"Ck, dasar ceroboh!! Kalian tidak punya mata?!!"
Memang benar, kesalahan terletak pada dua remaja itu, sepeda motor itu melawan arah dan tak menyadari kehadiran Gian yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
"Aaarrrrgggh!!"
Belum sempat menjawab, teriakan seorang gadis yang tampak terjepit motor itu membuat Gian mendekat. Sungguh merepotkan, pikirnya.
Dengan langkah pasti Gian mendekati mereka. Tampaknya cowok berseragam SMA terluka dan tak mampu menolong temannya.
"Minggir kau, dasar lemah."
Hampir saja jatuh, remaja berseragam putih abu itu jelas saja kesal bukan kepalang. Andai saja ia tak terluka, mungkin ia takkan membiarkan gadisnya merintih lebih lama seperti itu.
"Zu-Zura?!!"
Betapa terkejutnya Gian kala berhasil melepas helm siswi yang ia tabrak bersama temannya itu. Yaps, kali kedua Gian membuat Radha terluka. Na'asnya, Radha hari ini menerima tawaran Abian untuk pulang bersama, tak ia duga akan sesial ini.
"Astaga!! Kau baik-baik saja?"
Menatap wajah istri kecilnya memerah, Gian panik bukan kepalang. Bahkan kini Radha hanya memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya karena sakit itu cukup menyiksanya.
Bahkan luka yang Gian sebabkan beberapa saat lalu belum juga hilang, kini luka itu bertambah bahkan terasa lebih sakit.
Brakk
Gian dengan kasar menyingkirkan sepeda motor Abian tanpa peduli kerusakannya, Abian yang juga terluka hanya mampu menganga. Bukankah pria gila itu juga bersalah, pikirnya.
"Haysh!! Kenapa kau begitu bodoh!!"
"Dan kau!! Kau bisa saja membuat nyawanya hilang karena kebodohanmu!! Kemana otakmu!!"
Gian mengangkat tubuh mungil Radha dalam gendongnya, lecet di kedua lengan dan kakinya cukup parah.Tentu akan terasa perih nantinya.
Niat hati hendak menemui Erick yang menjanjikan hal yang begitu menarik, malah kacau lantaran kedua bocah tengil yang kini berada di mobilnya, batin pria itu sangat amat kesal.
Terpaksa pria itu kini memutar arah jalannya, rumah sakit kini menjadi tujuannya. Gian berdecak kesal menatap penampilan dua bocah yang kini duduk di belakangnya.
"Ra, maafin gue ya," ungkap Abian penuh sesal, ia tatap wajah ayu Radha yang kini begitu lemas.
"Hem, gak masalah, Bi. Lo juga luka kan."
Entah mengapa Abian seolah berterima kasih pada pria yang telah menabraknya, meski sesaat ia sadar pikiran seperti itu harusnya tidak pernah terlindas di bendaknya.
"Iya, gue ngak apa-apa kok."
Hanya anggukan lemah yang Radha berikan sebagai jawaban, tak cukup tenaganya untuk bicara banyak, apalagi untuk memaki sang pelaku yang ternyata adalah beruang madu itu, pikir Radha.
Gian bertindak bak seorang ayah yang mengantarkan putra putrinya ke rumah sakit. Abian yang masih terlihat begitu muda begitupun dengan Radha membuat Gian mengundang banyak perhatian.
*******
"Aaaarrrrggghhh!!! Pelan-pelan, Dok!!"
Teriakan Radha membuat Gian memejamkan mata, bukankah anak itu terlihat lemah beberapa saat lalu, pikirnya. Lantas mengapa suaranya kini sedahsyat itu.
Memang tidak ada yang parah, hanya luka luar dan tak butuh banyak prosedur pengobatan. Beruntung Radha mengenakan helm, jika tidak hancur sudah wajah cantiknya.
Sedangkan Abian tak terlalu ia pusingkan, jika perkara biaya tentu dia akan menanggungnya. Namun, untuk memastikan pria itu baik-baik saja bukan lagi tanggung jawabnya.
"Dokter, apa kau yakin dia akan pulih dalam waktu cepat?" tanya Gian memastikan, wajah masam Radha membuatnya membeliak.
Sejak kapan anak itu menjadi segarang itu padanya, mungkin dendamnya belum usai namun telah menerima serangan ulang lah yang membuat Radha kesal bukan main.
"Iya, Pak, hanya saja putri bapak untuk sementara tidak usah beraktivitas berat, nanti setelah lukanya mengering ia bebas untuk bergerak kembali.
"Pfftt."
Radha tak mampu menahan tawa kala sang Dokter mengatakan jika ia adalah putri Gian, memang pria dewasa yang kini di depannya telah cocok menjadi seorang Papa, bahkan sangat amat cocok.
"Apa yang lucu?"
Suara dingin dan mata tajam itu membuat Radha terdiam seketika, ia lupa Gian bukan lawannya untuk bercanda. Ia salah memilih jika membicarakan lelucon bersama pria yang kini telah menjadi suaminya.
Karena enggan di rawat, Gian memutuskan untuk membawa Radha ke kediaman sang Papa. Mana mungkin ia sempat merawat gadis ingusan itu, pikirnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang saling bicara, keduanya terjebak dalam kesunyian menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang Radha.
Abian yang menolak tawaran Gian justru menguntungkan, tak perlu ia susah payah mengantarkan pria itu, pikir Gian santai.
"Turunlah."
Perintah Gian cuek tanpa peduli sulitnya Radha berjalan kini. Sungguh pria menyebalkan, bahkan untuk melangkah saja ia sulit, bagaimana bisa dengan tega Gian membiarkannya masuk sendirian.
Gian benar-benar serius akan tindakannya, bahkan tak menunggu Radha benar-benar masuk, pria itu kini berlalu dengan kecepatan tinggi tanpa peduli perasaan Radha.
Tetes air mata tanpa sadar jatuh seenaknya, seumur hidup Radha tak begitu banyak mendapat perlakuan manis. Selalu saja berakhir duka dan air mata, dan kini ia dapat secara tunai dari sang Suaminya.
Meski di usia belia, Radha terlampau peka prihal rasa. Sakit menjalar di benaknya, terasa pedih ulu hatinya. Meski tidak ada cinta dan lainnya, perlakuan Gian sukses membuatnya merasa bak sampah tak berguna.
"Mama dimana? Zura mau pulang," ujar bibir mungil yang kini bergetar, pipi kian membasah sembari memeluk tas sekolahnya.
Tbc
Semoga masih bisa crazy up ya gengs😭👊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 309 Episodes
Comments
Juan Sastra
ternyata karma kama yg tak bisa berdiri terjadi karena dosa raka dan gian yg kerap bermain perempuan..namun baguslah kama suci dari hal hal hina seperti itu..
2025-03-15
0
Juan Sastra
awas aja tuh gian nantinya bucin ter zura zura ,, jgn mudah di maafin radha, tinggalin pergi jauh kek
2025-03-16
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-01-04
0