kan sudah Mama bilang, Adji yang bakal jemput kamu. Kenapa pulang sama orang lain? Apa Adji lupa ya,"
Jelita menatap jauh keluar rumah, tentu saja ia akan mengintrogasi sang supirnya yang tampan itu. Seketika Radha khawatir, ia takut hal ini akan menjadi amukan Jelita padanya.
"Ehm, enggak-enggak, Ma. Tadi sempet ketemu, tapi Radha belum kelar tugasnya. Jadi Radha minta Kak Adji pulang duluan."
Yaps, alasan itu mungkin lebih baik untuk Radha menghindar saat ini. Ia tak ingin di antara dirinya dan juga Adji terkena masalah yang bisa membahayakan salah satu di antara mereka.
"Oh, begitukah, Radha?"
"Ehm, iya, Ma. Beneran," ujar Radha meyakinkan, dengan menampilkan puppy eyes yang membuatnya semakin imut.
"Ck, apa mungkin jadwalnya salah ya?" tanya Jelita dalam hati meneliti wajah cantik menantunya, anak itu terlalu polos mana mungkin ia akan berbohong, pikir Jelita.
"Terus gimana dengan yang nabrak? Masih muda juga?" Jelita mengalihkan pembicaraan, karena baginya siapa pelaku yang membuat menantunya menjadi sedemikian rupa harus ia ketahui lebih jelas.
"Dia baik-baik aja kok, Ma, udah dewasa, Eh TUA malah."
Jelita menahan tawa kala Radha menjelaskannya dengan emosi yang tertahan. Tampak jelas ia begitu kesal, penekanan kata Tua begitu Radha dalami.
"Tua? Seumuran Papa?"
Radha menggeleng, ingin sekali ia mengadu panjang lebar bahwa suami kurang ajarnya itu yang merupakan penyebab dirinya seperti ini. Hanya saja, untuk mengadukan hal itu, Radha tak kuasa. Tatapan tajam dan hawa dingin pria itu seakan menjadi ancaman baginya meski tak terjangkau mata.
"Hem, apa setua Kakekmu?"
"Ih Mama, bukan juga setua itu."
"Lalu seperti siapa?"
"Seperti, Kak Gian."
Radha menjawab hati-hati, menatap lembut manik sang Mama dan tak menunjukkan kemarahan atau apapun yang mencurigakan tentang kejadian beberapa jam lalu.
"Astaga, apa dia tidak bisa mengendara dengan benar, di umur segitu harusnya mengerti keselamatan orang lain lebih dari apapun."
Jelita berdecak heran, memikirkan tingkah laku anak muda zaman sekarang yang benar-benad seenak jidat. Untung saja ia mendidik Gian sebegitu kerasnya kala kecil, pikir Jelita yakin sang Putra takkan seperti pria yang Radha ceritakan.
"Iya, Ma, Radha juga heran kenapa ada manusia semacam it ...."
"Mama!!"
Suara familiar itu menerobos masuk, menghentikan perkataan Radha yang tengah asik mengumpat suami gilanya. Kedua wanit berbeda usia itu kini menatap kompak ke arah pemilik suara itu.
Tbc
Hayooo siapa?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Halimah
Haidar nih
2025-01-04
0
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-04
0
Yus Warkop
gian atau khaidar
2024-09-04
0